"Apa sekarang kamu puas?! Kamu saat itu memutuskan aku begitu saja dan sekarang kamu menikahi aku untuk menjadi istri ke dua. Bukan, tepatnya istri simpanan! Aku membencimu Arsen!" ucap Kinar
"Aku akan buktikan keseriusanku padamu bahwa kamu akan aku jadikan istri satu-satunya untukku, tidak apa-apa kamu membenciku, karena benci dan cinta beda tipis." ucap Arsen
Kinar yang mencintai mantan kekasih dan sekaligus suaminya itu begitu mudah, lalu bagai mana kisah rumah tangga mereka?
Apa yakin Arsen bisa menceraikan istri pertamanya yang memang wanita pilihan orang tuanya? Atau Kinar tetap selamanya akan menjadi istri ke dua dari Arsen?
Selamat membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 18 Aku bukan pembantumu
Arsen masih diam, ia masih tetap memeluk istrinya, walau pun hatinya terasa sakit saat istrinya sekarang mengatakan masih memiliki lelaki lain selain almaruh Martin.
Kinar masih sibuk memotong-motong sayuran, ia tau kalau suaminya itu kecewa dengan jawabannya, tapi apa yang bisa ia harapkan jika ia belajar mencinta suaminya?
Kinar tidak ingin di cap sebagai pelakor, jadi kalau pun nanti ada masalah yang rumut, itu bukan salahnya, tapi salah suaminya yang tidak cukup dengan 1 wanita, sedangkan ia hanya ingin membalas budi sesuai keinginan Ayahnya.
Namen suaminya yang ingin memiliki ia seutuhnya, itu membuat Kinar mengurungkan niatnya untuk lebih dekat dengan suaminya, ia sekarang sudah tidak memiliki Martin, ia takut kalau suatu saat mencintai suaminya, kalau memang benar ia mencintai suaminya, ia yakin akan ada salah satu hati yang terluka, entah ia atau istri pertama dari suaminya, yang jelas ia tidak ingin sampai itu terjadi.
Kinar sudah mengalami sakit yang amat dalam saat kehilangan Arsen, ia tidak ingin merasakan hal yang sama atau orang lain merasakan hal yang sama.
Kinar sekarang mulai menumis sayuran, ia tidak berbicara dari tadi walau pun suaminya itu masih saja memeluk pinggangnya.
Sedangkan Arsen masih betah memeluk pinggang istrinya saat istrinya tidak ada penolakan.
Setelah selsai menumis sayur, Kinar langsung memasak cumi asam pedas.
"Kin, apa kamu masih tidak melupakan kesukaanku?"
Cumi asam pedas adalah kesukaan Arsen, dulu saat masa-masa kuliah Kinar selalu memasak cumi asam pedas untuk Arsen.
"Aku sudah melupakannya, Martin menyukai cumi asam pedas."
Kinar menjawab dengan berbohong, ia sama sekali tidak melupakan tentang kesukaan suaminya, dan Martin juga bukan hanya tidak menyukai cumi, tapi Martin sangat elergi pada cumi.
Arsen menghela nafas berat, baru saja ia merasa senang saat melihat istrinya memasak cumi asam pedas untuknya, ia pikir istrinya itu tidak melupakan makanan kesukaannya,tapi ternyata istrinya sudah melupakannya, dan ia lebih kecewa lagi kenapa Martin bisa menyukai makanan yang sama.
Kinar selsai memasak, ia membawa tumis sayur dan cumi asam pedasnya ke arah meja dengan suaminya yang masih setia memeluk pinggangnya.
"Sen, lepaskan tanganmu, ayo kita sarapan."
"Baiklah sayang."
Arsen langsung mengecup singkat pipi kiri istrinya lalu langsung duduk.
"Kamu itu dari tadi aneh Sen, sepertinya sehabis makan kita harus ke rumah sakit jiwa."
"Sembarangan kamu sayang kalau bicara."
Kinar langsung duduk, ia langsung mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya, lalu mengambil juga untuknya sendiri, setelah itu ia langsung duduk.
"Sayang sini aku suapin."
Arsen langsung menyodorkan sendok yang sudah terisi nasi dan lauk.
"Makan saja sendiri, dan jangan panggil aku sayang-sayang, nafsu laparku hilang kalau kamu memanggilku dengan panggilan sayang!"
"Maaf."
Arsen langsung memakan makanan yang di sodorkan ke depan istrinya tadi, walau pun hatinya kecewa, tapi ia berusaha untuk sabar, ia tidak ingin kalau istrinya itu semakin merasa tidak nyaman.
Kinar makan sambil sesekali melihat suaminya, ia tersenyum saat melihat suaminya baru mencukur kumisnya, membuat suaminya terlihat jauh lebih muda.
"Kin, lain kali jangan memasak cumi asam pedas lagi, aku tidak suka lagi sama cumi asam pedas."
Kinar menghela nafas berat saat suaminya mengatakan sudah tidak suka lagi, bukannya tadi bilang suaminya bertanya masih ingat dengan makanan kesukaannya?
"Kalau tidak suka tidak perlu di makan, kamu bisa meminta bi Asih untuk memasak makananmu lagi."
Arsen menghela nafas berat, ia pikir istrinya akan bertanya mau makan apa? Ternyata jawabannya di luar dugaan, istrinya tetap saja tidak perduli padanya.
Arsen bukan tidak suka dengan cumi asam pedas, tapi ia tidak suka kalau kesukaannya di samakan dengan lelaki lain.
"Kin."
"Aku bukan pembantu kamu Arsen!"
Setelah mengatakan itu Kinar langsung berdiri, baru juga dua langkah suaminya sudah memeluk pinggangnya.
"Maaf Kin, maksud aku bukan seperti itu, aku tidak bermaksud menganggap kamu sebagai pembantuku, bahkan kalau kamu tidak mau memasak tidak masalah, aku hanya tidak suka kalau ke sukaanku di samakan dengan lelaki lain."
"Jadi sebenarnya kamu masih suka atau tidak Sen?"
Kinar berbicara sambil membalikan tubuhnya, ia menatap mata suaminya yang sudah memerah.
"Aku tetap suka hingga sekarang aku masih menyukai cumi asam pedas."
"Sebenarnya Martin alergi sama cumi Sen."
"Jadi benar kamu masih mengingat makanan kesukaanku?"
"Aku ingat segelanya, termasuk saat kamu meminta putus padaku dan pergi begitu saja meninggalkanku di taman jam 10 malam."
Setelah mengatakan itu Kinar langsung pergi ke kamarnya, ia tidak melanjutkan sarapannya lagi.
Arsen hanya melihat punggung istrinya yang mulai menjauh, ada rasa senang di hatinya saat istrinya mengingat makanan kesukaannya, tapi ada rasa sedih saat istrinya masih mengingat masa lalu yang sangat menyedihkan.
"Maafkan aku Kin, maaf karena selalu menyakitimu, aku akan buktikan kalau aku mencintaimu, aku akan berjuang seperti dulu lagi, asalkan kamu tetap di sisiku, aku akan selalu berusaha menjadi yang terbaik, walau pun aku tau rasa cemburuku membuat emosiku tidak terkontrol, tapi aku akan berusaha Kinar."
Setelah di kamar Kinar langsung duduk di atas ranjang, ia melihat pesan dari Alex yang mengajaknya bertemu nanti malam.
Kinar berpikir sejenak, ia bingung entah bisa keluar atau tidak, apa lagi suaminya belum bilang kalau akan menginap di rumah ini atau di rumah istri pertamanya, lalu ia memutuskan untuk menolak permintaan Alex, ia tidak mau kalau nanti suaminya berpikir Alex adalah kekasih masa kecilnya, apa lagi Alex masih kuliah, ia takut suaminya berbuat nekad.
Saat cemburu padanya saja suaminya itu bisa berbuat kasar pada ia yang seorang wanita, apa lagi kalau pada Alex yang seorang lelaki, pasti suaminya akan lebih kasar lagi.
Arsen langsung masuk ke dalam kamarnya, ia menghentikan langkah kakinya saat melihat istrinya seperti sedang membalas pesan.
"Kinar membalas chat dari siapa? Atau dari kekasih kecilnya?" batin Arsen
"Kin."
Arsen langsung berjalan ke arah istrinya. Kinar langsung meletakan ponselnya di meja samping ranjang.
"Ada apa?"
"Kamu sudah memaafkanku soal yang tadi?"
"Sudah jangan bahas itu lagi Sen, kamu lebih baik siap-siap, bukannya sekarang sudah jam masuk ke kantor?"
"Aku tidak akan bekerja, hari ini aku akan menemanimu di rumah."
"Aku tidak butuh kamu Arsen, aku ada Ardi yang akan menemaniku, bukan'kah kamu membayar Ardi untuk menemaniku?"
Kinar memanggil Ardi dengan panggilan Ardi bukan panggilan kaka, ia takut kalau Arsen curiga padanya kalau ia mengenal Ardi.
"Memang aku membayar Ardi untuk menemanimu, tapi itu saat tidak ada aku, saat ada aku, kamu hanya boleh bersamaku."
"Kenapa tidak pulang ke rumah istrimu?"
"Kamu juga istriku Kin."
Kinar malas untuk berdebat, ia langsung membaringkan tubuhnya, lalu membelakangi suaminya.
Arsen yang melihat istrinya membelakanginya, ia juga ikut membaringkan tubuhnya, lalu langsung memeluk pinggang istrinya.
"Kinar, aku mohon tetap lah bersamaku, aku tidak ingin kehilanganmu lagi, sudah cukup 5 tahun aku melepaskanmu, tapi tidak dengan kali ini, aku tidak akan melepaskanmu. Aku mencintaimu Kinar."
Arsen langsung mencium pipi istrnya sekilas.