Aluna Kirana Puspita tidak pernah menyangka bahwa gaun pengantin yang seharusnya dikenakan oleh sang kakak justru mengikat hidupnya. Amarta, sang kakak tiba-tiba melarikan diri tepat di hari pernikahannya dan membuat gempar kedua belah keluarga. Demi menyelamatkan kehormatan keluarga besar Adhikara, Andini ibu dari calon mempelai laki-laki berinisiatif menyuruhnya menggantikan sang kakak.
Sontak, Aluna menolak permintaan tersebut karena menganggap bahwa pernikahan bukanlah hal kecil yang bisa diputuskan dalam sekejap. Namun, dengan tawaran jumlah uang yang besar, akhirnya mau tidak mau ia pun setuju.
Karaiv Rahsya Adhikara, seorang yang terkenal arogan dan berkuasa sejak awal telah menetapkan aturan untuknya. Bahwa, dia bisa memenuhi apa pun yang Aluna inginkan termasuk tempat tinggal dan uang. Hanya satu yang tidak akan ia berikan, yakni cinta. Baca kisah selanjutnya hanya di MENDADAK MENJADI ISTRI PENGGANTI, karya ValiciaClarenda.
Follow IG Vale @cahbagus_Wp. Terima kasih ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ValiciaClarenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MMIP Bab 21
“Taruh saja, Nyonya Muda. Kami yang akan merapikan semuanya,” ujar Sari pada Aluna yang hendak merapikan piring-piring kotor di meja makan.
“Tapi ….” Aluna hendak menjawab. Namun, Karaiv telah lebih dahulu angkat bicara.
“Biar mereka yang merapikan.”
Menoleh ke arah sumber suara, Aluna mengernyitkan kening melihat Karaiv yang berdiri di ruang tengah dengan jari tergerak mengancing lengan baju. Revan mendekat membawa jas yang tergantung rapi di tangannya. “Mas sudah mau berangkat ke kantor?” tanya perempuana itu seraya meletakkan piring kembali ke atas meja.
“Maaf merepotkan kalian semua. Saya tinggal dulu,” ucap perempuan itu tidak enakan.
“Bukan masalah, Nyonya Muda. Sudah merupakan tugas kami membersihkan ini semua,” ucap Sari menanggapi.
“Eum.” Aluna mengangguk, lalu melangkah pergi. “Biar saya bantu, Mas.”
Aluna menghampiri. Diraihnya jas dari tangan Revan dengan sedikit kuat, hingga membuat sang empu tertegun. “Gimana ini cara pakainya, ya?” Aluna membolak-balikan kain jas itu sejenak, keningnya berkerut karena bingung. “Oh, seperti ini.” Melangkah mendekat, ia mulai memasangkan jas itu ke tubuh jangkung Karaiv. Dalam proses tersebut, jemarinya tanpa sengaja menyentuh bahu dan lengan Karaiv, merapikan lipatan yang nyaris tak terlihat.
Sementara itu, di tempatnya Karaiv diam-diam memeperhatikan gadis di hadapannya. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat wajah ayu Aluna dengan sangat jelas. Sepasang mata lentik, kening berkerut karena terlalu fokus, dan bibir merah muda alami yang mengulum senyum tipis. Tanpa sadar, ia menegukkan salivanya berat. Siapa sangka, pemandangan tersebut berhasil membangkitkan jiwa kelelakiannya.
“Berhentilah terus tersenyum seperti itu. Kamu menyakiti mataku,” ujar Karaiv tiba-tiba dengan suara ketus. Hampir saja, ia kehilangan akal sehatnya dan melakukan hal gila.
Gerakan Aluna terhenti. Ia mendongakkan kepalanya dan bergumam, “Ya?” Seketika, netra coklat terangnya beradu dengan manik kelam milik Karaiv.
Waktu seolah melambat. Karaiv merasakan dadanya mengencang. Detak jantungnya meningkat tanpa izin. Tidak ingin dirinya menjadi semakin gila, buru-buru, sosok jangkung itu memalingkan wajahnya ke samping dan mendengengus tajam. “Jangan lupa, pernikahan kita adalah sebuah keterpaksaan. Kamu hanyalah pengganti Amarta!”
Kalimat itu terlontar dingin dan menyakitkan. Aluna terdiam. Untuk sepersekian detik, sorot matanya meredup. Namun, sesaat kemudian ia kembali mengangkat wajahnya dan menyunggingkan senyum tipis. “Saya nggak pernah lupa, kok, Mas.”
“Harus aku akui, kamu memiliki wajah yang cantik. Tapi, cantik saja tidak cukup! Kamu bukan wanita yang aku cintai.” Dengan gerakan tegas, Karaiv melepaskan tangan Aluna dari jasnya, lalu merapikan sendiri kancing yang belum sempat terpasang. “Kamu harus tahu seperti apa posisimu. Jangan mengharapkan sesuatu yang mustahil untuk bisa kamu dapatkan!”
“Mas Karaiv tenang saja. Saya sangat mengerti dengan posisi saya.” Aluna menunduk sedikit. Jemarinya saling menggenggam, seolah saling menguatkan. “Saya tahu keputusan Mbak Marta sudah sangat menyakiti Mas dan keluarga. Ini balasan yang pantas untuk saya dapatkan,” ucap perempuan itu dengan suara merendah.
Membawa atensinya kembali, Karaiv terdiam mendapati wajah Aluna yang nampak muram. ‘Apa aku berlebihan? Baru saja … kata-kataku menyakiti perasaannya?’ batinnya dalam hati.
Tanpa sadar, Karaiv hendak mengusap wajah Aluna yang berkaca-kaca. Namun, dengan segera ia mengurungkan niatnya. Jemarinya menegang di udara, sebelum akhirnya turun kembali. ‘Sudahlah. Aku tidak perlu merasa bersalah. Aluna memang pantas menanggung semua ini. Kesalahan Amarta … tidak akan termaafkan!’
Karaiv merogoh saku jasnya. Ia mengeluarkan sebuah kartu ATM, lalu menyodorkannya ke arah Aluna. “Ini untukmu,” ucapnya datar, “di dalamnya ada uang senilai tiga juta rupiah. Anggap saja sebagai gaji pertamamu di bulan ini.
Perlahan Aluna mendongak. Tatapannya beralih dari wajah Karaiv ke kartu di tangannya.
“Mulai sekarang, aku akan mengirimkannya di setiap akhir bulan.” Karaiv sedikit mengangkat dagunya, memberi isyarat singkat. “Ambil-lah. Kartu ini milikmu.”
Tidak langsung bergerak, Aluna terlihat bingung. Namun, akhirnya, dengan ragu ia meraih kartu tersebut. “Maaf, Mas. Maksud Mas Karaiv … saya boleh menggunakan uang di dalam kartu ini?”
Karaiv menatapnya sekilas lalu mengangguk. “Tentu saja. Apa ucapanku barusan masih kurang jelas?!” pungkasnya gerah. Ayolah, ia tidak menyukai sesuatu yang bertele-tele. Hanya menerima kartu saja, apa susahnya!
Sudut bibir Aluna berkedut. Tiba-tiba mendapat uang dengan nominal cukup besar baginya, adalah sesuatu yang sangat luara biasa. Napasnya sempat tertahan karena girang. Namun, ia segera menegakkan diri dan memasang ekspresi tenang.
“Saya tahu saya hanya pengganti, Mas.” Aluna menatap kartu itu sejenak sebelum melanjutkan, “sudah seharusnya saya membayar semua kesalahan yang Mbak Marta lakukan. Jadi … uang ini, saya tidak menginginkannya.” Alih-alih mengembalikan, Aluna justru menyelinapkan kartu pemberian Karaiv ke dalam saku bajunya.
Sontak, pemandangan tersebut membuat Karaiv tercengang. Ada apa dengan perempuan itu? Antara ucapan dan perbuatannya benar-benar saling bertolak belakangan. Namun, sebelum ia sempat bereaksi, Aluna tiba-tiba meraih lengannya dan memeluknya dengan erat. Revan yang melihat hal tersebut pun ikut terkejut.
Karaiv membeku. Tubuhnya menegang seketika. Bukannya segera mendorong Aluna menjauh, ia justru terlihat pasrah dengan kehadiran gadis itu dan membiarkannya tetap di sisinya tanpa sedikit pun merasa jijik seperti saat ia didekati oleh wanita-wanita lain di luar sana.
“Mas tahu? Dengan sikap Mas yang seperti ini, saya takut kalau suatu hari nanti … saya akan jatuh cinta pada Mas.”
Degh
Detik itu juga, Karaiv melepaskan pelukan Aluna dari lengannya dengan kuat, hingga membuat perempuan itu sedikit tersentak ke belakang. Telapak tanganya mengibas-ngibaskan bagian itu beberapa kali, seolah-olah membuang debu di sana. “Apa pun bisa aku berikan. Uang, fasilitas, kehidupan mewah.” Karaiv menatap dingin. “Tapi cinta? Jangan pernah berharap!”
Aluna tercenung selama beberapa saat. Namun, ia tetap menegakkan tubuhnya dan bersikap tegar.
“Revan. Kita pergi sekarang.” Karaiv berbalik dan pergi.
“Baik, Tuan Muda.”
Karaiv mulai menjauh. Namun, Aluna kembali menarik ujung lengan jasnya, hingga membuat langkah laki-laki itu terhenti. Menoleh ke samping Karaiv melayangkan tatapan tajam. “Lepaskan tanganmu,” titahnya penuh peringatan.
Alih-alih merasa takut, Aluna justru menggeleng. “Nggak mau.”
“Aku bilang lepas.”
“Nggak mau! Mas Karaiv jangan pergi … dengerin dulu penjelasan aku. Mas tidak mencintaiku? Tidak apa-apa. Asalkan aku bisa melihat Mas setiap hari, melayani Mas, memasak untuk Mas … itu sudah lebih dari cukup,” katanya bersungguh-sungguh.
Karaiv terdiam dan menatap Aluna cukup lama. Ia tidak menyangka, perempuan itu akan begitu mencurahkan perasaannya pada pernikahan mereka. Namun, sekali lagi hubungan mereka hanyalah kontrak dan akan berakhir satu tahun ke depan. Jadi, untuk apa ia mempedulikannya.
“Kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal itu.” Sosok jangkung itu menjawab tanpa menoleh. “Selama kamu patuh padaku, tidak membuat masalah. Maka kamu akan tetap menjadi nyonya muda Adhikara,” tandas Karaiv lalu kembali melanjutkan melangkahnya dan pergi meninggalkan ruangan.
Pintu tertutup, Norman dan para pelayan juga sudah pergi. Kini, tinggal-lah Aluna seorang diri di sana bersama dengan keheningan yang menyelimuti. Perlahan tangannya menyentuh saku tempat kartu itu berada dan mengeluarkannya.
Senyum kecil terbit di bibirnya. “Selain cinta, aku bisa memberikanmu apa saja .…” Ia terkekeh pelan begitu teringat dengan kata-kata Karaiv beberapa saat lalu. “Kalau saja aku lupa dengan alasan pernikahan ini, mungkin aku sudah terbang tinggi karena baper,” gumamnya getir.
Sedetik kemudian, sorot mata perempuan itu meredup. Jemarinya menggenggam kartu di tangannya lebih erat. “Uang ini … aku harus segera memberikannya pada ibu.” Aluna menghela menarik napas pelan, berusaha menguatkan dirinya sendiri. “Semoga saja, hutang-hutang Ayah segera lunas. Aku cuma ingin Ibu dan adik-adik hidup dengan tenang.”
Getaran ponsel di saku bajunya berhasil memecah lamunan. Aluna segera meraih benda pipih berbentuk persegi itu dan tersenyum melihat nama sang ibu di layar.
“Ibu?”
Namun, senyum itu seketika lenyap. Matanya bergerak cepat membaca isi pesan tersebut. Dan dalam hitungan detik, wajahnya langsung pucat pasi.
|| Nduk … Ayahmu berjudi lagi ||
|| Dia kalah banyak ||
|| Orang-orang itu datang lagi ke rumah ||
|| Mereka bilang\, kalau besok kita masih belum membayar\, mereka akan membawa adikmu ||
Degh
Ponsel di tangan Aluna hampir saja terlepas. Napasnya tercekat. Dadanya mendadak sesak hingga sulit bernapas.
Belum sempat ia mencerna semuanya, layar ponselnya kembali menyala. Sebuah foto terkirim. Dalam satu kali tekan, Aluna bisa melihat bagaimana ruang tamu rumahnya yang telah hancur berantakan dengan ibunya yang terduduk menangis di lantai. Sementara para pria bertubuh besar berdiri di pintu sambil menudingkan jari telunjuk penuh peringatan. Seketika, tubuhnya bergetar hebat.
“….”