Mengisahkan makhluk mitologi siren yang jatuh cinta dengan seorang manusia. Di kira sebagai putri duyung yang baik hati, namun sebenarnya dia adalah siren yang kejam dan tidak memiliki rasa kasihan. Pembunuh cantik yang ditakuti di lautan itu jatuh cinta dengan seorang laki-laki dari golongan manusia yang menyelamatkannya dari kemarahan dewi laut. Hingga perasaannya itu mengubah jati dirinya dari seekor siren menjadi mermaid. Bagaimana kisahnya? Gass baca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19 - Farhan Kecelakaan
Malam ini Abi sengaja membuka jendela kamarnya agar angin dari luar bisa masuk ke dalam kamar. Karena rasanya hawa di dalam kamarnya terasa sangat panas. Cahaya bulan menerobos masuk dari sela-sela gorden.
Sean sudah tertidur lelap di pelukan Abi. Sedangkan Abi, cowok itu sama sekali tidak bisa tidur. Dipandanginya wajah Sean yang tenang dan teduh ketika tertidur seperti ini. Wajahnya bersinar layaknya bulan purnama. Bulu mata lentik, alis yang lebat dan rapi, bibir pink alami. Sudut bibir gadis itu terangkat menambah pesonanya, membuat Abi semakin terpana.
"Kamu ini baru keluar dari komik?" gumam Abi mengagumi pesona Sean yang tidak realistis.
Tok tok tok.
"Bi. Udah tidur?"
Abi menoleh ke arah pintu. Kemudian melihat Sean yang berada di pelukannya. Dia memastikan gadis itu tetap terlelap dalam tidurnya, tidak terganggu dengan suara ketukan pintu barusan. Perlahan Abi beranjak dari ranjang. Setelah membenahi selimut Sean, dia segera membukakan pintu untuk kakaknya.
"Kirain Bang Farhan?" celetuk Abi sedikit terkejut ternyata yang datang adalah Novan.
"Lo nggak bisa bedain suara Abang lo sendiri?" tanya Novan dengan ekspresi kesal.
Abi tertawa cengengesan. Memang cukup sulit membedakan suara Novan dan Farhan. Bukan hanya suara, bahkan dari postur tubuh jika dilihat sekilas dari belakang akan sulit membedakan mereka berdua. Hal itu juga berlaku dengan Abi. Begitulah kekuatan gen. Tiga bersaudara bisa begitu mirip dalam berbagai hal.
"Ada apa?" tanya Abi.
"Farhan kemana?" Novan malah bertanya balik.
Abi mengerutkan keningnya. Matanya melirik jam digital di meja kamarnya, dia kira Farhan sudah pulang dari tadi karena sekarang sudah lewat tengah malam. Biasanya Farhan pasti sudah pulang sebelum pukul 11 malam. Seketika perasaannya dilanda khawatir. Abi menoleh ke dalam kamar melihat Sean yang masih tertidur. Kemudian Abi keluar dari kamar dan menutup pintu dengan sangat pelan agar tidak mengganggu tidur Sean.
"Dia belum pulang?" tanya Abi.
Novan langsung menoyor kepala Abi. "Kalau udah pulang gue nggak tanya lo bego!" semprot Novan.
Abi merogoh sakunya dan mengambil handphonenya, dia berniat menelepon kakaknya tapi handphone Farhan tidak aktif. "Gak aktif." ucap Abi.
"Ayo kita cari!" ajak Novan.
"Bunda gak tau kan?" tanya Abi dengan raut wajah cemas.
Novan menggelengkan kepalanya. "Tenang aja, gue belum ngasih tau bunda." jawab Novan.
Abi mengela napas panjang. "Syukurlah. Ayo kita berangkat."
Mereka berdua segera berangkat mencari Farhan menggunakan satu mobil, karena mendadak cuaca menjadi mendung. Antisipasi jika tiba-tiba hujan. Sungguh perasaan mereka sangat tidak enak. Mereka berharap Farhan baik-baik saja di luar sana.
"Lo tadi udah coba telepon dia?" tanya Abi sambil terus mencoba menghubungi kakaknya.
"Gak aktif sama sekali." jawab Novan seraya menggelengkan kepalanya. Novan melirik Abi yang masih berusia menghubungi Farhan, "Gimana?" tanyanya.
Abi menggelengkan kepalanya sebagai respon dari pertanyaan kakaknya. "Kita coba ke toko buku yang biasa dikunjungi Bang Farhan dulu." ajak Abi sambil menunjuk jalan, karena Novan tidak terlalu dekat dengan Farhan jadi dia tidak tahu tempat-tempat yang sering dikunjungi Farhan.
Di tengah perjalanan, mereka berhenti karena ada macet yang panjang. "Apa-apaan? Macet? Jam segini?" gumam Farhan kesal.
Abi menurunkan kaca jendela mobilnya dan melongok ke luar jendela melihat seberapa panjang kemacetan di depan sana. "Gila panjang bener." batin Abi.
Tidak lama kemudian seseorang berlari dari arah depan dengan tergesa-gesa. Abi menghentikannya dan bertanya ada apa di depan sana. "Permisi, Pak? Di depan ada apa ya? Kok macet sepanjang ini?" tanya Abi.
"Itu Dek, ada kecelakaan parah banget. Body mobilnya sampai ringsek." jawab pria paruh baya tersebut.
Jantung Abi dan Novan seketika berdetak dengan cepat. Berharap apa yang ada di pikiran mereka itu tidak benar. "Platnya berapa pak?" tanya Abi.
"Duh, nggak ingat Dek. Coba adek liat sendiri aja." katanya sebelum pergi meninggalkan Abi dan Novan.
Abi dan Novan saling berpandangan sebentar. Mereka langsung keluar dari mobil dan berlari ke depan melewati kemacetan tersebut. Mereka baru berhenti setelah terdapat sejumlah orang yang mengerumuni sebuah mobil sport di mana body bagian belakangnya sudah ringsek.
"Permisi! Permisi!" Abi dan Novan menerobos kerumunan untuk melihat lebih jelas.
Jantung mereka berdetak semakin cepat ketika melihat tas hitam dengan pin berbentuk trisula. Itu adalah tas kesayangan Farhan.
"Nggak... tas kayak begitu bukan cuma Farhan yang punya." gumam Novan menyangkal. Cowok itu berjalan mengitari mobil untuk melihat nomor plat mobil tersebut. Seketika lututnya melemas melihat plat mobil tersebut. Plat mobil itu adalah ulang tahun Farhan, yang artinya itu adalah mobil Farhan.
Bruk.. Novan terduduk lemas melihat hal itu. Dilihat body mobil yang benar-benar tidak berbentuk, dia sudah tidak berani membayangkan keadaan adiknya. "Nggak mungkin, Farhan." buliran bening mulai menetes dari sudut matanya.
Abi melihat kondisi kakaknya berusaha tegar. Cowok itu menghampiri seorang polisi yang berdiri mengatur lalu lintas yang macet karena kecelakaan tersebut. "Permisi, Pak? Ba-bagaimana keadaan korbannya?" tanya Abi dengan mata yang sudah memerah.
"Maaf? Anda siapanya?" tanya polisi itu.
"Saya keluarganya."
"Korban bernama Farhan Rajaksha. Berusia 19 tahun. Korban sudah dibawa ke rumah sakit sekitar 15 menit yang lalu." jawab polisi tersebut sambil menyerahkan kartu identitas milik Farhan.
Abi menerima kartu tersebut dengan tangan gemetar, tapi dia sedikit merasa lega karena berarti kakaknya ada kemungkinan selamat. Dia segera menghampiri Novan dan mengajaknya untuk pergi ke rumah sakit melihat keadaan Farhan.
"Lo tau dia di rumah sakit mana?" tanya Novan.
Abi hanya melirik kakaknya tanpa menjawabnya. Cowok itu menambah kecepatan mobilnya agar cepat sampai di rumah sakit yang dituju. Yap, kali ini Abi yang membawa mobil. Dia tahu kondisi Novan sedang tidak baik-baik saja. Dari pada nyawa mereka jadi taruhan karena Novan yang sedang sedih menyetir, mending dirinya yang mengalah.
...Rajakshaa Hospital...
Drap. Drap. Drap. Mereka berdua segera berlari ke ruang Instalasi Gawat Darurat yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat parkir. Mereka mencari Farhan di setiap sudut IGD, akhirnya mereka menemukan saudaranya tersebut di brankar paling ujung. Cowok dingin itu terlihat duduk bersandar di brankar, dengan kepala diperban dan tangan lecet-lecet.
"Lo kemana aja anjing?!" umpat Novan seraya langsung memeluk adiknya dengan erat.
"Lepas, gue ga bisa napas." sahut Farhan datar.
Novan segera melepaskan pelukannya kemudian menatap nyalang Farhan. "Lo gak biasanya gini, meleng mikirin apaan lo sampai kayak gini?" tanya Novan khawatir.
"Apa sih, kayak lo ga pernah kecelakaan aja." jawab Farhan acuh.
Novan menghela napas panjang. "Kalo gue kecelakaan ga pa-pa. Mati juga biarin. Tapi adik gue gak boleh! Lo gak boleh lecet sedikitpun! Itu juga berlaku buat Lo Bi." ucap Novan serius. Begitulah bentuk kasih sayang seorang kakak.
Abi tersenyum geli. "Kalo gini kayak orang bener." batin Abi tertawa.
"Terlanjur lecet." jawab Farhan dengan senyuman yang sangat tipis. Tidak bisa dipungkiri, dia cukup bahagia karena melihat raut wajah khawatir Novan yang panik takut dirinya kenapa-kenapa.
"Bacot! Sampai gue lihat lo gini lagi gue geprek sekalian kepala lo!" ancam Novan sadis. Tapi, tentu itu tidak serius.
"Kenapa lo bisa kecelakaan? Kayaknya lo bukan orang yang se ceroboh itu?" tanya Abi setelah keadaan tenang.
Farhan diam sebentar. Cowok itu mengingat kejadian beberapa jam yang lalu sebelum dirinya mengalami kecelakaan itu.
...Bersambung......
terus berkarya dan berkarya.
jangan cepat merasa puas.....
semoga membawa berkah.....
kelamaan nunggu sampe lupa alur😌
Gak sih