Indonesia
NovelToon NovelToon
Luluh Ditangan Gadis Malam

Luluh Ditangan Gadis Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: daisysy

Pertemuan tak sengaja di sebuah klub malam antara seorang konglomerat dingin dan gadis malang yang terikat kontrak terlarang, memicu badai asmara, rahasia tersembunyi, serta ujian restu keluarga yang mengancam hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daisysy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Transformasi yang Indah

Pukul satu lewat sepuluh menit siang itu, keheningan di ruang kerja utama Thorne Enterprises mendadak pecah oleh sebuah suasana yang hampir tidak pernah disaksikan oleh siapa pun di perusahaan raksasa tersebut. Markuz, yang berdiri tegap di dekat meja kerja membawa setumpuk dokumen pemegang saham, menghentikan langkahnya secara tiba-tiba. Matanya mengerjap dua kali, memastikan bahwa penglihatannya tidak salah menangkap bayangan.

Di balik layar monitor yang besar, Victor Thorne sedang menatap kotak makan transparan berisi sisa makanan rumahan buatan Freya. Sebuah senyuman tipis, natural, dan begitu hangat terukir jelas di sudut bibir pria berdarah dingin itu. Tidak ada lagi garis rahang yang mengeras atau tatapan mata setajam pisau bedah yang biasa ia lemparkan pada para direktur korporat. Yang ada hanyalah raut wajah seorang pria yang tengah terbuai oleh perhatian sederhana dari wanita yang ia cintai.

"Tuan...?" panggil Markuz ragu-ragu, memecah lamunan bosnya.

Victor segera mengangkat wajahnya. Senyuman di bibirnya memudar seketika, digantikan oleh ekspresi profesional khas seorang CEO, meski sisa-sisa kehangatan itu masih membekas di matanya. Ia menutup kotak makanan tersebut dengan hati-hati, lalu mendorongnya pelan ke sisi meja.

"Ada apa lagi, Markuz?" tanya Victor, suaranya kembali datar namun tidak sekaku biasanya.

"Jadwal rapat dengan divisi logistik pukul dua siang nanti sudah siap, Tuan. Apakah kita tetap melanjutkannya?" tanya Markuz sambil merapikan dokumen di tangannya.

Victor menggeleng pelan. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi kerja kulit hitam, jemarinya mengetuk-ngetuk meja secara berirama. Pikirannya kini sudah melompat jauh meninggalkan laporan logistik dan intrik keluarga yang memuakkan.

"Batalkan rapat itu. Undur ke jadwal minggu depan," perintah Victor tegas. Ia kemudian berdiri dari duduknya, merapikan jas miliknya, lalu menatap lurus ke arah Markuz. "Dan dengar, aku butuh kau mengurus beberapa hal penting untuk malam ini."

Markuz menegakkan tubuhnya, memasang telinga baik-baik. "Perintah apa, Tuan?"

"Pertama, hubungi butik haute couture langganan keluarga kita di pusat kota Amsterdam. Pilihkan gaun malam yang paling elegan, anggun, namun tidak terlalu berlebihan. Ukurannya... sesuaikan dengan tinggi dan proporsi tubuh Freya," tutur Victor tanpa keraguan. "Kedua, hubungi kepala chef di restoran l'Étoile di hotel milik kita, Thorne Grand Hotel. Booking area private rooftop secara eksklusif malam ini. Tidak boleh ada tamu lain selain kami berdua."

Markuz sedikit mengangkat sebelah alisnya. Pria setia itu tahu betul bahwa bosnya jarang sekali meluangkan waktu untuk urusan romantis semacam ini, terutama di tengah badai ancaman dari Nyonya Valen dan Annelise. Namun, melihat perubahan drastis pada diri Victor sejak kehadiran Freya, Markuz hanya bisa mengangguk patuh.

"Baik, Tuan. Saya akan pastikan gaun tersebut tiba di penthouse sebelum pukul empat sore, dan persiapan private dining di Thorne Grand Hotel akan diselesaikan tanpa cela," jawab Markuz profesional.

"Bagus," ujar Victor singkat. "Pastikan juga tim penata gaya profesional dikirim ke sana. Aku ingin Freya mendapatkan malam yang tidak akan pernah ia lupakan."

Sore hari menjelang, suasana di sekitar penthouse mewah yang tersembunyi di balik rimbunnya hutan pinus pinggiran kota Amsterdam tampak begitu tenang. Freya baru saja selesai merapikan dapur setelah mencuci kotak makan yang tadi ia kirimkan melalui Markuz. Perasaannya jauh lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya. Pesan singkat dari Markuz yang mengonfirmasi bahwa Victor telah menghabiskan makanannya dan tersenyum berhasil menerbitkan binar kebahagiaan di mata gadis itu.

Saat ia sedang duduk di ruang tengah sambil membaca sebuah buku seni, suara deru mesin mobil mewah mendadak memecah kesunyian halaman depan.

Freya mengerutkan keningnya. Ia bangkit dari sofa, berjalan mengendap ke arah jendela besar, dan melihat sebuah mobil van hitam berlogo butik mode terkemuka berhenti tepat di depan pintu utama. Tidak lama kemudian, bel pintu berbunyi.

Ting-tong.

Freya membuka pintu dengan hati-hati. Di hadapannya berdiri dua orang wanita paruh baya berpakaian rapi dengan lambang desainer ternama, diikuti oleh tiga orang pria berpenampilan modis yang membawa koper-koper besar berisi peralatan kecantikan. Di barisan paling belakang, berdiri seorang kurir yang membawa sebuah kotak gaun putih berukuran besar dengan pita perak elegan.

"Selamat sore, Nona Freya Zivanka?" sapa wanita pertama dengan senyuman ramah.

Freya tertegun, matanya mengerjap bingung. "Iya, benar. Saya sendiri. Ada... apa ya ini?"

"Kami datang atas instruksi langsung dari Tuan Victor Thorne," jawab wanita itu sopan sambil melangkah masuk ke dalam penthouse atas izin Freya yang masih kebingungan. "Malam ini, Nona diundang untuk makan malam bersama beliau. Tugas kami adalah memastikan Nona tampil sempurna."

Sebelum Freya sempat melontarkan pertanyaan protes, kotak gaun besar itu dibuka di atas tempat tidur kamarnya. Sebuah gaun malam berpotongan A-line dengan bahan silk satin berwarna champagne berkilau lembut tampak begitu memukau. Detail manik-manik halus menghiasi bagian dada dan bahu, memancarkan kesan mewah tanpa kehilangan sisi elegannya.

"Tuan Victor memesan ini khusus untuk Anda," tambah sang penata busana dengan mata berbinar. "Silakan dicoba, Nona. Waktu kita tidak banyak sebelum penata rias dan rambut mulai bekerja."

Freya terdiam terpaku menatap gaun indah tersebut. Dadanya bergemuruh hebat. Selama hidupnya, tidak pernah terlintas dalam benak seorang gadis dari keluarga sederhana sepertinya akan mengenakan gaun semahal itu, apalagi dipersiapkan secara khusus oleh seorang konglomerat dingin seperti Victor. Ada rasa haru, takjub, namun juga sedikit rasa tidak percaya diri yang bergelayut di dalam hatinya.

Waktu berjalan begitu cepat. Di dalam kamar utama penthouse yang luas, transformasi besar sedang terjadi. Setelah Freya selesai mengenakan gaun champagne tersebut, ia duduk di depan meja rias besar berbingkai emas.

Tim penata rias profesional bekerja dengan sangat teliti. Wajah Freya yang secara alami memang sudah manis dipoles tipis dengan makeup bernuansa soft glam, menonjolkan mata cokelatnya yang indah dan bibirnya yang merona alami. Rambut hitam kecoklatannya yang panjang ditata dengan gaya soft curls elegan, dibiarkan tergerai jatuh menghiasi bahunya yang jenjang, sementara beberapa bagian disematkan rapi ke belakang dengan jepit permata kecil.

Ketika proses penataan itu selesai, Freya membalikkan tubuhnya menghadap cermin full-body yang berdiri di sudut ruangan.

Ia tertegun seketika. Pantulan di dalam cermin seolah bukan lagi dirinya. Gadis berpakaian sederhana yang biasa bergelut dengan masalah finansial dan bau obat-obatan rumah sakit kini bertransformasi menjadi sosok wanita anggun berkelas tinggi, nyaris menyerupai seorang putri bangsawan Eropa.

"Sempurna," puji sang penata rambut dengan mata berbinar kagum. "Tuan Victor benar-benar memiliki selera yang luar biasa, atau lebih tepatnya... beliau tahu persis bagaimana membuat seorang wanita menjadi pusat perhatian malam ini."

Freya merona hebat, pipinya memerah malu mendengar pujian tersebut. Tepat pada detik itu, ponsel di atas nakas berdering pelan. Sebuah pesan singkat dari nomor yang sudah sangat ia hafal terpampang di layar.

“Markuz sudah menunggu di bawah. Turunlah, dan biarkan malam ini menjadi milik kita berdua. — V.”

Jantung Freya berdegup kencang. Ia menarik napas dalam-dalam, menenangkan gemetar di jemarinya, lalu meraih sebuah clutch kecil berwarna senada yang juga disediakan di dalam kotak gaun tadi. Dengan langkah anggun yang sedikit kaku, ia berjalan keluar kamar menuju lantai bawah.

Pintu utama penthouse terbuka. Di halaman luar, sebuah mobil sedan hitam mewah milik keluarga Thorne telah terparkir rapi dengan lampu hazard yang menyala lembut. Di samping pintu mobil yang terbuka, Markuz berdiri tegak mengenakan setelan jas formal.

Ketika Markuz melihat Freya melangkah keluar dari pintu, sang asisten pribadi yang terkenal kaku dan dingin itu sempat tertegun sejenak. Sorot matanya menunjukkan kekaguman yang tulus atas penampilan Freya malam ini.

"Selamat malam, Nona Freya," sapa Markuz dengan nada hormat yang lebih dalam dari biasanya. "Anda terlihat luar biasa malam ini."

"Terima kasih, Markuz," jawab Freya tersenyum canggung, merapikan sedikit bagian bawah gaunnya saat ia melangkah masuk ke dalam kabin mobil yang ber-AC sejuk. "Apakah Victor sudah menunggu di sana?"

"Tuan Victor sudah mendahului ke lokasi untuk memastikan semuanya berjalan sempurna," jawab Markuz sambil menutup pintu mobil dengan pelan. Ia kemudian berjalan memutar dan duduk di kursi depan di samping sang sopir utama.

Mobil mewah itu meluncur perlahan meninggalkan area hutan pinus yang sunyi, membelah jalanan kota Amsterdam yang mulai diterangi lampu-lampu kota bernuansa keemasan di malam hari. Di dalam mobil, Freya menatap pemandangan luar jendela. Pikirannya berkecamuk antara rasa bahagia yang membuncah dan bayangan peringatan Nyonya Valen serta ancaman tersembunyi dari Annelise yang sewaktu-waktu bisa menghancurkan kebahagiaan rapuh ini.

Namun, malam ini, Freya memilih untuk mengabaikan semua ketakutan itu. Untuk sekian detik dalam hidupnya, ia ingin menikmati keajaiban yang sedang diberikan oleh pria bernama Victor Thorne.

Tidak butuh waktu lama bagi kendaraan mewah tersebut untuk memasuki kawasan Thorne Grand Hotel, salah satu ikon kemegahan arsitektur di jantung kota Amsterdam. Mobil langsung diarahkan melalui jalur khusus basement V.I.P., menghindari kerumunan tamu umum dan juru warta yang biasa berkeliaran di lobi utama.

Pintu lift pribadi terbuka mulus di lantai paling atas—lantai rooftop eksklusif yang biasanya ditutup untuk umum dan hanya dibuka bagi kepala negara atau miliarder dunia.

Begitu Freya melangkahkan kakinya keluar dari lift, napasnya seolah tertahan oleh pemandangan yang terbentang di hadapannya.

Rooftop hotel itu telah disulap menjadi sebuah negeri dongeng yang nyata. Ribuan lampu fairy lights digantung rapi di langit-langit terbuka, memantulkan cahaya gemerlap bintang malam di langit Amsterdam. Di bagian tengah, sebuah meja makan bundar berbalut taplak linen putih bersih ditata dengan lilin-lilin aromaterapi yang menyala temaram, ditemani sebotol champagne antik di dalam ember es perak serta semerbak bunga mawar putih segar di sekelilingnya.

Dan berdiri di dekat pagar pembatas kaca transparan, dengan balutan jas tuxedo hitam pas badan dan kancing atas yang sedikit terbuka, sosok Victor Thorne menoleh pelan ke arahnya.

Mata biru tajam Victor langsung terpaku pada sosok Freya. Untuk sesaat, dunia di sekitar mereka seolah berhenti berputar. Pria dingin yang ditakuti oleh banyak pebisnis elit itu terpesona setengah mati melihat wanita yang berjalan mendekatinya dengan balutan gaun champagne yang berkilau di bawah temaram cahaya malam.

Freya berhenti beberapa langkah di hadapan Victor. Pipinya merona merah di bawah terpaan angin malam yang sejuk, merasa sedikit salah tingkah di bawah tatapan intens sang konglomerat.

"Kau..." suara Victor tercekat sejenak, sebelum akhirnya bibirnya mengukir sebuah senyuman tulus yang sangat mempesona. "...tampak luar biasa indah, Freya."

Freya mendongak, menatap mata biru Victor yang kini memancarkan kehangatan luar biasa. Seluruh kegelisahan, keraguan, dan rasa tidak percaya diri yang sempat menyelimuti hatinya mendadak menguap begitu saja, tergantikan oleh debaran cinta yang kian menghantam dinding dadanya dengan begitu kuat.

"Terima kasih, Victor," bisik Freya lembut, suaranya hampir tenggelam oleh desir angin malam. "Ini... semua ini terlalu berlebihan untukku."

Victor melangkah maju, meraih jemari Freya yang terasa sedikit dingin, lalu mengecup punggung tangan gadis itu dengan penuh kelembutan.

"Tidak ada yang berlebihan untuk wanita yang telah berhasil mengubah duniaku," ucap Victor penuh penekanan. Ia kemudian membimbing Freya menuju meja makan eksklusif di tengah rooftop, menarikkan kursi dengan gestur seorang pria sejati.

Di bawah langit malam Amsterdam yang saksi, di atas ketinggian gedung megah milik keluarga Thorne, malam itu resmi dimulai—sebuah perjamuan cinta yang mengabaikan segala aturan, menepis seluruh ancaman keluarga, dan merajut janji sunyi di balik dinding sanctuary tersembunyi mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!