Cerita berawal dari seorang CEO sukses bernama Leo, yang merasa menyesal atas kehilangan cinta sejatinya, Elizabeth. Dalam keputusasaannya, Leo menemukan sebuah benda misterius yang memungkinkannya untuk kembali ke masa lalu dan mengubah nasibnya.
Dengan bantuan alat canggih yang ditemukannya, Leo kembali ke masa lalu saat dia dan Elizabeth masih remaja. Dia berusaha untuk mendekati Elizabeth dan membuatnya jatuh cinta padanya. Namun, dalam perjalanan waktu ini, Leo harus menghadapi berbagai tantangan dan rintangan yang menghalangi cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenie Juliyantie Barbie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Draft
"Apa kau serius, Kita berangkat hari ini?" Tanya Derick tak percaya ketika Leo mendatanginya pagi-pagi dan menyuruhnya untuk bersiap.
Ibunya Derick terkejut mendengar itu, Tapi Le mengatakan kalau semua fasilitas dan uang makan Derick dia yang akan menanggungnya.
"Aku akan menemui calon istriku, Tante. Makanya kali ini semuanya gratis buat Derick." Ucap Leo bangga, dia tidak bisa menutupi rasa senangnya.
Ibu Derick yang adalah pemburu gratisan itu terlihat senang mendengarnya. Sebenarnya Derick berasal dari keluarga kaya, Ayahnya adalah Dokter terkenal di kota ini, sedangkan ibunya pengusaha Skincare. Tapi ibunya sangat pelit, Dia bahkan tidak pernah memberikan diskon untuk produknya yang baru launching.
Tapi Derick baru saja membuka matanya saat Leo datang dan memaksanya untuk bersiap-siap. Yang benar saja, jam masih menunjukkan pukul 6 pagi. Embun di jalan mungkin masih menetes.
"Ayolah, Derick. Ini perjalanan penting bagiku, ibu mertuaku sudah menunggu." Tutur Leo menarik lengan Derick untuk memaksanya mandi.
Derick terlihat frustasi, "Baik, baik. Aku akan mandi dulu." Ungkapnya turun dari tempat tidur dan melangkah dengan lunglai ke kamar mandi.
Satu jam kemudian, Leo dan Derick sudah siap. Ibu Derick sangat senang melihat anaknya akan berlibur gratis di Washington. Dia bahkan menitip ole-ole yang menurut Derick berlebihan. Tapi Leo tidak mempermasalahkannya, dia berjanji akan membawakan ibu Derick apa yang sudah ia sebutkan tadi, Tas merk kenes leather, cabarnet sauvignon, truffle cocolate, Crab cakes, clam chowder, dan Maple syrup.
Kini Leo dan Derick sudah berada di bandara. Mereka menarik koper mereka masing-masing, berjalan berdampingan. Mereka mengenakan pakaian yang nyaman namun tetap modis untuk perjalanan panjang mereka. Leo memilih kemeja lengan panjang dengan motif garis-garis yang klasik, celana chino, dan sepatu loafers. Sedangkan Derick, mengenakan kemeja polo dengan celana jeans yang pas, dan sepatu sneakers yang stylish.
Keduanya membawa tas kabin yang praktis untuk membawa barang-barang penting selama penerbangan. Leo membawa tas kabin berwarna cokelat dengan desain minimalis, sementara Derick membawa tas kabin hitam yang lebih sporty.
Leo dan Derick duduk di area tunggu bandara, menunggu penerbangan mereka ke Washington. Di sekitar mereka, terdengar suara riuh rendah dari penumpang yang berbicara, koper yang digulung, dan suara langkah kaki yang terburu-buru. Ada berbagai macam suara yang berasal dari berbagai bahasa dan aksen, menciptakan suasana internasional yang hidup di bandara.
Mereka duduk di kursi yang nyaman, sambil mengamati orang-orang yang lalu lalang. Ada penumpang yang sibuk memeriksa tiket dan paspor mereka, sementara yang lain sibuk mengemas barang-barang mereka. Beberapa penumpang terlihat santai sambil membaca buku atau mendengarkan musik melalui headphone mereka.
Tiba-tiba, suara pengumuman bergema di seluruh bandara, "Penerbangan menuju Washington dengan pesawat Emirates nomor penerbangan EK225 akan segera berangkat. Mohon semua penumpang menuju gerbang keberangkatan segera." Suara pengumuman tersebut terdengar jelas melalui pengeras suara di seluruh area tunggu, menarik perhatian semua penumpang.
Leo dan derick berdiri, mengambil tas kabin mereka, dan berjalan menuju gerbang keberangkatan dengan antusias. Di sepanjang jalan, mereka melihat penumpang lain yang juga menuju gerbang dengan cepat.
Suasana di bandara semakin hidup dengan suara langkah kaki yang terburu-buru, bunyi roda koper yang bergulir, dan suara percakapan yang semakin ramai.
Sesampainya di lapangan yang luas itu, Mereka melangkah menaiki tangga pesawat dan memasuki pesawat, mengikuti pramugari yang ramah ke kabin bisnis class yang mewah.
Saat Leo dan Derick memasuki kabin, mereka disambut dengan pencahayaan lembut yang menciptakan suasana yang nyaman dan tenang. Kabin ini memiliki desain yang modern dengan sentuhan tradisional Arab yang khas.
Mereka melihat kursi-kursi yang terlihat sangat nyaman dan dilengkapi dengan fitur-fitur canggih. Setiap kursi bisnis class memiliki ruang pribadi yang luas dengan dinding yang tinggi, memberikan privasi yang optimal kepada setiap penumpang. Kursi-kursi ini dapat diubah menjadi tempat tidur yang nyaman dengan berbagai posisi yang dapat disesuaikan. Tempat duduknya juga dilengkapi dengan ruang penyimpanan pribadi untuk barang-barang bawaan mereka. Mereka dapat menyimpan tas kecil atau barang lainnya di dalam ruang penyimpanan yang terletak di sekitar kursi mereka, sehingga semuanya tetap rapi dan mudah dijangkau.
Leo dan derick duduk di kursi yang berdampingan. Mereka merapihkan barang-barang disekitar mereka sebelum menikmati penerbangan yang panjang.
Beberapa lama kemudian, Pramugari dengan senyum ramah datang untuk menyambut mereka dan menawarkan minuman selamat datang. Mereka juga diberikan menu makanan yang lengkap dengan pilihan hidangan lezat dari berbagai masakan internasional.
Terdapat, vourspeise, Hauptgericht, Beilage, dan beberapa macam dessert.
Derick, yang biasanya terbiasa dengan makanan standar di kabin ekonomi, merasa sangat senang dan tercengang dengan hidangan yang disajikan di hadapannya. Dia melihat dengan penuh kekaguman pada hidangan yang indah dan lezat di atas piringnya.
Dengan antusias, Derick mulai mencicipi hidangan pertamanya. Ekspresi kagumnya terpancar dari wajahnya saat ia merasakan kombinasi rasa yang lezat dan tekstur yang sempurna. Dia terkesan dengan cita rasa dan kualitas makanan yang disajikan di kabin bisnis class ini.
Leo, yang melihat reaksi Derick, tercengang dengan antusiasme dan kekagumannya. Dia tertawa gembira melihat temannya menikmati makanan dengan begitu besar. Padahal Derick anak orang kaya, tapi karena ibunya terkesa pelit derick tidak pernah naik pesawat bisnis class. Mereka berdua saling berbagi cerita dan kesan tentang hidangan yang mereka nikmati, sambil menikmati makanan mereka dengan senyum di wajah mereka.
Setelah beberapa jam melakukan penerbangan akhirnya pesawat mereka tiba di Washington dan akan mendarat. Getaran mulai terasa ketika pesawat mereka mulai melakukan pendaratan. Ketika pesawat mendarat dengan mulus, Leo dan Derick merasakan getaran pesawat yang berkurang dan mereka merasa pesawat berhenti. Suasana di dalam kabin menjadi tenang, dan kemudian, suara lembut pramugari terdengar melalui pengeras suara, "Ladies and gentlemen, welcome to Washington. We have safely arrived at our destination. Please remain seated until the seat belt sign is turned off and the aircraft has come to a complete stop. On behalf of the entire crew, we would like to thank you for choosing our airline. We hope you had a pleasant flight and wish you a wonderful time exploring Washington. Thank you for flying with us."
Mereka dengan sabar menunggu hingga lampu sabuk pengaman dimatikan dan pesawat berhenti sepenuhnya. Setelah itu, mereka bangkit dari tempat duduk mereka dengan senyum lebar di wajah mereka. Mereka mengambil tas kabin mereka dan berjalan dengan antusias menuju pintu keluar pesawat.
Dan saat mereka melangkah keluar dari pesawat, mereka merasakan hembusan udara segar Washington yang menyambut mereka.
Leo dan Derick melangkah dengan semangat di Bandara Washington Dulles International Airport. Mereka merasa terkesan dengan keindahan dan kemegahan bandara ini. Suasana di sekitar mereka penuh dengan kesibukan penumpang dan suara riuh rendah.
Saat mereka berjalan di sepanjang koridor bandara, mereka melihat tanda-tanda yang mengarahkan mereka ke area kedatangan. Leo mencari keberadaan seorang pria yang ibunya bilang sudah disiapkan oleh ayah Elizabeth untuk membantu mereka di perjalanan.
Tiba-tiba, Leo melihat seorang pria yang berdiri di depan pintu keluar, memegang sebuah papan dengan nama Leo dan Derick yang tertulis di atasnya. Pria itu tersenyum ramah saat melihat mereka mendekat. Derick tercengang melihat papan Nama itu.
Pria itu mendekati Leo dan Derick dengan senyuman hangat. "Selamat datang di Washington! Saya adalah John, suruhan ayah Elizabeth. Dia mengirim saya untuk menjemput kalian berdua. Mobil sudah menunggu di luar," kata John dengan ramah.
Mereka berjalan keluar bandara menuju mobil yang dimaksud John barusan. Betapa terkejutnya Derick ketika melihat mobil Rolls-Royce Phantom, salah satu mobil termahal di Washington terparkir disana. Mobil itu berwarna hitam pekat yang mengkilap, memberikan kesan elegan dan mewah seperti mobil yang biasa digunakan oleh presiden.
Derick, yang terpesona dengan kekayaan keluarga Elizabeth, melihat mobil tersebut dengan mata terbuka lebar. Dia tidak bisa menahan kekagumannya, "Wow, mobil ini sungguh luar biasa! Ibumu tidak salah pilih jodoh untukmu, Leo." Bisiknya.
John membukakan pintu mobil untuk Leon dan Derick, Mereka masuk kedalamnya. Derick masih terlihat mengagumi mobil ini.
"Kau seperti bukan dari anak orang kaya saja, Derick." Ucap Leo merasa risih dengan Derick yang terlihat katrok.
"Apa kau tahu? Mobil ini permintaanku saat ulang tahun kemarin, Tapi ibuku malah memberiku civic, Dia bilang mobil ini akan membuat separuh hartanya hilang begitu saja hanya untuk keinginanku."
Leo terkekeh mendengarnya. Tak lama kemudian mobil yang mereka naiki mulai melambat, mereka sudah sampai. Leo dan Derick membuka kaca mobil. Rumah tersebut terletak di salah satu daerah elit di Washington. Ketika mobil Rolls Royce Phantom memasuki halaman luas, pemandangan yang memukau terbentang di depan mata mereka. Halaman yang luas dikelilingi oleh pagar tinggi yang terbuat dari batu bata yang elegan. Pintu gerbang besarnya terbuka perlahan, memberikan akses yang megah ke kediaman ini.
Rumah itu terdiri dari beberapa lantai dengan arsitektur yang indah dan elegan. Fasadnya terbuat dari bahan yang berkualitas tinggi, seperti batu alam dan marmer. Jendela-jendela besar dengan kaca patri menghiasi sisi rumah, memberikan sentuhan klasik dan mewah.
Di depan rumah, terdapat taman yang dirancang dengan indah. Pohon-pohon besar, semak-semak yang rapi, dan bunga-bunga yang berwarna-warni menambah keindahan halaman ini. Terdapat juga kolam renang yang besar dengan air yang jernih dan bersih, dikelilingi oleh kursi-kursi berjemur yang nyaman.
Mobil yang mereka naiki itu melaju perlahan di sepanjang jalan masuk yang dikelilingi oleh taman-taman kecil dengan patung-patung indah. Cahaya matahari memantulkan kilauan pada mobil yang mengilap, mencerminkan kemewahan dan keanggunan rumah ini.
Setelah mobil memasuki halaman depan rumah, mereka melihat garasi yang luas dengan pintu yang otomatis. Garasi ini dirancang untuk menampung beberapa mobil mewah sekaligus. Di sekitarnya terdapat area parkir tambahan untuk tamu-tamu yang berkunjung.
Derick tercengang, "Kau sudah membuat kesalahan besar di masa depanmu, Leo. Kau sudah menyia-nyiakan anak Billionaire!! Rumahmu saja tidak sebesar ini, Wahh." Ia menggeleng-gelengkan kepalanya tak menyangka dia akan melihat rumah dan halaman yang luas ini.
Leo dan Derick keluar dari mobil Rolls Royce Phantom dengan penuh gaya. Mereka melihat sejumlah pelayan yang sudah menunggu di depan pintu utama rumah. Pelayan-pelayan tersebut mengenakan seragam rapi dengan senyum ramah di wajah mereka.
John, yang mereka temui di bandara tadi, mendekati mereka dengan sikap ramah dan mengangguk hormat.
"Selamat datang di kediaman tuan felipe. Saya John, kepala pelayan di sini. Saya akan membantu Anda berkenalan dengan staf kami dan memandu Anda ke dalam rumah."
Leo tersenyum, "Terimakasih John." Ucapnya.
John memimpin mereka melewati pintu utama yang besar dan mewah menuju ruang utama rumah. Begitu mereka memasuki ruangan itu, mereka terpesona dengan keindahan dan kemewahan yang terpancar dari setiap sudut.
Ruang utama rumah ini sangat luas dan dihiasi dengan furnitur mewah. Lantai marmer yang indah, langit-langit tinggi dengan kandelaber yang megah, dan dinding-dinding yang dihiasi dengan lukisan-lukisan berharga, semuanya menciptakan suasana yang elegan dan mewah.
Para pelayan dengan cekatan membawa minuman segar dan hidangan ringan untuk menyambut kedatangan Leo dan Derick. Mereka tersenyum ramah saat meletakkan hidangan di atas meja yang terbuat dari kayu mahoni yang indah.
Mereka berdua duduk di kursi yang nyaman dan menikmati suasana yang hangat di ruang utama rumah itu. Mereka merasa disambut dengan baik dan segera merasa seperti di rumah sendiri.
Tapi Derick merasa ada yang kurang, "Em, John. Lalu dimana Elizabeth? Temanku ini tidak sabar bertemu dengannya. Mengapa dia tidak ada dari tadi?" Tanya Derick to the point.
John tersenyum dan menunduk, "Maafkan kesalahan kami, tapi Nona saat ini sedang berkuliah. Sebentar lagi tuan Edgar akan datang bersama istrinya."
Leo mengernyit, "Edgar?" Bukankah ayah mertuanya bernama Fredy Ash Felipe?
"Maaf atas ketidak pahaman anda tuan, Tuan Edgar adalah kakak dari nona Elizabeth."
DEG.
Loh berarti Elizabeth bukan anak pertama? Lalu mengapa Elizabeth di jodohkan dengannya? Bukankah perjodohan itu khusus anak pertama? dan jika anak pertama sama-sama pria, itu artinya perjodohannya turun ke anak mereka? Leo menghela nafas menyadari hal itu. Saras sudah menipunya, Atau memang selama ini perjodohan itu tidak ada?
Saat Leo ingin bertanya lagi, tiba-tiba Seorang pria dan wanita datang menghampiri mereka dengan senyuman ramah.
"Selamat datang Leo, Derick, di kediaman kami. Semoga kalian nyaman berada disini." Sapa pria yang Leo yakini adalah Edgar.
John pamit pergi ketika Edgar sudah datang. Kini mereka berempat duduk di sofa yang empuk itu.
"Saya Edgar, Kakak Elizabeth. Dan ini istri saya, Reemar."
Wanita cantik yang bernama Reemar itu tersenyum. "Senang bertemu dengan kalian." Ungkapnya.
Leo dan Derick membalas senyumannya. "Senang juga bertemu denganmu, Nona." Ucap Derick menundukkan kepala. Leo menyinggut lengan temannya itu supaya sadar bahwa wanita didepan mereka sudah bersuami, bahkan suaminya ada disebelah mereka.
Mereka Berbincang-bincang di ruang tamu yang luas itu. Beberapa makanan dan cemilan yang enak ada didepan mereka, Ada minuman juga. Semuanya lengkap. Derick menuangkan minuman untuknya dan Leo. Setelah itu dia mengambil Truffle yang di hidangkan didepan mereka, Ibunya pasti senang melihat ini. Tak lupa dia memfoto truffle itu dan mengirimnya ke Ibunya.
Sedangkan Leo dan Edgar sibuk berbicara masalah bisnis. Meski umur Leo masih dua puluh satu tahun, tapi berkat kehidupannya di masa depan dia mampu memberikan beberapa saran untuk Edgar membuat pria itu kagum dengan pemikiran yang Leo katakan.
Saat mereka sedang sibuk berbincang, tiba-tiba suara seseorang mengalihkan perhatian mereka semua. "Aku pulang!" Seru seorang gadis yang kini berjalan melangkah menghampiri mereka.
Elizabeth memasuki ruangan dengan langkah ringan dan penuh kegembiraan. Dia terlihat segar dan bersemangat setelah seharian kuliah di kampus Washington. Pakaian yang dipilihnya mencerminkan gaya khas anak kuliahan yang nyaman namun tetap modis.
Elizabeth mengenakan celana jeans yang nyaman dengan atasan berwarna terang yang cocok dengan cuaca cerah di bulan Mei. Dia memilih kaus dengan motif simpel, Rambutnya terurai dengan lembut di sepanjang bahunya, menambah kesan yang alami dan segar pada penampilannya. Dia membiarkan beberapa helai rambutnya jatuh dengan lembut di sekitar wajahnya, menciptakan tampilan yang lebih santai dan effortless.
Ketika Elizabeth memasuki ruangan, senyum cerah terpancar dari wajahnya yang cantik. Ekspresi gembira dan penuh semangat terlihat jelas, mencerminkan kegembiraannya karena bisa kembali ke rumah dan bertemu dengan orang-orang tercinta.
Leo terpesona oleh kecantikan Elizabeth yang begitu memikat, Ia tak dapat mengalihkan pandangannya dari gadis itu. Begitu juga dengan Elizabeth yang terkejut melihat kedatangan dua tamu, Tatapannya tertuju pada Leo yang terlihat tampan. Mereka saling bertatapan dalam keheningan sejenak, terpesona oleh kehadiran satu sama lain. Waktu terasa berhenti sejenak dalam momen ini, di mana dua jiwa yang saling terikat akhirnya bertemu.