Namira adalah seorang gadis kecil putri pertama bapak Abdullah dan Ibu Hanifah. Bapak Abdullah dan Ibu Hanifah merupakan seorang ustadz dan ustadzah yang mengajar di salah satu pondok pesantren. Selain itu, Bapak Abdullah juga merupakan seorang pendakwah.
Selain itu, Ayah Namira juga mempunyai sikap toleransi yang tinggi terhadap orang yang berbeda agama.
Namira mempunyai seorang sahabat yang bernama Rival. Meskipun keduanya berbeda keyakinan, namun Namira dan Rival tetap selalu bersama-sama. Rumah mereka juga terletak bersebelahan. Dan keluarga keduanya selalu hidup rukun.
Suatu ketika, Namira dan Rival harus hidup terpisah. Karena Rival dan keluarganya harus pindah negara. Namira yang mengetahui itu, sangatlah sedih. Iya pun juga meminta kepada orang tuanya untuk tinggal di pesantren saja.
Karena Namira terus merengek, akhirnya orang tua Namira menuruti apa kemauan anaknya itu.
20 tahun sudah berlalu. Namira dan Rival dipertemukan kembali dalam keadaan yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesialan
"Ih resek banget si Namira.. bisa-bisanya Dia ngancam Aku.." Gerutu Binar tidak terima. Sementara kedua teman Binar, Rika dan Bela hanya diam saja. Mereka tidak menjawab apapun perkataan Binar. Karena mereka juga tidak dapat berkutik dengan ancaman Namira.
"Kenapa kalian diam saja?" Tanya Binar kepada Rika dan Bela. Mereka hanya menunduk dengan pertanyaan Binar.
"Ya, iyalah mereka diam. Karena mereka juga tidak ingin hal-hal yang tidak diinginkan terjadi dengan mereka." Tiba-tiba suara Rival datang dari belakang. Binar terkejut mendengar suara itu. Iya pun langsung membalikkan badan dan bertatapan dengan Rival.
"Pak Rival?" Binar terkejut.
"Kenapa? kaget saya ada di sini?" Tanya Rival mengejek.
"S-sejak kapan bapak di sini?" Tanya Binar gugup.
"Saya sudah melihat perbuatan kalian tadi terhadap Namira. Saya peringatkan sama kalian.. kalau kalian masih berani mengganggu Namira lagi saya tidak segan-segan untuk melaporkan kalian kepada pihak kampus. Agar kalian di DO dari kampus ini. Paham?" Ancaman Rival. Binar dan teman-temannya pun ternganga mendengar hal tersebut. Mereka sangat panik dengan ancaman Rival.
Tadi Namira yang mengancam, sekarang dosennya sendiri. Membuat mereka menjadi ketar-ketir. Rival tersenyum sinis terhadap mereka. Rival berfikir mereka sekali-kali harus diberi pelajaran supaya tidak semakin ngelunjak. Rival pun pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Aduh.. mimpi apa Aku semalam? Kenapa Aku mendapat ancaman seperti ini? Mami, tolong Rika.." Ucap Rika bingung.
"Diam kamu! Ini semua gara-gara kamu tau enggak?" Sungut Binar kepada Rika.
"Loh kenapa kamu nyalahin Aku? Aku kan ga ikut-ikutan.." Rika mengelak.
"Heh! Ga usah pura-pura lupa kamu ya.. tadi aja menghasut, sekarang pura-pura lupa. Pokoknya Aku ga mau tau kalau sampai hal ini terjadi, kamu yang akan saya sebut pertama!" Ancam Binar kepada Rika. Rika pun terdiam. Iya tidak berani menentang Binar. Sementara Bela, Iya perlahan-lahan mundur untuk meninggalkan mereka. Dan akhirnya Bela pun pergi diam-diam meninggalkan mereka. Karena Bela juga tidak ingin menjadi korban sasaran kemarahan Binar.
.
.
.
Binar benar-benar dibuat bete oleh Namira dan juga Rival. Iya tidak menyangka kalau anak seorang sultan seperti dia bisa diancam oleh anak orang biasa.
"Sudahlah Binar, jangan terlalu dipikirkan. Mending kita ke kantin aja.. biar ga jutek tuh muka.." Nasehat Bela. Sementara Rika iya tidak berani berkata apa-apa kepada Binar. Binar pun menoleh ke arah Bela. Iya pun mengikuti saran Bela.
Dari kejauhan, Bela dan Rika melihat Steven sedang bersama perempuan lain. Bela dan Rika dibuat melongo. Karena cewek itu imut dan seksi. Bahkan penampilannya pun Lebih wow dari Binar.
"Binar, Binar. Kamu lihat itu deh.. Steven sama cewek cantik tuh.." Menepuk pundak Binar. Binar pun menoleh ke arah Steven dan cewek itu. Binar memandang mereka tak berkedip.
"Gila.. ok juga itu cewek.. Aku aja yang perempuan kesemsem melihat Dia.." Puji Rika. Mendengar pujian Rika Binar semakin panas. Iya mengepalkan tangannya dan meremas-remasnya.
"Berati kita sudah salah dong menuduh Namira.." Ujar Bela. Binar pun langsung bangun dari tempat duduk dan segera menghampiri mereka. Binar berjalan cepat menuju ke arah mereka. Setelah itu, Binar langsung menarik rambut perempuan yang sedang bersama Steven.
Perempuan itu memegang rambutnya karena merasa kesakitan ditarik oleh Binar. Sementara Steven terkejut melihat mereka. Steven pun melarang Binar untuk melakukan hal itu.
"Binar, hentikan!" Teriak Steven. Binar tidak mau mendengar perkataan Steven.
Perempuan itu pun akhirnya melakukan perlawanan. Iya pun menggenggam tangan Binar dengan kedua tangannya. Lalu iya membalikkan tubuhnya, dan langsung mendorong perut Binar dengan kakinya. Binar pun langsung melepas rambut perempuan itu. Iya pun segera merapikan rambutnya yang acak-acakan.
Sementara Binar iya terjatuh kerena didorong oleh perempuan itu. Steven yang melihat Binar terjatuh sempat tertawa. Binar pun semakin emosi karena Steven bukannya membantu malah menertawakan.
"Dasar perempuan mu*ra*ha*n. Bisa-bisanya kamu mendekati cowok saya? Emang ga ada cowok lain?" Tuduh Binar. Steven hanya menggeleng kepala.
"Kamu siapa?" Tanya perempuan itu.
"Oh rupanya kamu belum tau siapa saya? Perkenalkan nama saya Binar anak seorang Sultan terkaya di kampus ini. Saya ceweknya Steven. Kamu sendiri siapa? Berani-beraninya kamu mendekati cowok saya?" Sungut Binar.
"Oh jadi kamu ceweknya Steven? Rugi banget ya.. jika Steven punya cewek seperti kamu?" Ucap Perempuan itu.
"Dasar cewek ga tau malu.." Ucap Binar dan ingin menampar perempuan itu. Namun, perempuan itu dengan tanggap menangkap tangan binar. Kemudian iya pun memelintir tangan Binar sehingga Binar mengerang kesakitan.
"Kamu belum tau siapa saya?" Tanya perempuan itu.
"Aku tau.. kamu perebut cowok orang! Kamu pikir saya takut sama kamu?" Ucap Binar ketus.
"Hei! Siapa juga yang mau merebut kak Steven dari kamu? Dengar ya.. saya ini masih punya harga diri. Dan saya juga sudah tau kalau kak Steven sudah punya cewek. Ngakunya anak Sultan. Tapi kelakuannya seperti anak seorang preman!" Balas perempuan itu.
Steven pun segera membawa pergi perempuan itu. Dan meninggalkan Binar.
"Nadia.. sudah.. kita tinggalkan saja Dia.." Ucap Steven. Steven dan Nadia pun segera pergi meninggalkan Binar.
"Steven, Steven..." Teriak Binar. Binar benar-benar merasa kesal dengan semuanya. Hari ini, nasib Binar benar-benar sial.
...****************...
Sementara Steven sedang asyik berbincang-bincang dengan Nadia. Nadia sempat meminta maaf karena telah menyakiti Binar. Iya terpaksa melakukan itu untuk membela diri.
"Kak.. Aku minta maaf ya.. soalnya tadi Aku tidak sengaja menendang ceweknya kakak, Dan Aku juga tidak sengaja memelintir tangannya. Ya itu karena Aku melakukan perlawanan disaat Aku terancam kak.." Ucap Nadia.
"Gapapa Nadia.. lagian itu bukan salah kamu kok.. jelas itu salahnya Binar.. Oh iya kamu tumben kamu mengunjungi kampus? Ada perlu apa?" Tanya Steven.
"Aku lagi ada perlu dengan kakak Aku.. kak Rival. Dia ada dimana ya?" Tanya Nadia.
"Oh Rival, Dia ada tuh di ruangannya.." Jawab Steven.
"Boleh anterin Aku ke ruangan kakak Aku ga?" Pinta Nadia.
Boleh kok.. mari kakak antar.." Ucap Steven sambil mengangguk.
Nadia dan Steven pun menemui Rival di ruangannya. Nadia melihat Rival seperti sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Nadia pun menghampiri Rival.
"Kak Rival.." Sapa Nadia. Rival langsung melihat ke arah Nadia.
"Nadia... ngapain kamu kesini?" Tanya Rival. Karena tidak biasanya Nadia mengunjunginya.
"Boleh minta waktunya sebentar ga kak? Soalnya ada hal penting yang harus Aku sampaikan.." Ucap Nadia.
Boleh.. memangnya ada apa dek?" Tanya Rival.
"Kak, sebaiknya kita bicara di luar yuk.." Ajak Nadia. Rival dan Nadia pun keluar ruangan. Mereka berbicara sesuatu yang penting.
🙄🙄