Nasyila Alexa Pratiwi, atau akrab disapa Ale adalah gadis keturunan Indonesia-Inggris. Memiliki latar belakang keluarga yang tidak biasa, tak membuatnya menjadi pongah. Ia adalah gadis yang cantik, aktifis, pandai, sedikit bar-bar dan juga berprestasi. Perjalanan hidupnya tak semulus apa yang orang lihat. Lika-liku masalah keluarga dan masa remajanya tak membuatnya tumbang.
"Pundak ini untukmu, lepas topengmu aku tahu kau tak sekuat itu," kata seseorang yang kini menjadi rumah kedua baginya. Seseorang yang selalu memberinya dukungan mengarungi perjalanan hidupnya yang panjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nbllaflii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MULAI MEMBUKA DIRI
Setelah memakan waktu sekitar tiga jam, rombongan lima bus SMA Purnawarman sudah sampai di Museum Geologi Bandung.
“Anak-anak, kalian di sini akan belajar mengenai sejarah kehidupan pada zaman dahulu. Kalian akan belajar sebagai implementasi kurikulum dalam pembelajaran secara langsung. Di sini nanti selain mapel IPS sejarah dan geografi juga Bahasa Indonesia kalian akan membuat Teks Laporan. Serta mapel Seni Budaya sebagai ajang kreasi kalian dalam mencetak gambar dan mendesain laporan,” jelas Bu Helen, selaku pembina dari bus 1.
“Kerjakan dengan sebaik mungkin, have fun ya anak-anak,” sambung Bu Helen lagi.
“Iya, Bu,” jawab lainnya serempak.
Kemudian, seluruh rombongan mulai memasuki ruang museum. Dengan dipandu oleh kakak pemandu wisata, mereka mulai mencatat, mendokumentasi dan memahami apa yang dilihat dan disampaikan.
Ale satu kelompok dengan Eva, Lia dan Deni. Ia tidak sekelompok dengan Viola dan teman-teman. Supaya tersebar rata. Di sana juga mereka tidak mempermasalahkan jabatan. Baik Gabriel maupun Ale sama-sama profesional dalam bertugas. Namun, kali ini mereka tidak bertugas di OSIS. Melainkan bertugas di kelas.
***
Jam sudah menunjuk pukul 13.00, peserta study tour masih asyik berkeliling di museum. Ada juga yang hanya sekadar untuk berfoto sebagai kenangan.
“Al,” panggil Gabriel mendekati Ale yang sedang mencatat sesuatu di salah satu sofa ruangan.
“Hai,” balasnya menoleh sekilas saat Gabriel mendekatinya.
“Minum dulu,” ucap Gabriel menyodorkan botol minum.
“Nanti,” tolak Ale masih sibuk menulis.
“Nanti terus. Lu baru sembuh, ya, Al. Nanti kalau kumat lagi,” tegas Gabriel.
“Huh,” Ale mendengus sebal karena kesibukannya diganggu.
“Dasar bawel,” kesal Ale.
“Btw, Makasih,” ucap Ale menerima pemberian Gabriel.
“Yoi.”
Gabriel pun menemani Ale untuk menyelesaikan tugasnya. Gabriel dengan sengaja memfoto Ale yang tengah sibuk menulis. Menurutnya itu lucu. Ala-ala candid gitu.
“Al, kenapa gua ga pernah lihat lu bucin sama cowok?” tanya Gabriel tiba-tiba.
“Padahal nih lu tu cantik, banyak yang suka juga.”
“Banyak kan yang nembak lu? Tapi kenapa lu nolak mereka?”
“Lu nanya?” tanya Ale balik.
“Enggak, Al,” jawab Gabriel ketus.
"Hehe," Ale terkekeh kecil.
“Ck. Semua pertanyaan terkadang tak butuh jawaban, Gab,” ucap Ale.
“Maksudnya?” beo Gabriel.
“Gua nolak mereka karena emang gua ga ada rasa sama mereka.”
“Jangankan nerima. Suka aja enggak,” kata Ale dengan senyum renyahnya.
“Bahkan gua ga pernah mikir buat ke sana. Suka? Pacaran? Hahaha ga kepikiran, Gab.”
"Cewek langka," gumam Gabriel.
"Viola juga ga punya. Padahal banyak yang nembak," kata Ale.
"Kalau Viola kan mukanya judes, kelihatan galak," celetuk Gabriel.
"Hahaha," tawa Ale dan Gabriel.
“Dulu, gua pernah punya mantan,” ujar Ale membuat Gabriel menghentikan tawanya.
“Mantan?” beo Gabriel.
“Biasa aja kali,” cibir Ale.
“Dia sekolah di SMA Mulawarman, gua sama dia pacaran mungkin satu setengah tahun. Cuman, setelah itu kita jadi asing. Persahabatan gua hancur, kehidupan gua berantakan. Bahkan masalah silih berganti berdatangan,” Ale mulai bercerita.
“Semenjak kepergiannya, gua jadi punya banyak masalah. Sebelum dia ninggalin gua, abang gua lebih dulu ninggalin gua. Sebulan setelah itu, Jonathan juga ninggalin gua,” tutur Ale.
“Lu punya abang?”
“Punya. Namanya Angkasa Arleo, panggil aja bang Leo.”
“Gua ga pernah nyangka bakal ditinggal Bang Leo secepat itu.”
“Juga Jonathan.”
“Semenjak saat itu, gua jadi trauma buat percaya sama cowok. Bahkan papa gua juga ngehianatin gua sama nyokap.”
"Itulah kenapa Bang Leo memilih pergi. Semua kehidupan Papa dan Mama emang jarang terpublikasi. Hanya bisnis saja yang tersorot, kehidupannya tidak."
“Gua jadi tertutup. Bahkan ga mau bersosialisasi sama orang-orang.”
“Bang Leo emang sengaja di privasi dari publik karena kemauannya. Sampai akhirnya, gua aja yang terpublikasi.”
“Hidup gua ga seindah yang lu lihat, Gab,” kata Ale menatap ke arah Gabriel.
“Banyak lika-liku jalanan panjang yang ga semua orang tahu.”
“Gua udah coba membuka diri sama lu, Vero dan Dewa dengan percaya sebagai teman. Itulah mengapa gua jarang berteman sama orang-orang. Karena emang gua punya masa lalu kelam soal pertemanan.”
"Sekarang udah bisa nerima kita kan?" tanya Gabriel merasa iba.
Ale hanya mengangguk.
“Thank kalian semua udah ngebuat gua kembali percaya.”
“You are welcome. Kita semua ada buat lu,” ucap Gabriel memeluk Ale.
“Cieee,” sorakan itu menghentikan acara pelukan Gabriel dan Ale.
“Buruan jadian,” ujar Dewa menghampiri keduanya.
“Teman kita satu ini udah menemukan tambatan hatinya lagi.”
“Wah benar, Ver. Kayaknya Gabriel udah mulai membuka hati lagi,” sahut Dewa.
“Al??” Viola menatap mata sahabatnya.
“Gua mau belajar, Vi,” jawab Ale yakin.
"Gua ga mau berlarut dalam masalah itu. Gua mau buka lembaran baru. New year new me," kata Ale mantap.
“Gua dukung,” ucap Viola dengan senyum tulusnya.
jangan lupa mampir kak