Rayinka Aditama, seorang perempuan dari pengusaha kaya yang terbiasa ditinggal sendiri oleh kedua orangtuanya karena sibuk bekerja. Rayinka sangat suka bermain musik. Untuk mengisi kesepiannya, ia menciptakan beberapa lagu yang mewakili perasaan hatinya.Parasnya yang cantik dan berprestasi membuat banyak lelaki ingin memilikinya. Namun karakter dingin Rayinka menjadikan ia begitu disungkani. Dari banyaknya lelaki yang menyukainya, hanya satu hingga dua orang yang berani menyatakan cinta-meski akhirnya ditolak. Rayinka tidak pernah peduli cinta. Namun satu waktu, Rayinka bertemu seorang lelaki yang wajahnya bersinar. Ia datang dari balik senja. Lelaki bernama Mahran itu mencari sepucuk harapan di dunia Rayinka. Lalu keduanya saling jatuh hati. Namun sangat disayangkan, cinta antar dua dunia sulit sekali untuk bersatu. Mungkinkah mereka bisa mengatasi kesulitan itu? Atau harus berakhir saling merindukan satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syiffitria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi dan Datang
Kabar duka menggelegar di rumah besar Aditama. Rayinka laiknya orang hidup yang tak memiliki makna hidup. Ia kehilangan orang yang selalu peduli padanya. Air matanya yang keluar sejak kemarin terasa kebal bagi gadis muda itu.
Bi Inah sudah dimakamkan di kampung halamannya. Jenazahnya dipulangkan ke rumah keluarganya dengan berderai air mata. Tidak ada yang tidak pilu dengan kepergian Bi Inah.
Hari ini, Rayinka memilih mengunci diri di kamar. Semua bayangan Bi Inah semasa hidup menari-nari di kepala Rayinka.
"Bukankah baru-baru ini kita lebih sering bersama, Bi? Kenapa Bibi uda pergi aja sih? Terus nanti malam siapa yang nemenin Rayinka makan? Siapa yang nyiapin bekal Rayinka?"
Suara parau gadis bermata biru itu makin gemetar. Ia lagi-lagi menangis. Kehilangan ini tak jauh laiknya anak yang kehilangan ibu.
"Rayinka harus sama siapa sekarang, Bi??? Papi Mami ga pernah mentingin Rayinka. Terus Rayinka sekarang sama siapa? Rayinka takut, Biii.... Rayinka takut.... " ujar gadis itu sembari terisak.
Rayinka tenggelam dalam lukanya. Dari pagi hingga siang, dari siang hingga malam. Terlebih ketika senja datang, hatinya terpukul luar biasa. Ia mengingat masa-masa ketka Bi Inah menemaninya bernyanyi, menghapus duka sebab selalu menantikan kepedulian dari kedua orang tuanya.
Tangis yang pecah berkali-kali, membuat tubuh Rayinka lemas. Tak ada asupan makanan yang masuk sejak pagi. Ia tidak bisa membayangkan hari esok, bagaimana bisa ia pergi sekolah tanpa makanan yang biasanya disiapkan Bi Inah? Sekotak bekal yang selalu menjadi penyemangat harinya.
Hingga terlalu lelah berpikir, terlalu lebih khawatir, Rayinka tertidur lelap sembari memeluk foto dirinya dan Bi Inah saat pergi ke pasar malam semasa kecil. Ia tertidur dengan perut yang kosong namun pikirannya berisik tanpa henti.
Di antara lelap tidurnya, seorang lelaki dengan wibawa menyejukkan datang dari balik ruang perpustakaan kamar Rayinka. Ia berada di sana sejak kemarin, menunggu sang empunya datang dan menyambutnya dengan senyum sumringah. Tapi siapa yang tahu? Dia malah melihat lara mendalam pada diri Rayinka.
Pemuda itu berjalan mendekati kasur Rayinka. Hatinya yang merindu, kini bertambah kacau sebab harus melihat sendu Rayinka. Diperhatikannya wajah mungil itu, tampak begitu pucat dan letih.
"Astaga, Ray.. ternyata aku datang sangat terlambat... " Lirihnya sembari mengelus rambut Rayinka.
"Maaf, Ray... Maaf sebab membuatmu menungu lama.. " ujarnya lagi sendu.
Mendengar sayup-sayup suara lembut itu, Rayinka membuka matanya perlahan...
"Mahran?" ujarnya dengan penglihatan yang masih samar sebab terlalu lemas.
"Hei.. aku di sini, Ray... maaf karena membuatmu menunggu lama," ujar Mahran tertunduk.
Rayinka menggeleng, diraihnya pipi Mahran dengan tangan mungilnya, "Jangan pergi lagi, Mahran.. aku mohon... " lanjut Rayinka lagi-lagi meneteskan air matanya. Hatinya pedih sekali, ia takut merasa kehilangan lagi.
"Aku akan tetap di sini, Ray... "
"Aku takut sendiri... Bi Inah udah pergi.. aku mohon, kamu jangan pergi lagi, Mahran.. tetap di sisi aku..."
"Ssst.... tenang ya? Aku akan selalu di sini... " ujar Mahran lalu menggenggam erat tangan Rayinka.
"Mahran, semoga ini bukan mimpi ya?" Rayinka langsung menutup matanya usai mengucap kalimat itu. Tubuhnya begitu lemas, ia tak sadarkan diri.
Melihat kondisi Rayinka, Mahran menjadi panik. Ia khawatir terjadi sesuatu pada Rayinka. Maka diambilnya sebotol ramuan obat dari dalam kantongnya. Ia teteskan perlahan ke dalam mulut Rayinka.
Obat itu sangat manjur untuk mengobati jiwa yang letih, memberi nutrisi pada tubuh yang lemah. Itu obat yang sama seperti dulu, tapi Mahran meminta pakar pengobatan untuk menambahkan bahan tertentu yang berfungsi menenangkan jiwa yang gusar. Mahran sengaja membawanya cukup banyak kali ini. Dengan kondisi Rayinka yang terjebak dalam luka, ia yakin pasti membutuhkan obat itu
Setelah beberapa menit, Mahran melihat wajah Rayinka membaik, tidak sepucat sebelumnya. Maka hatinya menjadi lebih tenang.
Sejak kemarin Mahran juga belum tidur, ia menunggu Rayinka yang ternyata baru kembali pagi tadi dengan wajah penuh duka. Dilihatnya lagi wajah cantik Rayinka, ia merasa damai dengan ketenangan dalam tidur Rayinka. Sembari masih menggenggam tangan Rayinka, Mahran meletakkan kepalanya di dekat Rayinka, dengan tubuh yang masih terduduk di lantai dekat kasur. Matanya perlahan terpejam, ia mulai bisa tidur dengan nyaman.
......................
Keesokan harinya, kala fajar menjelang.
Rayinka perlahan membuka mata, ia merasa tubuhnya lebih segar dari kemarin. Pikirannya juga terasa lebih damai. Meski ada lara yang terasa jelas di hatinya, tapi itu tidak sesakit kemarin.
Ketika Rayinka membuka mata dengan kesadaran sempurna, ia melihat Mahran yang tertidur pulas sembari menggenggam tangannya.
"Kamu benaran sudah datang ya?" ujarnya pelan.
"Ternyata aku bukan sedang bermimpi semalam? " lanjutnya lagi sembari mengelus lembut rambut Mahran.
Hal itu membuat pemuda bermata biru itu terbangun. Ia tersenyum pada Rayinka, "Sudah baikan?" tanyanya dengan suara lembut.
Rayinka mengangguk, hatinya semakin baik ketika kehadiran Mahran bukanlah sekadar mimpi. "Jangan pergi lagi ya?" ujar Rayinka memelas.
"As your wish, princess. Kamu pasti sangat merindukanku, kan?" usilnya sembari mencubit pipi Rayinka.
Pertanyaan itu membuat Rayinka tersipu, pipinya memerah. Tapi Rayinka tetaplah perempuan yang tinggi gengsinya, "Kamu masih bercanda di saat aku sedih gini?"" jawab Rayinka menutupi salah tingkahnya.
"Eh aku serius loh. Coba deh bilang kalau kamu kangen aku?"
"Gak ada, Mahran. Aku gak kangen!"
"Buktinya itu nulis cerita terus di kanvas apart aku biar aku baca pas udah balik sini, kan?"
"Ih aku gabut doang! Kamu jangan kepedean deh!" ujar Rayinka sembari beranjak dari kasur.
Namun langkah Rayinka dihentikan oleh Mahran, pemuda itu menarik tubuh mungil Rayinka untuk menatap dalam matanya.
"Gak masalah meski kamu gak kangen aku, yang jelas.. tadi pagi ada yang minta aku untuk terus di sini. Terus apa namanya kalau bukan rindu sampai aku gak boleh pergi lagi, hm?" suara lembut Mahran berhasil membuat hati Rayinka tak karuan. Jantungnya berdegub makin kencang. Pipinya makin merah. Tentu yang Mahran bicarakan itu tentang dirinya.
"Ih, nyebelin! Jangan usil mulu. Ihhhhhhh!!!" Rayinka memilih mencubit lengan Mahran untuk menutupi perasaannya yang porak poranda. Gadis itu tidak mau Mahran tahu isi hatinya untuk saat ini. Ia belum siap untuk itu.
Kedua muda-mudi itu lantas saling bermain lari-larian. Membawa bantal untuk saling dilemparkan. Fajar menjadi saksi bisu atas perayaan rasa suka yang tak saling tersampaikan. Mahran dan Rayinka, memang telah terikat atas hubungan dua dunia untuk sebuah misi besar. Namun yang tak kalah penting, mereka telah saling mengikat rasa dengan erat. Entah apakah perasaan itu kelak menjadi rangkaian bunga, atau menjadi belati yang menyesakkan.
...****************...
betul itu, kalau jodoh gak bakalan kemana_mana
2 🌹 untukmu ☺️
mari kita saling mendukung.
thanks
bener bener jahat 😡
tolong kembalikan maharan segera untuk rayinka
cepatlah kembali kau mahran
huhuhuhu
lalu gimana dia bisa bertemu dengan mahran lagi thoor 😭😭😭