Indonesia
NovelToon NovelToon
The Brightest Of Aquila

The Brightest Of Aquila

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Contest / Tamat
Popularitas:6.6k
Nilai: 4.5
Nama Author: Otlarr

Hidup sebagai tahanan di rumah sendiri, dibesarkan oleh pelayan-pelayan membuatnya menciptakan dunia sendiri. Dunia dimana tak seorangpun diizinkan ikut masuk. Aquila berusaha tuk terus bercahaya di dunianya. Menjadi terang di gelapnya kehidupan.
Hingga musim panas ke tujuh belasnya. Setelah sekian banyak pengawal yang dipekerjakan untuknya. Sekian banyak juga pengawal yang memilih untuk berhenti menjaganya. Untuk pertama kali dalam hidup Aquila, dirinya ingin dijaga. Aquila mulai membuka dunianya untuk pria ini. Tak banyak yang bisa diharapkan sang pria mengingat gadis yang dijaganya adalah atasannya.
Robert Prayanto. Bukan hal mudah menjaga putri dari seorang petinggi di Inggris. Banyak musuh yang mengincar nyawa putri terakhir dari tuannya. Satu tahun. Hanya satu tahun dirinya harus bertahan. Bukan hanya bertahan untuk menjaga gadis itu tapi juga bertahan untuk tak jatuh cinta pada Aquila.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otlarr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pasal XVIII - Perasaan Manusia Itu Rumit

Setelah kembali dari Jogja, semuanya kembali seperti sedia kala. Seakan tak terjadi apapun, Auriga kembali kepada bisnis. Aku kembali pada pekerjaanku, menjaga keamanan Auriga. Karena bosku itu juga jarang bepergian jauh seperti dulu jadi aku menghabiskan sebagian besar waktu di Aquila Mansion. Suasana pulau juga masih sama. Dingin, dan tidak ramah. Benar-benar suasana saat pertama kali aku tiba. Aku sangat yakin semua orang di rumah ini sudah mengetahui bahwa Nyonya Aretta masih hidup tapi semuanya seolah tak mengetahuinya lalu hidup seperti hari-hari sebelumnya.

Surat panjang dari Nyonya Aretta masih kusimpan dengan baik di laci kamar. Setiap malam aku akan membaca ulang surat itu. Aku masih merasa asing dengan cerita itu, bahkan diriku seakan menolaknya. Orang yang membunuh orang tua kandungku adalah suruhan Thomson, dan kini aku bekerja untuk menjaga anaknya. Sungguh pekerjaan mulia.

Hidupku selama tujuh bulan terakhir berjalan sangat mulus. Saking mulusnya, aku sampai merasa bosan. Memang seperti inilah pekerjaanku seharusnya. Mengikuti Auriga kemanapun, mematuhi setiap perintahnya, dan yang terpenting melakukan setiap misinya. Meskipun hal ketiga sudah tidak terjadi dalam tujuh bulan terakhir, aku pernah menikmati pekerjaan itu, dan karena itu, masa lalu yang seharusnya tidak aku ketahui muncul ke permukaan dengan sendirinya.

Tentang hubunganku, dan Aquila. Tidak terjadi sesuatu yang sebermakna itu. Semakin hari aku semakin menahan diri untuk tidak jatuh lebih dalam menyadari hubungan ini tidak akan pernah berjalan jadi ketimbang menyakiti perasaan masing-masing lebih baik seperti ini. Sejujurnya, tidak semudah itu awalnya. Aku sering mencuri pandang padanya. Saat berpapasan di tengah malam, aku beberapa kali menghentikannya hanya untuk sekedar menanyakan kabar. Di hari libur, aku akan pergi ke pulau utama, dan bepergian bersama. Tapi seperti ucapanku di awal, tidak terjadi sesuatu yang bermakna. Hubungan ini tanpa kemajuan.

Aku sedang duduk di kasur kamar saat memikirkan ini semua. Surat dari Nyonya Aretta masih di tangan kananku. Lembar itu semakin kusut semakin bertambahnya hari. Hingga hari ini aku belum bosan untuk membaca surat ini. Aku menatap lurus ke jendela yang mulai menampilkan matahari pagi. Aku harus segera bergegas turun, dan menjalankan tugasku.

…

Aku duduk di belakang kemudi, sedangkan Auriga di kursi belakang. Seperti biasanya, tidak ada percakapan apapun selama perjalanan kemanapun itu. Aku fokus dengan jalanan di depanku sedangkan Auriga fokus pada alat canggih di tangannya.

“Aku dengar kau sering menghabiskan waktu bersama adikku,” ucap Auriga dingin tetap menatap alat canggih di tangannya. Seketika tenggorokanku kering. Perlahan aku menelan ludah yang terasa sangat mengganjang kemudian berdehem sebelum menjawab, “itu benar.”

“Sudah sejauh apa hubungan kalian?” tanya Auriga lagi lebih dingin.

“Hanya bepergian,” jawabku jujur. Jantungku berdebar sangat cepat memikirkan arah pembicaraan ini. Aku menahan nafas beberapa saat. Aku sangat gugup. Aku bahkan tidak berani untuk sekedar menatap kaca spion untuk melihat belakang.

“Kalian tidak membicarakan hubungan apa yang sedang dijalani?”

“Belum,” jawabku jujur.

“Baguslah! Segera akhiri, kau harus mengingat perkataanku dulu,” ucap Auriga final.

…

Sebulan lagi. Satu bulan lagi aku akan kembali memutuskan. Kontrak akan habis dalam satu bulan. Aku ingin melanjutkan untuk berada di sisi Aquila tapi sebagian diriku ingin keluar dari hubungan itu lantas membuka lembaran baru dengan orang lain. Mengingat kembali isi surat Nyonya Aretta. Orang tuaku dibunuh oleh Thomson. Terlalu banyak alasan untuk diriku pergi. Kepalaku rasanya ingin kupenggal saja.

Satu purnama akan berlalu tanpa aku rasa, dan aku harap purnama itu menghasilkan keputusan yang baik. Terkadang kita terlarut oleh masalah hingga lupa caranya mengambil keputusan terbaik. Aku bohong jika aku baik-baik saja dengan pekerjaanku ini. Diriku hanya terus membiarkan rasa tidak nyaman itu terkubur.

Aku menghembuskan nafas lelah. Udara musim panas kembali berhembus. Bau asin air laut menguasai penciumanku. Rasanya seperti pertama kali saat aku datang ke tempat ini. Rooftop selalu sama sejak aku datang. Sunyi, berbau keputusasaan, terlihat menyedihkan, dan tak ramah. Selalu seperti itu sepanjang tahun tidak peduli musim apa yang sedang berjalan.

Anganku kembali pada ucapan Auriga pagi tadi. Aku perlu mengakhiri hubungan yang belum terjadi. Di sisi lain benakku mengulang ucapan Nyonya Aretta. Jika aku mempertahankan hubungan itu, aku tidak pernah tahu bagaimana reaksi Auriga. Memutuskan hubungan yang belum dimulai juga bukan hal yang mudah, dan juga itu terdengar konyol. Mengakhiri sesuatu yang belum dimulai. Belum lagi jika aku harus tetap bekerja dengan Aquila di sekitarku. Kedua pilihan memiliki dampak yang sama-sama tidak bisa dipilih.

“Hai!” Sapa Aquila yang sudah berdiri di kananku. Gadis itu tersenyum lembut. Wajahnya tetap terlihat mempesona meski cahaya disini minim.

“Kau tidak lelah?” Tanyaku. Gadis itu nampak berpikir sesaat sambil menatap langit.

“Tidak terlalu melelahkan hari ini,” jawab Aquila lembut kemudian menghirup nafas dalam kemudian menghembuskannya pelan.

“Bagaimana menurutmu?” Tanyaku ambigu sambil menatap langit malam.

“Apa?” Tanya Aquila balik tidak mengerti.

“Hubungan kita.” Aku memberi petunjuk arah pembicaraan.

“Aku bahagia dengan hubungan kita,” jawab Aquila dengan tatapan berbinar.

“Aku….” ucapku terhenti.

“Kau tidak bahagia?” Tanya Aquila tegas.

“Kau tahu kakakmu tidak merestui kita, dan juga masa lalu masing-masing kita, kau tahu sendiri apa yang aku maksud.” Aku meluapkan isi kepala yang terus mengganggu

“Aku….aku tidak tahu apa yang harus aku katakan, kau harus memikirkan pilihanmu sendiri. Yakin lah bahwa pilihanmu adalah yang terbaik. Tapi jika aku jadi dirimu, aku akan menyingkirkan semua faktor itu, dan mengikuti apa yang diriku inginkan.”  Aquila lalu turun ke lantai bawah setelah mengatakan itu. Gadis itu tidak salah. Gadis itu dibesarkan seperti itu. Gadis itu dilahirkan dengan kebebasan yang mutlak.

“R!” Teriak Visil yang menarik aku dari atmosfer sendu. Aku berbalik menatap Visil.

“Kamu dipanggil Snipper!” Seru Visil di ambang pintu. Auriga memanggilku. Aku menangguk lalu menghirup nafas dalam sebelum akhirnya turun menemui Auriga.

Aku menarik nafas dalam-dalam lagi sebelum mengetuk pintu di depanku. Suara deheman dari dalam terdengar mempersilahkan aku masuk. Pintu di depan terasa lebih mengerikan dari sebelum-sebelumnya. Aku membuka pintu di depanku. Suasana seperti hari-hari yang lalu saat aku masuk.

“Anda memanggil saya?” Aku berbasa-basi. Ini bukan hal yang biasa aku lakukan. Aku sangat gugup kali ini. Sepertinya jantungku juga berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Rasanya langkahku juga lebih lambat. Semuanya terasa aneh.

“Kita sedang tidak aman.” Auriga membuka perbincangan dengan sangat menakutkan.

“Kau dipindahkan untuk menjadi pengawal Aquila, sedangkan Visil bersamaku. Aku harap kau memikirkan kata-kataku tempo hari, aku sama sekali tidak menginginkan perubahan ini. Ini semua perintah Papa yang pastinya dengan campur tangan Aquila.” Auriga menjelaskan panjang lebar serta frontal. Aku mengerti mengapa dia terlihat tidak suka saat aku masuk ruangan. Ini seakan Auriga menyetujui aku berdekatan dengan Aquila tapi nyatanya pria itu masih bertahan dengan keputusannya untuk tidak menginginkanku menjalin hubungan dengan adiknya. Aku kemudian mengangguk mendengar penjelasan itu. Aku bahkan tidak sanggup menatap matanya.

“Kemungkinan formasi itu akan berlangsung selama sebulan, dan itu berarti saat semuanya berakhir kau akan menandatangani kontrak baru atau kau mundur.” Auriga kembali bersuara. Aku kembali mengangguk. Auriga menunjuk pintu dengan dagunya mengusirku. Aku bangkit dari kursi meninggalkan Auriga di perpustakaan.

...

Aku tidak tahu harus bahagia atau sedih saat membuka mata pagi ini. Selama sebulan ke depan, aku akan berada di sekitar Aquila. Aku memiliki banyak waktu bersama orang yang secara sadar aku cintai. Ah! Ini melelahkan! Aku tidak ingin memikirkan ini lagi. Segera aku keluar dari selimut yang menjagaku hangat semalam.

Seperti sebelumnya, aku menunggu Aquila sarapan sebelum mengikutinya kemana saja hari ini. Chris masih sama seperti yang terakhir kali kecuali tubuhnya yang lebih kurus. Aku menatap Aquila yang memakan isi piring di depannya dengan angkuh. Beberapa kali aku tertangkap basah menatapnya. Gadis itu hanya tersenyum kecil di salah satu sudut bibirnya.

Setelah selesai dengan piring di hadapannya, gadis itu berjalan melewatiku menuju dermaga. Tidak ada speed boat yang biasanya kami gunakan untuk menuju pulau utama melainkan kapal pesiar. Tidak sebesar milik Auriga, namun namanya juga kapal pesiar jadi ini tetap besar. Aquila melangkah masuk ke benda yang terapung itu tanpa ragu. Masih dengan penuh tanda tanya, aku mengikuti langkah gadis itu. Tak sepatah katapun keluar dari mulut gadis itu hingga kakinya berhenti melangkah. Ruangan yang kuinjak kini memiliki nuansa tropis yang lekat. Dari perabot hingga cahaya ditata sedemikian rupa menciptakan suasana musim panas.

“Kita akan berlayar ke Amerika, anggap saja ini liburan,” ucap Aquila saat kapal mulai berlayar. Ruangan seketika senyap saat Aquila keluar menyisakan aku, dan Chris. Perempuan itu melemparkan pantatnya pada sebuah sofa panjang.

“Akhirnya aku liburan!” Seru Chris sambil merenggangkan tubuhnya. Aku menatap malas ke arah Chris lalu keluar ruangan. Kapal ini tidak sebesar kapal pesiar milik Auriga tapi ini jauh lebih nyaman. Aku menelusuri kapal hingga tiba di dek atas bagian belakang kapal. Cahaya matahari pagi menyambut kedatanganku. Aku menatap ke sekitarku. Pandanganku berhenti pada Aquila yang berada di dek bawah. Gadis itu mengenakan gaun musim panas selutut membuatnya lebih manis. Di tangan gadis itu ada gelas sampanye. Aku sangat yakin itu berisi alkohol. Minum alkohol di pagi hari bukanlah ide bagus terlebih saat ini musim panas.

Aquila selalu seperti itu. Melakukan hal-hal sesuai isi kepalanya. Gadis itu tidak peduli terhadap hal-hal yang manusia lain bilang normal. Cara berpikirnya berbeda jauh dari orang-orang pada umumnya. Gadis itu dilahirkan seperti itu. Gadis itu dibesarkan seperti itu. Sebagian orang mengatakan itu bukan hal yang baik. Aku setuju dengan pendapat itu tapi entah mengapa aku tetap tidak mampu berpaling.

Aquila dikisahkan sebagai elang, elang yang membawa petir Zeus lebih tepatnya. Elang sangat kuat hingga mampu menembus badai. Entah berapa badai yang sudah dilewatinya, satu hal yang aku yakini, itulah yang membuatnya semakin kuat. Berbeda denganku yang mudah terjatuh. Aku tidak perlu badai hebat untuk menjatuhkanku. Hanya sebuah rintik hujan kecil yang dinamakan rasa cinta. Perasaan manusia itu rumit.

1
Om Rudi
loh, kok gak lanjut
Om Rudi: semangat buat baru lagi
total 2 replies
Ni Ketut Artini
tulisanmu bagus,,no typo
Ni Ketut Artini
believe me,,ceritamu bagus ,,lain dr sekedar cerita CEO kaya
ak dh baca ceritamu yg lain
you deserve more like,,
dipromo in dong thor
semangat ya
Otlarr: OMG thank youuuu
total 1 replies
@dinijuandari
Aku jatuh cinta sm karya authooorrrrrrr 🥺🥺🥺🥺 ditunggu karya selanjutnya thor 😍😍
@dinijuandari
Thooorrrr duh kece banget ini cerita aku jatuh cintaaaa 😍😍😍😍😍
Otlarr: 😆😆😆 mari mari dilanjut bacaaa
total 1 replies
@dinijuandari
Baru baca prolognya aja udh jatuh cinta , duhhh author ini paling the best dah 😍😍😍
Otlarr: kuy lanjutin
total 1 replies
Yulestiani Desy Wulandari Soewarno
Good
🌸Ar_Vi🌸
aku suja ceritanya thor.. bagus.. cuman aku baru pakai aplikasi ini, dan baru nemu juga karyamu thor.. semangat thor.. ditunggu kelanjutan sekuel Moccachino nya ya tho.. 🥰🥰
Otlarr: siiippp
total 1 replies
🌸Ar_Vi🌸
ok thor.. aku setuju dengan pilihan Robert😘😘
🌸Ar_Vi🌸
ok thor.. aku setuju dengan pilihan Robert
🌸Ar_Vi🌸
semakin penasaran aku tho.. maraton dari sore thor.. 😍😍
Otlarr: hahahah jangan lupa makan mandi tidur ibadah loh
total 1 replies
🌸Ar_Vi🌸
suka thor.. lebih seru dari sebelumnya.. 😍😍
🌸Ar_Vi🌸
thor, penggemar drakor juga ya.. "Little Namja" apakah terinspirasi "mirror" di K2.? dan fabricated city juga muncul di novel sebelumnya " moccachino" 😍😍
Otlarr: betul bangeettt..... aku pecinta film sejenis fabricated city ditambah yang main itu lohhh ganteng parah
total 1 replies
Mommy 2
Like 👍
Up.... Semangat 🤗🤗

Salam "PANGGIL AKU MAS!"
Mommy 2
2 Like

Salam dari "PANGGIL AKU MAS!"
Mommy 2
Like 👍👍

salam dari "PANGGIL AKU MAS!"
Mommy 2
Like
Samangat thor 🤗

perkenalkan, buat kalian yang suka BL
ada chat story dengan judul
"KELUARGA GABUT CHECK!!"

terima kasih 🙏
Mommy 2
like
Kucing Manis
10 like kutinggalkan
Kucing Manis
Aq mampir kakak bara rate 5 n boomlike, jangan lupa mampir juga di karyaku ❤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!