seorang lelaki yang bernama Mang Amat berusaha menguasai harta warisan saudara saudaranya yang di amanahkan kepadany dengan cara yang licik. namun karena keserakahannya akhirnya Allah menjatuhkan azab yang luar biasa, yukk kita ikuti cerita ini semoga bisa menjadi pelajaran buat kita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dehas Ryuka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB XX
Malam ini mang amat gelisah tak menentu, bayangan Aliya terus mengikuti, diambilnya telephone sellulernya, dan di buka nya aplikasi wa nya,"hai cantik kamu lagi apa?"tulis mang amat " lagi di rumah pak, lagi bermain sama anak nih pak" kata Aliya berbohong"wahh kamu benar benar ibu yang baik" puji mang amat "ahh bapak bisa aja, soalnya anak saya lagi sakit pak, jadi saya harus mememani dia" kata Alya berbohong,"sakit apa ?" Kata dokter demam berdarah dan harus di opname, tapi gak saya ijinkan" "loh kenapa?demam berdarah bahaya loh" "saya gak ada duit pak" "kan tadi udah saya kasih,apa kurang" "tadi duitnya buat ibu bayar hutang pak...kasian ibu di kejar kejar renternir" tulis Aliya memelas " ya sudah jangan bingung saya akan kirim uang lagi, dan segera bawa anakmu ke rumah sakit" "eh pak gak usah, saya takut merepotkan bapak?" " Enggak neng,gak papa" kata mamg amat meyakinkan "tapi saya gak bisa balas kebaikan bapak" kata alya, "cukup kamu membalas cinta saya itu saja" tulis mang amat,sambil senyum senyum, "ahh bapak bisa saja" " ya sudah nomer rekeningmu mana? " Tanya mamg amat ,tak lama kemudian dikirimlah nomer rekening Alya "udah masuk,coba di cek" kata mang amat, Alaya membuka mobile bankingnya dan dilihat 7juta masuk ke rekening nya, Aliya pun tersenyum "udah pak makasih" mang amatpun tersenyum."neng besok kita ketemu di tempat biasa ya...saya udah kangen ama kamu neng" "iya pak boleh,sore jam 3 an" kata Alya "siap cantik" tulis mang amat.mamg amat senyum senyum sendiri "papa kunaon seserian kitu ,siga abg?" (Papah kenapa ketawa ketawa begitu, kayak abg) kata bi Arni, mang amat lalu tersadar, dan berjalan menuju kamar.
Keesokan harinya bi'Arni pergi ke kantor kelurahan, dia sengaja mau mengantar makanan buat mang amat,namun ketika sampai disana ruangan mang amat kosong, dia pun menanyakan pada staf kelurahan yang lain, dan mereka menjawab jika tadi mang amat berpamitan pergi ke kota ada rapat di kantor kecamatan, dan ketika bi' Arni menghubungi temannya yang bekerja di kecamatan, teman bi'Arni bilang bahwa tidak ada pertemuan dengan para kepala desa.Hal ini membuat bi'Arni menjadi penasaran.lalu bi'Arni kembali pulang.
Keesokan harinya bi'Arni meminta ijin pada mang amat,siang ini mau minjem mang ujang untuk mengantarkannya ke pengepul ikan yang ada dekat laut di ujung desa ini, oleh mang amat pun diijinkan.setelah ujang datang bi'Arni segera bersiap dan mereka berangkat "jang punten ujang teh kemaren nganter mang amat ke kota?" "Muhun " (iya) kata ujang "nganter kamana,sok nyarios jujur ka urang" (nganter kemana,buruan bicara yang jujur ke saya) kata bi'Arni tegas, mang ujang terdiam,ragu mau mengatakan semuanya "kenapa ragu jang, saya bakal tanggung jawab" kata bi'Arni,Akhirnya mamg ujang cerita sering ngantarkan pak bosnya ke kota, untuk menemui Aliya, seorang janda yang bekerja di toko emas.bi Arni mendengar itu pun menjadi merah padam menahan amarah."liat aja mang amat" kata bi' Arni. Setelah sampai di pengepul, bi'Arni membeli beberapa jenis ikan,untuk persediaan di rumah selama seminggu.
Semakin hari mang amat semakin bertindak sewenang wenang, pungli di mana - mana, banyak tarikan yang di bebankan untuk warga,dengan dalih pembangunan tapi nyatanya tidak ada satupun yang terealisasi,semua aliran dana masuk.ke rekening mang amat, bansos dari pemerintah yang semestinya di berikan gratis untuk warganya yang miskinpun di perjual belikan,dana bantuan buat warga pun di sunat limapuluh persen.namun warga tak berani protes karna meraka tau sepak terjang mamg amat, mereka hanya menyesal mengapa dulu memilih mang amat hanya karna di beri sembako.