John Rosewood adalah agen rahasia Amerika dari organisasi Biosecurity Operations Agency yang disingkat BOA, yang ditugaskan oleh pemerintah untuk menyelidiki penyebaran virus misterius yang mengubah manusia menjadi zombie serta menciptakan makhluk-makhluk mengerikan lainnya. Virus ini muncul di beberapa negara secara tiba-tiba, menyebabkan kekacauan global. Namun, setelah menyelidiki lebih dalam, John menemukan bahwa ini bukan hanya masalah infeksi biologis biasa.
Di balik penyebaran virus ini, terdapat organisasi kriminal global yang dikenal sebagai The Genesis pimpinan The Architect. Kelompok ini terdiri dari ilmuwan-ilmuwan ekstrim yang tidak terikat oleh Etnis Ras, Agama, negara atau pandangan politik. Mereka memiliki tujuan yang sangat berbahaya: untuk mempercepat evolusi manusia melalui metode yang sangat radikal. Virus yang mereka ciptakan berfungsi untuk memusnahkan sebagian besar populasi manusia, memberi ruang bagi spesies baru yang mereka anggap lebih unggul.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fariz Pradipta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Black Island — Part 1
The Black Island — Part 1
Jeritan itu menggema di udara yang merah dan berdebu.
Langit Mirewood terbakar.
Lisa Anne Summer berlari menembus jalanan yang dipenuhi asap hitam dan tubuh-tubuh terbakar. Suara sirene bercampur dengan ledakan dan geraman makhluk-makhluk busuk yang dulu pernah disebut manusia. Gedung-gedung menjulang seperti lilin raksasa yang meleleh di bawah api neraka.
“Mom!” teriaknya, menembakkan revolver Charter Arms Pitbull ke arah zombie yang melompat dari reruntuhan.
BANG! BANG! Dua peluru menembus kepala mereka—namun jumlahnya terlalu banyak.
Lisa berlari ke arah rumah ibunya di ujung Maplewood Street, napasnya tersengal, keringat dan darah menempel di wajahnya.
Ketika ia tiba, pintu rumah sudah hancur.
Di ruang tamu, darah menodai karpet dan tembok.
Ibunya berdiri di sana—atau sesuatu yang dulu adalah ibunya. Kulitnya kelabu, matanya putih, wajahnya kaku dan kosong. Tubuh itu bergetar pelan sambil mengerang rendah.
“Mom…” suara Lisa pecah. Ia melangkah satu langkah… lalu dua. “It’s me, Lisa… please—”
Makhluk itu menggeram, lalu berlari ke arahnya.
Refleks Lisa menarik pelatuk.
BANG!
Peluru menembus kepala ibunya.
Tubuh itu terhuyung, lalu jatuh di hadapan Lisa dengan suara berat.
Darah dan potongan otak menyebar di lantai.
Lisa menatap senjatanya dengan mata membesar, tubuhnya bergetar hebat. “Oh God… Mom…” suaranya nyaris tak terdengar.
Ia berlutut di samping mayat ibunya, tangannya gemetar saat menyentuh wajah dingin itu.
Di luar, suara teriakan manusia dan geraman zombie bercampur menjadi satu simfoni kehancuran.
Langit mendadak memerah terang.
Suara gemuruh datang dari atas—bukan petir, tapi deru jet dan desiran rudal.
Lisa menatap ke langit.
Puluhan cahaya putih menembus awan, menukik ke arah kota.
Lalu ledakan pertama. Kedua. Ratusan.
Gelombang panas menyapu jalanan. Dinding rumah bergetar hebat.
Api dan napalm menelan segalanya—Mirewood berubah jadi lautan api.
Lisa menjerit, tubuhnya terhempas ke belakang.
Segalanya berubah jadi cahaya putih menyilaukan.
Dan di tengah cahaya itu, ia melihat wajah ibunya—tersenyum padanya.
Lalu semuanya lenyap.
Lisa terbangun dengan sentakan keras.
Nafasnya memburu, tubuhnya basah oleh keringat dingin.
Ruang tidurnya gelap, hanya lampu kecil di meja yang memancarkan cahaya redup.
Ia menatap sekeliling.
Tidak ada api. Tidak ada zombie. Tidak ada jeritan.
Hanya kamar sederhana berwarna abu-abu di markas pelatihan BOA.
Jam digital di dinding menunjukkan pukul 03:00 A.M.
Lisa mengusap wajahnya dengan kedua tangan, mencoba menghapus sisa mimpi itu.
“God… that nightmare again…” gumamnya lirih.
Sudah berbulan-bulan sejak tragedi Mirewood, tapi setiap malam, mimpi itu datang lagi—seperti luka yang tak pernah sembuh.
Tiba-tiba, ponsel taktis di meja bergetar.
Layar menyala, menampilkan logo BOA dan pesan singkat:
[ALERT: FIELD TRAINING - 15 MINUTES]
Full Tactical Gear. Assembly in Main Hall.
Lisa mendesah panjang.
“Are you kidding me…?” katanya pelan, menatap jam lagi.
“We just finished last night at ten… now this?”
Ia berdiri perlahan, meregangkan tubuh yang masih pegal setelah latihan malam sebelumnya. Langkahnya berat menuju meja kecil di sudut ruangan. Ia mengambil botol air dan meneguk cepat. Dingin air sedikit menenangkan dadanya yang sesak.
Di cermin kecil di dinding, wajahnya pucat, mata sayu, rambut coklatnya berantakan.
Ia menatap pantulan dirinya dan berbisik,
“Get a grip, Lisa… It’s just a dream. Again.”
Ia membuka laci bawah, mengeluarkan perlengkapan taktis: baju tempur hitam BOA, pelindung tubuh, sepatu tempur, dan sabuk perlengkapan.
Di sebelahnya—pistol Glock 19 Gen 4, dengan red dot laser sight dan flashlight kecil di bawah laras.
Lisa tersenyum tipis.
“Good morning, girl,” gumamnya lembut, seolah menyapa sahabat lama.
Ia memeriksa tiga mag standar dan satu extended mag berisi peluru FMJ 9mm, mengecek dengan gerakan otomatis dan efisien, refleks seorang mantan polisi.
Sebelum keluar, pandangannya jatuh pada bingkai foto di meja.
Foto tim SWAT NYPD—enam orang, semua tersenyum bangga.
Salah satunya, seorang wanita keturunan Afro-Latino, rekan terdekatnya, kini telah tiada.
Lisa menyentuh kaca bingkai itu pelan.
“Miss you, guys…” bisiknya. “Wish you could see me now.”
Lalu pikirannya melayang ke satu sosok lain...
John Kenneth Rosewood.
Ia masih mengingat malam ketika pria itu datang, berjas abu-abu yang tetap rapi di tengah dunia yang terbakar, berbicara dengan tenang namun menusuk, dan sepasang mata coklat yang seolah bisa menembus jiwa siapa pun yang ditatapnya.
Lisa menarik napas panjang. Sesuatu di dalam dirinya bergetar setiap kali mengingat nama itu.
Kagum, hormat… dan sesuatu yang lebih dalam.
“John Rosewood…” gumamnya. “One day, I’ll be as strong as you. I swear.”
Ia menggenggam pistolnya erat, menatap pantulan dirinya di cermin dengan tekad baru.
“For Mom… for the people of Mirewood… and for my hometown.”
Markas pelatihan BOA masih sunyi ketika ia melangkah keluar dari kamar asrama. Udara dini hari menusuk kulit, embun tipis menutupi jalanan berbatu. Dari kejauhan, lampu di aula utama sudah menyala terang. Beberapa agen lain berlari tergesa, sebagian masih menata perlengkapan.
“Damn, they’re serious about this ‘Ghost’ training…” gumam Lisa.
Meski kini ia resmi diterima sebagai agen BOA, statusnya belum final.
Ia sedang menjalani program seleksi Divisi Ghost—unit elit yang dipimpin langsung oleh Jack Taggart, dan tempat John Rosewood menjadi legenda hidup.
Dari puluhan agen yang mendaftar, hanya sepuluh lolos ke tahap kedua:
tahap pelatihan ekstrem di lapangan.
Lisa masih ingat kata-kata Taggart dalam briefing seminggu lalu:
“The Ghost Division is not for mere mortals.
This isn't just a mission... it's a life-and-death commitment.
Out of ten, perhaps only one will survive.
The rest will walk away... if they can.”
Seleksi mencakup survival ekstrem, pertarungan melawan BOW, simulasi infiltrasi, dan tes psikologis brutal—semuanya dilakukan di dunia nyata.
Lisa mendapat kesempatan ini berkat rekomendasi langsung dari John Rosewood kepada Taggart. Ia sendiri telah menyaksikan ketangguhan Lisa di neraka Mirewood.
Sebuah kehormatan… sekaligus beban besar.
Setibanya di aula, sembilan agen lain sudah berjajar rapi dalam perlengkapan taktis penuh. Wajah mereka tegang, mata mereka bercampur antusiasme dan ketakutan.
Di depan mereka berdiri tiga instruktur beruniform hitam dengan emblem tengkorak perak—lambang Ghost Division.
Lisa segera berdiri di barisan terakhir.
Salah satu instruktur—pria bertubuh besar dengan wajah keras seperti batu—melangkah ke depan.
“Listen up, recruits!” suaranya bergema, berat dan berwibawa.
“Starting today, your training moves to the next phase. You’ve survived the simulations… now let’s see if you can survive reality.”
Beberapa agen menelan ludah. Lisa tetap diam, menatap lurus ke depan.
“In fifteen minutes, you’ll board the transport. Destination: Honduras, Central America.”
Honduras.
Nama itu bergema di kepalanya.
Ia pernah mendengar rumor: markas pelatihan lapangan Ghost berada jauh di tengah hutan Amerika Tengah—tempat liar yang dipenuhi rawa, lembah, dan reruntuhan perang. Tempat yang menguji batas manusia.
“This isn’t about shooting targets or hacking codes,” lanjut sang instruktur.
“It’s about who you are when everything’s taken away—sleep, food, comfort, safety. You’ll face the jungle, the storms, the BOWs… and maybe, yourselves.”
Hening.
Tak seorang pun berani berbicara.
Lisa berdiri tegak, merasakan denyut nadi di pelipisnya.
Hutan, lumpur, bahaya… dan mungkin, kesempatan membuktikan diri.
Sepuluh menit kemudian, mereka berjalan keluar menuju landasan di belakang markas.
Dua helikopter BOA menunggu, rotor berputar pelan. Udara pagi membawa bau logam dan minyak.
Lisa menatap ke langit yang masih gelap.
Di balik awan, bintang terakhir sebelum fajar mulai pudar.
Ia menarik napas panjang.
“All right,” bisiknya. “Let’s see what hell looks like this time.”
Ia menaiki helikopter bersama sembilan peserta lainnya.
Pintu tertutup. Rotor berputar cepat.
Suara mesin menggema, memenuhi seluruh pangkalan.
Saat helikopter terangkat, Lisa menatap ke luar jendela.
Lampu markas semakin kecil, lalu hilang di balik kabut pagi.
Di bawah sana, dunia mulai terbangun.
Namun di dalam dirinya, mimpi buruk Mirewood masih terasa nyata.
Kali ini, Lisa Anne Summer tidak berlari dari mimpi buruk itu.
Kali ini—ia melangkah masuk ke dalamnya...