Kalian pasti bertanya-tanya kenapa bumi lebih dari satu?
Jawabannya ada dibalik kisah dua pemuda secara tak sengaja bertemu di tempat pesakitan, akibat suatu insiden pembunuhan yang dilakukan oleh pembunuhan misterius.
Tanpa sengaja mereka bertemu dengan gadis si kurir di tempat berbeda, perubahan kehidupan mereka berubah semenjak mereka dikejar para musuh si kurir.
si kurir mencari sebuah kunci agar semua berjalan sesuai hukum alam, berbagai rintangan telah dia lalui dengan bantuan dua pemuda yang berasal dari bumi satu
Sang kegelapan dari negeri bumi bayangan berambisi menguasai seluruh Bumi serta terobsesi dengan kekuatan besar yaitu sebuah kunci
Siapa sang kurir yang disebut oleh dua pemuda tersebut? ada apa dengan bumi? di mana kunci itu berada?
simak ceritaku, semoga suka.
Alur cerita ini berjalan maju mundur, harap maklum baru pertama menyumbang karya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serefina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenangan Lama
Seorang laki-laki setengah baya sedang menerima telepon di seberang,
"Baik Bu, saya usahakan sesuai permintaan anda, Ya Bu, maaf keteledoran kami, terimakasih,"setelah menutup gagang bertali tersebut diletakkan di tempat asal.
"Kemana itu anak-anak, bukannya pamit berkunjung ke rumah temannya, malah nggak ada kabar, di telepon nggak aktif," sambil mondar-mandir tak karuan baku biasanya rapi kini terlihat berantakan,
Susunan berkas masih membludak di setiap sudut meja, di tambah lagi di tempat meja khusus tamu, dasi panjang yang dipakai laki-laki paruh baya tersebut sudah acak-acakan,
Setelah mengatakan tersebut, dia menekan nomor lagi sampai terdengar orang mengangkat
"Nomor yang Anda tuju sedang berada diluar area, mohon tunggu sesaat lagi,"
Ternyata suara operator yang menjawab
"Ini Fatur, Vita kompakan benar, bikin puyeng kepala botak ku saja!?" Ternyata Pak Beto sedang uring-uringan karena pemesanan dari pihak luar kota membludak sehingga membutuhkan Fatur maupun Vita.
Setelah capek berdiri mondar-mandir bak naik mobil tanpa arah akhirnya berhenti di tengah jalan dengan suasana mendung, seperti itulah gambaran dari wajah Pak Beto.
Akhirnya Pak Beto duduk di sofa ruang tersedia di ruang kerjanya, lalu mengambil secangkir kopi, setelah menyesapnya lalu kembalikan ke tempat meja yang tersedia,
Tanpa sengaja matanya melirik benda kecil berbentuk persegi panjang ukuran sekitar sepuluh centi meter warna gelap dan sedikit usang karena dimakan waktu,
"Dari mana benda #Pager# ini datang?" Tanya Pak Beto dengan dirinya sendiri, namun ketika dia melihat dibelakang nya ada kertas yang ternyata ada tulisan,
"Tekan saya, ada-ada aja kenapa ndak pakai seluler jaman sekarang,
Ini malah balik ke jaman saya masih sekolah, ada-ada saja," namun Pak Beto tetap menekan tombol power yang tertera pada benda #pager# setelah melihat kode nomor seri frekwensi pada benda tersebut,
Akhirnya Pak Beto berjalan menuju tempat dimana telepon kabel di mejanya. Kemudian Pak Beto mengarahkan ke arah telinga nya ternyata,
"Halo, Pak Beto ini saya Fatur Pak, Saya dan Vita minta izin cuti pak selama sebulan, sebelumnya terimakasih," tak lama kemudian suara tersebut diakhiri dengan suara 'Pip,..Pip,...Pip'
"Alamak, terus gimana nasib pengiriman hari ini?" Sambil mengacak rambutnya yang sedikit di kepalanya,
Tak lama kemudian suara ketukan pintu terdengar
TOK TOK TOK
Pak Beto yang mendengar suara ketukan pintu di luar langsung membenahi dirinya, setelah itu barulah
"Masuk!"
Suara pintu terdengar tanda ada yang sedang membuka, ternyata pegawai bagian finishing,
"Bapak manggil Saya?" Tanya pegawai tersebut,
Ya, carikan seorang kurir yang bisa ngantar barang-barang yang sudah dikemas tadi pagi, karena client lita butuh nanti malam!?" Perintah Pak Beto tanpa banyak tanya pegawai tersebut menyanggupi
"Baik Pak, Saya ada teman mohon dilihat data-datanya, jika Bapak setuju dalam waktu lima belas menit dia sampai disini," jelas pegawai tersebut
Pak Beto yang melihat data tersebut langsung di tanda tangan,
" Ya, Saya tunggu temanmu, tak boleh terlambat satu detik pun!" Ucap pak Beto dengan tegas,
"Baik Pak, kalau begitu Saya permisi," dijawab anggukan oleh Pak Beto,
...****************...
Suasana malam penuh bintang bersinar menerangi seperti hendak melihat seseorang yang sangat istimewa bahkan sudah di nanti oleh mereka, entah siapa yang mereka lihat tapi yang pastinya mereka berharap semua bergantung pada sosok yang di nanti tersebut membawa mereka dengan damai,
Setelah mereka makan malam suana di kota Rebi desa Rebi mereka berkumpul di tengah-tengah pendopo atau dikatakan tempat terbuka seperti bale,
Mereka duduk lesehan sembari makan makanan sederhana serta ditemani oleh minuman hangat,
"Jadi rindu Bapak sama ibu di kampung," suara lirih Banu nyaris tak terdengar,
Abid yang berasal di dekatnya pun mengelus punggung Banu, Banu pun menoleh melihat Abid yang tersenyum memberi kekuatan, Banu pun berusaha tersenyum,
"Tuan Banu, apa anda merindukan orang tua Anda?" Tanya Romo dengan nada lembut,
"Ya Romo," jawab Banu
"Boleh saya melihat benda yang kamu miliki saat perjalanan menuju kemari?" Banu pun terhenyak mendengar Romo, Banu pun menoleh ke arah Feti, feri oun mengangguk,
Banu pun mengambil benda tersebut di tempat dia biasanya menyimpan benda kecil lainnya, tak lama kemudian Banu mengeluarkan benda berupa seruling mini lalu diletakkan di tengah-tengah supaya mereka bisa melihatnya,
Romo pun tertegun sejenak ingatan masa-masa bersama sahabatnya AngSong
"Romo, apa anda mengenal pemilik seruling ini?" Tanya Tuan Seti mewakili semua yang berada disana,
"Ya, Saya mengenalnya, bahkan kami sama-sama berjuang, tapi para sahabat saya rela mengorbankan nyawa mereka demi menyelamatkan para bumi,"
Sambil memegang seruling mini di tangannya dengan gemetar Romo melihat wajah Banu
"Boleh Romo bertanya nak Banu?" Tanya Romo
"Silahkan mbah!?" Jawab Banu
"Apa kamu masih ingat nama kakek buyut mu AngSong?" Tanya Romo dengan nada serius
Banu pun sejenak berpikir, tak lama kemudian Abid pun ingat cerita legenda pendiri kampung mereka
"Nu, bukankah itu biasanya sering di ceritakan orang-orang sepuh? Ingat ndak?" Seru Abid
"Ya, benar apa yang kamu bilang, biasanya kan mbah Narto sering ngomong mbah buyut!?" Lalu menghadap ke arah Romo
"Apa yang diceritakan kakekmu nak?" Tanya Romo
"Mbah Narto dulu bilang mbah AngSong itu pernah berkelana, hidupnya pindah-pindah, menurut cerita mbah Narto, mbah buyut AngSong sering membuat lirik lagu tapi tidak untuk di nyanyikan melainkan sebagai tangga nada,
"Mbah buyut AngSong juga memiliki benda kecil tapi kata mbah Narto pernah liat benda tersebut bisa besar dengan sendirinya ketika mbah buyut AngSong melepaskan lalu dibuat latihan, dulu masih belum ada rumah-rumah, jadi nbah buyut AngSong latihan semacam pencak silat dengan benda tersebut karena menurut mbah Narto benda tersebut berubah jadi tongkat ujungnya masih berbentuk paruh burung," penjelasan dari Banu pun Romo semakin yakin bahwa Banu penerus dari pemiliknya,
"Apa nak Banu merasakan keanehan terjadi ketika melihat atau memegang seruling ini?" Tanya Romo dibalas anggukan kepala oleh Banu
"Ya Romo?" Jawaban dari Banu membuat Romo terharu
"Akhirnya aku menemukan keturunan mu temanku," ucap Romo sembari meneteskan air mata terharu,
Tak lama kemudian Romo pun melihat Feti
"Nona Feti, segeralah berangkat nanti malam karena perjalanan ini memakan waktu, karena sepertinya musuh kita akan datang!?" Seru Romo
"Baik Romo," jawab Feti singkat
Fatur sedari tadi diam akhirnya angkat tangan karena rasa penasarannya, mereka yang disana pun menoleh ke arah Fatur,
"Maksudnya bagaimana ya? Terus nanti malam kemana? Kok disuruh cepat bergerak?" Tanya Fatur
"Kita akan nenuike tempat Tribumi dimana Banu membawa sebuah kunci kehidupan dimana tempat istana di tempat Tribumi berada?" Jawab Romo
"Sepertinya nona Feti harus membawa empat orang untuk pergi kesana, karena selain tuan Banu, Tuan Raju juga memiliki energi kuat, karena di tengah perjalanan kalian Hanya Tuan Banu dan Tuan Raju yang harus menghadapi rintangan tak lupa kamu temani Feti, kemungkinan besar kekuatan belah raga mu akan di gunakan nanti," tutur Romo panjang lebar
"Baik Romo," jawab Feti singkat
Romo pun undur dari mereka karena ada yang harus di urus di dalam rumahnya, sambil berjalan melangkah ke dalam Romo mengingat masa dulu kenangan bersama teman seperjuangan Tuan SakerPeti dan AngSong, mereka dipertemukan di tempat perguruan tinggi paling terkemuka di jamannya,
Romo pun juga melihat kenangan indah ketika melihat benda kesayangan mereka saling bercanda ria,
"Andai kalian berada disini, tentu aku sangat senang, tapi takdir yang memisahkan kita, Tuan SakerPeti madam MandaraSeki tunggulah sebentar lagi meskipun raga kalian telah tiada tapi jiwa kalian masih dalam incaran mereka," tak lama kemudian Romo pun menghilang dari balik pintu berbahan kayu,
semangat buat cerita nya....
semangat terus dan jangan minder terus lanjutin karyamu yaa