Terjerat kasus perjodohan menjadikan Dianti harus menanggung segala sesuatu yang berkaitan dengan harta. Gadis itu dijodohkan oleh Ibu kandungnya dengan anak saudagar kaya bernama, Bagas.
Perjodohan ini diikrarkan setelah perjanjian di atas kertas selesai ditandatangani. Dianti dilema, karena merasa kehilangan arah. gadis tersebut nekat ingin bunuh diri dengan cara terjun dari atas jembatan gantung.
Dari sinilah, pertemuan antara Richie dan Dianti terjadi. ketidaksengajaan membuat mereka bertemu dengan kemelut masalah masing-masing. Richie Mahendra yang sedang mencari pembunuh ke dua orang tuanya menolong Dianti yang tengah putus asa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renja Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lencana Tingkat Kehormatan
Tepat ketika pintu depan terbuka, sepasang kaki memakai sepatu heels kecil menjorok ke samping menginjak tanah.
Pemilik sepatu tersebut menyembulkan kepala kemudian keluar dengan kepala tertunduk, dari balik kemudi pemilik Rajawali Group juga ikut turun.
Mereka berjalan beriringan menghampiri Rumi dengan ekspresi terkejut. " Kalian! " wanita paruh baya sedang berdiri itu, menutup mulut tidak percaya.
Lantas bola matanya melirik ke arah berlawanan. Dan sesuai dugaan Abu yang tengah menyalakan mesin, kembali memutar kunci.
Ketakutan tampak jelas di wajah sang pemilik rumah tersebut. Rasa khawatir akan menunda atau bahkan membatalkan pernikahan menari-nari di kepalanya.
Setelah Dianti akan menyentuh tangga kayu, Rumi seketika mengubah raut wajahnya. Ketegangan itu telah berganti menjadi rasa geram tidak tertahan.
Wajah dengan garis halus di dahi, berubah merah. Mengangkat sebelah alisnya " Masih ingat pulang rupanya! ". dianti menghentikan langkah.
Siapa lagi penerima semburan bisa itu jika bukan Dianti. Tatapan menyiratkan beribu kemarahan. Wanita paruh baya itu bahkan tidak lagi mengkhawatirkan tentang posisinya sekarang.
Yang jelas lebih memilih fokus menceramahi terhadap gadis didepannya. Dengan cepat dia turun dari tangga, " Berapa lembar rupiah lelaki ini lemparkan terhadapmu?! ". Suara Rumi naik satu oktaf.
Matanya memerah dengan dada naik turun, sudah jelas menggambarkan kemarahan teramat yang siap ditumpahkan. Dan sasaran empuk untuk menyalurkan kemurkaannya adalah anak gadis sendiri.
Memindai tubuh Dianti, lagi dan lagi Rumi dibuat semakin murka " Aa,, sehelai kain dan sepatu kuno, rupanya? . Kau menjual nama baik Ibumu hanya segelintir barang tidak ternilai? ".
Dianti masih terus menunduk mendapat sindirian halus. Bahkan untuk mendongak saja tidaklah mampu.
Benar, semua yang terjadi atas ulahnya. Terlepas dari sikap angkuh selalu terlihat di permukaan. Gadis itu tetaplah tidak lain hanya sehelai sayap kupu-kupu mudah patah.
Bagaimanapun,Rumi adalah seorang Ibu. Berlindung dari serangan manapun sejak lahir, tameng terkuat menghadapi segala bentuk konflik adalah bersama Ibunya.
Ingatlah, itu dulu bukan sekarang.
Melirik dengan tajam mobil tua di sampingnya berada. Merasa jelas akan timbul huru hara yang pasti akan menyentil lencana tingkat kehormatan.
" Maaf, " masih dengan kepala tertunduk. " Sebelum pergi bersamanya, pria dia sampingku. Aku sudah meminta izin untuk menyelesaikan semuanya dengan cepat ".
" Izin apa? ". Suara itu, bukan berasal dari Rumi. Tetapi pria tua yang turun dari mobil classic.
Penuh keangkuhan dia berjalan. " Tidak mungkin putraku memberi izin membawa calon istrinya sendiri pergi bersama lelaki lain. Kecuali kau sendiri yang mendesak! ".
Melemparkan tatapan tajam. " Mungkin kau lupa dari keluarga mana dirimu berasal, menilai dari penampilanmu sekarang. Sepertinya lelaki inilah yang mengajarimu tentang caranya berpakaian ! ".
Richie yang mendapat tatapan sinis dari Rumi dan Abu, berbalik menatap tajam tanpa berkedip. Beradu argumen dengan sepasang manusia keras kepala, membuat Richie enggan memutuskan kontak mata.
Rumi yang lebih dulu menyadari lemparan mata dingin itu langsung bergidik. Menelan ludahnya saja dia harus bersusah payah.
Lalu pandangannya teralih. " Cepat katakan, dari mana dirimu Dianti! ".
Tidak langsung menjawab, kepalanya mulai terangkat membalas pemilik mata tua yang melayangkan pertanyaan begitu angkuh.
" Bagas sendiri yang memberikan izin aku tidak sedang membual atau berhalusinasi. Pria itu, ah maaf putra anda, dia sendiri yang menyuruh pergi untuk menyelesaikan urusan ! ".
Abu berdecak , api yang mulai padam kembali menyala dengan sikap pembelaan dari calon menantu. Jika bukan karena putranya terlanjur jatuh hati, sudah jelas pernikahan dengan tema pertukaran harta tidak akan pernah terjadi.
Sebagai seorang Ayah, tentu kata yang telah diucap pantang untuk di tarik kembali. Kebahagiaan seorang anak merupakan puncak tertinggi mendapat gelar orang tua terbaik sepanjang sejarah, menurut Abu.
Berkacak pinggang. " Ini hasil didikanmu Rumi. Anak tidak tahu diri, mulai berani menyangkal ucapan orang lebih tua. Apa kau lupa, jika aku adalah mertuamu. Begitu pula ingatlah posisimu berada di bawahku! ".
Dianti dengan sikap tenangnya terkekeh, sejenak menundukkan kepala kemudian tersenyum tipis. Lencana tingkat kehormatan benar-benar sedang beradu tingkatan.
Si kelas bawah dan golongan kelas atas, hanya kelas atas karena julukan warga desa menganggapnya seorang Juragan saja, perlu diingat.
" Ck, Paman terlalu berlebihan. Sejak kapan aku berani membantah ucapan orang tua, tidak sedikitpun malah. Jika paman lupa, di saat aku menolak perjodohan itu, jika tidak melihat wajah Ibu yang begitu berharap. Maka bukan tidak mungkin, Paman tidak akan menjadi mertuaku. Haish, ralat calon mertua tentu saja! ".
Wajah Rumi berubah pias, adegan bersitegang urat ini jika tidak dihentikan petaka akan jatuh menimpanya. Pencapaian meraup harta sepertinya akan menjadi angan-angan.
Dengan gerakan cepat, Rumi mendekati Dianti. Tanpa banyak bicara.
Plakkk
Sebuah tamparan dijatuhkan, " Lancang. Siapa yang mengajarimu bersikap tidak sopan terhadap mertuamu! ".
Dianti meringis memegang pipinya memerah hasil dari bekas tamparan. Jauh dari perkiraan, Dianti berpikir setelah upaya pengorbanan dilakukan akan mengubah suasana hati Ibunya menjadi sedikit lembut.
Akan tetapi, kenyataan berpihak lain. Rumi, tetap saja bersikap kasar setelah apa yang di dapatkan sudah hampir tercapai.
Alih-alih menatap Dianti yang mulai berkaca-kaca, Richie mendekat sembari merangkul tubuhnya. " Mundurlah, aku akan mengatakan semuanya kepada Ibumu ."
Dengan lembut, Richie membawa Dianti menjauh dari sekitar mereka. Dalam keadaan masih syok karena pelampiasan amarah Rumi, Dianti hanya menurut tanpa sanggahan.
" Oh sedang menjadi pahlawan kau?! ". Wanita paruh baya itu menggeleng tidak percaya atas apa yang di lihat mata kepalanya sendiri.
Richie memejamkan matanya sejenak guna meredam perasaan marah sejak tadi bersembunyi. Matanya terbuka" Bukankah anda adalah seorang Ibu yang menjual putrinya sendiri kepada Pria Tua itu, benar ! ".
Rumi terkejut, keningnya berkerut lalu memicingkan pandangannya. " Kau, pria tadi pagi, mengaku sebagai kenalan Dianti benar? ".
Richie terkekeh, senyum yang muncul pada bibir tidak lebih sebuah seringai tipis sebagai salam jumpa. " Ingatanmu sangat jernih, Bibi. Aku mengira kejadian tadi pagi yang sempat akan membuatmu resah sebab kehadiranku pastinya akan mempengaruhi misi balas dendamu, bukan? ".
Sengaja, yah Richie sengaja memancing kesabaran Rumi. Dia mengalihkan topik pembahasan menjadi sedikit melenceng dari arah jalurnya perjodohan.
Masih berdiri dengan tegap, pria itu menatap dingin mereka berdua, Abu dan Rumi. Raut wajah tidak mudah, begitu misterius dan terselubung.
Tindakan Richie yang begitu angkuh membangunkan kesombongan Abu yang telah lama terdiam. Pria paruh baya itu, tidak melerai Rumi yang tengah menampar Dianti.
Justru kehadirannya, membalikkan keadaan agar tetap diam tidak perlu bertindak. pertikaian kecil ini hanya di miliki keluarga mereka bukan keluarganya.
Prinsip yang dimiliki Abu, masih kental di ingat walaupun rambut hampir memutih sempurna.
Sebuah prinsip tidak akan mencampuri urusan mereka yang berada jauh dari pokok pembahasan melibatkan dirinya.
Mana mungkin dia akan peduli terhadap calon menantunya mendapat perlakuan tidak mencerminkan dari seorang Ibu . Apalagi mengingat gadis itu sendiri lebih memilih pria kaya dan tampan menurut Abu.
Entahlah pria tua itu merasa mengenal pria di depannya. Seakan telah lama bertemu, tentang kapan dan dimana lupa akan hal itu.
Richie mengeluarkan kartu tanda pengenal, logo sang penguasa langit di sertai nama dan perusahaan. Tertera jelas pada kartu tersebut.
" Rajawali Group, bergerak di bidang teknik furnitur dan pemilik sekaligus pengusaha kebun teh terbesar di kota ini. Richie Mahendra, jika dirimu lupa Bibi! ".
Mengatakan secara gamblang tentang dirinya, nama perusahaan berikut dengan namanya sendiri. Perlu diakui, Richie memang begitu berani, menantang ras terkuat di bumi.
Rumi menerima kartu tersebut dengan, membacanya sekilas kemudian membolak balikkan kartu tersebut dengan cepat.
Pada posisi Dianti sendiri, gadis itu ikut terkejut. Keterkejutan hingga mengingat suatu hal yang belum lama ini melihat benda itu.
" Apakah? ", membulatkan mata " Tidak, itu pasti tidak mungkin.