Leonarta Wijaya seorang dokter muda yang sangat tampan, dia terkenal sangat patuh terhadap kedua orangtuanya terutama terhadap ayahnya.
Tapi suatu ketika Leo marah besar kepada ayahnya dan menentang keputusan ayahnya karena telah menjodohkannya dirinya dengan salah satu anak rekan bisnisnya tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu.
Leo lebih memilih meninggalkan mansion keluarga Wijaya di bandingkan harus menikah dengan perempuan yang tidak dia kenal.
Setelah keluar dari mansion mewah keluarganya Leo melajukan mobilnya menuju apartemen miliknya dan dalam perjalanan Leo tanpa sengaja melihat seorang perempuan yang sedang di ganggu oleh para preman. Leo yang tidak tega langsung turun untuk membantu perempuan itu, disana lah bermula kisah percintaan Leo.
Apakah Leo jatuh telah jatuh cinta pada perempuan itu?
Kalau memang iya, bisakah Leo mendapatkan perempuan itu?
Jika kalian penasaran, mari ikuti kisahnya!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulandari13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 22
Saat ini sabi sedang makan siang di restoran yang berada di depan kantor tempat ia bekerja. Dia makan siang bersama dengan temannya yang bernama Kinanda.
Dia dan Kinanda berteman sejak saat pertama kali sabi bekerja di kantor ini. Pada awal sabi baru bekerja kinanda lah yang terlebih dahulu mulai mendekati sabi. Kinanda merasa sangat senang bertemu dengan orang seperti sabi, begitupun sabi.
Sabi memang tidak memiliki teman yang cukup banyak di kantor. Tapi diantara teman temannya hanya kinanda lah yang paling mengerti dengan dirinya.
"Sabi,,," Panggil kinanda dengan menggoyangkan tubuh sabi.
"Ah iya,,,"Jawab sabi dengan mentap ke arah kinan.
"Apa ada masalah?" Tanya Konan yang melihat sabi sedari tadi melamun.
"Tidak, memangnya kenapa?" tanya sabi dengan memperlihatkan senyum tipisnya.
"Kalau tidak ada, kenapa kau tidak memakan makananmu? kenapa hanya di aduk adik saja. Sekarang cobalah lihat kepiringmu!" Seru Kinan dengan menyuruh sabi melihat kepiringnya dengan melalui tatapan mata.
"Astaga,,,"Ucap sabi dengan melihat makanan dipiringnya yang sudah acak acakan bahkan ada yang keluar dari piring.
Kinan menghela nafasnya "Sabi kita ini sudah lama berteman jadi kalau kau ada sesuatu yang mengganjal di hati, ceritakan saja padaku. Setidaknya dengan bercerita kau itu bisa mengurangi sedikit beban yang ada dipikiranmu." Ucap Kinan dengan lembut sambil mengusap lengan sabi.
"Kinan aku tidak apa apa."Ucap sabi dengan wajah yang dibuat sebaik mungkin.
" Sabi, aku sudah tahu kau itu seperti apa. Aku tahu kau selalu memendam apa yang kau rasakan sendiri.
Kau tidak ingin membuat orang lain terbebani karenamu. Tapi aku ini bukan orang lain, aku ini temanmu bahkan aku sudah menganggapmu seperti saudaraku sendiri." Ucap Kinan yang mampu membuat mata sabi berkaca kaca.
"Kinan,,,"Lirih sabi.
"Yah, aku tidak mau penolakan lagi. Sekarang cepat ceritakan semuanya padaku apa yang mebebani pikiranmu." Tegas Kinan yang mampu membuat air mata sabi yang mau menetes kembali masuk. Kinan sengaja berkata seperti itu karena dia tidak mau melihat sabi menangis di hadapannya.
"Baiklah,,," Ucap sabi lali mulai menceritakan semua pada Kinan dia mengatakan bagaimana awal pertemuannya dengan Leo. Sikap Leo yang selalu baik padanya, tapi dia malah bersikap sebaliknya pada Leo dengan alasan karena dia tidak mencintai Leo. Bahkan dia menceritakan bahwa akhir akhir ini hubungannya dan Leo semakin memburuk.
Setelah selesai menceritakan semuanya pada Kinan perasaan sabi terasa lebih baik. Tapi yang membuat sabi aneh adalah karena Kinan hanya diam saja setelah dia menceritakan itu, tidak ada reaksi apapun yang diberikan Kinan padanya.
"Kinan kena,,,?",ucapan sabi terpotong.
"Kenapa egomu sangat tinggi sabi." ucap Kinan.
"Maksudmu?" tanya sabi bingung mendengar kinan yang berkata seperti itu.
"Seharusnya kau beruntung dicintai begitu besar oleh suamimu. Tapi kenapa kau malah bersikap seperti itu padanya?" tanya Kinan.
"Aku tidak mencintainya kinan. Dan aku pun tidak berharap untuk dicintai dengan begitu besar." ucap sabi yang begitu terasa berat untuk di ucapkan.
"Kenapa Sabi? Apa ada kesalahan yang dia lakukan sampai kau membencinya sebegitu besar?" tanya kinan yang merasa aneh dengan sabi.
"Tidak ada kesalahan yang dia lakukan. Hanya saja diriku yang bermasalah."Ucap sabi tersenyum kecut.
"Maksudmu,,,?"Tanya kinan yang tidak paham dengan maksud perkataan Sabi.
"Sudahlah,, ayo kita kembali ke kantor sebentar lagi jam makan siang akan berakhir." Ajak pada Kinan karena dia tidak ingin memperpanjang cerita lagi.
"Hmm,, baiklah." Jawab kinan pasrah karena tidak mau terlalu mencampuri urusan Sabi terlalu dalam. Takutnya nanti malah membuat sabi menjadi risih dengannya.
Lalu sabi dan Kinan segera kembali ke kantor. Sesampainya di kantor sabi segera kembali keruangannya, tapi saat sabi mulai melangkah kinan memanggilnya.
"Ya, ada apa? Tanya sabi dengan menoleh ke belakang.
Kinan menyusul Sabi hingga mereka berhadapan hadapan dengan posisi yang sangat dekat.
"Sabi sebagai temanmu tentunya aku ingin yang terbaik untuk kau. Jangan sampai kau salah dalam mengambil langkah. Aku tidak paham degan apa yang bermasalah dengan dirimu, tapi setidaknya ikutilah kata hatimu. Aku tahu pernah ada rasa yang muncul di hatimu padanya, tapi kau sepertinya selalu menepis rasa yang muncul itu dengan cara membencinya. Seperti apapun kau mencoba membuangnya dari kehidupanmu tetapi jika dia adalah orang yang memang ditakdirkan Tuhan untukmu, kau tidak akan bisa mengelaknya. Jangan sampai semuanya terlambat dan kau akan menyesali semuanya di kemudian hari nanti. Dan penyesalan itu tidak akan ada gunanya lagi."
"Aku memang tidak terlalu mengenalnya karena aku hanya bertemu dengannya pada saat hari pernikahan kalian. Tapi aku yakin dia adalah orang yang tepat untukmu. Ingatlah sabi, cinta sejati itu tidak akan datang untuk dua kali. Jadi pikirkanlah apa yang aku katakan ini dengan baik baik sabi." Sambung Kinan berusaha membukakan mata sabi agar melihat ke arah Leo.
Sabi terdiam mendengar ucapan Kinan yang mampu menusuk ke uluh hatinya.
"Baiklah, kalau begitu aku kembali bekerja dulu." Ucap kinan yang mulai melangkah ke meja kerjanya dengan meninggalkan sabi yang masih terdiam.
Diruangannya Sabi terlihat bekerja dengan serius, tapi di detik selanjutnya dia mulai menghentikan pekerjaannya. Terdengar dia menghela nafas gusar.
"Ada apa denganku. Kenapa rasanya hatiku rasanya begitu gelisah." Gumam Sabi dengan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Sebenarnya Sabi masih memikirkan apa yang dikatakan oleh Kinan tadi. Dimana dirinya menolak apa yang dikatakan oleh Kinan tadi tapi sementara hatinya membenarkan apa yang dikatakan Kinan.
Pikirannya benar benar terasa kacau saat ini.
"Tidak itu tidak mungkin. Aku tidak pernah memiliki rasa sedikitpun padanya. Dan itu tidak akan pernah."Ucap Sabi dengan menggeleng gelengkan kepalanya.
***
"Hai,,," sapa Zhi yang melihat Martin melewatinya.
"Ya,,"Jawab Martin dengan memberhentikan langkahnya.
"Bukannya kau teman dokter Leo?" tanya Zhi
"Yah." jawab Martin santai.
"Kenalkan namaku Zhi" ucap Zhi dengan mengulurkan tangannya sambil tersenyum ramah.
"Martin"ucapnya dengan membalas uluran tangan Zhi.
"Apa kau masih mengingatku dokter?"tanya Zhi berbasis basi.
"Yah, kau perempuan yang ceroboh dengan menumpahkan jus ke pakaian temanku kan."Jawab Martin dengan tidak berperasaan.
"Aishh,,,Kenapa kau kasar sekali dokter."Ucap Zhi dengan pura pura kesal.
"Itu kan memang kenyataannya. Yasudah aku pergi dulu."pamit Martin sambil berlalu meninggalkan Zhi.
"Eh,, dokter tunggu dulu." ucap Zhi dengan menyusul Martin.
"Ada apa lagi?" tanya Martin masih terus berjalan.
"Dokter aku ingin bertanya sesuatu. Aku ingin bertanya dimana dokter Leo sekarang?." pertanyaan Zhi membuat Martin menghentikan langkahnya, hingga Zhi menabrak punggungnya.
"Aw,,,Dokter, kenapa kau tidak bilang kalau mau berhenti." ketus Zhi dengan mengusap keningnya.
"Untuk apa kau menanyakannya?" tanya Martin.
"Karena aku ingin bertemu dengannya." ucap Zhi masih dengan mengusap keningnya.
"Untuk apa kau menemuinya." Tanya Martin menatap Zhi tajam.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Zhi menatap curiga ke arah Martin.
Martin hanya diam tanpa mengalihkan tatapannya dari Zhi.
"Atau..."selidik Zhi.
"Atau apa?" ketus Martin.
"Atau jangan jangan kau menyukaiku. Jadi kau tidak suka melihat aku dekat dekat dengan dokter Leo." Ucap Zhi dengan percaya diri.
"Hahahah, ternyata kau sangat percaya diri." Leo tertawa mengejek saat mendengar ucapan Zhi yang sangat percaya diri.
"Saranku jangan terlalu dekat dengannya kalau tidak ingin patah hati." ucap Martin dengan berlalu meninggalkan Zhi, sambil memasukan tangan kedalam saku celananya.
Sedangkan Zhi merasa sangat kesal dengan Martin.
"Ganteng doang, tapi menyebalkan." Ketus Zhi dengan berlalu mencari Leo.
bersambung.
halo semuanya😀
jangan lupa like,komen dan dukungannya yah
terimakasih ❤️