Bagaimana perasaanmu jika benteng yang selama ini kamu bangun malah runtuh ditengah jalan? apa yang akan kamu lakukan agar kamu bisa tetap hidup dalam kenyamanan?
Tentu akan sangat membingungkan bukan? antara memilih untuk terus menjalani hidup dengan hawa nafsumu atau memperbaiki yang rusak pada dirimu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RsmLia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal perjalanan Galvin
Saat Asila sedang berbaring sambil memainkan ponselnya menonton video random, seperti biasa Galvin memeluknya dari belakang dan melepaskan ponsel dari genggaman tangan Asila.
..."kamu kebiasaan" ucap Asila spontan mengetahui gerak gerik kekasihnya yang selalu tiba tiba memeluknya dari belakang...
Galvin membalikan tubuh Asila agar mereka saling berhadapan, tapi Asila malah memejamkan matanya membuat Galvin tertawa kecil.
Dia mengelus elus rambut Asila dengan lembut sampai akhirnya Asila membuka matanya dengan perlahan. Terlihat Galvin yang sedang tersenyum manis kearahnya.
..."Kamu juga kebiasaan, setiap balik ke arah aku pasti matanya merem" Galvin menjawab dengan kata kata yang sama...
..."Kamu juga tau kan aku gimana" timpah Asila untuk mendapat pembelaan dari dirinya sendiri...
..."iyaaa tapi sekarang kamu ini pacar aku, jadi ga usah ada kata malu lagi atau apapun itu sama aku" Galvin berusaha memberi tahu Asila agar dia juga tidak canggung nantinya...
..."kamu emang udah pinter banget ya sama urusan pacaran? "...
Galvin terdiam sambil menatap Asila dengan memikirkan apa jawaban yang harus dia lontarkan untuk Asila, dia belum sepenuhnya tau akan sifat dan sikap Asila yang sesungguhnya. Jika dia jujur, akankah Asila masih menerimanya?
..."Hmmm, kamu mau jawaban yang kaya gimana sayang? " tanya Galvin masih mengelus elus rambut Asila...
..."jawaban jujur tentunya, tapi aku ga maksa kamu buat cerita tentang masa lalu." Asila menjawabnya dengan santai...
Sementara Galvin malah terdiam dan bingung harus mulai dari mana dia bicara. Tiba tiba pikiran tentang mengarah ke hal hal negatif harus tersampaikan agar dia cepat tau bahwa Asila orang yang seperti apa.
..."Sebelum sama kamu aku juga pernah pacaran sama perempuan lain, aku ga tau harus bicarain ini atau ngga sama kamu karena aku takut kalo kamu jadi ga suka atau malah jijik sama aku... " dengan wajah serius Galvin berbicara seperti itu...
..."Ngomong aja, biar aku juga bisa tau mau kamu gimana" jawab Asila...
Galvin tersenyum setelah mendengar kata kata yang ia dengar barusan, dia juga berpikir bahwa ini adalah awal dari keberhasilannya sekaligus kartu kuning dari Asila.
..."Karena kamu yang minta aku bakal kasih apapun itu"...
Asila hendak mendengarkan dengan sangat serius cerita dari kekasihnya, ia menguatkan tekad dan keyakinan agar tidak kecewa dengan semuanya.
Asila meminta ini hanya karena dia ingin Galvin merasa nyaman dengannya, dia tidak mau kalau Galvin pergi hanya karena dirinya berbeda dari mantan kekasihnya dulu. Hanya itu yang Asila pikirkan saat ini, dan menurutnya itu adalah hal yang wajar.
..."Aku selalu manja sama pacar aku, dan pacar aku juga harus manja sama aku. Jangan ada yang disembunyiin dan ga boleh malu tentang apapun itu, kita harus sama sama terbuka dan saling sayang. Rasa sayang ga harus dari kata kata, tapi juga kita harus bisa menggunakan bahasa tubuh supaya pasangan kita bisa lebih nyaman dan stay sama kita. " Galvin mengakhiri perkataannya meskipun itu belum semuanya, dia melihat Asila yang terlihat seperti ada yang tidak mengerti dari apa yang baru saja dia katakan...
..."ini bukan cerita, tapi ga papa deh." Ucap Asila sedikit tetapi hendak ingin berbicara lagi...
Galvin hanya tersenyum karena kata kata Asila ada benarnya, dia hanya mengatakan apa yang dia inginkan ketikan pacaran bukannya menceritakan pacarannya dulu bersama orang sebelum Asila.
..."Tapi aku ga ngerti sama bahasa tubuh, maksud dari bahasa tubuh itu apa? "...
Lagi lagi Galvin tersenyum kecil kepada Asila membuat Asila bingung dengan semuanya, dia benar benar tidak mengerti dengan apa yang ada dipikiran Galvin saat ini.