Aku harus menikahi pria yang tidak ku cintai, pria yang juga tidak pernah aku temui. Bahkan setelah menikah pun aku tidak pernah melihat bentuk wajah suamiku seperti apa. Tapi, kenapa dia sangat peduli denganku? Dia seperti sangat menyayangiku dan dia juga seperti sangat mencintaiku sebagai istrinya. Aku benar benar di perlakukan seperti ratu oleh suami yang tidak pernah ku lihat wajahnya. Ini adalah kisah seorang Kinaya Vhelia Safira, yang membuat persentase Cinta bahkan ia juga membuat persentase kebenciannya kepada sang suami, yaitu TAMA “Perusahaan ku memang penting, tapi kamu lebih penting dari apapun. Aku memilih kamu, Kinaya” “Kamu bahkan lebih berharga daripada diri aku sendiri” “Karna Kinaya Vhelia Safira cuma satu, dan satu satunya itu harus menjadi milik aku” •••• Follow instagram @storybydhinces
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhinces, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Maaf Gita.
Sudah berhari hari bahkan lebih dari seminggu setelah Tama mengingkari janjinya, Kinaya tidak membuka ponselnya sama sekali. Kinaya bahkan merasa dirinya tidak punya hp sama sekali, karna tidak pernah memainkannya lagi.
Sudah pasti Kinaya melakukan itu semua karna ingin menjauhi Tama, ia tidak mau melihat dan membaca pesan yang masuk dari Tama. Bahkan Tama juga mengirimkan paket kerumah setiap hari, Kinaya pun tetap tidak membukanya. Tama juga menghubungi para asisten dirumah ini tapi Kinaya selalu menyuruh mereka untuk berbohong.
Selama 2 minggu lebih Kinaya memiliki status sebagai istri tapi ia masih belum pernah bertemu dengan suaminya, lalu selama beberapa hari ini Kinaya selalu keluar jalan jalan sendiri mencari tempat yang nyaman untuk belajar sebelum dirinya kembali bekerja nanti. Entah lah kapan Kinaya akan siap mulai bekerja kembali, tapi sepertinya Kinaya belum siap untuk beberapa minggu kedapannya.
Karna waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, Kinaya yang sudah merebahkan tubuhnya diatas kasur dengan menggunakan pakaian tidur yang cukup minim, kini menyalakan Tv didepan kasurnya. Terlalu banyak belajar juga membuat kepala Kinaya mumet, sepertinya menonton film bisa sedikit membuatnya relax.
TokTokTok... baru saja Kinaya ingin menekan play di film yang ingin di tontonnya, tibatiba saja pintu kamar Kinaya bunyi. Padahal sudah jam segini, siapa coba yang mengetuk pintunya.
"Siapa?" tanya Kinaya sedikit kencang karna ia malas turun dari kasur
"Ini saya bu, Atik"
"Kenapa mbak?"
"Anu bu, dibawah ada Kak Gita"
Gita!? Mendengar ucapan Mbak Atik, Kinaya segera turun dari kasur dan berjalan ke arah pintu kamar, ia membuka pintu yang tadi terkunci hingga pandangannya kini menatap Mbak Atik yang berada didepan pintu.
"Udah jam segini, kenapa dia kemari?"
"Saya gak tau bu, kak Gita masuk tubuhnya sudah basah kuyup"
"Basah kuyup?" bingung Kinaya
"Iya Bu, saya suruh kak Gita naik ke atas tapi dia gak mau, jadi saya yang naik untuk memanggil ibu"
Tak menjawab, Kinaya langsung berlari secepat mungkin menuruni tangga rumahnya. Pandangannya pun langsung tertuju ke arah seorang perempuan berambut pendek yang sudah menatap ke arahnya, betapa terkejutnya Kinaya melihat seluruh tubuh Gita basah dari atas kepala hingga kaki.
"Gita kenapa?" ujar Kinaya setelah berada didepan Gita yang tibatiba saja menangis sangat kencang
Tak tega, Kinaya pun memeluk perempuan didepannya ini, tak peduli bajunya ikut basah, Kinaya mengelus pelan punggung Gita yang masih menangis sesegukan.
"Mbak, buatkan sup hangat dan air teh, nanti bawa ke kamar saya" ujar Kinaya menoleh ke arah pekerja dirumahnya
"Baik Bu"
Kinaya melepas pelukannya, ia menyentuh tangan Gita yang masih menangis tanpa berbicara sepatah kata pun. "Kita ke kamar ya, cerita dikamar"
Setelah kepala Gita mengangguk, Kinaya mengajak Gita menaiki tangga rumah dengan tangan masih menggandeng Gita. Kinaya menyuruh Gita untuk duduk di atas kasur, sebelum ia mengambil handuk dari kamar mandinya.
Masih tak bersuara, handuk yang baru saja diambilnya kini ia pakai untuk mengelap atas kepala Gita yang sudah membasahi rambutnya, Kinaya juga mengelap wajah Gita yang basah.
"Kamu ganti pakaian dulu, nanti baru cerita. Kalau basah seperti ini nanti kamu sakit. Kakak udah siapkan baju di kamar mandi"
Kepala Gita hanya mengangguk dan bergegas menuju kamar mandi yang berada di kamar Kinaya, tak lama Gita pergi, pintu kamar Kinaya berbunyi dan ia pun langsung membukanya.
"Makasih ya mbak" ujar Gita mengambil satu mangkuk dan gelas yang dibawakan mbak Atik
"Bu, sebelum kak Gita datang, bapak tadi sempat nelpon saya"
Kinaya menghela nafasnya saat mendengar ucapan Mbak Atik, lagi lagi kabar laki laki itu yang pasti menanyakan dirinya.
"Katanya ibu disuruh nyalain hp nya. Kalau ibu gak nyalain hp, besok bapak mau sewa bodyguard kerumah buat jagain ibu"
Dahi Kinaya mengerut mendengarnya, apa ia tidak salah dengar? Apa apaan bodyguard, dikira Kinaya artis butuh bodyguard? laki laki kurang ajar itu benar benar sangat menyebalkan.
"Ya" singkat Kinaya dan langsung menutup pintu kamarnya
Baru saja Kinaya membalikan tubuhnya, ia dikejutkan saat melihat Gita yang sudah berdiri didekat pintu walk in closet menghadap kearah Kinaya, lagi lagi air mata itu mengalir membasahi pipi Gita.
"Kak Kina masih berantem ya sama kak Tama?" ujarnya cemberut
"Gak usah bahas itu" ujar Kinaya setelah menaruh mangkuk dan gelas di atas nakas sebelah kasurnya
"Tapi kak, garagara kak Lula sama aku kakak jadi marah sama kak Tama"
"Aku minta maaf ya kak kalau ada perkataan aku yang gak enak ke kakak 2 minggu lalu, kakak jangan marah lagi sama kak Tama" cemberut Gita lagi dan lagi
"Gita, gak ada hubungannya sama kalian kakak marah ke Tama"
"Tapi kak Tama yang bilang gitu"
"Bilang apa?" terkejut Kinaya
"Kak Tama marah sama aku dan kak Lula, waktu aku pulang kerumah bunda, aku cerita sama bunda, terus bunda kasih tau ke kak Tama... kak Tama suruh kak Lula minta maaf sama kak Kina, tapi kak Lula gak mau karna kak Lula gak ngerasa bersalah. Aku sebenernya mau minta maaf, tapi aku gak berani karna kak Lula nanti pasti marahin aku..."
"Belakangan ini kak Tama telpon orang rumah mulu, suruh aku atau siapapun ke rumah kakak dan nginep temenin kak Kina. Bunda udah nyuruh kak Lula sekalian buat minta maaf, tapi kak Lula tetep gak mau. Kak Tama akhirnya cerita ke bunda kalau kak Kina udah seminggu gak angkat telpon bahkan gak balas chat kak Tama"
"Aku jadi merasa bersalah banget kak, aku minta maaf mewakili kak Lula. Aku gak bermaksud buat kak Kina sama kak Tama berantem", Gita meneteskan kembali air matanya dengan tatapan sendu menatap Kinaya.
"Kak Kina jangan marah lagi ya sama kak Tama..." sambung Gita menyentuh kedua tangan Kinaya, "aku mohonnn"
Kinaya menghela nafasnya kasar, sebenarnya bukan itu alasan Kinaya marah dan tidak membalas pesan bahkan mengangkat panggilan dari Tama, seharusnya Tama juga tahu kalau alasannya karna dia mengikari janjinya. Tapi kenapa dia harus bercerita masalah ini sama keluarganya, seharusnya dia menyelesaikan masalahnya sendiri dan menemui Kinaya bukan malah membuat adik adik nya merasa bersalah.
"Kak Kina gak marah sama Tama garagara kalian kok. Ada alasan lain yang mungkin kak Tama juga gak cerita sama keluarga kalian karna ini masalah rumah tangga kita, jadi Gita gak usah merasa bersalah gini ya"
"Tapi kakak jangan berantem lagi ya sama kak Tama"
Bibir Kinaya tersenyum tipis, ia menganggukkan kepalanya, lebih baik mengiyakan saja ucapan Gita saat ini, karna Kinaya tidak ingin membahas Tama yang setiap hari mengganggu dirinya melalui orang lain.
"Gita, kesini kenapa hujan-hujanan? Kenapa gak ngabarin kakak?"
"Aku udah chat kakak tapi sama kakak gak dibales, aku kira kakak beneran marah sama aku makanya chat aku gak dibales juga"
Ah Kinaya benar benar lupa kalau dia tak menyentuh ponselnya lebih dari seminggu, pasti banyak pesan dan telpon masuk dari orang lain juga selain Tama, dan kenapa Kinaya tidak memikirkan itu semua, bodoh.
"Aku izin sama orang rumah mau keluar cari jajan, tapi sebenarnya aku mau ketemu kak Kina"
"Kamu naik apa kesini?"
"Naik motor, aku gak bawa jas hujan gak bawa helm pas di perjalanan tibatiba hujan, jadi aku hujan hujanan"
"Astaga, lain kali jangan diulangi lagi ya, bahaya bawa motor sendirian malem malem gak pake helm pula. Kakak minta maaf ya karna gak baca pesan dari kamu, kamu jadi hujan hujanan gini", ah Kinaya benar benar jadi merasa bersalah sekali karna tidak memainkan ponselnya dan tak membaca pesan dari Gita. Kalau Gita sampai sakit, Kinaya tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.
...TBC…...
sudah 2025 😅
bikin penasaran
baru kali ini saya baca novel nikah paksa dengan alur cerita begini
terima kasih update bab 22 nya.
ditunggu bab bab selanjutnya