Di istana, kebohongan lebih mematikan daripada pedang.
Kian Arselio, anak haram jenius yang terbuang, menyewa Sura—seorang pencopet jalanan ulung—untuk menyamar sebagai putri bangsawan. Bersama, mereka merancang penipuan mematikan: memenangkan Turnamen Debat Kerajaan demi merebut kekuasaan.
Namun, kemenangan mereka justru melempar keduanya ke dalam sarang ular sesungguhnya. Terjebak di tengah konspirasi Perdana Menteri yang licik, intrik berdarah, dan sekte rahasia kuno, Kian dan Sura harus terus menipu untuk bertahan hidup.
Berbekal "lidah perak" Sura dan taktik jenius Kian, mampukah dua orang buangan ini meruntuhkan sebuah kerajaan? Mereka bukanlah pahlawan suci, melainkan pembohong yang siap mengukir sejarah dengan tinta darah.
Genre: Fantasy, Political Thriller, Heist/Con, Morally Grey MC, Fake Identity.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
BAB 21: Anatomi Kematian di Atas Piring
[Sudut Pandang: SURA]
Ruang Perjamuan Giok dirancang untuk mengintimidasi. Dindingnya dilapisi sutra hijau, lampunya redup, dan udaranya berat oleh aroma dupa cendana yang menyesakkan.
Di tengah ruangan, duduklah Duta Besar Kekaisaran Naga Timur, Master Zhao.
Dia adalah pria tua dengan janggut putih panjang yang dikepang rapi. Matanya tertutup, seolah sedang tidur. Di belakangnya, berdiri enam pengawal bertopeng iblis yang memegang katana—pedang lengkung khas Timur yang terkenal bisa membelah sutra yang jatuh di udara.
Tidak ada musik. Tidak ada percakapan. Hanya suara denting sumpit.
Sura duduk di samping Kian. Di seberang mereka, duduk Lysander dan Lord Cassian. Raja Regulus tidak hadir; dia terlalu malas menghadapi ketegangan ini, jadi dia menyerahkan leher para penasihatnya sebagai gantinya.
"Selamat datang di Ostand, Master Zhao," kata Cassian ramah, membuka percakapan. "Kami harap perjalanan laut Anda menyenangkan."
Master Zhao tidak membuka matanya. Dia tidak menjawab. Dia hanya mengangkat satu jari.
Seorang pelayan wanita berbaju kimono masuk dengan langkah kecil-kecil. Dia membawa nampan perak besar yang tertutup tudung saji. Dia meletakkannya di tengah meja, lalu mundur dengan gemetar.
Master Zhao membuka matanya perlahan. Matanya hitam pekat, tanpa bagian putih, seperti mata hiu.
"Kekaisaran Naga Timur tidak datang untuk basa-basi," suara Zhao serak, seperti gesekan kertas amplas. "Kami datang untuk melihat apakah Ostand layak menjadi mitra dagang... atau layak menjadi jajahan."
Zhao membuka tudung saji itu.
Sura menahan napas.
Di atas nampan, tergeletak seekor ikan besar yang kulitnya berduri kasar. Ikan itu belum dimasak. Matanya masih bening, perutnya menggembung putih.
Ikan Buntal (Fugu).
"Di Timur," kata Zhao, "Ikan ini adalah hidangan para Raja. Dagingnya selembut awan, tapi hatinya mengandung racun yang 1.200 kali lebih mematikan dari sianida. Satu goresan salah saat memotongnya... dan semua orang yang memakannya akan mati dalam hitungan detik."
Zhao menatap pisau tajam yang tergeletak di samping nampan.
"Koki pribadiku sedang sakit," lanjut Zhao datar. "Saya dengar Penasihat Muda Ostand sangat berbakat. Siapa di antara kalian yang berani memotong ikan ini untuk saya?"
Keheningan melanda meja itu.
Ini bukan permintaan tolong. Ini adalah Uji Nyali.
Jika mereka menolak, Ostand dianggap pengecut. Hubungan dagang batal.
Jika mereka menerima dan salah potong, Master Zhao mati keracunan. Ostand akan dituduh membunuh Duta Besar. Perang dunia akan pecah.
Lord Cassian tetap tersenyum tenang, tapi tangannya berhenti memutar gelas anggurnya. Dia menoleh ke arah Lysander.
"Lysander," kata Cassian. "Kau ahli anatomi, bukan? Kau sering membedah katak saat kecil."
Lysander menatap ikan itu. Wajahnya yang biasanya arogan kini terlihat ragu. Membedah katak mati berbeda dengan membedah bom waktu biologis di depan Duta Besar yang siap memenggal kepalamu.
"Saya... sedang cedera tangan, Yang Mulia," tolak Lysander halus, menyembunyikan tangannya yang gemetar di bawah meja. "Mungkin adikku Kian ingin mencoba? Dia selalu suka bermain dengan bahaya."
Semua mata tertuju pada Kian dan Sura.
Kian menatap ikan itu. Dia tahu teorinya. Dia sudah membaca buku tentang Faksi Timur. Tapi dia tidak punya skill tangan. Dia tidak pernah memegang pisau dapur seumur hidupnya.
"Sura," bisik Kian, bibirnya hampir tidak bergerak. "Kau bisa melakukannya?"
Sura menatap ikan buntal itu.
Dia ingat masa lalunya di pelabuhan. Dia sering melihat nelayan membuang ikan ini karena takut. Tapi dia juga pernah melihat seorang koki tua di pasar gelap memotongnya dengan mata tertutup.
Pisau adalah perpanjangan tangan Sura. Dia bisa mengambil dompet dari saku jas tanpa menyentuh kainnya. Dia bisa memutar koin di sela jari.
"Aku butuh matamu, Kian," bisik Sura. "Aku punya tangan, tapi aku tidak tahu di mana letak racunnya. Kau harus jadi navigatorku."
"Sepakat," jawab Kian.
Kian berdiri. "Kami menerima tantangan ini, Master Zhao."
Zhao mengangkat alis. "Berdua?"
"Satu tangan, satu otak," jawab Kian. "Itulah cara Ostand bekerja."
Sura berdiri, menyingsingkan lengan baju seragam birokratnya yang kaku. Dia mengambil pisau khusus itu. Pisau itu tipis, panjang, dan sangat tajam. Keseimbangannya sempurna.
Sura menarik napas panjang. Dunia di sekelilingnya melambat. Suara napas Cassian, detak jantung Lysander, aroma dupa... semuanya memudar. Yang ada hanya dia dan ikan itu.
"Mulai," bisik Kian yang berdiri tepat di belakang bahu Sura.
"Buat irisan vertikal di bawah sirip dada," instruksi Kian pelan, matanya memindai anatomi ikan itu berdasarkan ingatan ensiklopedianya. "Jangan terlalu dalam. Di bawahnya ada kantung empedu. Jika pecah, kita tamat."
Sura menggerakkan pisau. Sret.
Gerakannya stabil. Tidak ada keraguan. Pisau itu menari di atas kulit ikan yang liat.
"Bagus. Sekarang, kupas kulitnya dalam satu tarikan. Hati-hati dengan durinya, ada racun di ujungnya."
Sura menyelipkan pisau di antara daging dan kulit. Dia merasakan tekstur daging ikan lewat ujung pisau. Dia memutar pergelangan tangannya. Sraaak. Kulit ikan terlepas utuh seperti jaket yang dibuka.
Master Zhao memajukan tubuhnya sedikit. Dia tertarik.
"Sekarang bagian tersulit," suara Kian menegang. "Keluarkan ovarium dan hati. Letaknya di rongga perut, menempel pada tulang belakang. Warnanya abu-abu gelap. Jangan sampai tergores sedikit pun."
Sura melihat organ mematikan itu. Berdenyut pelan. Itu adalah kematian dalam bentuk organ.
Tangan Sura bergerak masuk.
"Kiri sedikit... dua milimeter..." bisik Kian.
Tiba-tiba, Sura merasakan pisaunya menyentuh sesuatu yang keras. Tulang? Bukan.
"Ada kista di hatinya," bisik Sura panik. "Bentuknya tidak normal. Kalau aku tarik paksa, bisa pecah."
Kian menyipitkan mata. "Sial. Ikan ini cacat. Kau harus memotong memutar, Sura. Circumcision cut. Putari kista itu."
Itu manuver tingkat dewa. Memotong melingkar di ruang sempit tanpa menyentuh organ.
Keringat dingin menetes dari pelipis Sura.
"Percaya pada tanganmu, Sura," bisik Kian di telinganya. "Kau pernah mengambil cincin dari jari orang yang sedang mengepal. Ini lebih mudah."
Sura memejamkan mata sesaat. Dia membayangkan ikan itu adalah saku celana Jenderal Hanzor. Dia membayangkan racun itu adalah lonceng yang tidak boleh berbunyi.
Sura membuka mata. Dia memutar pisaunya dengan gerakan flick pergelangan tangan yang mustahil.
Crass.
Sura menarik pisaunya keluar. Di ujung pisau, tertusuk gumpalan organ beracun itu—utuh dan tidak pecah.
Kian menghembuskan napas lega yang panjang.
Sura membuang organ beracun itu ke mangkuk limbah. Lalu dengan cepat dia mengiris daging putih ikan itu menjadi lembaran-lembaran tipis transparan (Sashimi) dan menyusunnya di piring membentuk pola bunga krisan.
"Selesai," kata Sura, meletakkan pisau.
Ruangan hening total.
Master Zhao menatap piring itu. Irisannya begitu tipis hingga pola piring di bawahnya terlihat.
Zhao mengambil sumpit. Dia menjepit satu irisan daging.
Momen kebenaran.
Jika Sura gagal membersihkan residu racunnya, Zhao akan mulai merasa kesemutan di bibir, lalu lumpuh, lalu mati.
Zhao memasukkan daging itu ke mulutnya. Dia mengunyah perlahan. Satu kali. Dua kali. Tiga kali.
Dia menelan.
Sura meremas tangannya di bawah meja. Kian menahan napas. Lysander menatap dengan harapan jahat bahwa Zhao akan tersedak.
Perlahan, sudut bibir Master Zhao terangkat.
"Sempurna," kata Zhao.
Dia tertawa lepas. "Ha! Teksturnya kenyal, tapi lumer di mulut. Dan kau menyisakan sedikit sekali racun di kulitnya... hanya cukup untuk membuat lidah terasa geli, tapi tidak membunuh. Sensasi yang luar biasa!"
Zhao menepuk meja.
"Ostand ternyata punya nyali. Dan punya skill."
Zhao menuangkan sake ke dua gelas kosong.
"Duduklah, Anak Muda," perintah Zhao pada Kian dan Sura. "Kita bicara soal tarif impor sutra. Aku akan berikan diskon 10% karena kau berhasil menghiburku."
Kian dan Sura duduk kembali, kaki mereka lemas seperti jeli.
Cassian tersenyum lebar. "Luar biasa, Penasihat Sura. Tangan pencopet ternyata berguna juga untuk bedah kuliner."
Sura menatap Cassian tajam, tapi tidak menjawab. Dia mengambil gelas sakenya dan menenggaknya sekaligus untuk menenangkan sarafnya.
Di seberang meja, Lysander menatap Sura dengan pandangan baru. Bukan lagi pandangan meremehkan, tapi pandangan waspada. Dia menyadari bahwa Sura bukan sekadar pelengkap Kian. Sura adalah senjata tajam yang bisa memotong apa saja—termasuk ambisi Lysander.
Malam itu, Sura belajar bahwa diplomasi bukan hanya soal kata-kata manis. Terkadang, diplomasi adalah soal memegang pisau dan mengetahui persis di mana harus memotong agar tidak ada yang mati... atau agar orang yang tepat yang mati.
[Epilog Bab 21]
Dua jam kemudian, perjamuan selesai. Kesepakatan dagang ditandatangani.
Sura sedang mencuci tangannya di wastafel kamar mandi marmer istana. Bau amis ikan masih menempel di jarinya.
Tiba-tiba, dia melihat bayangan di cermin.
Lysander berdiri di belakangnya.
"Kau beruntung ikannya tidak meledak," kata Lysander dingin.
Sura tidak berbalik. Dia mengeringkan tangannya dengan handuk. "Keberuntungan adalah nama lain dari persiapan, Tuan Lysander."
"Kau semakin sombong, Tikus Kecil," Lysander melangkah maju. "Kau pikir karena kau berhasil memotong ikan, kau aman di sini? Cassian hanya memanfaatanmu. Begitu kau tidak berguna, dia akan membuangmu ke kolam koi."
Sura berbalik. Dia menatap Lysander lurus.
"Mungkin," jawab Sura. "Tapi setidaknya aku tahu siapa musuhku. Sedangkan kau? Kau bahkan tidak sadar bahwa posisimu sebagai 'Putra Mahkota Arselio' sedang terancam."
Lysander mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
Sura tersenyum miring. Dia mengeluarkan secarik kertas kecil dari sakunya—kertas yang tadi dia copet dari jubah Master Zhao saat bersalaman pamit.
"Master Zhao berbisik padaku," bohong Sura (sebenarnya dia membaca memo di saku Zhao). "Kekaisaran Timur tidak suka berbisnis dengan orang yang kalah. Dan hari ini... kau kalah di meja makan, Lysander."
Sura menepuk dada Lysander pelan, lalu berjalan pergi.
"Hati-hati, Kakak Ipar. Kian sedang mengejar. Dan dia lari lebih cepat dari yang kau kira."
Lysander berdiri sendiri di kamar mandi, wajahnya mengeras. Dia merogoh sakunya sendiri.
Dompetnya hilang.
Sura mencopet dompet Lysander tepat di depan hidungnya saat menepuk dadanya tadi.
Di lorong, Sura tertawa pelan, melempar dompet kulit buaya itu ke udara. Di dalamnya ada kartu akses ke Perpustakaan Terlarang Keluarga Arselio.
Akses ke rahasia masa lalu Kian.
"Permainan naik level," bisik Sura.