karya : Rosnila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rosnila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Aku merebahkan tubuh ku di atas tempat tidur, Pikiran ku masih belum tenang, Aku kembali meraih handphone yang berada di atas tempat tidur , Namun nomor yang ku hubungi malah tidak aktif.
Aku begitu bingung memikirkan apa yang terjadi, Apakah telah terjadi hal buruk dengan bang Rizal.
Aku bangun dari tempat tidur dan melaksanakan sholat isya, Memohon petunjuk sama Allah. Waktu terus saja berputar namun belum ada kabar dari bang Rizal.
Sampai-sampai aku pun tertidur karena terlalu lama menunggu, Setelah terdengar azan subuh aku pun bangun dari tidur untuk shalat dan bersiap-siap kekampus.
Pagi ini aku berencana cepat kekampus agar tak terlalu kepikiran dengan bang Rizal.Belum pun aku bercerita kepada mama dan papa tentang niat ku untuk bertunangan dengan bang Rizal, Namun bang Rizal malah seakan hilang ditelan bumi.
Setelah sarapan pagi aku langsung berangkat kekampus, Seperti biasa aku pergi dengan sepeda motor. Aku terus menyibukkan diriku dengan buku-buku di perpustakaan kampus.
Namun aku tidak bisa membohongi diriku sendiri kalau aku tidak bisa melupakan bang Rizal. Aku kahawatir terjadi hal buruk dengan dirinya.
Semenjak hari itu , Hari-hari terus kulalui Tampa mendapatkan kabar dari bang Rizal, Bahkan seminggu telah berlalu, Nomor handphone bang Rizal masih belum bisa dihubungi, Aku begitu kacau, Fokus ku pun terpecah antara kuliah dan bang Rizal.
Siang itu setelah keluar dari kampus, Aku pun menuju kesebuah cafe untuk makan siang, Kebetulan hari ini ada mata kuliah tambahan jadi sekitar jam 14.40 aku baru keluar dari kampus.
Setelah membuat pesanan aku pun berniat menghubungi nomor bang Rizal lagi, Aku berharap nomor nya sudah bisa dihubungi.
Dan benar saja harapan itu terwujud, Namun tak ada jawaban dari seberang sana.
"Tuut tuut tuut!" Suara notif yang terdengar di handphone ku.
Aku kembali menghubungi ber ulang kali, Namun tak juga ada jawaban.Sampai akhirnya sebuah pesan pun masuk ke handphone ku, Pesan dari nomor yang baru saja ku hubungi.
Tampa menunggu waktu lama aku langsung membuka pesan yang dikirimkan bang Rizal, Aku berharap pesan itu berisi kabar dari nya, Namun aku salah, Sebuah pesan yang begitu menyakitkan untuk ku yang telah menunggu nya beberapa hari ini.
Tak terasa ada air yang membasahi pipi ku saat kubaca sepenggal pesan yang dikirimkan padaku,Singkat Namun Begitu menyakitkan hati.
"Maaf, Jangan hubungi Abang lagi Abang akan segera menikah." Isi pesan bang Rizal.
Pesan yang kubaca dalam hitungan detik ,Namun akan menghancurkan kepercayaan dan hatiku dengan tak terhitung lama nya.
Aku menggenggam handphone yang masih berada ditangan ku, Air mata terus saja membasahi pipi ku, Aku bahkan lupa saat itu sedang berada dimana.
Ternyata janji manis dan juga ucapan bang Rizal hanya membuat ku larut dalam buaian sesaat saja, Aku tidak menyangka begitu cepat aku meraskan sakit.
Ingin rasa nya aku menjerit seandainya aku tak berada di cafe. Aku menahan tangis ku agar tak terisak, Namun aku gagal.Kesedihan itu tak dapat dibendung, Bermacam penyesalan pun hadir saat itu.
"Maaf mbak, Apa mbak sakit?" Suara pekerja cafe mengagetkan ku.
Aku menatap ke arah gadis yang sedang mengantar kan pesanan ku dengan mata basah dan mungkin juga sembab, Aku hanya menggelengkan kepala tanda aku baik-baik saja.
Setelah meletakkan pesanan ku, gadis yang bekerja di cafe itu pun pergi meninggalkan ku. Aku mencoba untuk menenang kan diri, Bukan untuk mulai makan namun untuk pulang kerumah.
Aku bangun dari duduk ku, Meninggalkan selembar uang 50 ribuan diatas meja dan keluar dari cafe. Hilang sudah selera makan ku.
Disepanjang perjalanan, Aku terus berpikir tentang pesan dari bang Rizal. Antara yakin dan tidak kalau itu adalah pesan yang bang Rizal kirimkan.
Sekitar 30 menitan aku sudah berada dirumah, memarkirkan motor matic ku digarasi dan masuk kedalam, Bahkan aku tak menyapa bibik yang sedang berada ditaman bunga.
Aku berjalan setengah berlari menaiki tangga yang merupakan akses menuju kamar ku. Aku membuka pintu kamar dan menghamburkan diri ke atas tempat tidur, Air mata yang berusaha kutahan disepanjang jalan tadi pun tak dapat ku bendung lagi.
Aku menangis sekuat2 nya, Tapi untung saja kamar ku kedap suara, Kalau tidak mungkin bibik akan khawatir dengan ku saat itu.
Setelah puas menangis, Aku pun mulai mengatur nafas untuk bisa lebih tenang, Aku benar-benar tak menyangka, Ternyata pilihan ku untuk tidak jatuh cinta itu benar adanya.
Seharusnya aku tak akan merasakan rasa sakit yang luar biasa seperti ini, Sakit dibohongi. Aku benar-benar tak habis pikir kenapa bang Rizal tega melakukan hal itu terhadap ku.
Aku mengambil handphone yang berada didalam tas, Membuka nya dengan perasaan yang takut, Takut kalau akan ada pesan yang lebih menyakitkan lagi untukku.
Dengan ragu aku pun mencoba untuk menghubungi bang Rizal kembali, Aku ingin memastikan kalau dia sendiri yang mengucapkannya.
Kali ini tak butuh waktu lama, Pertama kali telpon itu berdering, Aku langsung mendapat jawaban.
"Hallo Assalamualaikum!" Ucap ku dengan ragu-ragu.
"Waalaikum salam." Terdengar jawaban diseberang sana.
Namun Aku pun terdiam, Aku bertanya-tanya kenapa suara lain yang menjawab telpon ku, Namun aku tetap melanjutkan niat ku untuk bisa bicara dengan bang Rizal.
"Maaf, Apa saya salah sambung, Apa benar ini nomor nya Bang Rizal?"Tanya ku masih dengan nada yang sama.
"Tidak, Ini memang benar nomor nya bang Rizal."Jawab suara perempuan diseberang sana.
"Dimana bang Rizal, Apa bisa saya bicara?" Tanya ku hati-hati.
"Ada, Tapi sedang dikamar mandi."Jawab perempuan itu.
"Apa ada hal yang penting?" Tanya nya lagi.
"Iya sedikit." Jawab ku singkat.
"Katakan saja kepada ku, Nanti biar ku sampaikan kepada bang Rizal."Ucap nya.
"Maaf tapi saya Ingin bicara langsung dengan bang Rizal."Jawab ku.
"Kamu ini siapa, Beraninya ingin bicara dengan calon suaminya orang."Terdengar suara marah diseberang telpon.
"Calon suami? Apa benar bang Rizal akan menikah?" Tanya ku.
Nada suara ku saat itu sudah mulai serak, Akibat terlalu lama menangis, Dan juga menahan tangis ku saat itu.
"Maaf ya, Aku rasa sudah jelas, Jangan ganggu rumah tangga kami."Ucap perempuan itu.
Telpon pun terputus, Aku yang duduk disisi tempat tidur pun merosot kelantai, Aku benar-benar tak kuasa menerima ini semua, Ternyata begitu mudah untuk ku merasakan kehancuran yang luar biasa ini.
Aku duduk dilantai dengan memeluk kedua lutut ku, Menyandarkan kepala disisi tempat tidur.
Kembali tangis ku pecah saat itu, Sebenarnya aku tak ingin percaya dengan yang terjadi, Kemana aku harus mencari pembenaran.
Aku saat itu seperti orang yang frustasi, berteriak sambil menangis, Bahkan aku melempar handphone yang saat itu ku pegang kelantai, Dan hancur berantakan.
Sampai sore hari Aku belum juga turun ke bawah, Aku masih menangisi luka yang baru saja ditorehkan dihati ku.
Terdengar suara panggilan dari bibik diluar sana, Namun aku enggan menjawab, Tubuhku lemas karena terlalu lama menangis, Bahkan aku sekarang hilang keseimbangan untuk berdiri.
Berulang kali bibik mengetuk pintu, Namun aku seakan tak mendengar, Dan akhirnya tak kudengar lagi suara ketukan di pintu kamar, Aku yakin bibik sudah pergi dari sana.