Indonesia
NovelToon NovelToon
Bias Rasa

Bias Rasa

Status: tamat
Genre:Obsesi / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Tamat
Popularitas:20.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mandanisa 0112

Bias-bias menjelma mengusik rasa. Jika sesuatu yang menakutkan itu hadir, itu adalah bertemu dengan Iyash Wiyahasa Ardhana. Bagi Marissa, Iyash adalah beruang kutub dari Alaska. Selain dingin, Iyash juga memandangnya seperti mangsa. Mangsa dari setiap kemarahannya.

Kisah ini dibuat untuk melengkapi potongan puzzle yang hilang. Dan Yang belum tahu kisah Iyash sebelumnya, bisa temukan cerita lengkapnya dalam novel yang berjudul Behind The Lies.

*cover by Rhy Nadia*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mandanisa 0112, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dunia Baru Saja Menghampiriku

Kami tak terlibat obrolan apapun di sepanjang perjalanan. Dia sibuk dengan dirinya sendiri, pun denganku. Sesekali kulihat dia memilih tidur. Aku tahu dia lelah, karena tak seharusnya dia di sini. Seharusnya dia berbaring dan beristirahat di rumah sakit, kesehatannya mungkin akan semakin memburuk.

Kami sudah menempuh dua jam perjalanan, tapi aku belum tahu kapan kami akan sampai dan kemana Kak Iyash membawaku. Aku bertanya tentang seberapa jauh lagi jarak yang akan kami tempuh, tapi Pak sopir hanya menjawab lumayan.

“Jadi, gimana? Lumayan dekat, lumayan jauh?” tanyaku memastikan.

“Dekat,” sahut Kak Iyash tiba-tiba. Entah sejak kapan dia terbangun. Tampak pria itu sedang mengetik pesan, lalu kemudian mengambil satu gambar dengan kamera ponselnya, kemudian mengirimkannya entah pada siapa.

“Nanti di depan ada pertigaan, Bapak lurus aja,” katanya sembari menatap lurus. Dia kemudian menoleh padaku dan aku segera menyembunyikan pandanganku darinya.

Tak sampai satu menit kami melihat pertigaan yang dimaksud Kak Iyash. Pak sopir lurus dan kami masuk ke kawasan perkebunan teh. Jalan yang halus dan udara yang sejuk membuatku merasa nyaman. Jika memang Kak Edgar ada di sini, wajar dia tak ingin pulang, setidaknya di sini dia bisa merasa tenang dengan kesendiriannya.

“Di sini, Pak,” pinta Kak Iyash. Dia kemudian membayar ongkos, lalu turun. Aku segera mengikutinya.

Kami berdiri di depan rumah bergaya tradisional. Nyaman dan penuh kehangatan.

“Iyash.” Tiba-tiba kudengar suara seseorang memanggil. Kami lekas menoleh dan tampak seorang wanita tua berlari dan merengkuh kak Iyash ke dalam pelukannya.

Wanita tua itu bilang kalau Iyash sudah lama tidak ke sini. Kuedarkan pandangan ke sekeliling interior rumah tersebut. Halamannya luas, terdapat pohon mangga di samping kiri, lalu kemudian kulihat ada banyak rumah-rumah panggung berjejer di sampingnya. Sementara perkebunan teh membentang di belakang rumah tersebut.

Aku dengar Kak Iyash bilang kalau tangannya mengalami patah tulang. Dasar pembohong, kenapa tidak bilang saja yang sebenarnya. Lagi pula tidak begitu memalukan kalau pada akhirnya dia kalah dalam berkelahi, bukankah dia bisa lebih sombong dengan mengatakan dia baru saja menyelamatkanku dari timah panas yang hampir membuatku terbaring koma di rumah sakit, atau mungkin membuatku meninggal?

“Nggak usah khawatir, Nek. Iyash baik-baik aja kok,” katanya pada sang Nenek.

“Eh, ini siapa?” tanya Nenek itu padaku.

“Marissa.” Aku tersenyum dan langsung meraih tangan keriput itu lalu mengecupnya.

“Marissa.” Nenek mengulangi namaku sembari tersenyum. Wajah ramahnya membuatku merasa yakin kalau Kak Iyash dikelilingi oleh orang-orang yang baik.

“Anaknya Om Restu,” kata Kak Iyash seraya melenggang pergi dan masuk ke dalam rumah tersebut.

“Restu? Kamu anaknya Restu?” Nenek itu terkejut.

Aku terperangah. Tak pernah sedikit pun aku mengira kalau Papa juga mengenal keluarga Om Hasa.

“Cantiknya.” Nenek itu mencubit ujung daguku. “Ayo, masuk,” ajak Nenek. “Jangan sungkan.”

Aku kembali mengangguk. Nenek merangkul pinggangku lembut.

“Dulu waktu Papa kamu masih bujang, dia sering main ke sini. Bahkan, meski Hasa tidak bisa pulang ke sini, Restu tetap datang. Dia sudah seperti anak kami,” tutur Nenek.

Aku hanya bisa tersenyum mendengar kisah Papa. Aku duduk di sebelah Kak Iyash. Tampak pria itu tengah duduk bersandar. Sementara Nenek pergi ke tempat yang lebih dalam dari rumah tersebut. Tak berselang lama, seorang pria tua datang, lalu disusul seorang wanita paruh baya yang membawa nampan berisi dua gelas air putih.

Kak Iyash bertegur sapa dengan kakek tua itu. Sampai akhirnya Nenek mengenalkan aku pada suaminya.

“Marissa, Pak. Anaknya Restu, Bapak masih ingat? Terakhir ke sini, waktu Iyash masih SMA.”

Kakek itu mengangguk seraya tersenyum. Aku menjabat dan mengecup punggung tangannya.

“Umur nggak ada yang tahu.” Kakek menghela napas seraya duduk.

Papa memang pergi terlalu cepat.

“Di minum dulu,” kata Nenek. “Kebetulan Mbak Lastri sedang masak. Nanti kita makan.”

Aku hanya mengangguk, kemudian mengambil gelas berisi air putih tersebut. Rasanya menyegarkan, khas air pegunungan.

“Marissa nggak banyak bicara ya, beda sama ayahnya.”

“Jangan minta dia bicara, cerewet, berisik,” sahut Kak Iyash seraya bangkit, lalu pergi.

Aku membasahi tenggorokan seraya tersenyum kikuk.

“Oh begitu?” Nenek kembali mencubit ujung daguku.

Tiba-tiba ponsel berdering.

“Bu, ada telepon,” kata Kakek.

“Ah, iya, sebentar ya.” Bersamaan dengan Nenek yang baru saja pergi meninggalkan sofa, wanita yang tadi membawakan air, kembali dengan sepiring pisang goreng yang mengepulkan asap tipis. Dia kemudian meletakkannya di meja.

Cukup lama Nenek pergi dan Kak Iyash pun tak kembali. Dia meninggalkanku di ruang tamu bersama kakeknya. Kakek sudah terlihat tak bergairah, napas sedikit tersenggal dan dia memegang tongkat di tangan kanannya.

“Gimana Mama kamu, sehat?” suaranya kembali kudengar.

“Sehat, Kek. Alhamdulillah.”

“Hasa sering cerita tentang kamu. Kakek pernah memintanya untuk mengajak kamu ke sini. Tapi, sampai sekarang belum terwujud, alhamdulillah, Iyash yang membawa kamu ke sini. Akhirnya Kakek bisa bertemu kamu.”

Aku hanya bisa tersenyum.

Kakek kemudian berdehem, kedua matanya menatap lurus ke luar jendela. Cuaca yang sejuk mungkin membuatnya bisa berlama-lama menatap ke sana.

“Bagaimana sekolah kamu?” Kakek kemudian menatapku.

“Icha udah lulus, Kek.”

“Oh. Alhamdulillah. Kerja?”

“Belum,” jawabku jujur.

“Hm, kenapa nggak kerja di perusahaan Hasa?”

Kembali kusunggingkan bibir. Rasanya tidak pantas jika aku menceritakan bagaimana aku dihina oleh cucunya di perusahaan tersebut, lalu kemudian kami bisa pergi bersama sore ini.

“Nanti, Kakek bilang sama Hasa, agar dia mau menerima kamu di perusahaannya.”

“Nggak usah, Kek,” tolakku halus. “Icha sudah diterima di perusahaan lain, baru mau mulai Senin depan,” bohongku kali ini. Aku hanya tidak ingin beliau ikut memikirkan masa depanku.

“Oh, bagus.”

Aku kembali tersenyum. Setelah cukup lama, tiba-tiba kulihat Kak Iyash kembali.

“Ikut saya,” ajak pria itu.

Seketika aku mengernyit heran.

“Cepat,” kata Kak Iyash sembari menarik tanganku dengan tangan kirinya. Wajah datarnya yang jarang tersenyum membuatku sedikit geram.

“Mau kemana, Yash? Sebentar lagi magrib,” kata Kakek.

“Keluar sebentar, Kek,” jawab Kak Iyash sembari terus menarikku. Aku menoleh ke belakang dan kulihat Nenek baru kembali ke ruang tamu.

“Mau kemana, Yash?”

“Nenek, Icha–”

“Keluar sebentar,” jawab Kak Iyash.

Sesampainya di luar rumah, dia melepaskan genggaman tangannya. Tanganku yang kecil sedikit panas, mungkin akibat genggamannya yang keras.

“Kamu bilang kalau saya mengusir kamu dari rumah sakit?” tanya pria itu.

“Iya, ‘kan?” Aku terdiam beberapa detik untuk menyusuri isi pikiran pria itu lewat kedua matanya. Namun, dia menghindariku dan malah pergi. “Kak Iyash yang minta aku pergi.” Susulku.

Kak Iyash terus berjalan dan bahkan meninggalkanku. Aku memanggilnya dan memintanya menungguku. Namun, tampaknya dia tak peduli, sehingga aku hanya bisa menggerutu.

Kupikir semua jalan di sini baik, tapi ternyata tidak, mungkin untuk tetap melestarikan suasana perkampungan, sehingga warga di sini lebih suka menggunakan batu-batu sungai ini sebagai pijakan. Tapi, aku tidak terbiasa berjalan cepat di atas batu-batu licin ini.

Kulihat Kak Iyash juga sudah terlalu jauh, kurasa dia ingin membuatku tersesat. Namun, kedua kakiku tiba-tiba berat untuk terus melangkah. Rasanya seperti dunia baru saja menghampiriku dan aku tak perlu lagi mengejarnya. Edgar. Aku baru saja melihatnya dan dia juga melihatku hanya saja mungkin Kak Edgar tidak melihat Kak Iyash sehingga dia melewatinya begitu saja.

Tanpa senyum, tanpa sepatah katapun Kak Edgar mendekat dan langsung memelukku. Telingaku dapat mendengar gemuruh dibalik dadanya. Dagunya menancap di atas puncak kepalaku. Aku bahagia karena Tuhan tak membiarkanku berlama-lama tinggal dengan Kak Iyash, tujuanku sudah tercapai, aku hanya tinggal meyakinkan Kak Edgar agar dia mau pulang bersamaku.

1
Sheety Saqdiyah
Luar biasa
Mandanisa 0112: makasih, Kak
total 1 replies
Rini qi
Tuhan memberi kita pasangan sesuai dengan yg kita butuhkan bukan yang kita inginkan, kita hanya perlu bersyukur karena tidak ada manusia yg sempurna
Setuju aq thor....
apa ceritanya dah tamat thor
Rini qi: oke thor ditunggu karyanya, semangat💪
total 2 replies
Rini qi
buat percaya lg susah emang kalau sdh pernah dibohongi, apalagi nama itu ada kaitannya
Aduh ilyas cari masalah aja🫣
Mandanisa 0112: Ya begitulah dia, Wkwkwk
total 1 replies
Mandanisa 0112
ini ada di cerita Behind The Lies. Iyash sama Ashila sempet deket gara2 bayi ini.
Rini qi
ternyata beneran hamil 😄
Mandanisa 0112: iya, kak. Haha, tebakannya tepat sekalee ...
total 1 replies
Rini qi
duhh.. icha baru ngerasa happy eeh... down lg,
sakit apa ne icha, apa hamil tp kalau hamil kok sakit ya perut nya🤔
Rini qi
ini x ya thor yg nmanya habis hujan terbitlah pelangi🤗
Mandanisa 0112: Bisa aja, Kakak. Hihi makasih ya udah nemenn sampai sejauh ini. Hehe
total 1 replies
Rini qi
semangat thor💪
Mandanisa 0112: makasih kaka 😘🥰
total 1 replies
Rini qi
semangat thor
Rini qi
ini mungkin salah satu faktor marisssa perasaannya selalu sensitif🥺

Semoga sehat ca
Rini qi
keras hati x marissa ini, kasihan àlisha🥺
Rini qi
semangat up thor 💪
Mandanisa 0112: maafkan baru sempat up lagi.
total 1 replies
Rini qi
😥 lanjut thor..
Rini qi: ok 👌, double2 up nya ya 😁
total 2 replies
Rini qi
double up dong kak🤭
Mandanisa 0112: Insya Allah Kak, kalau sempat nanti double up.
total 1 replies
Rini qi
jgn menyakiti diri sendiri cha...
bangkit dan balas dengan cantik
Mandanisa 0112: hihi. Tenang kak, beri Icha ruang. Akan ada kejutan untuk Kak Iyash. hahaha
total 1 replies
Dafa David
up lg dong kak..
Mandanisa 0112: siap. InsyaAllah kak. ditunggu ya
total 1 replies
Dafa David
bagus banget
Mandanisa 0112: Makasih Kak. :-)
total 1 replies
Dafa David
ica pergi aja lah.
Qirana Qirana
Gaya penulisan Kak Manda ini memang aku suka. Cara penyampaiannya yang lugas membuat orang mudah paham.. Setiap tokoh dalam ceritanya memiliki karakter yang kuat. meski sekarang menggunakan POV 1, tapi tetap berkarakter. Kak Manda ingin menyampaikan kalau Marissa ini memiliki jiwa muda yang egois, kekanak-kanakan dan keras kepala, tapi tetap memiliki batasan, Marissa mencoba cuek tapi sebenarnya dia mudah sakit hati. Good job kak. 😎
Mandanisa 0112: Waaawww ... Makasih Kak reviewnya.
total 1 replies
Mandanisa 0112
Saya sarankan baca Behind The Lies dulu, biar tahu kenapa Iyash bisa menjadi seperti Beruang kutub dari Alaska 😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!