Kehidupannya yang semula tenang tiba-tiba langsung berubah karena sebuah kejadian. Dia yang awalnya mengira jika hidupnya sangat biasa saja, ternyata salah. Ada banyak rahasia yang disembunyikan darinya.
Ada banyak kejanggalan yang datang silih berganti kedalam hidupnya. Mulai dari sosok misterius hingga seseorang yang ingin merenggut nyawanya. Alur takdir menuntunnya untuk mengungkap semua. Mengungkap siapa dirinya sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudera_pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 RENCANA
"Salvador!"
Baru saja Salvador menginjakkan kaki di Koridor, dia langsung disambut oleh panggilan dari Kavindra yang berlari ke arahnya dari arah yang berlawanan. Terlihat juga Kenae dan Vernon yang berjalan mengikutinya di belakang. Kavindra merangkul bahu Salvador dengan raut wajah yang memperlihatkan kegembiraan.
"Ayo, ikut denganku. Kau pasti tidak akan percaya dengan apa yang baru saja kudapatkan." Kavindra menggoyangkan-goyangkan sebuah gulungan kertas di depan muka Salvador. Dia langsung menarik lengan Salvador yang masih kebingungan, dan membawanya ke kamar Salvador.
Salvador menoleh ke arah Kenae dan Kavindra. Melalui matanya dia seolah bertanya, "apa yang akan ditunjukkannya?", namun Kenae dan Vernon hanya menggeleng, tidak tahu. Keduanya mengikuti Kavindra dan Salvador yang sudah memasuki kamar.
Kavindra langsung duduk bersila di lantai, tepat di belakang meja belajar, begitu juga Vernon, Salvador dan Kenae. Jika dilihat, formasi duduk mereka menyerupai sebuah lingkaran. Kavindra segera membuka gulungan kertas itu dan membentangkannya di lantai. Terlihat sebuah gambar denah perpustakaan yang tergambar di atas selembar kertas itu.
"Mengapa kau mengambil denah perpustakaan kita?" tanya Kenae.
"Ini bukan denah perpustakaan kita. Lihatlah lebih teliti."
Kavindra benar. Denah itu sama sekali bukan denah perpustakaan. Ukuran gambar perpustakaan itu lebih kecil daripada perpustakaan Academy. Rak-rak bukunya lebih sedikit. Selain itu, tempat membacanya juga berbeda. Tempat membaca di perpustakaan Academy berupa meja persegi dengan setiap meja dilengkap empat kursi.
Sedangkan di gambar itu tempat membacanya berupa meja persegi panjang yang bisa digunakan enam sampai delapan orang. Mejanya pun hanya ada satu, berbeda dengan perpustakaan Academy yang memiliki banyak meja dan kursi.
"Ini denah perpustakaan rahasia."
"Perpustakaan rahasia?" Salvador melihat ke arah Kavindra dengan tatapan menuntut penjelasan.
Kavindra mengangguk. "Ya. Dan, bisa jadi apa yang kau cari ada di sini." Kavindra balik melihat ke arah Salvador.
"Di mana perpustakaan itu?" Vernon bertanya.
"Di ruangan Mister Brox."
Vernon kembali bertanya, "Lalu, apa rencanamu?"
"Kita akan masuk ke sana," ucap Kavindra dengan nada mutlak, yakin.
"Menyusup? Hey, itu tidak diperbolehkan." tegur Salvador.
"Ck. Kau ingin mendapatkan jawabannya atau tidak?"
"Tentu. Tapi...."
"Kau ikuti saja. Aku jamin ini pasti akan berhasil."
"Bagaimana caranya kita masuk ke sana? Tentu saja tidak sembarangan orang yang bisa masuk. Kita juga harus mempunyai rencana yang matang. Cari mati namanya jika kita melakukannya hanya dengan modal nekat," ucap Kenae.
"Kau tenang saja aku sudah menyusun rencananya dengan matang."
Salvador terdiam. Dia menatap Kavindra yang sangat bersemangat itu dengan lekat. Entah bagaimana caranya dia bisa mengetahui tentang perpustakaan rahasia itu, padahal tidak ada yang mengetahui tentang keberadaannya. Dia selalu punya kejutan yang tidak disangka-sangka. Entah kejutan apalagi yang akan dia berikan setelah ini.
Dibalik sifatnya yang keras kepala, sedikit tempramen, usil dan ceria, nyatanya dia juga merupakan orang yang susah ditebak. Semua yang dilakukannya seakan-akan menjadi sebuah kejutan yang memeriahkan sebuah acara. Pemikiran-pemikirannya selalu membuatnya terkesan. Kemarin, Salvador dibuat terkesan dengan penjelasannya tentang bintang regulus dan bulan purnama, juga tentang cahaya biru keputih-putihan yang muncul sehari sebelum bulan purnama.
Jangan lupakan juga tentang semua informasi terbaru yang selalu dia katakan kepada mereka, yang entah dia tahu dari mana. Dan, hari ini dia juga dibuat heran dengan informasi yang dibawa Kavindra tentang perpustakaan rahasia. Salvador pernah mengira jika Kavindra itu seperti musim semi yang membawa kebahagiaan, namun ternyata tidak. Dia malah lebih seperti harta karun yang tersembunyi. Sangat rahasia. Sangat misterius.
Awalnya, Salvador tidak terlalu memikirkan dari mana Kavindra tahu semua itu, karena dia hanya mengabarkan hal-hal biasa. Seperti kapan guru akan rapat, apakah guru mapel akan mengajar dan sebagainya. Namun, kecurigaannya mulai muncul saat Kavindra menjelaskan tentang Kerajaan Hielo beberapa hari yang lalu.
Menurutnya, tidak mungkin Kavindra tahu sesuatu tanpa ada sumber yang dia dapat. Apalagi selama ini Salvador tidak mendapatkan satu pun informasi tentang kerajaan itu.
Tidak jarang juga Salvador menebak-nebak kemungkinan yang membuat Kavindra bisa mendapatkan informasi yang tidak semua orang tahu. Bisa jadi dia melakukan riset bertahun-tahun, sehingga bisa mendapatkan informasi itu. Atau, memang Kavindra tahu dari seseorang. Tapi, siapa?
Salvador segera menghilangkan pikirannya itu. Dia tidak boleh menuduh sahabat kecilnya sembarangan. Dia tidak mempunyai bukti apa pun untuk menuduh yang tidak-tidak.
"Untuk urusan masuk ke sana, biar aku yang mengurusnya. Salvador, kau carilah semua informasi yang kau butuhkan. Vernon, kau yang berjaga. Pastikan tidak ada orang yang mengetahui keberadaan kita. Dan, kau, Biru, bantulah Salvador."
Kenae memandang datar ke arah Kavindra. Dia sudah sangat lelah untuk melayangkan protes seperti biasanya. Yang dia harapkan adalah rencana ini cepat selesai dan dia bisa kembali ke kamarnya untuk tidur. Tidurnya tadi terganggu, karena Kavindra tiba-tiba datang ke kamarnya dan membangunkannya seperti orang yang sedang kesetanan.
Kavindra bahkan langsung menarik tangannya untuk beranjak dari kasur, karena ada hal yang katanya sangat penting. Mengabaikan dirinya yang belum sepenuhnya sadar. Karena hal itu dia tadi sempat tersungkur di lantai dan kepalanya menjadi sangat pusing.
"Kalian paham?" Ketiganya mengangguk.
"Baiklah, kalau begitu kita laksanakan sekarang." Kavindra bangkit dan langsung beranjak menuju ke pintu.
"Ini sudah malam. Kau tidak lupa, kan, jika keamanan selalu berkeliling setiap malam?" Ucapan yang dilayangkan oleh Kenae langsung membuat langkah Kavindra berhenti. Dia menepuk dahinya.
"Baiklah, kita jalankan rencana ini besok." Kavindra kembali, mengambil kertas yang masih terbentang di lantai dan menggulungnya kembali.
"Kudengar guru-guru akan melaksanakan rapat besok. Itu adalah kesempatan yang bagus untuk kita."
"Baiklah, kalau begitu aku akan kembali ke kamarku. Sampai jumpa besok." Kenae segera bangkit dari tempat duduknya dan keluar menuju ke kamarnya.
"Ya, aku juga akan kembali." Vernon ikut keluar diikuti oleh Kavindra.
"Beristirahatlah, Salvador. Sampai jumpa besok." Kavindra menutup pintu kamar Salvador.
***
"Dia menemukan sebuah denah yang katanya adalah perpustakaan rahasia dan berencana untuk pergi ke sana besok."
Dua orang berdiri di depan kaca jendela sebuah kamar di asrama. Seseorang yang lebih tua mengangguk mendengar penjelasan dari seseorang yang lebih muda.
"Begitu, ya. Kapan waktunya?"
"Dia tidak mengatakan kapan waktunya. Dia hanya berkata jika besok akan menjalankan rencananya saat para guru sedang rapat."
Yang lebih tua sekali lagi mengangguk. "Kau tetap ikut dengan mereka. Bersikaplah seperti biasa. Jangan sampai ada yang mengetahuinya."
"Kau tahu? Terkadang aku setuju dengan gagasan yang diucapkannya. Kau terlalu menyebalkan. Kau sudah berulang kali mengucapkan kalimat itu. Haruskah mengucapkannya lagi setiap kali aku melapor?"
Sang lawan bicara hanya mutar bola matanya malas. "Setidaknya rencanaku lebih matang daripada rencana anak kemarin sore itu."
"Jika dia mendengarnya, maka dia pasti akan langsung memukulmu." Yang lebih muda langsung pergi keluar dari kamar itu. Sementara yang lebih tua terkekeh pelan mendengar ucapan yang barusan dilayangkan.