Karena gagal menikah, Zaneta Romero nekat memasang iklan di internet untuk mencari seseorang yang mau dijadikan 'calon suami' bayaran kali ini.
Berapa pun itu akan ia sanggupi.
Seminggu, dua ... Bahkan hampir tiga Minggu pun belum ada tanggapan.
Hingga ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lee Junhee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pantai
Di sepanjang garis daratan Taormina, ada beberapa pantai yang memang menjadi favorit minat para wisatawan. Seperti pantai Mazzarro dan Isola Bella.
Tak jarang, di sekitar area itu banyak bermukim penginapan yang menghadap langsung ke arah lautan.
Isola Bella (Isula Bedda) adalah salah satu pulau kecil dekat Taormina. Pulau ini memiliki keunikan di mana terdapat lurusan pasir penghubung yang mem bukit sehingga tak tertutupi oleh air.
Pasir inilah yang seolah menjadi penghubung antara pantai dengan Isola Bella, di mana banyak wisatawan memenuhi jalanan itu untuk berjemur.
Sayangnya, bukan itu tujuan mereka kini. Lokasi yang mereka diami masihlah cukup jauh dari pantai Isola Bella.
Yang bisa dijangkau adalah Mazzaro, pantai berpasir kasar yang lebih luas dari Isola Bella.
Meskipun tidaklah seramai dengan tetangganya, tetapi keindahan yang disuguhkan tempat ini tak kalah menakjubkan.
Gradasi warna antara bibir pantai dengan lautan masih terlihat jelas, warga sekitar pun seolah menjaga kebersihan yang menjadi nilai tambah dari indahnya tempat ini.
Dua orang itu menuruni jalan setapak, penghubung antara pintu masuk pantai dengan pemukiman penduduk.
Di sepanjang gang tersedia banyak pedagang yang menjajakan cinderamata, balon apung, pernak-pernik menyelam, maupun bikini.
Tentunya, Zaneta memilih opsi terakhir. Untuk apa ke pantai jika tidak berenang?
Wanita itu berhenti sejenak pada bikini-bikini bermotif bunga, membuat Diero ikut memberhentikan langkah.
"Uncle, bolehkah aku berbikini?"
"Apa? Di depan Leo?" Diero berketus. "Tidak." Tentu saja Uncle La Martin menggunakan kekuasaannya sebagai suami pura-pura.
Enak saja Leo melihat tubuh istrinya dengan bebas.
"Baiklah." Zaneta pasrah. Membiarkan langkahnya kembali berlalu, melepas hasrat yang tak tersampaikan pada pakaian mandi itu.
Hamparan garis lautan yang membentang serta silaunya matahari langsung menyapa mereka kala tiba di Mazzaro. Diero langsung membingkai mata dengan kacamata hitamnya.
Sesuai perkiraan memang, sudah banyak wanita-wanita berkulit putih dengan bikini-bikini indah menyapu pandangan.
'Keren .... ' Diero tersenyum kecil.
"Leo!"
Diero beralih seketika pada pria berkemeja safari yang menghampiri mereka. Si makhluk-aneh itu lagi (menurut Diero), menyambut kedatangan dua kliennya dengan senyuman simpul.
Jika dilihat dengan pakaian begitu, tubuh Leo memang agak sedikit berisi dan tegap. Berbeda sekali ketika mereka pertama kali menyapa saat di bandara.
Menurut Diero sih, lebih pantas menjadi bodyguard mereka karena postur Leo serta wajah sangar yang memang seperti anak buah mafia.
"Sudah memakai sun block?" tanya Leo.
Zaneta mengangguk. “Tapi, dia belum.” Tolehnya pada Diero.
Baru kali ini ia menemukan guide se-perhatian ini. Cih. "Jadi ... kita hanya berdiri?" Diero ber ketus.
"Ah, tidak. Aku sudah menyediakan tempat. Ayo."
Ajakan Leo yang beramah tamah sepertinya tak begitu dibalas baik oleh Diero. Sepanjang mereka berjalan, kupingnya terasa panas. Sangat.
Obrolan kecil antara sang 'istri' dengan guide Italia itu entah mengapa membuatnya merasa tersisihkan.
Mengapa ia harus mengambil posisi di pinggir, sih?
"Tidak mau mandi?"
"Tadinya ... tapi..," Zaneta berhela, melirik Diero sebentar. “….. lain kali saja.“ Bersyukurlah, Tuan La Martin. Istrimu menjaga nama baikmu kali ini.
Leo mengangguk. "Baiklah, besok kita ke Isola Bella sa-"
"Besok kami ke Siracusa," potong Diero. Ketus.
Eh?
Baik Leo maupun Zaneta, mereka terdiam beberapa detik atas apa yang baru mereka dengar. Barulah Leo menyahut ringan. "Oh, baiklah. Lain kali saja."
Memang harus begitu. Mengajak ke pantai lagi hanya untuk melihat Zaneta mengenakan bikini? Tidak, itu tak akan pernah terjadi.
Diero sibuk bergelut dengan otak dan hatinya yang mulai memanas. Entah mengapa.
Sebenarnya, ia pun tak tahu juga ke mana lagi
tujuan mereka besok. Asal menyahut.
Hanya untuk menghindarkan Zaneta dari orang-orang seperti Leo ini, menurutnya.
"Unc-ah, Hubby ... kau tidak pakai sun block?" Astaga, hampir Zaneta keceplosan.
"Hm... nanti." Diero membalas pendek kala mengambil posisi untuk duduk di atas karpet.
Mereka baru saja tiba area berjemur yang Leo maksud tadi, meneduhkan diri di bawah payung lebar.
Melihat interaksi unik itu, Leo melemparkan senyum. Lucu.
Zaneta menitipkan goodie bag-nya di sebelah Diero. "Aku ke sana dulu."
Anggukan itu membalas wanita yang telah berlari kecil ke arah tepian pasir yang disambut oleh deburan ombak kecil.
Menumpukan perhatian nya se bentar pada punggung wanita ber mini dress singlet jingga yang sibuk mengejari air. Seperti anak kecil.
Jadi, tidur sebentar tak apa 'kan? Baru saja Diero hendak men cuci mata pada be berapa turis wanita dengan busana mandi, kekesalan nya kembali ter sulut dengan kehadiran Leo yang malah meng ambil posisi duduk di sebelah nya.
Hell yeah. Masih banyak tempat, kenapa harus di sini? Diero menggertakkan rahang.
"Tidur Anda semalam bagai mana? Nyenyak, kah?"
"Oh."
"Anda tahu 'kan bahwa ini tempat kesukaan istri Anda?"
Tidak. "Hmm."
Leo meng alih kan pandangan pada Zaneta yang ber gabung dengan be berapa turis. "Anda pasti senang me lihat istri Anda bahagia seperti itu."
Diero ter tegun, kemudian mengikuti arah per hatian pria itu.
Seperti ingin me nunjuk kan bahwa... orang ini se dikit lebih banyak tahu tentang Zaneta daripada diri nya? Begitu kah? "Hmm."
"Anda sangat mengerti kebahagiaan apa yang istri Anda ingin kan."
Apa lagi ini? "Oh."
Bersambung .....