Indonesia
NovelToon NovelToon
THE DAY YOU WENT AWAY

THE DAY YOU WENT AWAY

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Cintapertama
Popularitas:400
Nilai: 5
Nama Author: Chikaku_chiko

Namanya Raisha, seorang karyawan korporat cantik dan terkesan cuek. Dia belum mengenal debaran cinta seperti apa. Banyak tuntutan orang disekitarnya untuk memulai suatu hubungan dengan seorang pria. Meskipun enggan, Raisha melakukan semua tuntutan itu meskipun tanpa menggunakan hati. Satu pria, gagal. Dua pria, gagal. Hingga tak terasa beberapa pria Raisha mencoba mencari debaran itu, tapi gagal.

Hingga julukan 'Playgirl' menempel padanya.

Hingga datang seorang Aldo. Pria tampan dan maskulin, membuat Raisha merasakan debaran itu. Tapi ketika Raisha mulai mendekati Aldo, ada sesuatu dari diri Aldo yang janggal. Yang membuat Raisha merasakan debaran yang melayang tapi menyakitkan.

Bagaimana kisah cinta Raisha dan Aldo kedepannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chikaku_chiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Api Rumor dan Topeng yang Kembali Dipakai

Sejak pertunjukan makan siang di restoran Jepang lantai dasar itu, atmosfer di lantai lima berubah total. Saklar di dalam diri Aldo Otavian seolah telah dinyalakan kembali secara penuh.

Pria yang selama berpekan-pekan menunjukkan sikap dingin, berjarak, dan penuh teka-teki itu mendadak menjelma menjadi sosok yang sangat hangat, intens, dan tak segan-segan memperlihatkan ketertarikannya pada Raisha di depan umum.

Pola pendekatan Aldo kini tidak lagi bersembunyi di balik bayang-bayang rooftop atau pesan singkat di luar jam kerja. Aldo mulai menghujani Raisha dengan perhatian-perhatian kecil yang sangat kasatmata.

Pagi-pagi sekali, sebelum Raisha tiba di kubikelnya, sebuah cangkir iced caramel macchiato favorit Raisha lengkap dengan kue pastel hangat sudah bertengger manis di atas mejanya. Catatan kecil bersematkan tulisan tangan yang rapi tertempel di sana: '

Semangat buat revisi laporan harinya, Ra. Kalau capek, panggil aku ya.'

Tak berhenti di situ, saat rapat antardivisi berlangsung, Aldo tanpa ragu memilih duduk di sebelah Raisha. Di tengah-tengah pemaparan materi dari kepala bagian, Aldo secara terbuka menggeser botol air mineral yang sudah dibuka tutupnya ke arah Raisha ketika gadis itu terbatuk pelan.

Tatapan matanya yang hangat, senyum manis yang memamerkan lesung pipi, hingga gestur tubuhnya yang begitu protektif seolah sengaja dipamerkan ke sekeliling ruangan, menegaskan pada semua orang bahwa fokus utamanya saat ini adalah Raisha.

Bagi siapapun yang melihatnya, tindakan Aldo adalah bentuk pengejaran cinta yang sangat romantis dan agresif. Namun bagi Raisha, setiap inci perhatian itu justru memicu alarm bahaya yang menyengat di dalam dadanya.

Raisha masih mencoba untuk bertahan. Hatinya memang sempat bergetar oleh nostalgia rasa suka yang dulu pernah merekah, tetapi logikanya memegang kendali jauh lebih kuat kali ini. Raisha tidak goyah. Dia menatap setiap senyuman manis dan usapan halus Aldo dengan kewaspadaan penuh.

Raisha ingat betul pola psikologis pria itu: Aldo baru kembali beringas mengejarnya tepat setelah melihat keberadaan Erick selama dua hari berturut-turut. Raisha yakin seratus persen bahwa ada sesuatu yang sedang direncanakan oleh Aldo.

Pria itu bukan sedang jatuh cinta padanya, melainkan sedang terobsesi oleh dahaga purba untuk merebut seorang wanita yang dikiranya sudah berpasangan kembali.

"Makasih kopi dan minumnya, Al. Tapi lain kali gak usah repot-repot," ujar Raisha dingin suatu sore, menyerahkan kembali pulpen Aldo yang sempat tertinggal di mejanya dengan gestur yang sangat formal dan menjaga jarak.

Aldo hanya menyunggingkan senyum miring yang tipis, menyambut pulpen itu seraya menatap mata Raisha dengan ketertarikan yang kian meluap.

Sikap Raisha yang membenteng diri dan berpura-pura dingin di matanya justru membakar adrenalin penaklukan yang sangat dinikmatinya.

Namun, di luar perang dingin yang tenang antara Raisha dan Aldo, riak-riak di lingkungan kantor mulai bergejolak hebat.

Perhatian Aldo yang begitu terang-terangan dan tanpa aling-aling mendadak memicu bisik-bisik membara di kalangan rekan sekantor. Selama ini, rumor yang beredar kuat di lantai lima adalah bahwasanya Raisha—sang playgirl berdarah dingin, telah mengejar-ngejar Aldo namun ditolak mentah-mentah oleh pria tampan tersebut. Perubahan sikap Aldo yang tiba-tiba berbalik seratus delapan puluh derajat memburu Raisha menciptakan kebingungan sekaligus kehebohan baru di pantry dan koridor utama.

"Bukannya kemarin gosipnya si Aldo yang nolak Raisha ya?" bisik seorang staf dari divisi keuangan saat mereka berada di area mesin pembuat kopi.

"Iya, tapi lihat deh belakangan ini. Malah si Aldo yang kayak kejatuhan bulan tiap ngelihat Raisha. Ke mana-mana ditempelin terus," timpal staf lainnya dengan nada penuh kecurigaan.

"Palingan Raisha pake trik lagi. Mana ada sih cewek yang mau ngelepas cowok kayak Aldo begitu aja?"

Desas-desus yang makin hari makin liar itu akhirnya sampai ke telinga Mita.

Mita, yang hatinya masih menyimpan luka mendalam dan rasa dendam membara akibat dicampakkan Aldo secara kejam setelah memutus pacarnya sendiri, menyerap rumor baru itu dengan amarah yang memuncak.

Bagi Mita, fakta bahwa Aldo mencampakkannya dengan alasan 'sudah tidak tertarik pada cewek yang single' lalu kini malah mengejar-ngejar Raisha adalah sebuah penghinaan yang tak tertahankan.

Namun alih-alih menyerang Aldo, pria yang memegang banyak rahasianya, Mita memilih melempar seluruh racun keburukan itu pada Raisha.

Di pantry utama lantai lima yang sedang dipadati karyawan saat jam istirahat makan siang, suara Mita mendadak meninggi, memotong gelak tawa beberapa staf yang sedang berkumpul.

"Kalian tuh jangan mau ditipu sama drama manis di depan mata," seloroh Mita dengan senyum sinis yang mengembang di bibirnya, memosisikan dirinya di tengah-tengah kerumunan kecil dekat lemari pendingin.

Siska yang baru saja mau mengambil botol air mineral menghentikan pergerakannya, menoleh curiga.

"Maksud kamu gimana, Mit?"

Mita melipat kedua tangannya di dada, melemparkan pandangan tajam ke arah pintu pantry seolah memastikan Raisha belum masuk ke ruangan itu.

"Ya dipikir aja pakai logika," lanjut Mita dengan nada penuh penekanan dan kebencian yang terselubung.

"Mana ada Aldo yang dari awal cuek dan dingin mendadak berubah perhatian begitu kalau nggak dipancing duluan? Gosip yang bilang Raisha ditolak itu emang bener kok! Tapi karena Raisha gengsi dan nggak terima hatinya dicuekin, dia yang ganjen menggoda Aldo duluan belakangan ini."

Beberapa staf wanita di pantry saling melempar pandangan terkejut.

"Masa sih, Mit? Tapi Raisha kelihatannya biasa aja tuh."

"Biasa aja di depan kita!" potong Mita cepat dengan nada mendesis.

"Di belakang? Siapa yang tahu? Dia kan emang terkenal punya reputasi playgirl. Dia sengaja tebar pesona dan pakai cara-cara murah buat memancing perhatian Aldo lagi biar egonya terselamatkan. Aldo itu cuma korban godaan dia aja!"

Tepat saat kata-kata beracun dari mulut Mita itu terlontar bebas di udara, pintu pantry bergeser terbuka.

Raisha berdiri di ambang pintu, memegang cangkir keramik kosongnya. Langkah kakinya terhenti seketika. Seluruh pasang mata di dalam pantry mendadak mengunci padanya, disertai keheningan yang mencekam. Raisha mendengar bagian akhir dari kalimat Mita dengan sangat jelas.

Mita tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun. Dia justru melintangkan dagunya, menatap Raisha dengan tatapan penuh permusuhan dan kepuasan karena berhasil menyebarkan narasi baru yang menyudutkan rivalnya.

Raisha berdiri membeku di depan pintu. Tangannya yang memegang cangkir keramik menegang pelan. Hatinya yang sedang berusaha memulihkan diri kini harus kembali berhadapan dengan gelombang fitnah dan cibiran lingkungan sekitar, hanya karena permainan ego tak berujung milik seorang pria bernama Aldo Otavian.

Dari ujung lorong luar pantry, Aldo berdiri menyandarkan bahunya ke dinding, memperhatikan ketegangan di dalam ruangan itu dari kejauhan. Sebuah senyum tipis dan dingin kembali mengukir bibirnya, menikmati betapa riuhnya dunia di sekitar Raisha hanya karena pusaran manipulasi yang diciptakannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!