Lukas hidup dengan anaknya yang baru berusia 8 tahun. Ia mengira hidupnya sudah tenang, tapi orang dari masa lalu berhasil menemukannya dan mulai melanjutkan teror yang mereka lakukan 8 tahun lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alea Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Lokasi itu sudah ramai. Orang banyak sudah berkumpul untuk melihat pria yang diikat dengan lakban di tepi jembatan layang. Yang orang itu bukan lain adalah Hadi Saputra, adik dari Guntur.
Bara dan Fajar masih berada di sana. Hadi juga sudah diamankan dari tempat dia diikat. Banyak petugas kepolisian lain yang juga ada di sana. Beberapa petugas forensik juga sudah tiba. Banyak orang ramai memperbincangkan peristiwa ini.
Beberapa saat kemudian, sebuah mobil sedan berhenti di dekat lokasi kejadian. Guntur dan beberapa orangnya turun dari mobil.
"Bara, dimana dia? Aku ingin bicara dengannya sebentar, setelah itu kamu boleh membawanya pergi." Guntur terlihat dan terdengar begitu lembut dan sopan kali ini.
"Maaf, Pak Guntur. Tapi saya tidak tahu, apakah Bapak bisa bicaranya dengannya saat ini." Bara mengantar Guntur ke tempat Hadi. Dan pria itu sudah dalam keadaan tanpa nyawa.
Bara mundur beberapa langkah dan membiarkan Guntur melihat sendiri apa yang terjadi pada adiknya. Fajar berjalan mendekati Bara.
"Pak, ini benar-benar memuaskan saya. Apa yang sebenarnya Bapak lakukan?" tanya Fajar masih tak percaya.
"Nanti saja. Akan saya ceritakan semuanya nanti." Bara menolak menjawab pertanyaan Fajar.
Saat Bara dan Fajar baru saja selesai bercapak-cakap singkat tadi, Guntur mundur ke belakang. Ia menarik Bara.
"Hei, Setan! Apa yang kamu lakukan pada adikku? Hah?!" teriak Guntur marah di depan banyak orang itu.
"Tidak ada Pak. Saya baru saja datang dan bukan saya yang melihatnya digantung seperti itu. Kalau tidak percaya, Bapak boleh bertanya pada yang lain. Silahkan! Kalau memang terbukti saya yang salah, bapak boleh membawa saya ke pengadilan. Silahkan!" ucap Bara dengan ekspresi berpura-pura takut.
Guntur tak bisa bicara. Belum ada bukti yang menyatakan kalau Bara bersalah. Dan ia juga tidak bisa menuduh sembarang di depan orang banyak, atau itu akan membahayakan reputasinya.
"Dokter! Dokter! Bagaimana hasil pemeriksaannya?" Bara memanggil dokter yang memeriksa jenazah Hadi dan bertanya soal bukti-bukti yang ditemukan.
"Iya Pak. Dari hasil pemeriksaan, jelas ini adalah kasus pembunuhan yang brutal. Korban diperkirakan sudah disiksa sejak dua sampai tiga hari yang lalu. Penyiksaannya juga dilakukan terus menerus. Ada pendarahan dalam di beberapa area karena hantaman benda yang cukup keras. Adanya pendarahan yang tidak segera ditangani dan semakin menjadi karena penyiksaan yang terus menerus, bisa jadi menjadi penyebab kematian korban. Dan naasnya lagi, pelaku merusak organ ******** korban." Dokter menjelaskan hasil pemeriksaannya.
Bara memperhatikan semua yang dikatakan dokter itu, seakan-akan dia tak tahu apa yang terjadi pada Hadi. Guntur juga mendengar penjelasan dokter itu dan menjadi sangat emosional.
"Lalu, apakah sudah ada petunjuk tentang pelaku pembunuhan terhadap korban?" tanya Bara pada petugas lain yang memang bertugas untuk mencari bukti-bukti pelaku.
"Kasus ini cukup rumit Pak. Karena dilakukan di tempat umum, tidak ada bukti yang nampak. Pelaku sepertinya juga paham betul, karena tidak ada sidik jari atau petunjuk apapun yang ditinggalkan oleh pelaku. Bahkan di balik lakban pun, tidak ada sidik jari. Hanya ada beberapa guratan garis, kami menduga pelaku sudah memikirkan semuanya dan melakukan semuanya dengan sangat teliti."
Bara hanya diam kemudian mengangguk. Ia berpikir, mana mungkin mereka akan menemukan buktinya, karena pelakunya adalah Bara sendiri. Ia paham betul, apa-apa saja yang akan menjadi perhatian para penyelidik kasus ini.
Setelah menjelaskan semuanya, para petugas itu pergi. Bara menoleh ke belakang, lalu ia berpura-pura lupa kalau ada Guntur di belakangnya.
"Maaf Pak, saya tidak bermaksud. Saya permisi." Bara berpura-pura simpati dan hendak melangkah pergi. Tapi Guntur menghentikannya.
"Hei, tunggu! Aku perlu bicara denganmu." Guntur mengajak Bara ke tempat yang lebih sepi dan mengajak bicara berdua saja.
"Dengar Bara, siapapun yang melakukan ini pada Hadi. Nasibnya akan jauh lebih buruk dari ini. Aku akan menghancurkannya menjadi debu. Bahkan tak akan ada orang yang bisa menemukan jasadnya. Aku akan membalas kematian adikku." Guntur berbicara dengan begitu marah dan dendam.
"Tunggu dulu, Pak Guntur. Tapi bukankah dia sudah melakukan banyak kejahatan? Kekerasan, pemerkosaan, pembunuhan. Bukankah kematian menjadi hukuman yang pantas?" ucap Bara datar.
"Dengar Bara. pelakunya bisa siapa saja. Kamu hanya butuh 10 jam untuk menemukan pelaku pembunuhan gadis itu. Aku memberimu 12 jam untuk menemukan pelaku pembunuhan adikku. Aku akan menghukumnya dengan tanganku sendiri. Dengar baik-baik Bara, aku akan menghancurkan orang itu menjadi debu. Sekali saja aku menemukannya, aku akan menghancurkannya."
"Dengar Pak Guntur. Memang pelakunya bisa siapa saja. Sepertinya, Bapak sudah menemukan pelakunya." Bara menanggapi kemarahan Guntur dengan lebih santai.
"AKBP Bara Mahardika!" bisik Bara di telinga Guntur.
"Tapi apakah Bapak bisa menghancurkannya seperti yang Bapak katakan. Setelah yang dia lakukan pada adik Bapak, saya rasa, sepertinya Bapak tidak akan bisa melakukannya. Saya harus mengurus beberapa hal. Permisi," ucap Bara sambil mengeluarkan senyum miringnya lalu pergi begitu saja.
Guntur tidak terkejut. Sejak awal ia sudah menduga kalau pelakunya adalah Bara.
paling ga suka sama orang kepo,
selalu ingin tahu urusan orang lain
semangat thor
Salam hangat dari
Cinta Asteria & Isyaroh
😅🙏🙏
baca nyusul
Salam hangat dari
Cinta Asteria & Isyaroh
😅🙏🙏
Cinta Asteria & Isyaroh
😅🙏🙏
yg ini dkadih extra part lagi juga boleh kok🤭🤭
semangat ❤️❤️