"Aku benci diriku sendiri. Kulit gelap ini kutukan yang tidak bisa aku hilangkan. Sialan! Aku bahkan tidak meminta untuk dilahirkan. Memang siapa yang mau hidup seperti ini?!"
Hanya karena perbedaan warna kulit, Jia Li didiskriminasi di sekte. Mendapat banyak hinaan, bahkan keluarganya sendiri tidak pernah menganggap dirinya ada. Apalagi Jia Li tidak memiliki kemampuan apa pun, yang semakin dipandang remeh dan rendah.
Hati kecilnya itu, terluka parah. Setiap malam tiba, dia menangis memandang nabastala. Mengutuk takdir kejam. Menyumpahi diri sendiri agar cepat mati, karena tidak kuat menanggung rasa sakit.
Sampai, dia melarikan diri dari sekte. Banyak hal yang terjadi sampai nyaris nyawanya terenggut. Semakin banyak pula orang-orang yang mengucilkan hanya karena warna kulit. Semakin banyak pula cacian yang dia dengar.
Sejauh Jia Li melarikan diri, semakin dirinya putus asa. Tidak ada obat penyembuh untuk kutukan itu. Yang ada dia malah jadi incaran sekte aliran hitam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23 - KEDIAMAN YUE YIN
Jia Li tidak tahu sekarang dirinya akan dibawa pergi ke mana. Dia bahkan mulai tidak sadarkan diri karena tidak kuat menahan rasa sakit di tubuh.
Wanita yang telah membeli Jia Li bernama Yue Yin melesat pergi diikuti oleh pria yang membawa Jia Li. Kecepatan mereka tidak bisa dipandang remeh.
Selama perjalanan itu, Yue Yin sama sekali tidak buka suara. Apalagi mengobati luka parah di tubuh bocah berkulit gelap itu. Entah apa tujuan buruknya.
Malam itu angin terasa lebih dingin dari malam-malam sebelumnya. Suara gonggongan binatang buas di hutan terdengar dari kejauhan. Langit juga tidak menampakkan rembulan.
Perjalanan yang dilakukan Yue Yin berlangsung selama tiga hari dengan kecepatan tinggi. Saat tiba, matahari sudah menampakkan diri. Yue Yin menapak di depan gerbang besar. Lalu diikuti oleh pria misterius.
Kehadirannya di hadapan dua penjaga kediaman megah itu membuat tersentak. Sontak dua penjaga pria itu memberikan hormat, lalu membukakan gerbang.
Yue Yin masuk tanpa mengatakan apa-apa. Dia mendengkus melihat ke arah depan. Sebuah kediaman megah di depannya adalah miliknya. Di setiap jalan ada tanaman bunga yang sudah bermekaran. Udara segar langsung terasa di sana.
Seorang pelayan pria menghampiri sambil membungkukkan sedikit badan.
"Bawa bocah itu dan obati dengan obat tradisional."
Kata Yue Yin pada pelayan tersebut. Setelahnya dia kembali berjalan dengan anggun, bahkan tidak melepas topeng yang dikenakan.
Pria misterius di belakangnya memberikan Jia Li pada pelayan tersebut dan melesat mengikuti Yue Yin.
*
*
*
Di salah satu kamar sederhana yang hanya dibatasi sekat tempat membersihkan diri. Di sana, Jia Li dibaringkan perlahan oleh seorang pelayan. Dua pelayan perempuan nampak memperhatikan kondisi memprihatinkan Jia Li. Tubuh sekarat itu membuat ketiga pelayan merasa kasihan.
"Apa benar dia masih hidup? Lihatlah, tubuhnya terluka parah." Satu pelayan perempuan buka suara. Dia tampak menghelaa napas. "Kenapa Nyonya Yin tidak langsung menyembuhkannya? Dan malah meminta kita untuk mengobati secara tradisional."
"Hei, jaga bicaramu, Rui. Kau bisa mendapat hukuman jika sampai terdengar Nyonya," tegur pelayan pria. Dia lalu berkata, "untuk apa pula Nyonya mengobati bocah asing ini? Hm, kulitnya gosong. Apa itu karena racun?"
"Kupikir karena terbakar matahari."
"Pfftt. Mungkin kau benar, Rui. Astaga. Aku baru melihat ada warna kulit hitam legam seperti ini."
"Hentikan pembicaraan kalian. Rui, sebaiknya kita harus cepat mengobati bocah ini," kata satu pelayan perempuan yang sedari tadi diam sambil membuat kompresan.
Rui berdecak, tapi tetap melakukan tugasnya dengan baik. Sementara itu, pelayan pria sedikit mendekat ke arah Jia Li. Menyingkap sedikit rambut itu, dirinya dibuat tersentak melihat kulit kepala tersebut.
Banyak bekas darah, bahkan ada koyakan di sana. Darah itu sudah mengering. Mungkin saja kepala bocah itu sudah mendapat cambukan keras sampai-sampai bisa membuat geger otak.
"Ck, ck, ck. Dia pasti bocah berandalan. Pantas mendapat hukuman seperti ini."
Pria itu menggeleng-gelengkan kepala. Ada rasa kasihan, tetapi dia juga tidak peduli jika sampai bocah itu tewas dalam beberapa hari lagi. Oh, mungkin saja dalam beberapa jam.
Dirinya kemudian melenggang pergi. Rui dan teman pelayannya itu perlahan menyingkap pakaian Jia Li. Terpampang jelas luka parah yang sudah tertutup darah kering dan sedikit lembab.
Melihat luka separah itu membuat Rui menelan ludah. Ini pertama kali baginya melihat luka separah ini, apalagi di tubuh anak kecil berumur 8 tahun.
Temannya juga sedikit merasa ngeri. Dia lalu mulai membersihkan darah yang menempel perlahan. Takut jika koyakan di perut itu malah bertambah parah.
Pengobatan secara tradisional di kediaman Yue Yin dilakukan dengan menempelkan obat-obatan yang ditumbuk sendiri.
Memang benar harga tanaman obat sangat tinggi, tapi bagi Yue Yin, itu tidak sebanding jika dirinya yang langsung mengobati. Dia sengaja tidak memanggil tabib, karena ada sesuatu yang disembunyikan.
Setelah membalut luka Jia Li perlahan-lahan, Rui menarik napas panjang. Pengobatan ini sudah berjalan tiga jam. Kondisi Jia Li hampir seluruh tubuh diberban.
Teman Rui itu kemudian memakaikan pakaian yang kebesaran karena tidak ada pakaian kecil di sana. Keduanya pergi setelah melakukan tugas.
Di ruang lain, di lantai ketiga kediaman Yue Yin. Pria misterius yang sebelumya keluar dari tubuh Yue Yin tengah berdiri di hadapan Yue Yin. Aura dari pria tersebut sangat misterius.
Yue Yin yang sedang duduk itu mulai menjentikkan jari, saat itu juga pria misterius memunculkan asap sebelum menghilang dari pandangan netra.
"Aku akan melatihnya saat dia sadar. Sampai dia bisa membuatku terhibur dengan mampu menjadi pendekar yang bertarung di pertandingan."
Yue Yin tersenyum. Dia mulai berpikir hal yang jarang dipikirkan orang lain. Dia berjalan menuju kaca jendela besar. Di luar, beberapa anak seusia Jia Li tengah berlatih pedang.
"Hmph. Memelihara anak-anak memang menyusahkan. Tapi setidaknya mereka akan memberikan keuntungan untukku."
Yue Yin terus memperhatikan anak-anak di luar. Sampai pandangan matanya tertuju pada satu anak yang sedang duduk di bawah pohon.
"Huh, bocah itu tidak berlatih lagi yah." Yue Yin memainkan rambut sambil tersenyum. Dia tampak tidak marah.
Sementara itu, di luar sekitar ada sepuluh anak tengah berlatih pedang yang diajari oleh guru berpedang. Di tengah teriknya sinar matahari, keringat bercucuran di tubuh, tetapi anak-anak itu sama sekali tidak berani mengeluh.
Mereka terus menghitung sambil memperagakan gerakan yang diajarkan. Stamina mereka memang sudah mulai berkurang, tetapi mereka tidak berani beristirahat.
Guru berpedang itu terus berjalan sambil memperhatikan. Jika ada yang melakukan gerakan salah, satu cambuk di tangannya akan langsung melayang.
Yan Qi, anak laki-laki berusia 11 tahun berdecak kesal. Dia kelelahan, tapi apa boleh buat. Sambil melakukan gerakan jurus, dirinya buka suara lirih.
"Hei, kenapa hanya Qian Han yang boleh beristirahat. Hah, menyebalkan. Ini benar-benar tidak adil."
Gerutuannya didengar oleh temannya. Teman perempuannya itu mengangguk setuju. Dia juga tidak suka pada Qian Han yang seperti anak emas.
"Kau benar. Qian Han harus mendapat hukuman setelah kita selesai nanti. Enak saja dia duduk sambil menonton. Memangnya kita ini apa?!"
Hua Ran menggelembungkan pipi kesal. Dia sampai menggenggam erat pedang dan menebas udara ke arah belakang kencang.
Yan Qi berkata, "hmph. Kita buat Qian Han berlutut meminta ampun di depan kita nanti. Sampai tidak berani melawan."
"Mn. Yan Qi, aku dengar ada anak baru yang dibawa Nyonya Yin. Apa itu benar?"
Pertanyaan Hua Ran membuat Yan Qi tiba-tiba menghentikan gerakan. Sontak guru yang sedang mengawasi langsung mencambuknya. Yan Qi menjerit kesakitan dan meminta ampun. Dia langsung melakukan gerakan ulang.
Yan Qi mendesis, punggungnya terasa perih akibat cambukan tadi. Dirinya melirik Hua Ran dengan kesal.
"Kau mengagetkanku. Itu benar. Memangnya aku peduli? Tidak, tahu!"
Hua Ran berkedip, dia mendengkus dan berkata, "kau ini bodoh, ya. Dia anak baru yang tidak tahu apa-apa. Makanya kita harus mengajari dia agar tahu aturan di sini. Termasuk aturan menjadi bawahan kita!"
Sebuah sambaran cambuk berhasil mengenai Hua Ran. Bocah itu menjerit dan sontak terduduk lemas.
"Berani mengobrol lagi, kugantung kalian di pohon!"