Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Penyihir Legendaris

Transmigrasi Menjadi Penyihir Legendaris

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Dunia Lain / Penyeberangan Dunia Lain / Game / Tamat
Popularitas:23.4k
Nilai: 4.4
Nama Author: Calliga

Yuki, seorang pelajar remaja berusia 14 tahun yang hidup dalam kesepian, tanpa orang tua dan kehampaan, menemukan pelarian dalam dunia game favoritnya, World of Enigma. Namun, takdir memutuskan untuk mempersembahkan sesuatu yang lebih besar baginya. Ketika Yuki berhasil mengalahkan bos tersembunyi dalam game, ia tiba-tiba tertransmigrasi ke dalam dunia yang selama ini hanya ia jelajahi melalui layar monitor.

Mengambil kendali atas tubuh Avatar-nya, yang dikenal sebagai Zephyr, Yuki menemukan dirinya terperangkap di dalam dunia fantasi yang indah namun penuh tantangan. Dalam petualangannya yang baru ini, Yuki harus belajar beradaptasi dengan kekuatan dan keterampilan baru yang dimilikinya sebagai Zephyr.

Di dunia game yang sebelumnya hanya ada dalam imajinasinya, Yuki bertemu dengan berbagai karakter menarik dan memulai perjalanan epiknya. Ia menemukan teman sejati, musuh kuat, dan juga rahasia-rahasia yang tersembunyi di balik World of Enigma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Calliga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehancuran

Para prajurit dengan ganas mendobrak pintu dengan kekuatan mereka yang dahsyat, menyebabkan pintu itu hancur berkeping-keping. Saat pecahan-pcahan pintu terhambur ke segala arah, mereka terkejut melihat dua sosok di dalam ruangan. Yang pertama adalah seorang kakek berwajah tegas, tampaknya memiliki darah bangsawan yang mengalir di dalam dirinya. Sementara itu, yang kedua adalah seorang pemuda tampan dengan rambut coklat yang mengesankan dan tatapan tajam yang menakjubkan.

Prajurit-prajurit itu dengan sigap mengepung kedua orang tersebut, memegang pedang mereka dengan penuh kewaspadaan. Yuki, yang sudah terkepung di tengah-tengah mereka, hanya menyilangkan tangannya dengan ekspresi yang tajam dan berkata dengan suara yang tenang namun mengancam, "Kai, lakukan dengan cepat. Aku tidak ingin menunggu terlalu lama."

Kai, yang tak berkedip saat menghadapi ancaman para prajurit, menundukkan kepala sebagai tanda hormat kepada Yuki. Dengan penuh tekad, ia menjawab, "Baiklah, ayah. Aku akan melakukannya dengan cepat dan tidak akan mengecewakanmu."

Yuki hanya menanggapi dengan menundukkan kepala sebagai bentuk persetujuannya. Tatapannya yang dalam dan penuh pertimbangan mencerminkan kebijaksanaan dan kekuatan yang tak tergoyahkan.

Saat ketegangan mencapai puncaknya, atmosfer ruangan pun terasa semakin mencekam. Tetapi di antara keheningan yang melingkupi, energi yang tegang itu seolah memancarkan kekuatan yang menggemparkan. Prajurit-prajurit itu tidak bisa menyangkal ketegasan dan karisma yang memancar dari sosok Yuki dan Kai

Saat itu, Yuki telah menghilang dari tempat itu dengan keahliannya yang membingungkan. Para prajurit yang mengepungnya hanya dapat melihat kepergian sang kakek, sementara yang tersisa hanya anaknya, Kai.

Salah seorang prajurit dengan penuh kebingungan bertanya, "Di mana kakek tersebut? Serahkan dirimu dan dia dengan cepat!"

Namun, Kai dengan sikap acuh tak acuh hanya menjawab, "Hmm, itu bukan urusanmu. Bersiaplah untuk mati." Senyuman sinis terukir di wajahnya, menunjukkan ketidaktertarikannya pada ancaman para prajurit.

Tanpa menunggu waktu lama, para prajurit langsung menyerang Kai dengan pedang mereka yang terhunus. Namun, dengan kecepatan dan kegesitan yang luar biasa, Kai berhasil menghindari serangan mereka satu per satu. Ia dengan santai bergerak di antara prajurit-prajurit yang mengepungnya, tatapannya penuh kepercayaan diri saat melihat ke arah mereka.

Kai lalu mengeluarkan kekuatan sihirnya dengan memanggil mantra dalam hatinya. [Blast] Serentak dengan kata itu, terjadi ledakan dahsyat yang menggelegar di sekitarnya. Gelombang kejut menghantam para prajurit, mengirim mereka terpental ke segala arah. Dalam sekejap, beberapa prajurit terjatuh tak berdaya, sementara yang lain terluka parah.

Saat asap ledakan mereda, Kai berdiri dengan anggun di tengah-tengah kekacauan. Senyumnya semakin lebar, menunjukkan ketangguhan dan kekuatannya yang tak terduga.

Dampak ledakan yang ditimbulkan oleh sihir Kai begitu dahsyat, membuat para prajurit terpental dengan keras ke tembok sekitarnya. Dalam kekacauan tersebut, tembok dan kaca-kaca di sekitar penginapan tak mampu menahan tekanan ledakan yang begitu kuat, hancur berkeping-keping.

Serpihan-serpihan tembok dan kaca beterbangan di udara, menciptakan pemandangan yang mencekam. Puing-puing menghujani area sekitar, mengisi udara dengan debu dan kekacauan. Ruangan penginapan yang sebelumnya tenang dan nyaman kini menjadi penuh dengan kekacauan dan kehancuran.

Para prajurit yang masih mampu berdiri merasakan getaran kekuatan yang melanda mereka. Mereka terlihat terkejut dan kewalahan menghadapi serangan tak terduga dari seorang pemuda yang sebelumnya tampak biasa-biasa saja. Kepercayaan diri Kai dan kekuatannya yang terungkap begitu mengesankan, meninggalkan kesan yang mendalam pada mereka.

Saat puing-puing dan debu mulai mereda, para prajurit yang tersisa mengumpulkan keberanian mereka. Mereka tahu bahwa mereka harus bergerak cepat jika ingin mengatasi ancaman yang dihadapi. Dalam gerak cepat, mereka kembali bangkit dan bersiap untuk melanjutkan pertarungan, meskipun dengan sedikit keraguan dalam hati mereka.

Para prajurit itu menyerang Kai bertubi-tubi dengan pedang nya,namun frustasi melandanya saat melihat serangan mereka tidak berdampak apa pun pada Kai. Mereka merasakan keputusasaan dan kebingungan yang menggelisahkan mereka. Bagaimana mungkin seorang pemuda sekecil itu bisa melawan serangan mereka dengan begitu mudah?

Dengan senyuman jahat di wajahnya, Kai memandang para prajurit yang kini terlihat panik dan ketakutan. Dia menikmati momen ini, sensasi kekuasaan yang tak terbendung. Baginya, membantai manusia adalah sebuah kesenangan yang sudah lama ditunggu-tunggu.

Salah satu prajurit yang masih berani mencoba mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh, didukung oleh skill buff yang dimilikinya. Namun, pedang itu hancur berkeping-keping saat mengenai tubuh Kai. Senyum sinis tetap menghiasi wajahnya, mengisyaratkan betapa rendahnya mereka di matanya.

"Dengan betapa lamahnya kalian, aku lama tidak merasakan kegembiraan membantai manusia," ucap Kai dengan nada sombong. Dia menikmati momen ini, momen di mana kelemahan manusia tercermin dengan jelas. Baginya, manusia adalah serangga yang bisa diinjak kapan saja.

Para prajurit yang tersisa semakin gugup dan frustasi. Mereka tidak tahu bagaimana melawan musuh yang begitu kuat dan tak terkalahkan. Kepercayaan diri mereka runtuh, digantikan oleh keputusasaan dan ketakutan yang tak terlukiskan.

Kai melangkah maju dengan langkah yang pelan namun penuh dengan kepastian. Setiap langkahnya terasa begitu berat bagi para prajurit yang berdiri di hadapannya. Mereka merasakan getaran kekuatan yang mampu menghancurkan mereka dengan mudah. Keberanian mereka mulai luntur, digantikan oleh ketakutan dan penyesalan.

Para prajurit yang tersisa merasakan rasa takut yang melanda mereka ketika mereka melihat tatapan tajam dari Kai. Beberapa di antara mereka mulai kehilangan keberanian, dan tak terbendung lagi, mereka pun berusaha untuk melarikan diri. Bahkan, beberapa di antara mereka tak bisa menahan rasa ketakutan yang begitu besar sehingga mereka sampai mengompol di celana mereka.

Kai tersenyum sinis, menikmati pemandangan para prajurit yang panik dan mencoba melarikan diri. Dia merasa kekuasaan di tangannya, mengendalikan takdir mereka seolah-olah mereka hanyalah serangga yang bisa dihancurkan dengan mudah. Dia melangkah maju, mengancam mereka dengan mengatakan bahwa usaha mereka untuk kabur akan sia-sia, karena dia akan menghancurkan tempat ini bersama dengan mereka.

Para prajurit itu, ketakutan dan putus asa, berhamburan melarikan diri, berlari secepat mungkin untuk menyelamatkan nyawa mereka. Suara langkah kaki yang terburu-buru dan suara lari mereka bergema di ruangan itu. Mereka tidak menghiraukan kerusakan yang terjadi di sekitar mereka, tergesa-gesa mencari jalan keluar.

Kai hanya tersenyum puas, menikmati momen kekalahan mereka. Dia merasa tak terhentikan, di atas semua orang. Sebuah kepuasan penuh mengisi hatinya ketika dia menyaksikan para prajurit itu kehilangan keberanian dan menjalani kekalahan yang memalukan.

Sementara itu, suasana di tempat inap itu berubah menjadi kekacauan. Serpihan tembok, pecahan kaca, dan langkah kaki yang terburu-buru menciptakan suasana yang mencekam. Tapi di tengah kekacauan itu, Kai tetap tenang dan berjalan dengan penuh keyakinan menuju pintu keluar, tahu bahwa dia telah menguasai situasi sepenuhnya.

Kai mengepalkan tangannya, mengumpulkan energi sihir tanah yang tersembunyi dalam dirinya. Matanya berbinar dengan kekuatan yang tak terbendung. Tanah bergetar di bawah kakinya saat dia membebaskan sihirnya dengan kekuatan penuh. Sejenak kemudian, gempa bumi dahsyat melanda kerajaan itu, menghancurkan bangunan-bangunan dengan kekuatan alam yang mengguncangkan bumi.

Penduduk kerajaan yang tak bersalah dihadapkan pada ketakutan yang mendalam ketika gempa itu melanda. Teriakan panik dan rintihan keputusasaan memenuhi udara saat mereka berjuang untuk melarikan diri dari kehancuran yang mengancam nyawa mereka. Bangunan yang kuat runtuh, dan jalan-jalan yang sebelumnya indah dan sibuk berubah menjadi reruntuhan yang mengerikan.

Korban jiwa terus bertambah akibat gempa dahsyat tersebut. Orang-orang terjebak di bawah reruntuhan, terperangkap dalam kehancuran yang mengerikan. Tangisan dan ratapan keluarga yang kehilangan orang tercinta menciptakan lantunan sedih di antara kehancuran yang melanda.

Namun, di tengah pemandangan kehancuran dan kesedihan, Kai hanya berdiri dengan rasa tanpa belas kasihan. Dia menatap pemandangan kehancuran yang ia ciptakan dengan puas. Tidak ada rasa penyesalan atau kepedulian dalam hatinya, hanya kepuasan penuh atas kekuatannya yang menakutkan.

"Sekarang mereka merasakan rasa tak berdaya yang aku rasakan," gumam Kai dengan senyuman jahat di wajahnya. Dia merasa bangga dengan kekuatannya yang mampu menghancurkan segalanya dengan mudah. Bagi Kai, kehancuran itu hanyalah simbol kekuasaannya yang tak terbendung, dan dia menikmati setiap momen dari itu.

Sementara itu, para penduduk yang selamat dari gempa berjuang untuk bertahan hidup di tengah kekacauan. Mereka mencari tempat perlindungan, menyelamatkan diri dan sesama mereka dari bahaya yang mengancam. Air mata campur darah mengalir di wajah mereka, mencerminkan ketakutan dan kehilangan yang mereka alami.

1
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Frontier
albertus triwicaksono
menarik ceritanya, smoga update nya tdk tersendat sendat
albertus triwicaksono
seru, ditunggu kelanjutannya
ciru
cakeep
ciru
cakeep. ikut mampir ya di novel ke 2 nya. smoga sukses & up rutin sampe tamat
Phoenix
Yuki Hikikomori ternyata...
calliga: Wkwkwk
total 1 replies
yuriko
lanjut kak, aku udah baca dan seru ceritanya~
Lukman Firman Alamsyah
kak bagus
Lukman Firman Alamsyah
bang mau nanya gimana cara buat covernya
Mas Petrok
Bukannya ini dialog tag?
Mas Petrok
Jangan bilang nanti ada "Zephyr yang Terkutuk"
Mas Petrok
Bang ini keputus
Mas Petrok
Menghadapat apaan banh?
Mas Petrok
Sad Yuki semoga bisa cepet bahagia
calliga: Siap makasih kak
total 3 replies
Apiin, bukan ipin pulang ke wp
semoga bukan raja jahat
Apiin, bukan ipin pulang ke wp
waw, dia menikmati banget
Apiin, bukan ipin pulang ke wp
main di hp juga capek banget, gimana main sebagai pemain langsung. Kalo kayanya nangis dulu😭
Apiin, bukan ipin pulang ke wp
capek banget kayanya
Scorpio Hidden
Mungkin aku kalo di posisi Yuki, udah mati duluan kali saking panik nya
Alta💕
semangat thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!