Assalamualaikum semua!!! perkenalkan namaku Nidah Maulidiyah 🤗 aku adalah seorang mahasiswi sekarang.. namun, aku ingin berbagi kisahku yang bertemu para sahabat yang selalu mengingatkanku perihal agama🤗 dimulai yang pertama aku kenal itu ada Ramani Andhara biasa dipanggil Rama. dia itu orangnya diam-diam perhatian. terus karakter yang aku kenal ke dua itu si Anjani Syafakillah biasa dipanggil Anjani. dia itu yang paling cerdas diantara kami semua dan seangkatan karena dia selalu juara umum 1 tuh. terus orang ke tiga yang aku kenal yaitu tak lain adalah alasan aku menceritakan kisahku yaitu Saridiah Nafisah. aku manggil dia Sari. Dia lah orang yang paling membuat aku kagum perihal agama. waktu di MA dia udah hafal 2 juz Qur'an.. minder banget mah aku sama dia tuh. Terus yang terakhir kukenal diantara kami berlima itu si Dilla Raffah biasa kupanggil Dilla. Nah, kalau yang ini sering bikin aku keinget dosa.. oke.. mulai sekarang ikuti kisah kami ber 5 yah✨🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon weni mawadah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gosip?
Nidah terdiam dan kembali mengingat tingkahnya yang menghindari Ramani dan Anjani. Serta ketidakpeduliannya sewaktu Ramani di gosipi yang macam-macam. “Sepertinya aku jadi buruk..” Ucap Nidah yang kemudian duduk menonton tv bersama keluarganya. Tanpa sengaja layar televisi menampilkan iklan produk keluarga si kembar dengan Alzy yang menjadi model iklannya. Sontak Ayah Nidah mengamuk dan langsung bergegas ingin pergi mengamuk ke rumah nenek itu. “Ayah.. gak usah biarin aja..” Ucap Nidah tersenyum mencoba melawan ketakutannya.
Ep. 24
“Apanya biarin?! Keluarga kaya raya itu benar-benar diluar batas! Mereka lupa ada banyak korban pelecehan dari si Albi itu.. meski pelaku nya sudah meninggal! Tetap saja kan! 3 anaknya itu kembar wajah yang sama tentu akan membuat kenangan pahit kembali teringat..” Ucap Ayah.
“Tenanglah ayah! Bang Alzy juga pelaku pelecehan.. cepat atau lambat pasti bisa dibongkar kok..” Ucap Nidah.
“Kamu gak papa nak?” Tanya Ummi.
“Nidah cuman Hampir kok.. dan InsyaAllah sekarang Nidah jauh lebih kuat.. alhamdulillah Nidah belajar bela diri dari Rahmat belakangan ini..” Ucap Nidah.
“Baik juga ternyata anak itu yah..” Ucap Ummi.
“Dan dia ternyata cerdas mi.. tapi, itulah setiap orang punya masa lalu yang merubah pemikirkannya dan perilakunya..” Ucap Nidah.
“Memangnya dia kenapa?” Tanya Ayah.
“Rahasia yah.. Nidah harus jaga rahasia dia.. hehehe..” Tawa kecil Nidah muncul kembali membuat ayah, umminya senang dan bersyukur.
Keesokan harinya, Bang Tino menunggu di depan kelas Nidah seperti wajah yang cemas. “Apa dia mencemaskan iklan bang Alzy itu?” Tanya Nidah dalam hati. Tino bergegas melangkah ke hadapan Nidah dan melihat Nidah dengan saksama. “Are u okay?” Tanyanya dengan Nidah tertawa kecil. “Yes I’m okay.. How about you senior? Why do you ask?” Tanya Nidah.
“Wah.. jago bahasa inggris ternyata.. syukurlah kalau kamu baik-baik aja..” Ucapnya.
“Iya.. tapi, kurasa ada banyak keluarga yang kesal liat tuh iklan sih.. Abang mau bantu ide Nidah gak?” Tanya Nidah.
“Hoi!!” Bentakan Umar terdengar dengan Tino yang ketakutan.
“Ngapain lu?! Nid.. jaga jarak sama nih bocah ya! Abang gak akan biarin nih bocah deket-deket Nidah jadi tenang aja yah..” Ucap Umar membuat Nidah tertawa sambil berkata “Awas bang tinonya bisa mati abang cekik kek gitu loh..”
“Manis woe..” Gumam kecil Tino terpukau melihat Nidah terdengar oleh Umar yang memperkuat cekikan lengannya. “Bang.. jangan gitu lah..” Ucap Nidah yang mulai panik dan Umar melepas cekikannya. Ramani yang baru datang hanya menunduk permisi lewat dan masuk kekelas. Umar dan Tino bingung dan mengingat Nidah yang sering sendirian belakangan ini dan semua gosip mengenai Ramani. “Apa kalian berkelahi?” tanya Tino.
“Tidak.. hanya sedang perang dingin saja.. tapi sebenarnya Nidah cuman mau sendirian aja emang..” Ucap Nidah yang menghela nafas melihat Ramani yang membuka buku dan terlihat bekas sembab di kantung matanya. “Sepertinya Nidah harus memperbaiki kesalahpahaman..” Ucap Nidah.
“Oiii! Nidah!! Lo! Udah disini aja! Aku tadi kerumah mau jemput tapi kamunya malah gak ada!” Ucap Rahmat dengan Nidah yang menatapnya tajam.
“Kan aku bilang jangan jemput aku lagi!” Ucap NIdah.
“Aku kesepian naik honda sendirian tau..” Ucap nada canda Rahmat yang membuat Nidah memukulnya sementara ada 4 mata tajam memperhatikan gerak-geriknya. “Pacarmu sendirian tuuh jalan kaki.. jemput dia aja! Aku gak mau di gosipin nantinya..” Ucap Nidah yang melihat Sri di lantai dasar sedang menuju ke lantai dua ingin ke koridor kelas.
“Nidah duluan yah bang..” Ucap Nidah masuk ke kelas dengan Rahmat ingin menyusul namun ditarik oleh Tino dan dibawah oleh Tino dan Umar pegi untuk interogasi. Rahmat bingung diam melihat 2 orang yang menatapnya dengan menyeramkan itu. Nidah kemudian mulai melihat Ramani yang tak memperhatikan sekeliling dan hanya diam. “Nid.. mau belik gak?” Tanya Hawa yang menawarkan jualannya.
“Apa itu?” Tanyanya.
“Pizza 2rebuuan..” Ucapnya dengan Nidah membeli 5.
“Eh.. mu masih musuhan sama Ramani?” Tanya Hawa membuat semua telinga mempertajam indra pendengaran mereka terhadap percakapan Nidah dan Hawa. “Siapa yang musuhan?” Tanya Nidah dengan wajah tanpa masalah. “Aku cuman mau sendiri dulu.. Aku kan juga gak ada main sama kalian.. emang kalian gak sadar?” Tanya Nidah.
Ramani terkejut dan menatap Nidah penuh selidik. “Ih.. tapi kata-katamu hari itu?” Tanya Hawa. “kenapa? Masalah kenapa jadi orang terdekat? Itu emosi sesaat doang aku yang salah.. cuman aku belum mau minta maaf karena masih mau sendiri aja..” Ucap nidah santai sementara Ramani bingung dan satu kelas menatap 2 orang itu secara bergantian. “Oiyah.. Kata Anjani ada gosip soal Ramani.. Apa aja gosipnya?” Tanya Nidah dengan Ramani yang mengepalkan tangan tak menyangka Nidah bisa-bisanya berbicara semudah itu saat Ramani ada disana. “Kalian kalau mau ngegosip tuh depan orangnya langsung gak bisa apa? Biar auto klarifikasi!” Ucap Nidah yang melihat ke arah Ramani yang menegakkan kepalanya dengan terkejut dan masih menyelidik apa tujuan Nidah.
“Katakan apa saja gosipnya?” Tanya Nidah menatap Ramani yang merasa dipermalukan.
“Banyak yang bilang bahwa sepupunya melakukan pelecehan hingga pembunuhan..” Ucap Hawa.
“Selain itu.. Dia pernah menikung temannya sendiri dalam urusan cinta..” Ucap Sri yang menyindir kedekatan Nidah dan Rahmat belakangan ini.
“Lalu?” Tanya Nidah.
“Dia juga diduga curang dalam ujian kelulusan di Sd” Ucap Hawa lagi.
“Kau cukup tau banyak gosipnya yah hawa?” Tanya Nidah.
“Namanya orang jualan dari kelas ke kelas..” Ucapnya.
“Sudah?” Tanya Ramani penuh emosi dana mata yang berkaca-kaca.
“Mengapa kau mau menangis? Jika itu tidak benar, jelaskan! Jelaskan pada kami! Kebenarannya!” Ucap Nidah.
“Itu tidak benar!! Aku tidak menikungnya.. Raja yang mengatakan menyukaiku! Bukan aku yang menyukainya.. bahkan aku juga sudah mencoba menghindarinya.. Namun, semua orang mengatakan aku mempermainkan perasaannya.. Lalu, sebenarnya apa yang mereka inginkan? Lalu soal sepupuku! Dia tidak berbuat sejauh itu sampai membunuh orang atau melecehkan.. Dia mencuri motor tetangganya.. aku tidak bisa bilang itu lebih baik.. tapi, dia tidak mengorbankan nyawa manapun..” Ucap Ramani menangis sambil menjelaskan.
“Mengapa kau tak menjelaskan sejak awal pada semua orang?” Tanya Nidah.
“Karena aku sudah pernah melakukannya dan tak ada yang percaya!! Mereka menyuruhku memberikan buktinya..” Ucapnya menangis di tonton teman sekelas.
Saridiah dan Anjan datang menenangkan dan memarahi semua orang. Bertanya “Siapa yang membuatnya menangis?!” Bentakan Anjani membuat semuanya terkejut dan melihat kearah Nidah.
“Aku hanya menyuruhnya menjelaskan kebenaran.. Lalu dia menangis..” Ucap Nidah.
“Kebenaran apa? Bukankah aku sudah menjelaskan padamu melalui surat?” tanya Anjani.
“Gosipnya tersebar di satu sekolah! Bagaimana bisa kau hanya menjelaskan padaku Anjani? Akan lebih baik jika satu sekolah mengetahui kebenarannya..” Ucap Nidah.
“Tapi, apa begitu caranya?” Tanya anjani yang menatap Nidah penuh amarah.
“Nice! Lalu? Apa kau pikir orang-orang akan lebih percaya padamu? Sementara Ramani sendiri diam seakan membenarkan semua gosip itu..” Tanya Nidah membuat anjani paham.
“Sekarang? Aku mau tanya pada kalian semua yang ada disini! Kebenaran apa lagi yang ingin kalian tau dari Ramani?” tanya Nidah.
“Bukti?” Tanya Yusuf.