Ketika seseorang yang dicintai direbut oleh orang lain bukan berarti hanya diam. Tapi, merebut kembali.
Mentari, sang gadis tomboi berjuang mempertahankan hubungan dengan Ravi. Banyak halangan menghadang menerpa kisah cintanya.
Natasha, sang mantan Ravi selalu berusaha ingin merebut kembali cinta Ravi yang telah berlabuh pada Mentari. Bagi Natasha, Mentari sudah merebut Ravi darinya, padahal itu karena ulahnya sendiri.
Ravi gelisah menghadapi pilihan antara cinta lamanya yang masih ada atau menguatkan cintanya pada Mentari?
Ketika Ravi mulai condong pada Natasha, di saat itulah Mentari sekuat tenaga merebut kembali apa yang memang menjadi miliknya?
Berhasilkah dia? Ataukah memilih pada lelaki lain yang selalu menunggunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evanafla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22 : Bertarunglah Denganku!
Selama Natasha bekerja, tak ada yang patut dicemburui. Ravi memang jarang datang ke tempat usahanya. Semua sudah dia percayakan pada penanggung jawabnya. Cukup dia memeriksa laporan setiap bulan.
Kini, anggota klub motor tengah berkumpul di markas seperti biasa. Agenda kali ini membicarakan tentang rencana touring dan penyaluran bantuan untuk panti asuhan. Acara yang hampir setiap bulan dilaksanakan.
Niat hati meninggalkan Mentari untuk ke toilet, Ravi rupanya memberi kesempatan pada lelaki lain bisa leluasa mendekati Mentari. Nampak Mentari tengah berbicara serius dengan Januar, sang ketua.
Hati suami mana yang baik-baik saja melihat istrinya tengah berbicara akrab dengan lelaki lain. Mungkinkah ini balasan sang istri setelah kejadian beberapa hari lalu dia memantik api cemburu.
Baru kali ini dia melihat Januar ngobrol berdua dengan wanita. Biasanya dia melihat Januar memilih bergabung dengan anggota lelaki. Dari tatapan Januar pada Mentari, Ravi merasa ada rasa terselubung di balik pancaran netra Januar untuk Mentari. Hatinya tidak mentolerir hal itu.
"Ekhem!"
"Sayang? Sudah selesai urusan di toiletnya?" tanya Mentari dengan raut biasa.
Ravi memendam amarah di hatinya. Secara posesif dia merengkuh pinggang Mentari dengan Mesra, seolah memberitahukan bahwa Mentari hanya miliknya. Meski dia mendapat senyuman miring dari Januar.
"Sudah. Kamu sendiri, sudah selesai ngobrolnya dengan Januar? Kalian membicarakan apa? Kayanya serius sekali,"
Tatapan Ravi hanya tertuju pada Mentari, walau sesekali dia melirik sekilas pada Januar.
"Hanya ngobrol biasa,"
"Kita ke sana dulu," ajak Ravi menarik tangan Mentari tanpa pamit.
Januar mengelengkan kepalanya melihat tingkah Ravi yang terlihat cemburu olehnya. Padahal dia dan Mentari cuma ngobrol, bagaimana kalau dia mendekati Mentari. Menarik juga untuk dicoba, mengingat dirinya pernah melihat Ravi dekat dengan mantannya.
Tanpa orang lain tahu, Januar memendam perasaannya pada Mentari. Sudah lama dia memendamnya, karena segan Mentari adalah adiknya Okan. Wanita yang sungguh unik menurutnya, polos dan tak mengumbar kemampuan untuk dilirik kaum adam.
"Okan kapan biasanya libur?" tanya Januar yang menghampiri Mentari.
"Eh, Kak. Biasa akhir pekan, itu juga asal jangan akhir bulan. Soalnya akhir bulan suka sibuk meriksa keuangan dan perkembangan bisnisnya," jelas Mentari.
"Sudah lama saya tidak bertemu Okan. Rindu ingin balapan dengannya," bisik Januar.
"Ketua turun ke jalanan juga ternyata kemarin,"
"Darimana kamu tahu?"
"Ravi yang bilang. Katanya dia kalah dari Kakak. Tahu Kakak balapan, aku jadi ingin ikut balapan, walau sudah tahu aku pasti kalah,"
"Kenapa kemarin tidak ikut. Biasanya kamu paling antusias,"
"Aku tidak baca pesan di grup," kecewa Mentari.
Januar mengusap kepala Mentari lembut, niatnya ingin mengobati kekesalan yang tercetak di wajah Mentari. Rasanya gemas sekali.
Suara dehaman mengusik pembicaraan mereka. Raut masam menghiasi wajahnya. Baru saja dia meninggalkan istrinya sejenak untuk berbicara dengan anggota lain tentang bisnis, malah kembali menelan kecemburuan.
"Tidak biasanya kamu dekat-dekat dengan istriku? Ada apa?" Curiga Ravi.
"Memang salah aku dekat dengan Mentari? Dulu juga kita sering ngobrol walau cuma sekilas," sahut Januar santai.
"Lalu maksud kamu mengusap kepala Mentari itu apa? Kamu lupa kalau Mentari itu sudah bersuami, yaitu aku?" geram Ravi yang menghunuskan tatapan tajam pada Januar.
Tubuh Ravi sudah menghalangi Mentari berhadapan dengan Januar. Hatinya sudah memanas melihat keakraban Januar dan Mentari. Adegan pengkhianatan Natasha dan Bintang kembali mengguncang memorinya.
Lain halnya dengan Mentari yang berusaha mengusap bahu Ravi. Dia ingin menenangkan suaminya yang sudah terlihat marah. Ravi salah paham padanya juga Januar. Lebih baik dia mengajak Ravi untuk pulang.
"Jadi laki jangan terlalu cemburuan, nanti wanitamu bisa kabur karena terkekang olehmu," saran Januar tersenyum miring dan meladeni tatapan tajam Ravi dengan tenang.
"Itu urusanku dengan istriku. Aku cuma tidak suka saja kamu terlalu dekat dengan Mentari, biasanya juga seperti itu yang aku lihat. Kamu dingin pada setiap wanita, termasuk istriku," tekan Ravi.
"Kamu bisa dekat wanita lain, kenapa Mentari tidak bisa dekat dengan lelaki lain?"
"Apa maksudmu berkata seperti itu? Aku tidak pernah mendekati wanita lain," ketus Ravi makin menantang Januar.
Senyuman meremehkan nampak di bibir Januar. Rupanya Ravi sudah memakan umpannya. Dia yakin Ravi sangat mencintai Mentari, meski dia ragu jika Ravi belum sepenuhnya melupakan mantannya.
Januar memang tidak terlalu tahu gosip-gosip yang beredar. Hanya saja, selentingan kabar selalu dia dengar. Dia diam bukan berarti acuh, tapi tidak ikut dengar dalam grup rumpi yang sering dia lihat di setiap sudut kampus.
"Baguslah jika kamu tidak mendekati wanita lain. Berarti kamu setia pada Mentari. Jangan sampai kamu mengecewakan Mentari, karena kalau itu terjadi ... aku tidak segan-segan buat perhitungan denganmu," ancam Januar datar tapi memiliki arti dalam.
"Jangan bilang pula, jika kamu menaruh hati pada Mentari!"
"Sayang!" desis Mentari tak enak pada Januar. "Lebih baik kita pulang. Hatimu sedang tak baik," usul Mentari menarik tangan Ravi.
Bukannya bergerak, tubuh Ravi bergeming tegak. Matanya masih menatap tidak suka pada Januar. Hingga sebuah ide terlintas di benaknya untuk menantang Januar, biar dia memberi sedikit pelajaran pada sang ketua.
"Kalau iya, memangnya kenapa? Bukankah boleh saja, asal jangan sampai merusak hubungan sepasang insan,"
Tangan Ravi terkepal. Januar benar-benar membuatnya marah. Kalau di tempat sepi, sudah dia beri hantaman dari kepalan tangannya.
"Justru ucapanmu telah mengusik ketenangan hubunganku dengan Mentari," marah Ravi.
"Memangnya aku terlihat memprovokasi Mentari untuk menjauhimu atau merayu Mentari bahkan memeluknya? Tidak kan? Tapi kamu malah enak bisa memeluk perempuan lain,"
"Ravi! Maksudnya apa? Kamu ... perempuan lain?" Mentari penasaran.
Ravi salah tingkah dibuatnya. Ucapan Januar sungguh mengandung racun untuknya dan Mentari. Hatinya semakin menggeram. Ini sudah tidak bisa dibiarkan olehnya.
"Januar salah paham tentang kejadian aku membantu Natasha. Kamu tentu masih ingat,"
"Oh. Maaf, Kak Januar! Aku dan Ravi harus pulang dulu. Masalah touring aku ikut saja bagaimana keputusannya." Mentari cari aman.
"Bila Ravi tidak bisa ikut, aku bisa menemanimu," sulut Januar memantik rasa cemburu Ravi.
Senang sekali rasanya melihat kemarahan yang tercetak jelas di wajah Ravi. Sesekali dia perlu memberi gertakan agar Ravi lebih bisa menjaga hatinya pada Mentari. Mengingatkan Ravi bahwa ada lelaki yang siap mengambil Mentari saat terluka oleh Ravi.
"Tak akan aku izinkan," geram Ravi.
"Sudah! Sudah! Ayo Ravi!" kesal Mentari menarik paksa Ravi, tapi sia-sia.
"Bagaimana kalau kita balapan? Kalau kamu menang dariku, maka aku tidak akan pernah berbicara sedikit pun pada Mentari. Sedangkan kalau aku yang menang, maka aku bisa leluasa berbicara pada Mentari. Namun, sebatas berbicara tidak lebih," tantang Januar.
"Itu ide yang ingin aku ajukan dari tadi. Kamu kira kemarin aku kalah, sekarang langsung ciut? Tidak!"
"Wow! Jadi kita berdua balapan? Baiklah!" Seringai Januar.
"Ravi! Sudah! Lebih baik kita pulang. Aku bukan bahan taruhan kalian, ingat!" kesal Mentari.
"Ini bukan soal taruhan. Ini soal harga diri seorang suami!" tukas Ravi mendelik tajam Januar.
"Setelah semua anggota bubar, kita balapan malam ini juga!"
"Aku tunggu!" sahut Ravi.
Mentari sangat gelisah memikirkan suaminya. Ingin percaya Ravi bisa memenangkan balapan yang tidak penting, susahnya minta ampun. Matanya sudah melihat bagaimana tangguhnya Januar saat balapan.
Entah apa yang harus Mentari lakukan agar Ravi maupun Januar menghentikan kegil**n yang mereka ciptakan. Hatinya ingin menangis memikirkan bagaimana mereka bertarung. Dia ingin protes, tapi tak digubris oleh Ravi.
"Yang! Aku mohon kamu jangan menyanggupi ide Kak Januar," pinta Mentari.
"Apa kamu meragukanku?"
"Bukan ... bukan begitu, Sayang. Balapan ini k*nyol tahu enggak. Hanya demi bisa berbicara denganku, Kak Januar mengajukan taruhan ini? Hal kecil terasa dibesar-besarkan," gerutu Mentari.
"Apa kamu tidak lihat dari sorot mata Januar? Dia itu punya rasa padamu dan aku tidak rela dia mendekatimu," sarkas Ravi.
Mentari memeluk lengan Ravi dan menyandarkan kepalanya di bahu Ravi. Harus bagaimana lagi dia meredam emosi suaminya. Merayu bukan keahliannya, apalagi bermanja-manja tak jelas.
"Lalu kalau kamu kalah bagaimana?"
"Apa kamu mendoakanku kalah?"
Salah lagi kan ucapannya. Mentari merutuki pertanyaannya. Dia cuma khawatir. Kenapa jadi rumit seperti ini, pikirnya. Permasalahan kecil akan menjadi besar bila tidak ada yang mau mengalah dan kobaran amarah terus tersulut.
Akhirnya Mentari memilih untuk diam. Berkata lagi, takut Ravi salah paham padanya. Bila di kamar, dia sudah keluarkan sisi agresifnya untuk merayu Ravi. Tapi, sekarang mereka sedang di tempat yang ramai. Mengajak pulang Ravi pun percuma, dia sudah coba dan ujungnya gagal.
"Aku tak enak badan, Yang. Kita pulang, yuk!" bujuk Mentari bergelayut manja di lengan Ravi.
"Jangan beralasan! Oke. Bila kamu mau pulang sekarang, aku antar. Setelah itu, aku akan kembali lagi ke sini untuk balapan dengan Januar,"
"Tapi--"
"Bagaimana? Menunggu atau pulang sekarang dan aku kembali lagi ke sini? Jangan menahanku!" sergah Ravi memotong perkataan Mentari.
"Dasar keras kepala!" gerutu Mentari dengan nada lemah.
Padahal hatinya sedari tadi tidak tenang memikirkan balapan keduanya. Ada sesuatu yang dia takutkan, tapi bukan kekalahan Ravi. Entahlah, hatinya pun tidak mengerti dengan perasaannya.
Mentari berharap semoga Ravi ataupun Januar ada yang mau mengalah dan membatalkan ide k*nyol yang sudah disepakati.
***
Apakah Ravi bisa memenangkan balapan adu gengsi ini ataukah perasaan tak tenang Mentari akan jadi kenyataan?
(Part selanjutnya)
Terima kasih untuk yang sudah baca dan beri apresiasinya untuk karyaku.
Salamku,
Evanafla
sepertinya memang papinya mentari gak ada hubungan apa-apa sama si Natasha dehh... bisa jadi cm ada misi tertentu yg mkn blm bs diberitahukan ke Mentari 😕
next thor
kemarin malam tak sempat up.🙏🙏