menyisakan tentang aku yang anak kandung terasa seperti anak tiri.
Aku awalnya menerima dengan ikhlas perlakuan keluargaku yang tidak adil, namun disaat usiaku 20 tahun aku mulai berubah dan menutup diriku. Aku yang awalnya berhijab sekarang ku lepas hijabku.
Semua karena ketika aku putus asa, ku kira lelaki yang akan membuat aku bahagia nyatanya malah berkhianat dengan sahabatku.
keluargaku berlibur saja aku tidak pernah di ajak, dan mereka tidak menyadari ada anggota keluarga yang kurang. Ya...sebegitu tidak pentingnya aku didalam keluarga ini.
Sampai akhirnya Aku dijodohkan dengan pria yang dulu mencintai adikku. aku sudah mulai berubah bukan menjadi wanita yang selalu menurut.
apakah mereka tahu selama 27 tahun ini hidupku penuh dengan air mata? penuh kesedihan? haus akan cinta dan kasih sayang yang tulus untukku?
apakah mereka menyadarinya?
mau tau kelanjutan kisahnya? ayo baca....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelsal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 20 {Tak terlihat}
"MAS CAKRA, AYU PULANG." aku menengok ke arah sumber suara seorang wanita yang baru masuk langsung melompat ke dalam gendongan Mas Cakra. Mas Cakra tampak senang, dia memutari tubuh Ayu beberapa kali sebelum akhirnya menurunkannya.
"Kok udah sampai aja sih? baru Cakra mau jemput."
"Kau tau? adik mu ini ingin cepat-cepat sampai. Rindu Kakaknya katanya." adu Mamah dengan wajah yang kesal.
Mas Cakra tampak menggelengkan kepalanya lalu dia, mengacak-acak rambut Lia dan mencium pipi Lia.
Mereka bertiga akhirnya duduk, aku tersenyum melihat kedua orang tuaku yang telah pulang. Lama tak melihat wajah orang tuaku membuat aku rindu sekali. ingin sekali rasanya memeluk mereka namun aku tidak berani, yang ada aku mendapatkan pukulan maut dari mereka nantinya. Jadi, aku mengurungkan niatku ini.
Aku berharap mereka berdua membalas senyumanku, namun nyatanya mereka tidak melirikku sama sekali. Menanyakan kabarku saja tidak pernah selama mereka di luar negeri.
"Bagaimana? sudah bertemu Sheila?"
"Sudah, baru tadi siang dia kesini."
"Keluarga Sheila sudah disini kan?"
"Sudah Mah."
"Bagaimana perusahaan?"
"Semua berjalan lancar Ayah."
"Bagus. Selama Ayah di luar ngeri kau urus perusahaan disini. hitung-hitung belajar menjadi pemimpin sesungguhnya. Rencananya setelah Kau menikah dengan Sheila, Ayah akan menjodohkan Ayu dengan anak teman Ayah." ucap Ayah panjang lebar. Aku hanya mendengarkan apa yang Ayah katakan.
kenapa Ayu? bukan aku? aku kan Kakaknya, apa iya Ayu harus melangkahi aku?. Ah, aku lupa Teman Ayah kan tidak ada yang tahu bahwa aku ini juga putrinya, mereka hanya tahu ayah memiliki 2 anak saja.
"Ayu belum lulus, bagaimana jika Anggi?" tawar Cakra kepada ayahnya.
"Tidak. Teman ayah sudah jatuh hati kepada Ayu, dia bilang Ayu gadis yang baik, lemah lembut, dan sopan. Cocok untuk putra mereka." jawaban Mamah entah mengapa seolah menyindirku.
Aku bangkit dari dudukku, ketika aku merasa sudah tidak dianggap lagi disini. buat apa aku disini jika aku dicueki saja. Baru saja aku bangkit, namun Mas Cakra sudah menarik tanganku kembali agar duduk disampingnya.
aku sempat melirik mas Cakra namun aku menarik tanganku dengan kuat dan pergi dari hadapan mereka semua. Tanpa aku sadari Ayu berjalan dibelakang ku mengikuti.
Saat aku berada didepan kamar mandi, suara orang jatuh terdengar di telingaku, "Aduh."
sontak aku menengok ke belakang, menemukan Ayu yang terjatuh.
"Mba sengaja kan buat aku jatuh?" tuduhnya langsung kepadaku.
"Apa-apaan kamu ini Ayu. Kamu jatuh sendiri tapi kenapa nyalain aku?"
"Mbak enggak terima kan karena aku yang dijodohin sama temen Ayah, bukan mbak? kalau Mbak mau ambil aja Ayu ikhlas." ucapnya dengan sedih. dia gila. Ayu enggak waras.
"Gila kamu Ay, aku enggak pernah bilang tapi kamu sendiri yang bilang. Minggir jangan halangi jalan." desisi ku saat dia tak kunjung berdiri dari jatuhnya.
"Mbak pokoknya harus bantuin Ayu berdiri."
"Apa sih? manja benget."
"Cepetan mba."
"Mba?"
"Kalau mbak enggak mau bantu ayu, Ayu cakar kaki mba." aku tak merespon perkataanya. Aku tau Ayu hanya mencari perhatian kepadaku, karena selama ini aku selalu cuek kepadanya jika bukan urusan penting.
Dia tidak akan berani menyakitiku, "Akh..." aku berteriak kesakitan saat dia beneran melakukannya. Kukunya menancap di pahaku sakit sekali, sontak aku menarik kakiku namun malah terkena wajah Ayu, hingga Ayu tampak seolah tertendang olehku.
"Aw...."
"ANGGI APA YANG KAMU LAKUKAN?" aku menegang saat suara bentakan Ayah terdengar begitu nyaring ditelinga ku.
"Ay-ayah ini enggak seperti yang ayah bayangkan..Plak..." belum sempat aku menyelesaikan perkataan ku, satu tamparan kuat mengenai pipi kiri ku membuat wajahku menoleh kesamping.
"Lancang kamu berbuat seperti itu kepada putri saya." marah Mamah kepadaku. Wajahnya sungguh berkilat marah.
"Mah..." ucapku memelas.
"Anggi juga anak Mamah, kenapa Mamah enggak pernah bela Anggi?" tanyaku dengan memelas meminta pembelaan.
"Aku bukan Mamah mu, aku tidak pernah Sudi melahirkan anak sepertimu." hatiku kembali sakit. Mamah kembali menorehkan luka di hatiku, untuk perkataanya yang selalu kasar kepadaku.
"Kamu apakan anak saya, hah? sampai tubuhnya sakit seperti ini?" bentak Ayah kepadaku. Ayah mendorong Tubuhku hingga terjatuh, naasnya kepalaku terbentur dinding hingga mengeluarkan darah. Sakit sekali, ini dinding tentunya keras.
"Sekali kamu menyakiti Putriku, mati kamu." ancam Ayah kepadaku. Lalu pergi meninggalkan ku yang yang menahan sakit di kepala ku.
Mataku tampak buram, ku coba menajamkan penglihatan ku Ayu tampak bergumam kepadaku dalam gendongan Ayah, namun karena penglihatan ku yang kabur aku tidak tahu dia mengatakan apa?.
Dengan sisa tenaga aku mencoba bangkit, keluar dari dalam kamar hotel. Dengan merayap di dinding. Dengan mata yang berkunang-kunang. Ku raih gagang pintu dan ku buka dengan pelan.
Tak ada suara yang bisa ku mintai tolong, sampai akhirnya aku benar-benar keluar dari kamar hotel. Baru beberapa langkah aku berjalan menjauhi kamar, tubuhku sudah limbung ke depan dan terjatuh.
untungnya ada seseorang yang menangkap tubuhku hingga aku tidak langsung bertabrakan dengan lantai. Ku rasakan aroma parfum dari seseorang yang menolongku.
Lambat laun kesadaran ku menipis, sebelum benar-benar hilang aku sempat tersenyum dan bergumam, "Sakit...darahku keluar." ucapku dengan lirih.