Indonesia
NovelToon NovelToon
Pria Lain Yang Bersama Istriku

Pria Lain Yang Bersama Istriku

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: Betti Cahaya

Baca yuk!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Betti Cahaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dosa? Doa?

Plak! Plak!

"Perempuan murahan!"

"Ibu!"

Kupegangi tangan Ibu untuk mencegah tamparan selanjutnya. Juwita yang masih lemah tampak syok dengan tamparan Ibu yang cukup keras.

"Istri macam apa kamu ini?"

"Jadi kamu tidur dengan sepupu suamimu sendiri? Kamu nggak waras rupanya!"

"Istri durhaka! Istri lak--"

"Cukup, Bu!" Kutahan tubuh Ibu yang mulai lepas dan hendak menghajar Juwita kembali.

"Kamu membelanya, Bri? Wanita itu udah kotor sekotor-kotornya, kamu masih mau?" Mata Ibu membulat penuh tanda tanya, seolah mempertanyakan sikapku dengan kecewa.

"Jawab ibu, sejak kapan kamu tau? Lalu kenapa kamu diam dan menyembunyikan malapetaka ini dari ibu, kenapa, Bri?!" tanya Ibu sambil menangis histeris.

"Bu ... tenang, Bu! Nanti aku jelasin, ini rumah sakit."

Kupeluk Ibu dan mengajaknya duduk kembali di kursi yang sudah kugeser menjauh dari ranjang Juwita. Pilihan Geri tentang rumah sakit sangat buruk, ruangannya tidak cukup nyaman.

"Brilian ... malang sekali nasib kamu, Nak!"

"Kenapa kamu harus dikhianati perempuan seperti ini, ibu nggak rela ...!"

"Ibu melahirkan dan merawat kamu bukan untuk direndahkan dan dihancurkan kehormatannya, harusnya dari dulu kamu tinggalin perempuan itu, masih banyak perempuan lain yang jauh lebih baik dari dia!"

"Kenapa kamu nggak denger ibu, sekarang gimana?"

"Gimana nasib kamu? Oh Ya Alloh, malangnya kamu, Nak!"

Ibu menangis sambil terus meracau, sesekali kulirik Juwita yang menunduk dan masih memegangi pipinya, pundaknya yang naik turun menandakan dia juga menangis, namun rambut yang terurai itu menutupi wajah bersalahnya.

Kemarahan Ibu juga kemarahanku, tapi aku tidak bisa frontal melepaskannya karena bagaimana pun kami pernah hidup saling mencintai, bahkan saat ini pun aku masih mencintainya, walaupun cinta dan kecewa itu sedang sama besarnya dan membuatku bimbang.

Sebenarnya Juwita ... juga kasihan, dia masih lemah dan harus menerima tamparan Ibu, tapi ... bukankah dia pantas mendapatkan kemarahan Ibu?

Hatiku bercabang, haruskah kutenangkan dia atau membiarkan Juwita menerima akibat dari dosanya.

Semua ini pasti bagian dari rencana Geri, sebesar itukah keinginanya untuk mendapatkan Juwita? Lagi-lagi, aku kecolongan dengan semua tindakannya. Perasaan Ibu adalah hal terakhir yang kujaga, tapi seolah tahu kelemahanku, Geri mengincarnya dengan licik.

Benar kata, Ibu. Aku memang malang.

Kupanggil Erina datang untuk menjemput Ibu pulang.

"Jaga Ibu dulu, Rin, jangan terima tamu, terutama Tante Febri atau anaknya sampai aku datang, ngerti?" ucapku mengarahkan dengan khawatir.

"I-iya, Mas!" Syukurlah Erina tidak banyak bertanya.

"Mba Wita, cepet sembuh ya, jangan sakit lagi, aku udah nggak sabar pengen gendong keponakan," ucap Erina sebelum pergi.

"Ayo, Rin!" bentak Ibu cukup membuat Erina yang tidak tahu apa-apa bingung.

*

"Aku pinjem ponselmu!" ucap Juwita.

"Mana punyamu?"

"Hilang."

"Kenapa bisa hilang?"

"Kamu pikir aku datang sendiri ke pria itu? Atau dia menculikku sampai barangku tercecer entah kemana?"

Culik? Haha .... Aku sampai lupa menanyakan awal pertemuan mereka hingga berakhir di sini.

Sekarang cara bicara Juwita berubah, dia tidak lagi bersikap baik padaku. Dia dingin.

"Oh iya, aku lupa. Kamu nggak peduli lagi!" ucap Juwita tertahan.

"Mana? Pinjem sebentar!"

Juwita mengulurkan tangannya padaku yang diam terpaku, semua peristiwa belakangan ini sangat sulit kucerna, butuh waktu untuk berpikir yang tidak sedikit walau untuk secuil perbuatan.

"Mau telpon siapa?" tanyaku seraya mengulurkan ponselku. Dengan cepat Juwita mengambilnya.

"Mas Guntur," jawab Juwita dingin.

"Mau ngapain?" tanyaku panik.

"Bukan urusanmu!"

"Juwita!"

Kutarik ponsel itu dari tangan Juwita tepat sebelum pesan yang baru diketik itu dikirim.

"Berikan!" Juwita berusaha mengambil ponsel di tanganku dengan tubuh lemahnya.

"Apa kamu marah karena Ibu?"

"Bukankah yang Ibu katakan itu semuanya benar? Kalau memang kamu menyesal dan ingin bertobat, harusnya kamu menerima semua sikap Ibu karena memang kamu salah!" ungkapku kesal melihat sikap dingin Juwita.

"Memang, Mas. Kalimat ibumu nggak ada satu pun yang salah. Lalu apa gunanya aku masih di sini?" jawab Juwita, terlihat jelas jejak merah tangan Ibu di kedua pipinya.

"Kau! Lupa perjanjian kita, aku dan kakakmu itu?" ucapku mengingatkan, lagi pula bagaimana bisa seseorang yang bersalah malah marah-marah.

"Mari kita lupakan, aku sudah sadar diri, semua yang kulakukan sia-sia! Dosa tetap dosa, tidak peduli ini terjadi berkat doa siapa!" lanjut Juwita sedikit tidak kumengerti.

Dosa?

Doa?

"Apa maksudmu?!"

"Tolong hubungi Mas Guntur, wanita pendosa ini ingin pulang, dia nggak pantas ada di keluarga Santosa yang terhormat tanpa cela!" ucapnya merendah dengan arogan.

"Kau!"

Api tidak bisa dibalas dengan api, mengalahnya Juwita kusia-siakan, dan kini dia kembali menjadi api.

Juwita bangkit dengan susah payah, aku hanya berdiri mematung melihatnya. Rasa marah dan kecewa masih beradu dengan komitmen dan janji. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.

"Mau kemana?" tanyaku setelah berhasil menekan sedikit egoku, nyatanya aku masih khawatir dan kasihan padanya.

"Toilet."

Mendengar jawabannya, aku berinisiatif mendekat untuk menolong Juwita yang kepayahan.

"Nggak perlu!" tolak Juwita yang terdengar arogan untuk ukuran orang yang bersalah.

Juwita berhasil berdiri dan menarik sendiri tongkat infusnya. Juwita hanya mengenakan baju pendek dari rumah sakit, karena bajunya sedikit terangkat saat mengenai perut buncitnya, terlihat jelas luka dan goresan di lutut dan kakinya. Luka yang sedari tadi tertutup selimut, sampai aku tidak menyadarinya.

Rasa bersalah menyusup melihat keadaanya yang pilu, karena aku tahu, Juwita pergi dari rumah dengan keadaan baik-baik saja. Semua pasti ulah Geri, tidak terbayang kengerian apa yang baru saja Juwita hadapi.

Marahku padanya berangsur pergi dan berubah menjadi murka pada Geri, beraninya dia menodai sekaligus menyakiti Juwita seperti ini.

Tanpa banyak berpikir, aku memapah Juwita yang berjalan sambil meringis kesakitan. Penampilannya kini sangat menyedihkan.

"Lepas!" seru Juwita sambil berusaha mendorongku, tapi tubuh lemahnya tidak bertenaga.

"Kakimu kenapa?" tanyaku sedih.

"Bukan urusanmu, aku cuma wanita pendosa," jawab Juwita terlanjur sakit hati.

"Apa Geri pelakunya?" tanyaku tanpa peduli penolakannya.

"Kalau aku merangkak lalu jatuh dari tebing demi kabur dari pria itu apa kamu percaya? Kayaknya enggak, aku tetap pendosa!" Air mata Juwita mengalir tanpa peduli seberapa kuat dia menahannya.

Remuk hatiku, mengetahui kebrutalan Geri yang mungkin bisa saja membunuh Juwita dan anaknya.

"Maaf!" Kudekap Juwita ke dalam pelukanku.

"Lepas, aku tau kamu j i j i k!" Juwita masih bertahan dengan keras hatinya.

"Enggak!"

"Lepas, aku nggak akan ngemis lagi sama kamu, aku akan pulang ke rumah Mama dan kamu bebas gugat cerai kapan pun kamu mau!"

"Jangan, aku minta maaf!"

"Lepas!" Juwita berusaha mendorong namun dia lemah dan akhirnya kami menangis bersama.

**

Sore itu Dokter perempuan datang berkunjung dan memeriksa Juwita. Dokter itu tampak memperhatikan wajahku berkali-kali.

"Jadi, Bapak ini suami ibu Juwita?" tanya Dokter.

"Iya, Bu. Bagaimana istri saya?" Dokter itu kembali mengamatiku, mungkin sebelumnya Geri sudah bertemu dengan Dokter ini.

"Dari luar tampak baik, mulai membaik. Coba kita tanya perasaan Bu Juwita untuk mengetahui kejelasannya," ucap Dokter.

"Gimana perasaannya, Bu?"

"Baik, Dok. Untuk perempuan hamil yang hampir diperkosa dan mempertaruhkan nyawanya untuk kabur, lalu orang-orang terdekatnya sama sekali tidak ada yang peduli peristiwa kelam yang aku alami, dan lebih fokus pada dosa dan kesalahanku, hem ... aku cukup hebat dan baik-baik saja, Dok!" jawab Juwita tanpa jeda, seolah kalimat itu sudah dia susun berhari-hari.

Ibu Dokter itu mengusap lengan Juwita dengan penuh simpati. Sementara aku ternganga mendengarnya.

Diperkosa?

"Tetap semangat ya, Bu. Ibu hebat sekali!" Dokter itu kini memeluknya dengan erat.

Aku diam serupa patung, aku hampir bertanya mengenai peristiwa kemarin, tapi lupa.

"Kamu diperkosa?" tanyaku tepat setelah Dokter dan perawatnya menghilang di balik pintu.

"Yang pertama mungkin terjadi karena aku khilaf termakan rayuannya, tapi ... kalau sampai terjadi yang berikutnya, itu sudah pasti salahmu, Mas!"

.

.

.

.

.

.

.

.

1
Bah Fuang
melalui cerita cinta mari amandemen hukum Tuhan yg bisa diubah sesuai iptek, kecuali 1+1=2. cinta lebih berharga drpd hukum Tuhan...👍😂
Chamiela
ini novel kok berhenti tengah jalan ya...
arfan
up
Sity di fizzo
buruan lanjut Bun...
fleurlovin
sumpah sihh ini novelnya bagus banget ...👍😭❤ tapi yg buat saya sedih author kga mw up gila gilaa. 😭😭
Sity di fizzo: aku menunggu up novelnya taPi kenapa nggak pernah publis lagi
total 1 replies
Aku siapa
Gg bisa dihapus, pdhal itu belum fix
Sity di fizzo: d publis d mana Mbak lanjutannya plus aku mo baca 😭😭😭
total 1 replies
Sity di fizzo
pantesan aku bingung, kenapa Anna jadi Juwita 🤔🤔🤔🤔
Sity di fizzo
keren 🥲🥲🥲
thesunriseshack
Aku udah mampir nih! Kayaknya sih bakal menetap buat nungguin bab baru! *ahem*
TickleStar
akhirnya up juga sekian lama perjuangan ku menunggu .hehehe lanjut ! cemangat
Pin-Up Yang Elegan
Udah aku masukin ke rak buku dong~ Aku tinggalin jejak komen juga di sini biar author semangat~~
Aku siapa: Aduh baik sekali, terimakasih
total 1 replies
Sity di fizzo
kapan lanjut kak😍😍😍😍
Aku siapa: Ditunggu ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!