Seolah luka sayatan di tetes cuka. Begitu lah seorang gadis bernama Sebria. Kekasih yang begitu dicintainya tidak sengaja membuat kesalahan besar yang mengantarkan hubungan mereka pada sebuah perpisahan. Bersamaan itu juga telah terungkap rahasia kenapa Sebria di besarkan di panti asuhan selama ini. Demi penyembuhan diri Sebria menarima tawaran mutasi dari kantornya sehingga mempertemukan dirinya dengan anak pemilik perusahaan. Hubungan mereka berlanjut sampai ke pernikahan tapi sayangnya. Istana yang di tempati Sebria tidak sehangat awal pernikahan. Semuanya berubah beku karena insiden yang terjadi menyebabkan kelumpuhan untuk Sebria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya punya satu ibu
Ibu Sandrina memasuki rumah bak mayat hidup. Wajahnya pucat pasi dengan tatapan kosong. Kejutan hari ini sangat mengguncang semua afeksi. Seluruh tulangnya seolah tidak tersambung ketika tahu fakta yang coba dikuburkan nya selama ini terungkap sendiri. Dunia nya seketika kacau, isi kepala berisik dengan kegundahan yang meraja lela dalam hati. Ketakutan akan reputasi yang hancur semakin melemaskan tendon dan saraf dalam tubuhnya.
"Kamu kenapa?" Pak Fendy bingung melihat sang istri seperti robot masuk ke dalam rumah.
"Pa, ayo bicara di kamar."
Mendengar suara istrinya serak dan bergetar. Pak Fendy langsung bangkit membawa langkahnya menggandeng Ibu Sandrina. Melihat rupa istrinya sepertinya terjadi sesuatu yang besar. Mereka menaiki anak tangga menuju kamar. Setiba disana Ibu Sandrina duduk di atas kasur menerima segelas air putih dari suaminya.
"Sekarang ceritakan sama aku, ada apa?"
Ibu Sandrina menatap dalam dua pasang bola mata suaminya. Mata ini yang selalu membuatnya jatuh cinta selama ini dan kini mata teduh itu diwariskan kepada seseorang. "Tadi, aku menemui gadis itu untuk berterimakasih ternyata dia sakit jadi aku langsung menjenguknya. Disana aku melihat gadis itu dengan jelas. Dia bukan anak pemilik panti tapi dia anak yang pertama kali ditemukan saat pantinya dibuka. Aku mendatangi pantinya dan yang kutemui adalah kasur dan kertas tanggal lahir yang aku tulis sendiri saat itu. Pemiliknya adalah gadis itu."
Pak Fendy terkejut berusaha mencerna tiap kata yang keluar dari bibir istri nya. "Dia..."
"Iya, Sebria adalah putri pertama kita. Bayi yang kita taruh di depan pintu rumah pemilik panti itu. Aku sendiri yang menulis tanggal lahirnya dan kasur tempatnya tidur masih ada aku sudah melihatnya. Sebria tumbuh besar, dia mewarisi bola mata kamu."
"Apa?" Tubuh Pak Fendy seketika lemas. Ia tidak pernah mengingat anak pertamanya lagi setelah hari itu. "Kamu yakin dia putri kita?"
"Sangat yakin? Bagaimana kalau dia tahu kita orang tua kandungnya? Bagaimana reputasi Keona dan keluarga kalau sampai rahasia ini bocor?"
"Jadi, aku punya kakak?"
"Keona."
Pemuda itu terkekeh seperti orang bodoh. "Jadi perasaanku selama ini tidak salah? Aku punya kakak dan dia adalah Sebria?" Air matanya menetes mewakili perasaan bahagia dan kecewa. "Kenapa sampai dia ada panti? Kenapa dia nggak tinggal sama kita? Kalian membuangnya?!" Tudingan semakin ia lontarkan. Keona mendengar semuanya dengan jelas.
"Keona dengar dulu." Ibu Sandrina berusaha menggapai tubuh Keona untuk menenangkan. "Iya kamu punya kakak dan itu Sebria. Dia nggak bisa ikut kita karena dia nggak tahu kita keluarganya."
"Jadi kalian benar membuangnya ?!" Keona semakin marah dan kecewa. Dalam dadanya sesak dan berat. Pantas saja wajah Sebria tidak asing dimata nya.
"Mama hamil dia di usia muda, Keo. Papa dan mama melakukan kesalahan di waktu itu karena masih muda belum legal untuk menikah. Kami menitipkan nya ke panti. Kakek sangat menjunjung tinggi reputasi begitu juga keluarga papa. Jadi sepakat menitipkan nya ke panti."
"Kalian tega !" Keona menangis orang tua yang dihormatinya itu ternyata tega membuang anaknya sendiri. "Kenapa nggak dirawat sendiri bisa saja kalian menikah setelah legal tanpa membuang Kak Sebria."
"Tidak semudah itu Keona..."
Tanpa mendengarkan lanjutan kalimat ibu Sandrina. Keona langsung keluar dari kamar orang tuanya. Ia menyambar jaket di atas sofa. Tadi ia pulang ke rumah bertemu asisten rumah tangga yang mengatakan ibu Sandrina sedikit kurang baik. Berniat melihat kondisi ibu nya malah mendengar fakta yang lain di masa lalu orang tuanya. Keona memacu motor sportnya membelah jalan. Sepanjang jalan air matanya tiada henti mengalir. Rasa bahagia dan kecewa membuncah secara bersamaan. Tujuannya hanya satu Sebria. Ia ingin memeluk kakak nya itu. Ingin memamerkan pada dunia gadis mungil dan cantik itu adalah kakak kandungnya.
Langkah Keona lebar dalam balutan pakaian berwarna biru muda dan hitam. Kali ini ia melangkah natural tanpa takut atau memperhatikan sekelilingnya seperti biasa. Terbukti tidak ada yang sadar bawah itu dirinya yang berjalan di lorong rumah sakit. Sejenak langkahnya terhenti di depan pintu ruang rawat Sebria. Ia menarik nafas panjang lalu menghembuskan perlahan. Tangan kanannya terangkat mendorong daun pintu. Keona melangkah pelan merasakan tulang kakinya nyaris tidak bersatu pada cupu nya. Sepasang netranya menangkap sosok yang dirindukan nya sejak ia memutuskan menjauh.
"Kakak." Ucapnya menabrak tubuh Sebria. Memeluk erat penuh kasih sayang. Isak tangisnya pecah tanpa suara di pundak Sebria. "Kalau sudah sembuh ikut aku pulang ya."
Sebria membalas pelukan tak kalah rindu nya. "Kamu kenapa?" Pertanyaan itu lahir begitu lembut.
"Keona." Ibu Adelia tiba-tiba masuk membuat dua anak manusia saling berpelukkan itu terkejut.
"Ibu." Keona menekuk kedua lutut dilantai. "Terimakasih sudah membesarkan, mendidik dan merawat kakak saya dengan baik. Terimakasih sudah mencurahkan kasih sayang yang begitu hebat ketika orang tua kami nggak menginginkan dia."
"Apa maksud kamu, Keona?" Ibu Adelia meraih tubuh pemuda itu dengan lembut. "Ayo berdiri ada apa ini?" Tanya nya bingung menatap Sebria dan Keona bergantian.
"Kak Sebria adalah kakak kandung saya. Dia bayi yang ibu temukan di depan pintu rumah dengan secarik kertas bertuliskan tanggal lahir. Ada kasur yang menjadi tempat tidurnya saat itu."
"Jangan bicara sembarangan, Keo !" Sela Sebria tidak percaya.
"Aku mendengarnya sendiri dari Mama. Tadi mama kesini menjenguk kakak ingin berterimakasih karena sudah meredam rumor itu. Disini juga mama tahu kalau Kakak bukan anak kandung ibu Adelia. Dari cerita ibu tadi mama langsung ke panti untuk membuktikan semua nya ternyata benar bayi itu adalah kakak."
Sebria beralih menatap ibu Adelia menuntut penjelasan. Karena ia tidak tahu ibu Sandrina datang kesini.
"Benar, ibu lupa memberitahu kamu tadi Nyonya Sandrina menjenguk kamu. Bersamaan itu juga menegaskan kalau dia nggak suka kedekatan kamu sama Keona. Ibu mengatakan juga dengan tegas kalau kamu kuat dan dididik dengan baik meski kamu bukan anak kandung ibu."
"Apa pun ceritanya mereka bukan orang tua aku." Ujar Sebria tidak merasakan apa-apa. "Mereka membuang ku itu artinya aku tidak layak di inginkan." Gadis itu tersenyum mengandung kepahitan menatap Keona. "Kamu mungkin saudara kandung ku tapi aku nggak percaya begitu saja. Mari kita cocokkan DNA. Tapi meski pun kita cocok kita tetap berbeda."
"Enggak, kita sama nggak ada yang beda. Ayo kita lakukan tes itu. Aku tetap yakin kakak adalah kakak kandung ku. Kalau terbukti ayo pulang sama aku kak."
"Apa pun hasilnya aku tetap nggak bisa pulang. Mereka bukan orang tua aku, Keona. Aku cuma punya satu ibu yaitu ibu Adelia."
nyesek bnagettt..
masih mengutamakan shabat.
❤😍😍❤❤❤
ayusa pura2 baik2 saja..
padahal dia kan cinta ama jehan..
lama2 ya sakit2an gak terbalas cinta..
apalgipaaca melahirkan
😍😍😍❤❤❤
Next, lanjut Kak Ririn. 🥰