Seumur hidupnya, Amira tidak pernah benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Sebagai anak yang lahir dari hubungan terlarang, ia selalu menjadi sasaran kebencian kakak tirinya. Bahkan lelaki yang dicintainya memilih kakaknya sendiri hanya karena Amira bukan anak sah keluarga itu. Ketika fitnah demi fitnah membuat ayahnya ikut membencinya, Amira akhirnya mendapat "hadiah" dari keluarganya—sebuah perjodohan dengan Kaizar, pewaris keluarga mafia paling ditakuti. Kaizar bukan pria biasa. Ia lumpuh, memiliki luka yang membekas di wajahnya, dingin, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan. Bagi keluarga Amira, perjodohan itu adalah cara untuk menyingkirkan putri yang selama ini mereka anggap sebagai aib. Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik kekejaman Kaizar, tersimpan luka yang jauh lebih dalam. Dan ketika semua orang memilih takut kepadanya, Amira justru menjadi satu-satunya perempuan yang berani mendekat, memeluknya, lalu berkata, "Sabar... kamu tidak sendirian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Suara sirene ambulans memecah jalan yang mulai ramai.
Beberapa orang berdiri di sekitar mobil Ganjar yang ringsek. Bagian depan kendaraan itu hancur cukup parah setelah benturan keras. Kaca depan retak, sementara tubuh Ganjar masih terkulai di balik kemudi.
Seorang pria yang kebetulan berada di lokasi kecelakaan segera menghubungi ambulans.
"Pak! Pak, dengar saya?"
Tidak ada jawaban.
Petugas medis yang datang beberapa menit kemudian langsung membuka pintu mobil dan memeriksa kondisi Ganjar.
"Nadi masih ada."
"Tekanan darahnya turun."
"Kita bawa sekarang."
Tubuh Ganjar segera dipindahkan ke tandu. Darah yang mengalir dari kepalanya membuat petugas bergerak lebih cepat.
Salah seorang petugas menemukan dompet dan ponsel di dalam mobil.
"Pak, kita perlu hubungi keluarganya."
Ponsel Ganjar ternyata masih menyala.
Nama terakhir yang muncul di layar adalah Ambar.
Petugas langsung menghubungi nomor tersebut.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Di rumah, Ambar baru saja keluar dari kamar ketika ponselnya berdering.
Ia melihat nomor yang tidak dikenal.
"Siapa?"
Ambar mengangkat panggilan itu dengan nada kurang sabar.
"Halo?"
"Apakah ini keluarga Bapak Ganjar Wijaya?"
Seketika wajah Ambar berubah.
"Iya. Saya istrinya. Ada apa?"
"Suami Ibu mengalami kecelakaan."
Ambar membeku.
"Apa?"
"Kami sedang membawanya ke rumah sakit. Kondisinya cukup serius dan keluarga diminta segera datang."
Tangan Ambar yang memegang ponsel mulai bergetar.
"Rumah sakit mana?"
Petugas menyebutkan nama rumah sakit.
Ambar tidak menjawab beberapa detik.
Bayangan percakapannya dengan Ganjar beberapa saat lalu tiba-tiba kembali memenuhi kepala.
Kalau suatu hari perusahaan ini benar-benar jatuh, jangan harap aku ikut menanggung akibatnya.
Kalimatnya sendiri terasa seperti tamparan.
"Baik. Saya segera ke sana."
Panggilan berakhir.
Ambar berdiri terpaku kali ini ia benar-benar takut bahkan ia tidak memikirkan lagi perusahaan. Tidak memikirkan uang apalagi keluarga Abraham.
Yang ada di kepalanya hanya satu. Ganjar mengalami kecelakaan.
"Alika!" Suara Ambar terdengar panik.
Beberapa menit kemudian Alika turun dari lantai atas. "Mami kenapa?"
"Papi kecelakaan."
Wajah Alika langsung pucat. "Apa?"
"Rumah sakit baru menelepon."
Alika segera mengambil tasnya.
"Kita pergi sekarang."
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Di rumah sakit, suasana berubah menjadi kacau. Ganjar langsung dibawa ke ruang tindakan. Ambar dan Alika hanya bisa menunggu di luar. Alika mondar-mandir tanpa henti.
"Kenapa lama sekali?" Ambar duduk dengan kedua tangan saling menggenggam.
"Kita tunggu."
"Aku takut, Mi."
Untuk pertama kalinya, suara Alika terdengar benar-benar seperti seorang anak yang takut kehilangan ayahnya.
Ambar menatap putrinya. "Kita harus percaya Papi akan baik-baik saja."
Tak lama kemudian seorang dokter keluar dari ruang tindakan. "Keluarga Bapak Ganjar Wijaya?"
Ambar dan Alika langsung berdiri. "Saya istrinya."
"Bagaimana suami saya, Dok?"
Dokter membuka catatan di tangannya. "Beliau mengalami benturan cukup keras di kepala dan kehilangan banyak darah."
Wajah Ambar langsung pucat. "Apakah suami saya dalam keadaan sadar?"
"Belum."
Alika menutup mulutnya. "Dok... apakah Papi bisa diselamatkan?"
"Kami sedang berusaha menstabilkan kondisinya."
Dokter berhenti sebentar. "Tetapi ada satu masalah."
"Apa, Dok?" tanya Ambar.
"Persediaan darah dengan golongan yang sesuai sedang terbatas. Kami membutuhkan tambahan darah secepatnya."
Alika langsung melangkah maju. "Kalau begitu ambil darah saya."
Dokter menatapnya. "Kamu anak pasien?"
"Iya."
"Apa golongan darahmu?"
Alika menyebutkan golongan darahnya dengan yakin. "Sama dengan Papi."
Dokter mengangguk. "Kami tetap perlu melakukan pemeriksaan kecocokan terlebih dahulu. Golongan darah yang sama belum otomatis berarti transfusi bisa langsung dilakukan."
"Apa pun pemeriksaannya, lakukan saja."
Alika menggenggam tangannya sendiri. "Saya mau donor untuk Papi."
Ambar menatap putrinya. "Alika..."
"Aku anak Papi, Mi."
Suara Alika bergetar. "Kalau darahku bisa menyelamatkan Papi, aku akan kasih."
Dokter mengangguk. "Baik. Kami akan melakukan pemeriksaan sekarang."
Alika segera dibawa oleh perawat. Ambar kembali duduk. Matanya tertuju pada pintu ruang tindakan. Baru sekarang ia sadar betapa cepat semuanya berubah.
Beberapa jam lalu Ganjar masih berdiri di rumah. Mereka masih bertengkar. Sekarang pria itu bahkan belum sadar. Ambar menundukkan wajah.
"Jangan pergi, Ganjar..."
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Hampir satu jam berlalu. Alika kembali bersama perawat. Wajahnya tidak lagi setenang sebelumnya. Ambar langsung berdiri.
"Bagaimana?"
Alika tidak menjawab. Ia hanya menatap perawat yang membawa hasil pemeriksaan. Dokter yang menangani Ganjar segera datang.
"Dok, darah saya bisa digunakan untuk Papi, kan?"
Dokter menatap Alika beberapa saat. "Kami sudah melakukan pemeriksaan."
Alika tersenyum kecil. "Lalu?"
Dokter menarik napas. "Maaf."
Senyum Alika perlahan hilang. "Darah kamu tidak bisa digunakan untuk ayahmu."
"Apa?"
"Golongan darahnya memang sama, tetapi hasil pemeriksaan kecocokan menunjukkan darahmu tidak sesuai untuk diberikan kepada beliau."
Alika terdiam. "Tapi... golongan darah saya sama."
"Saya mengerti. Tetapi kami tidak bisa mengambil risiko dalam kondisi seperti ini."
Alika menatap dokter dengan wajah tidak percaya. "Jadi darah saya tidak bisa menyelamatkan Papi?"
"Kami masih mencari pendonor yang sesuai."
Alika menundukkan kepala. Tangannya mengepal, keyakinan bahwa dirinya adalah anak yang paling dekat dengan Ganjar terasa runtuh.
Ambar mendekati putrinya. "Alika..."
Alika menggeleng. "Aku pikir darahku bisa."
Ia menatap pintu ruang tindakan. "Aku cuma ingin menyelamatkan Papi."
Ambar memeluk putrinya. "Kita akan mencari jalan lain."
Di saat yang sama, seorang perawat keluar dari ruang tindakan dengan tergesa-gesa.
"Bu, apakah keluarga Bapak Ganjar sudah menghubungi anggota keluarga lainnya?"
Ambar mengernyit. "Maksudnya?"
"Kami membutuhkan pendonor tambahan."
Perawat membuka catatan. "Dokter meminta kami mencari kemungkinan donor dari keluarga dekat."
Alika mengangkat wajah. "Tapi saya sudah diperiksa."
"Iya."
Perawat melihat kembali data pasien. "Lalu ada satu nama anggota keluarga yang tercatat dalam data administrasi rumah sakit."
Ambar terdiam. "Siapa?"
Perawat menyebut nama itu. "Amira Wijaya."
Ruangan seketika terasa sunyi. Alika membeku. Ambar juga tidak bergerak. Nama yang beberapa jam lalu mereka jadikan bahan pertengkaran kini justru muncul di tempat yang sama sekali tidak mereka duga.
Amira.
Putri yang selama ini dianggap bukan bagian penting dari keluarga Wijaya. Perawat menunggu jawaban.
"Apakah kami bisa menghubunginya?"
Alika menatap Ambar, tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Sementara di balik pintu ruang tindakan, kondisi Ganjar semakin menurun. Dan waktu terus berjalan, cepat atau lambat Ganjar harus segera mendapatkan donor darah itu.
Bersambung