Menjadi seorang kupu-kupu malam bukanlah sebuah pilihan. Tuntutan hidup yang begitu berat membuat Serra harus mengambil pekerjaan kotor tersebut.
Ibunya sakit keras dan adiknya masih sekolah, Serra juga membutuhkan banyak uang untuk biaya kuliahnya sendiri.
Bekerja sebagai kupu-kupu malam bukan berarti Serra tidak bisa mempertahankan mahkota paling berharganya. Dan berkat bantuan kedua sahabatnya, Serra berhasil menjaganya. Sampai akhirnya Devan Alvaro datang dan merenggut mahkota paling berharganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembalasan Serra
Tepat pukul tujuh malam mereka tiba di hotel berbintang tempat pernikahan David dan Yunna di langsungkan.
Para pelayan sibuk melayani setiap tamu yang datang yang sangat terlihat jelas jika mereka bukanlah dari kalangan menengah kebawah. Mereka semua berkelas bahkan gaun dan setelah jas yang mereka pakai pun hasil rancangan desainer ternama.
Sang mempelai pria sedang menyapa para tamu yang datang sedangkan Yunna sedang bercengkrama dengan teman-temannya yang memang di undang khusus untuk menghadiri pesta pernikahannya. Gelak tawa sesekali terdengar di antara mereka. Tak jarang Yunna juga memasang senyum angkuh andalannya.
Kriettt ... !!
Pintu terbuka menampilkan sepasang pria dan wanita yang tampak serasi. Kedatangan mereka cukup menyita perhatian semua tamu yang ada di dalam aula, mereka terpanah dengan kecantikan dan ketampanan mereka berdua.
"Bukankan itu tuan muda Alvaro? Huaaa dia tampan sekali, lalu siapa gadis di sampingnya? Di sangat cantik, bahkan jauh lebih cantik dari mempelai wanita!"
"Ahhh mereka pasangan yang sangat serasi,"
"Tuan muda Alvaro memang sangat tampan,"
"Siapa gadis itu? Apa dia seorang model? Cantik sekali sangat cocok bersanding dengan CEO muda tampan seperti Devan Alvaro,"
"Dia mirip boneka barbie, aku sangat iri!"
"Bagaimana mungkin ada wanita secantik itu? Benar-benar mirip putri-putri dari negeri dongeng!"
"Benar sekali, hahaha bagaimana bisa tamu undangannya lebih cantik dari pengantin wanitanya, dan pria Alvaro itu jelas lebih tampan dari pengantin prianya. Mereka jauh lebih baik dari pernikahan ini, hihihi!"
"Sudah-sudah, apa kalian tidak melihat Yunna seperti ingin melahap kalian!"
Bisikan-bisikan pujian telah sampai ke telinga Yunna mau pun David. Baik Yunna maupun David sedikit penasaran dengan sosok gadis yang sedang di bicarakan oleh para tamu undangannya.
Mata Yunna menelisik mencoba mencari keberadaan gadis itu, sampai matanya menangkap sosok Serra yang datang dengan pria tampan yang Yunna ketahui bernama Devan Alvaro.
Gyutttt .. !!!
Tangan Yunna terkepal kuat, matanya berkilat marah. Ada rasa malu tersirat dari sorot matanya mendengar bisik-bisikan para tamu yang datang, yang membeda-bedakan Ia dan Serra yang menurutnya tidak sebanding itu.
Sementara itu. David menatap mereka 'Devan dan Serra' dengan pandangan tidak suka. Tangannya terkepal, saking kuatnya sampai-sampai membuat kuku-kuku jarinya memutih.
"Kita berpisah di sini, kau lakukan tugasmu aku akan mengawasimu dari jauh. Kau siap?" Bisik Devan di telinga kiri Serra, wanita itu mengangguk mantap.
Mereka berpisah, Devan dan Serra berjalan berlawan arah. Devan melebarkan langkahnya menghampiri beberapa kenalannya, dan dari sana Ia bisa mengawasi Serra dengan bebas.
Serra mengambil segelas champagne saat seorang wanita paruh baya yang masih tampak terlihat cantik di usianya yang tidak muda lagi. Serra mengangkat wajahnya, menatap wanita itu yang memandangnya dengan sinis. Wanita itu menitih penampilan Serra dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lagi-lagi Ia tersenyum sinis, sementara Serra hanya menyikapinya datar.
"Wahh,, wah ,, wah ,, siapa ini? Kau sangat berbeda, gaunmu, perhiasanmu, sepatumu, dompetmu, hiasan rambutmu, bukankah semua ini barang-barang branded. Bagaimana bisa kau memiliki barang-barang semewah ini? Berapa orang pria yang sudah menidurimu untuk mendapatkan barang-barang semewah ini?" Wanita itu menyeringai, menatap Serra remeh.
Serra meletakkan champagnenya lalu menghadapi wanita itu dengan seringai miliknya. "Apakah hal itu sangat penting untuk Anda, Nyonya Miller?" ucap Serra. "Lagi pula apa yang saya kenakan malam ini tidak ada hubungannya dengan Anda," lanjutnya.
"Lancang sekali mulutmu itu wanita sialan, kau fikir kau siapa, eh? Kau hanya wanita rendahan yang menjual tubuhnya demi kemewahan!" Wanita itu tersenyum puas, sekali lagi Ia mempermalukan Serra.
Berbeda dengan saat pertunangan David, Serra jauh lebih santai bahkan Ia menyahuti setiap kalimat pedas yang di lemparkan padanya. Wanita bermarga Miller itu benar-benar naik darah dengan sikap Serra, akhirnya wanita itu memutuskan untuk mengusir Serra.
"Pergi dari pernikahan putraku, sialan." Teriak wanita itu, bahkan Ia menghiraukan bisikan-bisikan para tamu undangannya. Ia sampai menjatuhkan harga dirinya dan mencoreng nama baik keluarganya.
"Sayang sekali Nyonya, Anda tidak bisa mengusir wanita ini sesuka hati anda. Karena dia datang bersama saya!" sahut seseorang dari arah belakang.
Serra tersenyum lebar saat orang itu 'Devan' melingkarkan tangan besarnya di pinggang rampingnya lalu pandangannya kembali pada wanita itu yang menatap mereka tak percaya
"Tu..tuan Alvaro??" wanita itu bergumam lirih.
"Hhm," Devan mengumam sambil mengangguk tipis.
"Terima kasih untuk semua tuduhan Anda pada saya Nyonya, sayangnya apa yang Anda tuduhkan semua tidak berdasar. Dan asal Anda tau, semua yang saya pakai malam ini tak ada hubungannya dengan semua pria yang Anda sebutkan tadi. Saya memang ******, saya memang murahan setidaknya saya masih memiliki harga diri. Anda orang terhormat dan berpendidikan tapi kelakuan Anda tidak mencerminkan hal itu," tutur Serra panjang.
Plakkk ,,,, !!!
Wanita itu menampar keras pipi Serra hingga memerah membuat semua tamu yang hadir terkejut melihatnya, Yunna yang melihat hal itu tersenyum puas. Di hampiri Ibu mertuanya lalu berdiri di sampingnya.
"Bagus ibu, wanita seperti dia memang perlu di beri pelajaran!" ucapnya.
"Sekali lagi kau berbicara seperti itu padaku. Akan ku robek mulutmu," ancam Nyonya Miller sambil mengarahkan jarinya kedepan muka Serra.
Plakkk ... !!
Dengan kasar Serra menepis tangan wanita itu dan menatapnya tajam. "Sebelum Anda menghakimi saya dan mencoreng harga diri saya, sebaiknya kenali dulu menantu Anda dengan baik. Dia," Serra mengangkat tangannya dan mengacungkan di depan muka Yunna dengan tatapan begitu serius.
"Tidaklah sebaik yang Anda kira, mungkin dia berpendidikan dan berasal dari keluarga terhormat. Tapi hal itu tidak bisa menjadi jaminan jika dia lebih baik dari saya, saya akui jika selama ini saya memang bekerja di bar sebagi wanita malam."
"Tapi saya bekerja untuk menyambung hidup, sementara dia... Dia mendatangi bar dan menggoda para hidung belang hanya untuk mendapatkan kemewahan. Pakaian, tas, sepatu, make up, perhiasan, demi barang-barang itulah dia menjual harga dirinya!"
"SERRA JUNG---!!" Teriak Yunna, wanita itu mengangkat tangannya dan bersiap untuk menampar wajah Serra
Sebelum sampai. Sudah ada tangan besar yang menahannya. "Jangan pernah menyentuhnya dengan tangan kotormu itu Nona Park," Devan meremas pergelangan tangan Yunna dan membuat gadis itu meringis kesakitan.
Brukkk .. !!
Dengar kasar Devan menghempaskan tangan Yunna hingga wanita itu sedikit terhuyung."Sudah cukup, kita pergi dari sini!" Devan merangkul pinggang Serra. "Kerja sama kita cukup sampai di sini, Nyonya. Saya akan mencabut semua saham yang sudah saya tanam di perusahaan Anda!" lanjutnya membuat mata Nyonya Miller terbelalak tak percaya.
"Tunggu, Tuan Alvaro Maksud Anda apa?"
Wanita itu menghalangi Devan dengan berdiri di depannya. Devan menghela nafas. "Apa masih kurang jelas, Nyonya?" ucapnya.
"Tidak, Anda tidak bisa memutuskan kerja sama perusahaan kita begitu saja hanya karna jala** murahan ini!" Wanita itu menatap sinis pada Serra yang berdiri di samping Devan.
"Anda ingin tau alasan saya memutuskan kerja sama ini? Asal kau tau Nyonya, wanita yang Anda hina ini adalah calon istri saya. Dan sebagai calon suaminya, saya tidak terima jika calon istri saya Anda hina seburuk itu!" wanita itu bungkam seketika begitu pun dengan Yunna yang sejak tadi berdiri tak jauh dari Ibu mertuanya.
Wanita itu menggeleng tak percaya. "Pasti Anda bercanda, Tuan Alvaro. Mana mungkin Qnda wanita murahan ini calon Istri an----?"
"CUKUP NYONYA," Bentak Devan marah. "Kita pergi," Tanpa mengatakan apa pun lagi, Devan membawa Serra pergi dari acara pernikahan itu.
Selepas kepergian Serra dan Devan. Yunna langsung di hakimi oleh David dan Ibu mertuanya. "Jelaskan padaku, Park Yunna!" kata David dengan mata yang berkilat marah.
"Memangnya apa yang harus aku jelaskan, Oppa? Apa kau akan lebih percaya pada mereka dari pada aku? Istrimu?"
"Sejak awal aku memang sangat meragukanmu, Park Yunna. Kau fikir aku tidak tau apa-apa tentang dirimu? Cukup, aku tidak ingin membahas apa pun lagi. Malam ini juga akan ku kirim surat cerai padamu, bubar semua. Pesta selesai!" David berbalik dan melenggang meninggalkan aula pernikahan.
Yunna menggeleng, Ia segera mengejar David tapi tidak di hirukan oleh pria itu. Berkali-kali David menghempaskan tangan Yunna dari lengannya, bahkan Ia tidak memperdulikan meskipun melihat wanita itu berjatuhan air mata.
Pernikahan mereka hanya bertahan beberapa jam saja, dan David sudah memutuskan untuk menceraikan Yunna malam ini juga. Sementara Serra tersenyum di tengah langkahnya. Ia merasa puas karna sakitnya sudah terbalaskan.
-
Bersambung
kurang promosi aja thor
Bkn hanya Devan yg penasaran aku juga ikut penasaran🤔🤔
thank a lot thor😍