Zara berusia 24 tahun dan akan segera menikah dengan kekasihnya. hanya karena sebuah kesalahan di masa lalunya yang tidak ia ceritakan pada kekasihnya yang sudah menjadi suaminya, membuat pernikahan mereka menjadi hancur. ia di hina dan di caci maki di depan semua orang hingga membuat mentalnya benar-benar down hingga datanglah teman sekolahnya waktu SMA yang membantu Zara dalam mengatasi keterpurukan itu
Akankah Zara bisa bangkit dan menemukan pasangan yang tepat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonaniiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PINDAH KE APARTEMEN
"Nggak perlu kayak gini juga kali mas." kata Zara dengan membawa kopernya.
pindahan mendadaknya tentu saja membuat teman-teman kosnya bingung tapi mereka memilih diam saja karena mereka menghargai privasi.
Dan kini, Ali dan Zara tengah menuju ke apartemen milik Ali. Zara juga terpaksa mengiyakan permintaan Ali karena jujur saja ia setelah adanya kiriman foto tentang dirinya dan Ali, ia menjadi was-was dan tidak bebas bergerak. Ia juga terus merasa jika ada orang yang diam-diam mengikutinya.
"Disana jauh lebih aman. hampir semua kenal sama aku jadi kamu bakalan lebih aman di sana. Di sana juga deket sama rumah aku jadinya aku gampang kalau ada apa-apa." ujar Ali.
"Bunda tau?" tanya Zara yang di angguki Ali.
"Bunda udah lama ngasih saran ini tapi kamu nya aja yang keras kepala." kata Ali.
"Maaf...aku nggak mau terus ngerepotin kamu." kata Zara
"Hilihhh dari awal ketemu pun selalu ngerepotin." cibir Ali yang membuat Zara terkekeh saja.
"Ya kita ketemunya di waktu yang nggak pas." kata Zara yang membuat Ali hanya menatapnya dengan malas saja
Beberapa saat kemudian, kini sampailah mereka di apartemen Ali. pria itu membawa dua koper sementara Zara hanya ikut di belakangnya saja. Ia membuka pintu apartmentnya dan terlihat bagaimana suasana di dalamnya.
"Kamu serius, nyuruh aku tinggal di sini mas?" tanya Zara yang merasa tidak enak.
"Iya sayang. Udah cepetan masuk ngapain bengong di luar, bantuin aku loh." kata Ali yang membuat Zara sadar dan bergegas untuk membantu Ali.
Ia meletakkan koper Zara di kamar dan menunjukkan semua ruangan di apartemennya agar Zara bisa bebas keluar masuk. Ya bagi Ali, miliknya juga milik Zara apalagi wanita itu akan menjadi istrinya. pertama kalinya juga Ali membawa seorang wanita ke apartemennya.
Jam menunjukkan pukul 10 malam. Sementara cuaca di luar malah hujan deras di sertai angin. Melihat hal itu dari jendela apartemen membuat Zara mau tidak mau membiarkan Ali tetap bersamanya karena tidak mungkin ia akan membiarkan Ali pulang dalam cuaca seperti itu. Tentu ia takut jika sesuatu yang tak di inginkan terjadi.
"Yaudah kalau itu mau kamu, aku disini aja. lagian di luar juga hujan deras. Aku telpon bunda dulu." kata Ali yang di angguki Zara.
"Mas, mau aku bikinin kopi atau teh?" tanya Zara yang membuat Ali menoleh saat tengah berbicara dengan ibunya. Sementara di sisi lain tepatnya di rumah Ali, Lidia hanya tersenyum saja mendengar suara Zara.
"Kopi boleh." kata Ali kemudian menutup panggilannya.
Zara membawa dua cangkir kopi dan camilan yang ada di kulkas kemudian ia taruh di atas meja. Ali yang melihat itu benar-benar seperti melihat pemandangan yang begitu menyejukkan. Walaupun ibunya juga melakukan hal yang sama tapi entah kenapa jika dengan Zara rasanya begitu berbeda.
"makasih ya kopinya. Waktunya ngopi di temani wanita cantik uhuyyy." kata Ali dengan terkekeh membuat Zara tertawa.
"Apaan sih." kata Zara.
"Ya aku nggak pernah loh, hujan hujan gini terus ngopi di temani cewe, baru kamu. apartemen ini jarang aku tempati karena aku lebih sering di rumah." kata Ali.
"makasih ya mas." kata Zara.
"Makasih buat apa?" tanya Ali.
"Semuanya." jawab Zara yang membuat Ali menoleh dan menatap Zara dengan menghela nafasnya.
"udah berapa kali kamu bilang makasih terus hari ini." kata Ali.
"ya aku ngerasa beruntung aja ada kamu." ujar Zara.
Ali meletakkan kopinya dan membawa Zara ke pelukannya. Tidak banyak kata yang bisa dia katakan pada Zara tapi dalam lubuk hatinya ia begitu mencintai wanita itu dan ia tidak peduli bagaimana masalalunya.
Zara mendorong pelan Ali agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan. Di ruangan tertutup dan hanya berdua saja, tentu Zara tahu apa yang akan terjadi jika tidak ada benteng tinggi yang harus ia buat.
"Aku nggak bakal aneh-aneh, cuma meluk." kata Ali dengan tersenyum dan kembali memeluk Zara lagi.
"Apa harus aku kasih pelajaran." kata Ali.
"Siapa?" tanya Zara.
"Yang udah memata-matai kamu." kata Ali.
"Kamu tau siapa orangnya?" tanya Zara.
"Kayaknya tau, siapa lagi yang bisa berbuat itu. Kalau kamu mau aku bisa ngasih dia pelajaran." kata Ali membuat Zara terkejut.
Zara hanya menggelengkan kepalanya saja. Baginya, bersama Ali saja sudah lebih dari aman dan ia tidak perlu perlindungan lagi. Ya, wanita itu menemukan kenyamanan dan merasa aman jika tengah bersama Ali. Perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan kini kembali lagi.
Tidak ada yang tahu bagaimana masa depan akan terjadi, hanya saja untuk sekarang, Zara hanya akan berdoa saja agar semuanya berjalan lancar dengan ending yang bahagia seperti impiannya.
Di apartemen Ali hanya ada satu kamar utama, dan Ali lebih memilih tidur di sofa sementara Zara tidur di kamar utama. di kamar, Zara memperhatikan sekelilingnya yang nampak begitu rapi dan bersih, tapi tatapannya teralihkan pada sebuah foto yang membuatnya tertarik dan mengambilnya
Ia hanya terkekeh saja melihat foto SMA Ali karena jika di bandingkan dengan sekarang sungguh sangat jauh berbedaanya. Memang benar, kita akan berkembang dengan sendirinya tanpa di sadari, dan itupun terjadi pada Ali.
Beribu-ribu syukur selalu Zara ucapkan, bahkan hampir setiap malah ia selalu menangis terharu karena masih ada yang sudi memungut sampah sepertinya. dan apalagi orang yang memungutnya adalah teman SMA dulu. Membayangkan saja bukankah tidak akan mungkin terjadi padanya tapi, semua itu tak lepas dari campur tangan Allah.
Zara membawa selimut keluar agar di pakai oleh Ali. terlihat dari kejauhan jika pria itu tengah terbaring sambil menyilangkan tangannya di sofa tanpa selimut. Setelah memastikan jika Ali sudah tertidur, ia pun langsung menyelimuti tubuh pria itu sehangat mungkin sambil menatapnya dengan senyum kecil.
Wajah yang begitu menenangkan saat tidur dan begitu gagah saat terbangun. Apakah pemandangan seperti itu yang akan Zara liat setiap pagi dan sebelum tidur jika sudah menjadi istri Ali? ia hanya menggelengkan kepalanya saja karena membayangkan terlalu jauh.
"Sayang, belum tidur?" ucap Ali dengan suara seraknya.
"Mau tidur kok. Aku cuma ngasih kamu selimut karena di luar dingin." kata Zara
"Aku nggak papa. kamu aja yang pakai." kata Ali yang membuat Zara menghela nafas saja.
"Udah kamu pakai. Aku ke kamar sekarang." kata Zara.
"Hufffttt kenapa hari jalannya lambat banget sih." gerutu Ali dengan kesalnya. Karena jika sudah menjadi suami istri ia tidak perlu lagi melakukannya apalagi sampai pisah ranjang .