Alya tidak pernah menyangka satu malam di rumah sakit akan mengubah seluruh hidupnya.
Di tengah duka atas kematian ibunya, ia justru terikat pada seorang bayi laki-laki yang lahir tanpa ibu dan tanpa masa depan yang jelas. Tanpa status, tanpa kepastian, bayi itu perlahan menjadi bagian dari hidupnya—hingga Alya memberinya nama: Rafa.
Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
Ketika Dimas, ayah biologis Rafa, muncul dan menuntut haknya, Alya harus menghadapi kenyataan pahit: ia bukan siapa-siapa bagi bayi yang telah ia cintai sepenuh hati.
Di tengah kehilangan, hadir Reza—dokter yang diam-diam menjadi tempat Alya bersandar saat hatinya runtuh.
Kini Alya dihadapkan pada pilihan paling menyakitkan dalam hidupnya:
memiliki, atau merelakan.
Karena tidak semua yang kita cintai bisa kita miliki… dan tidak semua rumah berbentuk tempat tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon permata_silvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Ketakutan yang Mulai Menjadi Nyata**
Pagi itu Alya terbangun dengan perasaan yang berbeda.
Bukan karena ada sesuatu yang benar-benar terjadi selama ia tidur, melainkan karena untuk pertama kalinya sejak mengenal Rafa, ia merasa waktu mulai berjalan terlalu cepat.
Hari-hari yang sebelumnya terasa panjang kini seperti berlari tanpa memberinya kesempatan untuk bernapas.
Setiap pagi datang membawa evaluasi baru.
Setiap siang menghadirkan kemungkinan baru.
Dan setiap malam membuatnya semakin sadar bahwa keputusan akhir semakin dekat.
Ia duduk perlahan dari kursi yang sudah menjadi tempat istirahatnya selama berminggu-minggu terakhir.
Lehernya terasa pegal.
Tubuhnya lelah.
Namun seperti biasa, hal pertama yang ia lakukan adalah menoleh ke arah ruang bayi.
Dan seperti biasa pula, hatinya sedikit lebih tenang saat melihat Rafa masih berada di sana.
Masih di tempat yang sama.
Masih bisa ia lihat.
Masih bisa ia jaga.
Setidaknya untuk hari ini.
Alya berdiri dan berjalan mendekati kaca ruang bayi.
Di dalam ruangan itu, Rafa baru saja selesai diperiksa oleh perawat.
Bayi kecil itu terlihat lebih aktif dibanding beberapa minggu lalu.
Tangannya bergerak ke sana kemari.
Matanya mulai lebih sering mengikuti suara dan cahaya di sekitarnya.
Perubahan-perubahan kecil yang mungkin tidak terlalu berarti bagi orang lain.
Namun bagi Alya, setiap perkembangan Rafa adalah sesuatu yang berharga.
Karena ia melihat semuanya.
Dari hari pertama.
Dari tangisan pertama.
Dari malam-malam panjang ketika bayi itu tidak memiliki siapa pun.
"Selamat pagi, Rafa."
bisiknya lembut.
Rafa mengeluarkan suara kecil.
Membuat Alya tersenyum tanpa sadar.
Namun senyum itu perlahan menghilang ketika ia melihat Reza berjalan ke arahnya.
Ada sesuatu dalam ekspresi dokter itu yang langsung membuat Alya merasa tidak nyaman.
Bukan karena Reza terlihat marah.
Justru sebaliknya.
Ia terlihat terlalu hati-hati.
Dan biasanya itu berarti kabar yang dibawanya bukan kabar baik.
"Reza?"
Dokter itu berhenti di sampingnya.
"Kamu sudah sarapan?"
Alya menghela napas panjang.
"Kalau pertanyaan pertama kamu seperti itu, berarti ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan."
Reza tersenyum tipis.
Namun senyum itu tidak bertahan lama.
"Ada rapat lagi siang ini."
Alya langsung menutup mata sebentar.
"Tentu saja ada rapat lagi."
gumamnya.
Karena rasanya hidupnya sekarang hanya terdiri dari tiga hal.
Ruang bayi.
Rapat.
Dan rasa takut.
"Apa kali ini?"
tanyanya pelan.
Reza terdiam beberapa detik.
"Uji adaptasi akan dimulai."
Jantung Alya langsung terasa jatuh.
Jadi benar.
Pembicaraan kemarin bukan sekadar wacana.
Mereka benar-benar akan melakukannya.
"Kapan?"
"Besok."
Hanya satu kata.
Namun cukup untuk membuat Alya kehilangan ketenangan yang selama ini ia coba pertahankan.
Besok.
Artinya ia hanya punya satu hari lagi sebelum semuanya berubah.
Satu hari lagi sebelum Rafa mulai dibawa keluar dari lingkungan yang selama ini menjadi dunianya.
Satu hari lagi sebelum ia harus melihat bayi itu berada lebih lama bersama orang lain.
Dan untuk pertama kalinya, Alya benar-benar merasa takut.
Siang hari tiba lebih cepat dari yang ia inginkan.
Ruang rapat kembali dipenuhi wajah-wajah yang sudah semakin familiar.
Petugas dinas sosial.
Reza.
Dimas.
Keluarga Rafa.
Dan dirinya sendiri.
Namun kali ini suasananya lebih tegang dibanding biasanya.
Karena semua orang tahu bahwa keputusan yang akan dibahas hari ini memiliki dampak yang nyata.
"Berdasarkan evaluasi sebelumnya, kami akan memulai observasi lingkungan."
jelas salah satu petugas.
"Masing-masing pihak akan mendapatkan kesempatan berinteraksi lebih intensif dengan bayi."
Alya menggenggam kedua tangannya erat.
"Berapa lama?"
Petugas membuka berkas di depannya.
"Tahap awal beberapa jam."
Alya menatap meja.
Beberapa jam.
Mungkin terdengar sebentar bagi orang lain.
Namun baginya, beberapa jam bisa terasa seperti selamanya.
Terutama jika Rafa berada jauh dari jangkauannya.
"Kami juga akan mengamati respons emosional bayi selama proses berlangsung."
lanjut petugas itu.
Dimas duduk diam.
Namun wajahnya terlihat sama tegangnya.
Sementara keluarga Rafa tampak gugup.
Tidak ada yang terlihat senang.
Karena semua orang mulai memahami bahwa setiap langkah menuju keputusan akhir berarti semakin dekat dengan kemungkinan kehilangan.
Setelah rapat selesai, Alya tidak langsung kembali ke ruang bayi.
Ia justru berjalan menuju taman kecil di belakang rumah sakit.
Tempat yang jarang ia kunjungi.
Tempat yang biasanya terlalu jauh dari Rafa untuk membuatnya nyaman.
Namun hari itu ia membutuhkan udara.
Ia membutuhkan ruang untuk berpikir.
Angin siang berembus pelan.
Daun-daun bergerak perlahan.
Namun pikirannya tetap kacau.
"Aku mulai takut."
gumamnya pelan.
Bukan takut kehilangan sekarang.
Tetapi takut kehilangan nanti.
Karena semakin hari, kemungkinan itu terasa semakin nyata.
"Aku tahu."
Suara seseorang membuatnya menoleh.
Reza berdiri beberapa langkah di belakangnya.
"Kamu mengikuti aku?"
"Tidak."
jawab Reza sambil tersenyum tipis.
"Aku cuma tahu kamu pasti ke sini kalau sedang terlalu banyak berpikir."
Alya menggeleng pelan.
"Aku bahkan tidak tahu kenapa aku ke sini."
Reza duduk di bangku taman yang sama.
Untuk beberapa saat mereka hanya diam.
Lalu Alya berkata pelan.
"Menurutmu aku egois?"
Reza menoleh.
"Apa?"
Alya menunduk.
"Semakin banyak orang yang datang untuk Rafa."
Suaranya mulai melemah.
"Dan bukannya senang karena dia punya keluarga..."
Ia menarik napas panjang.
"...aku justru takut."
Reza memperhatikannya beberapa detik.
Lalu menggeleng pelan.
"Itu bukan egois."
"Lalu apa?"
"Itu manusia."
Alya tertawa kecil.
Namun matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku seharusnya senang."
"Kamu boleh takut sekaligus senang."
jawab Reza.
"Kedua perasaan itu bisa ada bersamaan."
Alya tidak menjawab.
Karena jauh di dalam hatinya, ia tahu Reza benar.
Namun mengetahui sesuatu tidak selalu membuatnya lebih mudah diterima.
Sore hari, Alya kembali ke ruang bayi.
Dan ketika ia berdiri di depan kaca, Rafa sedang terjaga.
Bayi kecil itu menggerakkan tangan mungilnya ke udara.
Seolah sedang mencoba meraih sesuatu yang tidak bisa ia sentuh.
Alya tersenyum.
Lalu masuk ke dalam ruangan setelah mendapatkan izin dari perawat.
Ia berdiri di dekat inkubator.
Menatap Rafa lama.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok."
bisiknya pelan.
"Tapi aku harap kamu baik-baik saja."
Rafa mengeluarkan suara kecil.
Dan seperti biasanya, suara itu membuat hati Alya sedikit lebih hangat.
Malam tiba.
Namun kali ini rumah sakit terasa lebih sunyi dari biasanya.
Mungkin karena besok adalah awal dari sesuatu yang baru.
Atau mungkin karena Alya sudah terlalu banyak memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang belum terjadi.
Di ujung lorong, Dimas datang.
Ia berhenti di samping Alya.
Untuk beberapa saat mereka hanya menatap ruang bayi.
Lalu Dimas berkata pelan.
"Aku juga takut."
Alya menoleh.
Pria itu tersenyum kecil.
"Aku tahu kamu mungkin tidak percaya."
"Tapi aku benar-benar takut."
Alya terdiam.
"Takut apa?"
Dimas menatap Rafa.
"Takut dia tidak pernah menerimaku."
Kalimat itu membuat Alya membeku beberapa detik.
Karena untuk pertama kalinya, ia mendengar ketakutan Dimas secara langsung.
Dan ketakutan itu terdengar sangat manusiawi.
Sangat nyata.
"Aku tidak pernah punya pengalaman menjadi ayah."
lanjut Dimas.
"Aku bahkan tidak tahu apakah aku pantas menjadi ayah."
Alya kembali menatap Rafa.
Malam itu, untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa bukan hanya dirinya yang sedang berjuang.
Semua orang sedang berjuang.
Dengan ketakutan mereka masing-masing.
Dengan harapan mereka masing-masing.
Dan di tengah semua itu ada Rafa.
Seorang bayi kecil yang bahkan belum memahami dunia.
Namun sudah menjadi pusat dari begitu banyak cinta.
Begitu banyak harapan.
Dan begitu banyak rasa takut.
Alya menatap Rafa untuk waktu yang lama malam itu.
Karena ia tahu...
Besok akan menjadi hari yang mengubah banyak hal.
Hari ketika uji adaptasi dimulai.
Hari ketika ketakutan yang selama ini hanya ada di dalam pikirannya mulai berubah menjadi kenyataan.
Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai...
Alya tidak yakin apakah dirinya siap menghadapinya.
semangat thor...semoga secepatnya rame ya thor
aamiin yra