Dila harus menjadi pendamping Azam dan merahasiakan hubungan mereka dari siapa pun.
Awalnya Dila mengira semuanya hanya tentang uang. Namun, semakin ia mengenal Azam, semakin banyak kejanggalan yang muncul.
Mengapa Azam memilih dirinya?
Dari mana pria itu mengetahui kehidupan Dila?
Dan mengapa ia memiliki foto masa lalu Dila?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 — Pertemuan 28 Tahun
"Dilla?"
Suara itu serak, bergetar, dan hampir hilang ditelan debu ruko tua di Glodok itu.
Pria tua dengan batik cokelat yang punggungnya sedikit bungkuk itu akhirnya berbalik sepenuhnya.
Dilla membeku.
Selama 30 tahun hidupnya, ia membayangkan wajah ayah kandungnya dalam berbagai versi. Kadang ia membayangkan wajah itu mirip Jatmiko yang lembut. Kadang ia membayangkan wajah itu mirip Rangga yang misterius dari cerita ibunya. Tapi tidak pernah ia membayangkan wajah di depannya ini.
Wajah itu tua. Keriputnya dalam. Rambutnya putih semua, tidak ada hitamnya lagi. Matanya cekung karena kurang tidur bertahun-tahun. Tapi matanya... matanya sama persis dengan mata Dilla saat ia menangis. Mata yang sedikit sayu di ujungnya.
Mahendra. Raden Arya Mahendra. Atau Rangga — nama samaran yang dipakai Larasati untuk melindunginya.
Di gendongan Dilla, Arif yang masih mengantuk menatap pria tua itu dengan bingung. "Ibu... itu siapa?"
Pertanyaan polos Arif memecah keheningan yang membeku.
Mahendra yang mendengar suara anak kecil itu, lututnya langsung lemas. Ia memegang meja kayu tua itu untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Air matanya yang sudah ia tahan 28 tahun akhirnya tumpah begitu saja, mengalir di pipinya yang keriput.
"Cucu..." bisiknya pelan, hampir tidak terdengar. "Cucu Ayah..."
Dilla tidak mampu menjawab. Air matanya jatuh deras tanpa suara. Tas kain yang berisi buku hitam Larasati dan kaset pita ibunya terjatuh pelan ke lantai berdebu.
Fadil yang berdiri di samping Dilla langsung memeluk bahu istrinya dengan erat, menahan tubuh istrinya yang gemetar hebat. Fadil tahu, inilah momen yang ditunggu Dilla seumur hidup, tapi juga momen yang paling ia takuti.
Jatmiko yang berdiri di belakang, melihat Mahendra, tubuhnya juga gemetar. Bukan karena takut, tapi karena rasa bersalah yang menghantamnya 28 tahun kemudian.
"Mahendra..." suara Jatmiko serak.
Mahendra menoleh. Untuk pertama kalinya dalam 28 tahun, dua sahabat yang dulu membangun ruko ini bersama dari nol — satu yang merebut perusahaannya, satu yang menikahi perempuan yang dicintainya — kembali bertatap muka.
"Jatmiko..." Mahendra tersenyum pahit, air matanya masih mengalir. "Kamu masih... masih seperti dulu. Hanya rambutmu yang habis."
Jatmiko berjalan mendekat dengan langkah yang berat. Setiap langkah terasa seperti menginjak 11 tahun penyekapannya di gudang.
"Aku minta maaf, Mah..." kata Jatmiko dengan suara yang hancur. "Aku minta maaf karena menikahi Larasati... Aku tahu dia mencintaimu. Aku tahu dia hamil anakmu. Tapi ayahku... Ayahanda Wiratama bilang kamu sudah mati kecelakaan di tol Jagorawi. Dia bilang Larasati butuh suami agar anaknya tidak jadi anak haram... Aku... aku tulus mencintai Larasati, Mah..."
Mahendra tidak menjawab dengan marah. Ia justru tertawa kecil, tawa yang penuh air mata.
"Aku tahu, Jatmiko. Aku tahu kamu tulus. Makanya aku tidak pernah benci kamu. Aku benci ayahmu," jawab Mahendra pelan. Ia menatap Dilla yang masih membeku di pelukan Fadil. "Dan aku berterima kasih sama kamu... karena kamu sudah jaga anakku... lebih baik dari aku yang ayah kandungnya sendiri."
Kalimat itu membuat Dilla akhirnya pecah.
Selama ini ia marah pada Jatmiko karena Jatmiko bukan ayah kandungnya. Selama ini ia marah pada ibunya karena ibunya berbohong. Tapi malam ini ia baru mengerti, Jatmiko berbohong karena ingin melindunginya, ibunya berbohong karena ingin ia hidup, dan Mahendra menghilang karena ingin ibunya tetap hidup.
Semua kebohongan itu lahir dari cinta yang salah cara.
Dilla perlahan meletakkan Arif di lantai. Arif langsung dipeluk Bu Ratih? Tidak, Bu Ratih tidak ikut ke Jakarta, tapi Laras yang ada di belakang langsung mengambil Arif dengan hati-hati.
Dilla berjalan selangkah, dua langkah, mendekati Mahendra yang masih berdiri di belakang meja kayu tua itu.
Fadil ingin ikut, tapi Azam menahan lengannya pelan. "Biar Dilla sendiri, Fadil."
Dilla berhenti tepat satu meter di depan Mahendra. Jarak 28 tahun hanya tinggal satu meter.
Mahendra menatap putrinya dari dekat. Wajah Dilla yang sembab karena menangis, mata yang bengkak, baju daster sederhana yang masih ada noda lumpur sawah Karangrejo pagi tadi.
"Cantik..." bisik Mahendra dengan suara yang hancur. "Kamu cantik seperti ibumu... persis seperti Larasati waktu hamil kamu dulu..."
Dilla mengangkat tangannya yang gemetar. Ia ingin menyentuh wajah tua itu, tapi tangannya ragu-ragu di udara.
"Ayah...?" Satu kata itu keluar dari mulut Dilla dengan susah payah, seperti ada yang menyumbat tenggorokannya selama 30 tahun.
Mendengar kata "Ayah" itu, Mahendra tidak tahan lagi. Ia maju dan memeluk Dilla dengan pelukan yang sangat erat, pelukan yang tertunda 28 tahun.
Pelukan seorang ayah yang baru pertama kali memeluk anak kandungnya.
Dilla membeku sesaat di dalam pelukan itu, lalu akhirnya pecah. Ia memeluk balik punggung bungkuk Mahendra itu dengan erat, mencengkeram batik cokelatnya, dan menangis kencang seperti anak kecil yang kehilangan ibunya di pasar.
"Ayah... Ayah ke mana aja... Ibu nungguin Ayah... Aku nungguin Ayah..."
Fadil yang melihat istrinya menangis di pelukan ayah kandungnya yang baru ia temui, ikut meneteskan air matanya dan memalingkan wajah. Azam menunduk dalam-dalam. Jatmiko menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang. Bahkan Pranoto yang sudah tua dan keras, memalingkan wajah dan mengusap matanya.
Di pelukan Mahendra, Arif yang melihat ibunya menangis, berjalan kecil mendekati mereka dan menarik ujung batik Mahendra.
"Kakek... jangan bikin Ibu nangis..."
Mahendra melepaskan pelukan Dilla perlahan dan berjongkok — dengan susah payah karena lututnya sudah tua — di depan Arif.
Ia menatap cucu yang belum pernah ia temui itu. Wajah Arif yang polos, mata yang mirip Dilla.
"Kakek tidak bikin Ibu nangis, Nak. Kakek cuma... kangen Ibu," kata Mahendra dengan suara yang masih bergetar sambil mengusap kepala Arif dengan tangan keriputnya.
Arif mengangguk polos. "Arif juga kangen Ibu waktu diculik om jahat."
Kata om jahat membuat Mahendra mengepalkan tangannya. Ia berdiri lagi dan menatap Azam.
"Azam, kamu bilang ada penyadap di rumah aman?"
Azam mengangguk dan menunjukkan penyadap kecil yang masih ia bungkus tisu. "Suryanto yang pasang. Tapi yang nyuruh bukan Bagaskara. Suryanto bilang orang Jakarta. Orang yang punya Mahendra Holding."
Mahendra tersenyum pahit. "Mahendra Holding sudah tidak ada, Azam. Ruko ini buktinya. Yang pakai nama Mahendra Holding sekarang adalah orang yang merebutnya 28 tahun lalu. Bukan ayahmu. Tapi orang yang lebih tinggi dari ayahmu. Orang yang selama ini kita kira sudah mati."
Jatmiko langsung menatap Mahendra. "Maksudmu... kakekku? Ayahanda Wiratama? Bukankah beliau sudah meninggal 10 tahun lalu?"
"Sudah meninggal di atas kertas," jawab Mahendra pelan. "Tapi perusahaannya, yayasannya, orang-orangnya... masih hidup. Dan mereka yang kirim Suryanto culik Arif. Karena mereka tahu, kalau Dilla buka buku hitam dan kaset Larasati, 70% saham Wiratama Group akan kembali ke Dilla secara hukum. Dan mereka akan kehilangan semuanya."
Dilla yang masih bersandar di pelukan Fadil, mengambil kaset pita kecil dan tape recorder tua pemberian Bu Ratih dari tasnya yang terjatuh tadi.
"Ini... ini suara Ibu..." bisiknya.
Mahendra melihat kaset itu dan langsung pucat. "Jangan... jangan putar di sini juga. Di ruko ini juga ada penyadap lama. Ayahanda Wiratama pasang 28 tahun lalu. Sampai sekarang mungkin masih aktif."
Laras yang sejak tadi diam di dekat pintu, langsung mengeluarkan detektor penyadap yang tadi dipakai Pranoto dan menyisir ruko tua itu.
Tit... tit... tit...
Alat itu berbunyi di bawah meja kayu tua tempat Mahendra duduk tadi. Di bawahnya, menempel penyadap yang modelnya jauh lebih tua, berkarat, tapi lampunya masih berkedip merah pelan.
Semua orang saling pandang. Ruko ini pun disadap selama 28 tahun.
"Keluar. Kita putar di mobil. Di jalan tol yang berisik. Tidak ada yang bisa sadap di sana," perintah Azam cepat.
Mereka semua keluar dari ruko berdebu itu. Fadil menggendong Arif, Dilla memegang kaset dan tape recorder, Mahendra berjalan pelan dituntun Jatmiko — dua sahabat tua yang dulu bermusuhan kini saling menuntun — dan Azam serta Pranoto di belakang mengawasi.
Saat mereka baru keluar dari rolling door, dari seberang jalan, mobil Avanza hitam yang sejak tadi parkir dengan mesin mati, tiba-tiba menyalakan lampunya.
Pintu Avanza itu terbuka.
Dua pria bertubuh besar dengan masker hitam turun. Bukan Suryanto. Orang baru.
Salah satunya berteriak sambil menunjuk tas kain Dilla yang berisi buku hitam.
"Buku itu! Serahkan buku itu! Dan kaset itu!"
Fadil langsung menarik Dilla dan Arif ke belakangnya. Jatmiko berdiri di depan Dilla. Azam maju ke depan.
Mahendra yang melihat dua pria itu, langsung berdiri di depan Dilla juga, meski tubuhnya sudah tua dan bungkuk.
"Jangan sentuh anakku lagi!" teriak Mahendra dengan suara yang tiba-tiba mengeras, suara seorang pemilik perusahaan yang dulu pernah memimpin ratusan karyawan, bukan suara kakek tua yang bungkuk.
Dua pria itu tidak peduli. Salah satunya berlari ke arah Dilla.
Sebelum ia sempat menyentuh Dilla, dari belakang Avanza hitam itu, sebuah mobil sedan hitam lain melaju kencang dan mengerem mendadak, hampir menabrak Avanza itu.
Pintu sedan itu terbuka. Suryanto keluar dengan napas terengah-engah, wajahnya penuh luka.
"Jangan! Jangan ambil buku itu!" teriak Suryanto pada dua pria bermasker itu. "Bos besar bilang jangan pakai kekerasan! Bos besar bilang bawa Dilla hidup-hidup!"
Dilla yang melihat Suryanto, memeluk Arif semakin erat. "Om jahat itu lagi, Bu..."
Dua pria bermasker itu menoleh ke Suryanto dengan bingung. "Bos besar? Bos besar yang mana? Kita disuruh Bagaskara!"
"Bukan Bagaskara, goblok! Bos yang di atas Bagaskara!" Suryanto berteriak balik.
Azam memanfaatkan kebingungan itu untuk menarik Dilla, Fadil, Arif, Jatmiko, dan Mahendra masuk kembali ke dalam ruko dan menurunkan rolling door setengah.
Di dalam ruko yang gelap dan setengah tertutup itu, Dilla dengan tangan gemetar akhirnya memasukkan kaset pita kecil itu ke dalam tape recorder tua Sony Walkman pemberian Bu Ratih.
Tangannya gemetar saat menekan tombol PLAY.
Krek...
Pita kaset yang sudah 28 tahun tidak diputar itu berputar pelan.
Lalu terdengar suara. Suara perempuan yang lembut, yang sudah 30 tahun tidak didengar Dilla, tapi langsung ia kenali.
Suara Larasati. Ibunya.
"...Dilla, sayang... kalau kamu dengar kaset ini... berarti Ibu sudah tidak ada... Maafkan Ibu ya, Nak... Ibu harus bohong sama kamu seumur hidup..."
Dilla langsung menutup mulutnya dengan tangan, air matanya tumpah deras. Itu suara ibunya. Suara yang ia dengar terakhir saat ia masih bayi.
Fadil memeluk Dilla dari samping dengan erat. Arif memeluk kaki ibunya. Jatmiko dan Mahendra berdiri mematung, mendengarkan suara perempuan yang pernah mereka cintai bersama, berbicara dari alam kubur setelah 28 tahun.
Suara Larasati di kaset melanjutkan, dengan isak tertahan:
"...Ayah kandungmu bukan Jatmiko... bukan Rangga... Rangga itu hanya nama samaran Mahendra agar Bagaskara tidak tahu... Ayah kandungmu yang sebenarnya adalah Raden Arya Mahendra... pemilik ruko ini... Tapi Nak... kalau suatu hari Mahendra kembali... jangan langsung percaya dia Ayah yang baik... karena... karena Mahendra yang kasih racun ke minuman Ayahanda Wiratama 28 tahun lalu... Mahendra yang mulai semua dosa ini..."
Kaset itu berhenti berputar dengan bunyi klek.
Ruangan ruko yang setengah tertutup itu sunyi senyap.
Semua mata kini tertuju pada Mahendra yang berdiri di sudut, wajahnya pucat pasi seperti mayat.
Dilla menatap Mahendra dengan air mata yang masih mengalir, tapi kini dengan tatapan yang berbeda — tatapan takut dan bingung.
"Ayah... apa maksud Ibu... Ayah yang kasih racun ke kakek Wiratama...?"
Bersambung...