Deva Liana Collins, hari pertama nya sebagai siswa pindahan membuat Dave William Collins teringat dengan adik kembar nya yang sudah lama terpisah
dari awal pertemuan pertama nya membuat terbongkar nya rahasia besar dimana ibu yang selalu mengasari nya bahkan tidak pernah mengurus Deva ternyata bukan ibu kandung nya sendiri
bagaimana reaksi deva setelah tahu orang yang di bela nya ternyata bukan ibu kandung nya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momie all, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22
Ana mendengus kesal sembari menatap layar ponsel nya, sudah lebih setengah jam ana menunggu jemputan nya yang entah kemana
"gimana masih mau menunggu?" tanya Dave
Ya, Dave sedari tadi mengajak ana untuk pulang di antarkan nya, namun dengan keras kepala nya ana tetap kekeh akan menunggu gara yang akan menjemput nya
Dengan alibi belum mendapatkan ijin pulang dengan orang lain, ana masih kekeh menunggu gara untuk menjemput nya
Padahal ana ingin menjaga jarak dengan pemuda di depan nya, ana hanya ingin tenang semasa sekolah nya, tidak mau punya masalah dan apalagi masalah nya hanya karena cowok, bisa di geprek ana sama gara kalau ketahuan pacaran
"emm.. Kak Dave mending duluan aja, sebentar lagi jemputan gue datang kok" titah ana
"gak, gue nunggu lo, atau gue telponin deh bang gara nya biar lo pulang bareng gue" jawab Dave
Ana panik langsung mencegah Dave untuk menelpon gara, bisa kebongkar kebohongan nya kalau ternyata abang nya masih di kampus
"bang gara lagi di jalan, tadi juga di suruh tunggu sebentar" kata ana
"ya udah gue nunggu lo di jemput" kekeh Dave
Ana hanya menggaruk kepala nya bingung, mau pulang pake taksi, pasti Dave langsung nyuruh pulang bareng, mau nunggu yang jemput, belum ada notice dari bang gara
Ana duduk di depan gerbang sekolah tanpa menghiraukan Dave yang masih setia menunggu nya
"udah yuk gue anterin pulang nya?" bujuk Dave menghampiri ana
"duluan aja deh kak Dave" jawab ana menggelengkan kepala
"nanti kalo lo di marahin bang gara biar gue yang jelasin deh" bujuk nya lagi
"dulu-
"DAVEEE" teriak seorang perempuan yang tengah berlari menuju ke arah mereka
Ana hanya memalingkan muka saat tahu siapa yang memanggil dave
"Dave.. Ngapain lo masih di sini? Nunggu gue ya?" tanya angel sambil menyelinapkan rambut ke belakang telinga
"centil" kata ana dalam hati saat mendengar nada manja dari kakel nya itu, namun ana hanya bisa menyeruakan nya di dalam hati
"lepas" kata Dave saat tangan nya di pegang oleh angel
Angel tak menyerah "ya udah yuk pulang" ajak angel
Dave menaikan satu alis nya " gue lagi nunggu ana di jemput, bukan nunggu lo" sarkas Dave
Angel melirik ana yang tengah menunduk pada ponsel nya, seolah tidak terganggu dengan sekitar
"dia kan bisa pulang sendiri" kesal Angel
"lo juga bisa pulang sendiri" bantah Dave
Ana diam-diam menahan tawa nya mendengar jawaban dari dave
Tin tin...
Suara klakson motor membuat ana, dave dan angel mengalihkan perhatian nya
"cel ayok.. Abang lo ngamuk-ngamuk tuh gara gara lo belum pulang, nyokap lo dari tadi nelponin si gara minta tolong nyuruh jemput lo" kata martin yang langsung nyerocos
"iya, iya kak, ayo kak pulang" sela ana sebelum martin nyerocos kembali
"kak Dave, kak angel.. Duluan ya" pamit ana sopan langsung naik ke motor martin
"eh lo Dave, tau lo senggang tadi bukan nya anterin -
"udah ayo bang" potong ana menepuk bahu martin
"eh.. ya udah yuk.. Duluan bro" pamit martin pada Dave
Dave hanya menghela nafas nya saat punggung ana tak terlihat lagi, Dave merasa ana tengah menghindari nya
"eh Dave tunggu" kata Angel yang di hiraukan Dave
"Dave lo kok tega sih ninggalin gue sendiri, gue nebeng ya" tahan angel
"taksi masih banyak" kata dave langsung menyalakan motor nya dan bergegas pergi tanpa menghiraukan teriakan angel
"dave...."
"dave..."
"sialan lo dave.." kesal nya
"cewek baru itu berani banget.. Awas lo besok" kesal angel
Sedangkan di rumah kediaman gara, ana yang baru pulang menatap heran mama litha yang tengah masak banyak
"mah.." sapa ana mengagetkan mama litha yang tengah fokus memotong sayuran
"eh sayang baru pulang, makan dulu terus nanti istirahat" titah nya sambil terus memotong sayuran
"nanti dulu deh ma, ada acara ma? Kok masak nya banyak banget" tanya ana
"ouh ini, iya nanti malam ada tamu spesial kata papa nak" jawab
"ana bantuin ya ma" kata ana
"kamu baru pulang sayang, mending istirahat" kata mama litha
"enggak kok ma, ana bantuin ya" kekeh ana
Mama litha tersenyum kepada ana, dia tau watak anak gadis nya ini
"ganti dulu seragam nya sayang, nanti boleh bantuin mama" kata mama litha
"oke ma, ana ganti baju dulu" kata ana riang sambil berlalu ke kamar nya
"jangan lari lari ana" teriak mama litha, namun di hiraukan ana yang masih berlari
"anak itu" gumam mama litha tersenyum
Deru mobil membuat mama litha langsung menunda aktivitas memasak nya
"papa .. Kok udah pulang?" tanya mama litha saat papa danu menghampiri mama litha
"kan papa sudah bilang mah, nanti bakal ada tamu spesial jadi papa pulang buat bantu mama masak buat jamu tamu kita nanti" jelas papa danu setelah mencium kening mama litha
"memang siapa tamu nya pa?" tanya mama litha
Papa danu tersenyum dan menggenggam tangan istrinya
"tuan collins, papa nya ana ma" jawab papa danu tersenyum
Deg
"pah..." kata mama litha berkaca kaca
"kini saat nya putri kita bahagia ma" kata papa danu menenangkan mama litha
"tapi kenapa baru sekarang pa?" kata mama litha
"nanti biar pak kenan sendiri yang jelas kan ma" jawab papa danu
"papa percaya?" sela mama litha
"nanti mama dengar dulu penjelasan nya oke, sekarang kita masak dulu supaya cepat selesai ma" ajak papa danu
Mama litha masih linglung dengan apa yang dia dengar, namun langkah nya tetap mengikuti sang suami
"papa..." seru ana di anak tangga
"ehh.. Anak gadis papa" sembari merentangkan tangan nya menyambut ana
Mata mama litha berkaca kaca melihat pemandangan di depan nya
Suaminya sangat bahagia bersama ana, bukan hanya suaminya, gara putra nya dan dirinya sangat menyayangi gadis itu
"apa ini sisa terakhir kita nak?" gumam nya dalam hati menatap ana dan suaminya yang tengah berpelukan
"mama kenapa nangis?" tanya ana saat melihat mata sang mama mengeluarkan air mata
"ouh ini hanya bukan nangis sayang, mama hanya sangat senang saat kamu tersenyum bahagia, semoga kamu bahagia selalu ya nak" jawab mama litha dengan penuh ketulusan
"ouh mama" kata ana terharu bergantian peluk mama litha
"ma, kali ini ana sudah terlepas dari mama beca, dan ana bakalan hidup bersama mama dan papa, juga ana hanya ingin membuat mama dan papa bangga sama ana, itu sekarang tujuan ku ma" kata ana meski ada nada kesedihan namun ana tutup dengan keseriusan
"kamu memang selalu buat papa sama mama bangga sayang, sini kita pelukan dulu" kata papa danu merangkul ana dan istri nya
"ya tuhan... Jangan jadikan ini pelukan terakhir hamba dengan anak hamba"