Pertemuan tak sengaja di sebuah klub malam antara seorang konglomerat dingin dan gadis malang yang terikat kontrak terlarang, memicu badai asmara, rahasia tersembunyi, serta ujian restu keluarga yang mengancam hubungan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daisysy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Houten?
Matahari siang bulan September memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan, memantul megah di atas fasad kaca biru gedung pusat logistik internasional Zefs Houten Group yang berdiri kukuh di kawasan pelabuhan utama Rotterdam, Netherlands. Pukul satu siang lewat sepuluh menit, mobil sedan hitam berplat khusus keluarga Thorne berhenti dengan mulus di depan lobi utama. Victor Thorne melangkah keluar dengan setelan jas abu-abu arang yang dipotong pas badan, memancarkan aura kekuasaan dan ketegasan mutlak seorang pewaris imperium bisnis Eropa.
Di ruang kerja pribadi lantai paling atas—sebuah ruangan luas berdesain klasik modern yang didominasi oleh rak-rak buku kayu mahoni tua dan jendela kaca raksasa yang langsung menghadap ke arah kapal-kapal kargo raksasa yang berlabuh—Sammuel Zefs Houten telah menunggu kedatangannya. Sang taipan pelayaran senior itu berdiri menyambut dengan senyuman lebar, mengulurkan tangan kanannya untuk menyambut Victor.
"Selamat siang, Victor. Senang melihatmu kembali menampakkan wajah di kantorku setelah penandatanganan semalam," sapa Sammuel hangat, suaranya yang berat menggema di dalam ruangan yang tenang itu.
"Siang juga, Tuan Sammuel. Kehormatan besar bisa melanjutkan diskusi strategis ini di markas besar Anda," balas Victor sopan, menjabat tangan pria tua itu dengan mantap sebelum duduk di kursi kulit di seberang meja kerja besar.
Pertemuan bisnis siang itu berjalan dengan sangat intensif namun cair. Selama lebih dari dua jam, mereka membahas klausul akhir mengenai integrasi jalur logistik rantai pasok global antara perusahaan keluarga Thorne dan jaringan pelayaran Zefs Houten. Victor menunjukkan kecerdasan finansial dan insting bisnis tajam yang membuat Sammuel berkali-kali mengangguk kagum. Bagi sang taipan tua, Victor bukan sekadar anak muda pewaris tahta, melainkan seorang pemimpin visioner yang memiliki ketegasan luar biasa.
Menjelang akhir sesi diskusi ketika berkas-berkas terakhir ditutup dan dirapikan di atas meja, pandangan mata Victor secara tidak sengaja teralih ke sudut meja kerja Sammuel. Di antara tumpukan dokumen hukum dan laptop eksekutif, berdiri sebuah bingkai foto perak tua yang tampak sangat dijaga kebersihannya.
Victor tertegun sejenak.
Foto di dalam bingkai itu adalah potret keluarga yang hangat. Seorang pria paruh baya yang tampak mirip dengan Sammuel di masa muda merangkul seorang wanita anggun berambut hitam panjang, didampingi oleh dua orang anak yang masih kecil—seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun dan seorang anak perempuan manis berusia sekitar sepuluh tahun dengan senyuman cerah dan binar mata yang begitu hidup.
Sammuel yang menyadari arah pandangan Victor, perlahan menghentikan gerakannya. Ia menghela napas panjang, sebuah tarikan napas berat yang sarat akan kerinduan dan beban emosional yang mendalam. Senyuman di wajah sang taipan tua memudar, digantikan oleh sorot mata redup yang menatap nanar ke arah foto tersebut.
"Kau melihatnya, Victor?" suara Sammuel bergetar pelan, kehilangan wibawa bisnisnya seketika, menyisakan sisi rapuh seorang ayah.
Victor mendongak, menatap Sammuel dengan dahi sedikit berkerut. "Maaf jika saya lancang, Tuan Sammuel. Keluarga yang indah. Tapi... ada sesuatu yang mengganjal di mata Anda."
Sammuel tersenyum hambar. Ia meraba bingkai foto itu dengan ujung jarinya yang keriput. "Itu adalah keluargaku, Victor. Istriku, Amartha, dan kedua anakku, Steven dan Freya."
Mendengar nama tersebut, alis Victor sedikit terangkat, namun ia tetap diam mendengarkan.
"Beberapa tahun lalu, badai besar menghantam hidupku," lanjut Sammuel dengan suara berat yang hampir berbisik. "Konflik bisnis yang kotor, ancaman dari para pesaing maritim yang kejam, membuat keselamatan keluargaku terancam di ujung tanduk. Demi melindungi mereka dari kejaran musuh-musuhku, aku terpaksa membuat keputusan paling menyakitkan seumur hidupku... aku mengirim mereka pergi secara diam-diam ke luar negeri, menyembunyikan identitas mereka."
Sammuel mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam mata biru Victor dengan sorot penuh kepedihan. "Hingga hari ini, setelah badai itu reda dan musuh-musuhku telah disingkirkan oleh hukum, aku tidak pernah berhasil menemukan keberadaan mereka. Istriku dan kedua anakku lenyap ditelan bumi. Aku telah mengerahkan seluruh jaringan detektif partikelir di seluruh Eropa, namun hasilnya nihil."
Victor mendengarkan cerita itu dengan perasaan yang bercampur aduk. Sebagai seorang pria yang juga sedang berjuang melindungi wanita yang dicintainya dari intrik keluarga dan ancaman luar, ia bisa merasakan kepedihan luar biasa yang meremukkan dada sang taipan tua.
Namun, ada satu detail kecil yang mendadak menghantam pikiran Victor bagaikan sengatan listrik tak kasat mata.
Amartha, Steven, Freya.
Nama itu sangat mirip dengan Freya adiknya dan mamanya.
Victor kembali melirik sekilas ke arah bingkai foto perak tersebut. Anak perempuan kecil berambut hitam kecoklatan dengan senyuman manis di foto itu... jika ditarik garis waktu dan dibayangkan dalam bentuk dewasa, fitur wajahnya memiliki kemiripan yang luar biasa dengan Freya Zivanka—gadis berambut hitam kecoklatan yang kini sedang menunggunya di penthouse tersembunyi di pinggir hutan kota Amsterdam.
Jantung Victor berdegup sedikit lebih kencang. Ia terdiam sesaat, mencoba merasionalisasi pikirannya. Tidak mungkin, batin Victor menepis cepat. Dunia ini terlalu luas. Nama 'Freya' adalah nama yang lumrah di Eropa. Dan latar belakang keluarga Freya Zivanka adalah keluarga miskin di Amsterdam yang berjuang membiayai pengobatan ibu dan kuliah adiknya, Steven.
Tidak ada kaitan logis antara gadis simpanannya itu dengan seorang taipan pelayaran raksasa bernama Sammuel Zefs Houten. Victor memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan kebetulan yang tidak masuk akal itu. Ia mengendalikan ekspresinya kembali datar, lalu menepuk pelan meja kerja Sammuel untuk memberikan penghiburan profesional.
"Saya turut prihatin mendengar kisah Anda, Tuan Sammuel," ucap Victor tulus. "Semoga suatu hari nanti takdir mempertemukan Anda kembali dengan keluarga yang Anda cintai."
Sammuel mengangguk pelan, tersenyum pahit sambil menyeka sudut matanya. "Terima kasih, Victor. Mendengarkannya saja sudah sedikit meringankan beban di dadaku."
Setelah menyelesaikan urusan terakhir dan menandatangani dokumen kerja sama resmi, Victor akhirnya pamit undur diri dari ruang kerja Sammuel. Ia berjalan keluar gedung ditemani pengawalnya, masuk ke dalam mobil sedan hitam, dan segera meluncur meninggalkan kawasan pelabuhan Rotterdam menuju apartemen pribadi miliknya yang terletak di pusat kota Netherlands sebelum penerbangannya kembali ke Amsterdam esok hari.
Mobil melaju membelah jalan raya tol Amsterdam-Rotterdam yang lengang. Di dalam kabin yang senyap dan ber-AC sejuk, Victor menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, menutup matanya sejenak untuk meredakan kepenatan setelah seharian bernegosiasi bisnis.
Tiba-tiba, getaran halus dari ponsel pintarnya memecah keheningan. Layar menyala terang, menampilkan notifikasi pesan masuk dari aplikasi perpesanan privat.
Victor membuka kunci layarnya. Nama Freya terpampang di sana, disertai sebuah lampiran foto.
Tanpa sadar, sudut bibir Victor terangkat membentuk senyuman tipis. Ia membuka foto tersebut.
Di dalam foto itu, tampak Freya sedang duduk di sebuah sofa empuk bersama adik laki-kelakinya, Steven. Wajah Freya tampak begitu ceria, natural, tanpa polesan makeup berlebihan, sedang tertawa lepas sambil menyuapkan sepotong cake berlumuran krim strawberry ke mulut Steven. Sang adik terlihat protes dengan ekspresi lucu, sementara di latar belakang, suasana penthouse tampak hangat dan hidup.
Tidak ada lagi bayang-bayang ketakutan atau kesedihan di wajah Freya. Yang terlihat hanyalah kebahagiaan murni seorang kakak yang menikmati waktu berharganya bersama keluarga kecil yang ia sayangi.
Victor menatap foto itu cukup lama. Rasa rindu yang asing mendadak menghantam dadanya dengan telak. Selama bertahun-tahun hidup dalam kesendirian, dikelilingi oleh ambisi bisnis, intrik keluarga, dan dinginnya tembok-tembok korporat, ia tidak pernah menyangka bahwa kebahagiaan sederhana seorang gadis bisa membuatnya merasa begitu terpikat.
Tidak lama setelah foto itu terkirim, sebuah pesan teks menyusul dari Freya:
“Victor... bagaimana urusan bisnis di sana? Semoga berjalan lancar ya! Oh ya, Mumpung Steven sedang menginap dan menemaniku di sini, bolehkah aku meminta izin untuk pergi keluar sebentar besok siang? Aku ingin menjenguk Mama di rumah sakit. Sudah beberapa hari aku tidak mengunjunginya, dan aku sangat merindukannya. Aku janji akan ditemani oleh Steven dan berhati-hati. Bolehkah?”
Victor membaca pesan itu dengan seksama. Alisnya sedikit bertaut, bukan karena marah, melainkan karena rasa khawatir. Mengingat ancaman tersembunyi dari Annelise yang sewaktu-waktu bisa saja mengawasi gerak-gerik Freya, membiarkan gadis itu keluar dari penthouse menuju tempat umum seperti rumah sakit adalah sebuah risiko keamanan yang cukup besar.
Namun, Victor juga tahu persis betapa berartinya sang ibu bagi Freya. Menahan gadis itu tetap terkurung di dalam penthouse tanpa boleh menjenguk orang tua yang sedang sakit parah adalah sebuah tindakan egois yang tidak ingin dilakukan oleh Victor.
Victor mengetikkan balasannya dengan cepat dan penuh ketegasan:
“Kau boleh pergi menjenguk Mama di rumah sakit, honey. Tapi ingat syaratku: jangan pergi sendirian. Steven harus selalu berada di sampingmu, dan aku akan mengerahkan tim pengamanan khusus dari Markuz untuk mengawasi setiap langkah kalian dari jarak dekat. Jangan lepaskan pengawal dari pandanganmu. Paham?”
Tidak sampai sepuluh detik kemudian, balasan dari Freya langsung masuk:
“Siap, Boss! Terima kasih banyak, Victor. Kau memang yang terbaik. Hati-hati di sana, cepat pulang ya!”
Victor menggelengkan kepalanya pelan, tersenyum kecil membaca balasan penuh semangat itu. Ia segera menutup aplikasi perpesanan, lalu membuka kontak langsung ke nomor Markuz.
"Markuz," panggil Victor begitu sambungan telepon satelit terhubung dengan asisten setianya di Amsterdam.
"Ya, Tuan? Ada instruksi mendadak?" suara Markuz terdengar siaga di ujung sana, meskipun hari sudah menjelang petang.
"Besok siang, Nona Freya akan meninggalkan penthouse untuk sementara waktu guna menjenguk ibunya di rumah sakit pusat kota ditemani adiknya, Steven," perintah Victor dengan nada suara yang rendah, dingin, dan penuh penekanan mutlak. "Aku ingin kau mengerahkan unit pengamanan terbaik kita. Pastikan ada minimal tiga orang agen berpakaian preman yang mengawasi mereka secara ketat dari jarak dekat. Jangan biarkan ada celah sedikitpun bagi orang-orang Annelise atau pihak luar manapun untuk mendekati mereka."
Di ujung sana, Markuz mencatat setiap instruksi tanpa membantah sedikit pun. "Baik, Tuan. Saya akan memimpin langsung pengawasan di sekitar rumah sakit besok siang. Nona Freya dan adiknya akan dijamin aman tanpa mereka sadari."
"Bagus," ujar Victor. "Pastikan semua berjalan tanpa cela. Aku akan terbang kembali ke Amsterdam besok pagi setelah penerbanganku selesai."
Victor menutup sambungan telepon tersebut. Ia meletakkan ponselnya di atas meja nakas kamar apartemen mewahnya di Rotterdam, lalu melangkah pelan menuju jendela kaca besar yang menghadap ke arah kerlap-kerlip lampu kota di malam hari.
Meskipun jarak memisahkan mereka ratusan kilometer, pikirannya tetap terpaku pada gadis berambut hitam kecoklatan di Amsterdam sana. Badai intrik keluarga Thorne, ancaman Annelise yang licik, hingga misteri foto masa lalu di meja kerja Sammuel berputar silih berganti di kepalanya. Namun satu hal yang pasti di dalam hati Victor Thorne: apapun yang terjadi, ia akan memastikan bahwa kebahagiaan yang tergambar di wajah Freya lewat foto cake strawberry tadi sore tidak akan pernah bisa direbut oleh siapapun di dunia ini.