Indonesia
NovelToon NovelToon
Maharani, Kaulah Pengantinku

Maharani, Kaulah Pengantinku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Ketos / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Diam-Diam Cinta
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nana Cheisya

"Rani... maukah kau jadi pacarku?", kata Robby sambil menyodorkan setangkai bunga mawar merah.
"Kita belum lama saling kenal, kenapa kau tiba-tiba memintaku jadi pacarmu?", kata gadis itu sambil melipat kedua tangan di dada.
"Karena aku jatuh cinta padamu sejak pertama kita berkenalan".
"Maaf.. aku tidak mau".

Robby Malik Hadiwiguna tidak pantang menyerah, walaupun pernyataan cintanya ditolak berkali-kali oleh Maharani Paramita Ardijaya, dia yakin gadis itulah jodohnya.

Rani bukannya menutup mata atau tak peduli dengan Robby, tapi ada hati yang ia jaga agar tidak terluka karena pernyataan cinta pemuda itu. Siapakah dia? Lalu apakah Robby akan tetap berjuang atau menyerah dengan cintanya? Mari kita ikuti kisah Robby dan Rani.

Cerita ini terinspirasi dari kisah nyata yang tentunya telah dibumbui dengan beberapa adegan yang menarik minat pembaca.
(Ini novel pertamaku, semoga pembaca senang dan mendukung karyaku.. trimakasih)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Cheisya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keributan di kamar VIP kakek

"Tidak mungkin. Ini tidak mungkin. Dia hanya tertidur. Hendri, mama benar kan? Kemarin dokter bilang dia koma. Benar kan?", nenek Tuti menangis sambil terus berusaha melepaskan pelukan Hendri. Aku dan ibu ikut menangis melihatnya seperti itu.

"Sabar mah, sabar... Mamah jangan kayak gini. Kasian papah. Kita iklaskan aja mah kepergian papah", meski nenek Tuti memberontak, ku lihat om Hendri tetap tidak melepas pelukannya.

"Bagaimana ini dok? Apa yang terjadi pada ayah saya kalau alat-alat yang menempel pada tubuhnya ini dilepas?", ayah Wibisono mendekati ranjang kakek Pieter dan mengamati satu per satu alat medis di sana.

"Pasien terlihat seperti masih hidup dan terlihat sedang tertidur karena bantuan dari alat-alat medis yang menunjang detak jantungnya dan membantu pernafasannya masih menempel pada tubuh. Bisa kami nyatakan bahwa tidak ada tanda-tanda kehidupan bila alat-alat tersebut dilepas. Silahkan pihak keluarga bermusyawarah. Keputusan itu kami serahkan pada keluarga, kapan akan melepas alat-alat tersebut, silahkan hubungi kami. Sekian dari kami. Kami mohon pamit", tim dokter dan perawat yang ada di ruangan itu menunduk dan mengatupkan kedua telapak tangan di dada. Lalu satu per satu dari mereka meninggalkan ruang perawatan kakek.

"HEH! Kalian mau pergi kemana? Kalian dokter terbaik di rumah sakit ini, tapi kalian tega meninggalkan pasien kalian begitu aja. Sembuhkan dulu suamiku".

"Mah, mamah yang sabar ya... Iklaskan kepergian ayah, biar ayah tenang menghadap Allah. Lebih baik kita doakan bersama agar ayah diampuni segala dosa dan diterima amal ibadahnya", ibu Herlina mendekat ke arah nenek Tuti dan bermaksud untuk memeluknya, tapi tepisan tangan dari jarak jauh menghentikan langkahnya.

"Gak usah kamu ngajari aku. Siapa kamu? Kenapa kamu ngomong iklas-iklas segala? Suamiku belum mati. Tau kamu!".

"Bukan gitu mah. Maksudku...", belum selesai ibu Herlina menjelaskan maksudnya ayah Wibisono langsung mendekat dan melingkarkan tangan kanannya di punggung dan pundak istrinya.

"Aku adalah anak kandungnya, dan dia ini istriku. Berarti dia adalah menantu di sini. Kenapa mama ngomong seperti itu sama istriku?".

"Kamu lagi! Pasti kamu senang kan sekarang? Kamu pasti udah nunggu saat-saat seperti ini sejak lama kan?".

"Menunggu saat-saat seperti ini? Sejak lama? Apa maksud mama? Saat-saat seperti apa?", dengan menahan marah ayah melepas rangkulan tangan dari bahu ibuku dan berjalan mendekati nenek Tuti. Kedua telapak tangannya terkepal sampai buku-buku jarinya terlihat memerah. Aku jarang sekali melihat ayah marah, karena sekalinya marah, ayah terlihat seram sekali. Aku jadi takut melihatnya, dan aku pun memeluk lengan ibu. Ku hapus airmataku di pipi. Ibu melipat bibirnya ke dalam dan memandang ke langit-langit ruangan, seakan-akan menahan agar airmata tidak semakin banyak keluar.

"Kamu! Pasti kamu udah menunggu lama untuk dapat kesempatan merebut perusahaan suamiku! Iya kan?", nenek Tuti beringsut mundur, tapi matanya melotot menatap ayah.

"Udah mah. Jangan bikin suasana malah jadi kacau gini. Gak enak kan kalo di dengar orang kita berantem di rumah sakit", om Hendri menarik tubuh nenek Tuti dan memaksanya untuk duduk kembali di kursi samping ranjang kakek Pieter.

"Keterlaluan! Dapat dari mana pikiran kotor mama itu? Mana ada anak yang seneng orangtuanya meninggal?", setengah berteriak, ayah mulai meluapkan kemarahannya, muka ayah semakin merah.

"Sssttt, udah bang, udah. Sabar bang, kita lagi di rumah sakit nih" , bisik ibu di telinga ayah sambil menariknya mundur mendekati pintu keluar. "Lebih baik sekarang kita pulang aja. Kita bahas di rumah, ayo Ran", ibu masih berbisik, tapi tak cuma di telinga ayah, kali ini juga di telingaku. "Kami pamit dulu mah, Hendri. Besok pagi kami ke sini lagi, assalamu'alaikum", ibu segera menarik ayah keluar dari kamar kakek Pieter, aku pun mengikuti mereka dari belakang.

"Waalaikumsalam", hanya om Hendri yang menjawab. Ku lihat sekilas nenek Tuti menangis sambil membelai pipi kakek Pieter dengan lembut. Kami bergegas masuk ke lift saat pintunya terbuka dan menekan angka menuju lantai bawah. Di dalam lift, ayah masih terlihat menahan marah atas kejadian tadi.

"Sungguh keterlaluan dia. Bagaimana bisa dia bilang aku senang atas kematian ayah kandungku sendiri? Lalu apa katanya tadi? Merebut perusahaan? Untuk apa aku merebutnya? Dia pikir aku merebut perusahaan itu darinya?", ayah benar-benar tak habis pikir dengan ucapan ibu tirinya tersebut. Ibu terus memeluk ayah dan mengusap dada ayah. Berharap amarahnya segera reda. Saat sudah sampai di lantai tujuan, kami segera keluar dari lift dan berjalan menuju parkiran mobil. Di bagian dalam gedung rumah sakit ini, terdapat taman besar dan kecil. Taman besar ada di bagian kanan gedung, dan letaknya jauh dari pintu keluar. Sedangkan taman yang lebih kecil terletak di bagian kiri gedung dan dekat dengan pintu keluar. Saat kami melewati taman kecil itu, ku lihat seseorang yang sepertinya aku kenal sedang duduk termenung sendirian di kursi taman.

"Ayah, ibu, duluan aja ke parkiran. Tunggu aku di mobil ya? Aku mau menemui temanku sebentar", aku pamit ke ayah dan ibu.

"Siapa Ran?", tanya ibu kepadaku.

"Itu sepertinya Robby, ketua Osis di sekolah", aku menunjuk ke arah punggung seseorang yang duduk membelakangi kami.

"Ya udah, sana. Tapi bentar aja ya? Ini udah malam", kata ayah. Ibu pun hanya menganggukkan kepala padaku tanda mengijinkan anak perempuannya menemui temannya.

"Iya yah". Aku pun berjalan mendekati orang yang sedang duduk sendirian itu.

"Hai... Ngapain duduk sendirian di sini? Kamu lagi nunggu sapa?", tanyaku setelah memastikan orang itu benar-benar Robby dan jarak kami dekat.

"Eh... Kamu Ran. Aku lagi nunggu hasil lab adikku. Tadi aku ke sini ama ibuku untuk memeriksakan adikku ke dokter. Tapi mereka udah pulang. Sekarang tinggal aku sendirian. Kamu sama sapa Ran? Ada perlu apa datang ke rumah sakit ini?", tanya Robby sambil berdiri dari tempat duduknya dan memandangku lekat.

"Aku tadi habis nengok kakekku. Aku sedih, kakekku...", tanpa terasa airmataku meleleh di pipi dan Robby melihatnya.

"Kenapa dengan kakekmu? Sini, duduk sini. Kamu bisa cerita ama aku", dia bergeser dari duduknya dan menepuk sisi bangku kosong di sebelahnya.

"Kakekku secara medis udah...", aku menghela nafas panjang", Dikatakan meninggal dunia", lanjutku dengan suara pelan sambil menundukkan kepala dan menyeka airmata di pipi.

"Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Secara medis udah meninggal dunia? Berarti tampak seperti masih ada kehidupan karena bantuan alat-alat medis ya?", Robby mencondongkan tubuhnya sedikit ke arahku.

"Iya", jawabku. "Oh iya, tadi kamu bilang adikmu sakit. Emangnya sakit apa?".

"Aduh, aku lupa ambil hasil lab adikku. Kamu pulang aja Ran, ayah ibumu udah nunggu tuh", Robby langsung berdiri dan hendak berjalan ke ruang periksa dokter.

"Pulang bareng aku aja, mau?".

1
Sora Gehenna
AAAA Baguss banget, ceritanya tuu berekesaan, aku kasii bintang 5 yaa/Heart/
Sora Gehenna: masama thors /Smirk/
total 2 replies
Liswantoani Ani
aku seneng pas baca " kelapa sekolah"🤣🤣
Cheisya Sofyan: eeeh.. kok jadinya kelapa ya? hadeh..
total 1 replies
Sora Gehenna
wah cerita yang sangat bagus dan keren! lanjutin dong author!
Cheisya Sofyan: makasih kak... segera update utk episode berikutnya...
total 1 replies
ProGaming
Nggak kebayang ada kelanjutannya!
Dòng sông/suối đen
Aku udah jatuh cinta sama cerita ini, semoga thor terus update terussss!
Cheisya Sofyan: makasih yaa.. masih pemula... mohon dukungannya...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!