Rumania negara eropa timur yang di selimuti banyak legenda dan mitos menarik. Mitos yang paling terkenal di semenanjung balkan adalah tentang mahluk penghisap darah legendaris Strigoi, Vampir dan Dracula.
Lumina bergetar hebat melihat temannya merintih kesakitan saat mahluk bermata hitam dengan tatapan tajam menghisap darah di lehernya dengan rakus.
• Sir Louis Alexander Abraham :
"Akan kupastikan kau akan mendesah hebat di bawah kungkungan ku."
• Lumina Cathleen :
"Demi tuhan aku tak kan pernah sudi menjadi budak iblis sepertimu."
Cerita pertamaku, pliss kritik dan sarannya yahh 🙏
Jika berkenan, kasi rating sebagai penyemangat ku 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mitta pinnochio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Slave
Kabut pekat seakan enggan meninggalkan peradabannya. Pagi yang seharusnya terlihat lebih cerah tak menampakkan hangatnya sinar mentari akibat kabut yang tak kunjung pergi.
Pagi itu di Kastil Corvin para pelayan tengah di sibukkan dengan jamuan pagi untuk tuan mereka. Di ruang makan William tengah duduk rapi di temani Wine nya. Lelaki dengan sorot mata yang teduh, warna mata yang berwarna hazel dan hidung yang tinggi bibir sedikit gelap serta agak tebal. Meski cuaca yang sedikit dingin dari biasanya ia tak membalut tubuhnya dengan pakaian tebal untuk menghalau udara.
Louis yang baru saja turun dari anak tangga sedikit merebut perhatiannya. Ekor matanya melirik penasaran akan keberadaan gadis muda yang berada di belakangnya. Louis duduk kursi utamanya sedang Lumina tepat di sebrang William.
"Terlalu pagi untuk sebuah Wine" ucapnya di sertai seringai tipis.
"Wine tidak mengenal waktu untukku" timpal william tak kalah sinis. Ia sesekali mencuri pandang menatap gadis muda yang tepat di depannya.
"Di mana Lucille?" pungkasnya sedikit basa basi untuk mengisi keheningan.
"Di kamarnya, dia mungkin tidak turun. kau membuatnya murka tadi malam"
Louis sedikit menarik sudut bibirnya, "Aku hanya sedang tidak ingin di ganggu."
"Benarkah? kurasa kau sudah mendapat mainan baru" jawabnya sambil melirik ke arah gadis yang tengah terdiam dengan pemikirannya sendiri.
Sementara Lumina hanya diam menunduk tanpa ingin terlibat dengan percakapan kedua orang itu. Ia akan lebih tertarik jika di perbolehkan untuk beraktivitas dengan kawan-kawannya.
Lucille yang baru saja tiba di meja makan, matanya berkilat tajam saat dengan jelas ia bisa melihat rupa gadis yang telah merebut posisi nya. Dengan sedikit kasar ia menarik kursinya ke belakang dan duduk tepat di sebelah William.
Berbagai macam olahan tengah dihidangkan. Dari yang berbahan daging, sayuran serta roti gandum memenuhi meja itu. Nancy yang di bantu Anna menghidangkan makanan sedikit curi pandang pada gadis muda yang berada di samping tuannya. Ia bisa melihat tatapan sendu serta rasa kecewa tengah melingkupi diri Lumina. Ia segera bergegas pergi saat mendapat isyarat dari tuannya untuk meninggalkan ruangan itu.
Tepat setelah acara sarapan selesai. Louis segera berdiri bermaksud meninggalkan ruangan itu.
"Tunggu! aku ingin bicara" tegur Lucille menghentikan langkahnya.
"Kita bicarakan di ruang kerjaku" timpal louis tanpa mengajak serta Lumina.
Ia mendesah pelan akan kepergian dua orang itu. Sejujurnya ia merasa tidak nyaman berada di antara orang-orang seperti mereka. William yang masih duduk di depannya sedikit terdiam memperhatikan gadis yang tengah merenung tanpa berbicara sedikitpun.
"Siapa namamu?"
Lumina sedikit terkejut dan baru ingat jika ada seseorang di hadapannya. Ia seketika tersenyum lembut demi menyamarkan rasa canggungnya.
"Lumina Cathleen tuan."
"Kau sudah lama bersama dengan Louis?"
"Apa maksud anda tuan?" Lumina sedikit bingung akan ucapan dari pria tersebut. Sementara William mulai tertarik dengan gadis yang ada di hadapannya. Rupanya yang lebih dari sekedar menawan sedikit banyak telah menyita perhatiannya, ia jadi semakin tertarik akan gadis itu.
Di tempat lain, Louis yang tengah satu ruangan dengan Lucille merasa enggan untuk menanggapi wanita itu.
"Cepat katakan, apa yang ingin kau bicarakan?"
Lucille mendekat dan bergelayut manja di tubuh tinggi itu. "Louis aku merindukanmu, aku ingin kita kembali seperti dulu."
"Apa dengan maksud mu seperti dulu" Ia secara paksa melepas dan menjaga jarak dengan Lucille.
"Louis kau semakin dingin kepadaku, kau seolah olah menghindari ku. Ada apa? apa karena gadis muda itu. Katakan sejujurnya siapa gadis itu."
Louis terkekeh pelan, ia menyeringai. "Kenapa kau harus bingung Lucy, dia hanyalah gadis polos yang sedang kumanfaatkan darahnya."
Lucille yang mendengar itu tak lantas percaya akan perkataannya. "Sungguh, tapi kenapa kau harus membawanya ke kamarmu, dan kenapa kau harus menidurinya!" Ia bertanya dengan nada tajam dan menyelidik.
"Kau tau, domba yang akan di bunuh akan di beri makan dulu supaya daging bertambah banyak. Dan sebaliknya, Kurasa terlalu kejam jika aku langsung membunuhnya. Lagi pula dia anak seorang budak yang telah bekerja kepadaku untuk waktu yang cukup lama" Timpalnya dengan senyum yang menawan serta memikat.
Lucille yang mendengar penjelasan itu seketika tersenyum senang. Ia mendekat dan langsung memag*t bibir Louis dengan mesra. Sedang Louis sedikit terpaksa demi mengelabui wanita tersebut.