Indonesia
NovelToon NovelToon
Kontrak Nikah Penebus Dosa

Kontrak Nikah Penebus Dosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Terpaksa Menikahi Suami Cacat / Cinta Beda Dunia / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:29k
Nilai: 5
Nama Author: Mawar91

Ujian datang menimpa seorang wanita Sholehah bernama Fitri, untuk menebus dosa ayahnya ia harus terikat dalam sebuah pernikahan kontrak dengan CEO tampan namun memilki kekurangan fisik, belum lagi pria itu masih terjerat cinta masa lalu dan tak bisa melupakan mantan tunangannya.

-
-

Fitri melihat ke arah Ibunya dengan tatapan sedih dan ketakutan seolah ingin meminta tolong.
"Cepet atuh Neng! tanda tangan kontraknya!" desak Jejen.
"Ya Allah, apa ini garis takdir yang Kau tetapkan untuk hamba-Mu yang lemah ini ..." lirih Fitri.
Tangannya semakin gemetar kala menggoreskan tinta di atas namanya, air mata yang terbendung sejak tadi tak mampu ia tahan lagi.
"Keenan Jeremy Firdaus? bahkan mendengar namanya saja sangat asing. Bagaimana bisa dalam sekejap dia akan menjadi suamiku?"

-
-

Lalu Bagaimanakah kehidupan Fitri dan Keenan setelah secara agama dan negara mereka sudah sah menyandang berstatus sebagai suami istri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawar91, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26- Mulai Menunjukan Taring

Kala mereka terlelap tidur, sejak tadi Erik Juwita dan Yuda berkumpul di ruang keluarga sambil bersenda gurau. Di saat candaan itu berhenti, sesekali mereka melihat tayangan berita tentang perkembangan dunia bisnis di layar televisi berukuran 43 inchi yang terpampang di lemari khusus yang sangat unik dan memiliki kesan mewah.

Berita tentang bisnis tak di sukai Yuda sama sekali, dengan mudahnya Yuda menjadi bosan. "Mah, Pah! Yuda bosen, mau keluar dulu!" seru Yuda yang kini beranjak pergi.

"Iya sayang," jawab Juwita sambil menunjukan senyuman.

Setelah Yuda pergi, obrolan Juwita dan Erik terhenti saat Erik tiba-tiba melamun. Juwita terus melihat ke arah Erik, ia sangat penasaran apa yang sebenarnya di pikirankan suaminya itu. "Kamu kenapa, Pah?" tanya Juwita.

Erik menatap mata Juwita dengan tulus, Erik tak menjawab pertanyaan Juwita justru ia balik bertanya, "Mah ... Kamu sayang Keenan, kan?"

Juwita semakin heran, ia bertanya-tanya apa yang mengganggu isi pikiran suaminya hingga seperti itu. Entah ketulusan atau bukan yang keluar dari mulut Juwita pastinya ia akan menjawab dengan kata-kata yang diharapkan Erik. "Pah, udah berapa kali Mamah bilang, Mamah sayang sama Keenan!" jawabnya seolah tegas.

"Sudah berlalu bertahun-tahun lamanya Kamu masih gak percaya, Pah? kamu masih percaya ucapan Keenan waktu masih kecil? mungkin dulu dia syok setelah tau Mamah bukan ibu kandungnya, makanya dia ngomong yang aneh-aneh," ungkap Juwita lalu memasang wajah melas.

"Iya Papah percaya kamu, Bukan itu maksud Papah, Mah. Papah cuma mau nanya, jika Keenan bisa berubah jadi lebih baik dengan orang yang kita benci gimana mah? kalau kamu jadi Papah apa kamu akan rela membiarkan wanita itu mendampingi Keenan selamanya?" tanya Erik.

Kebimbangan Erik sejak tadi tak bisa ia tutupi di depan Juwita, awalnya Erik berniat menyimpan kegundahan hatinya seorang diri namun ia berpikir Juwita merupakan seorang wanita pasti memiliki naluri keibuan.

Belum sempat Juwita menjawab pertanyaan Erik, tiba-tiba Yuda datang menghampiri mereka kembali dengan nafas terengah-engah juga dengan senyuman lebarnya kemudian ia menarik lengan Juwita dan Erik. "Mah! Pah! ikut Yuda."

"Kenapa sih kamu, Yud?" tanya Erik heran.

"Iya sayang ada apa?" saut Juwita bertanya.

"Kalian ikut dulu," desak Yuda.

Erik dan Juwita menuruti anak bungsunya itu, Yuda terus menggandeng tangan kedua orang tuanya hingga mereka berjalan lalu langkah mereka terhenti di kamar Keenan yang kedua pintunya sudah terbuka lebar.

Erik dan Juwita disuguhkan dengan pemandangan yang membuat mereka sangat canggung, mereka melihat Keenan dan Fitri tertidur di ranjang yang sama dengan posisi yang terkesan romantis.

"Mereka terikat pernikahan ini belum lama, apa mungkin mereka sudah saling menyukai? bagaimana ini? apa harus saya biarkan?" tanya Erik dalam hati.

Erik membalikkan badannya. "Ada-ada aja kamu, Yud!" ucapnya lalu berusaha pergi, tapi terhenti saat Juwita meraih tangan kanannya dan berusaha menahannya agar tak kemana-mana.

"Pah, Mah! biasanya Kak Keenan jahat banget sama Kakak Ipar, ternyata selama ini dia cuma gengsi. Momen ini harus kita abadi kan," saut Yuda.

Ponsel yang sedari tadi Yuda pegang, ia lantas menyalakannya dan dengan iseng ia memotret sepasang suami istri yang sedang terlelap itu.

Cekrek

Satu Foto berhasil di abadikan dan tersimpan di galeri ponsel mahal milik Yuda.

Kejahilan Yuda tak di hiraukan Erik maupun Juwita, Juwita semakin mendekat ke arah Erik. "Pah, kamu akan membiarkan mereka? kamu tau kan kita menikahkan mereka bukan untuk ini, jangan sampai Keenan jatuh cinta sama wanita itu, Pah!" hasut Juwita pelan.

"Pah, sadar! jangan bimbang! banyak wanita yang lebih cocok untuk Keenan, kita kan udah sepakat sejak awal Fitri hanya akan menemani Keenan sampai dia sembuh. Jangan berubah pikiran, Pah!" lanjutnya lagi.

"Biar Mamah yang ngingetin wanita itu, supaya tau diri!"

Sepertinya Erik kini merasa sependapat dengan Juwita, tindakan Juwita itu tak ia hentikan sama sekali.

Berbeda dengan Erik dan diam mematung, Yuda berusaha menarik lengan Juwita agar menghentikan tindakannya, sayangnya Yuda sama sekali tak bisa melawan kehendak Ibunya.

"Aduh kenapa jadi gini, harusnya gue gak bilang mereka kalau tau Mamah akan mempengaruhi Papah," gumam Yuda dalam hati.

Erik memperhatikan anak sulungnya yang terlihat tidur dengan nyaman di paha Fitri, ia bergumam dalam hatinya,"Mungkin benar apa yang di ucapkan Mamah, gak seharusnya Papah berpikir seperti itu, Mah. Fitri sama sekali gak cocok dengan Keenan, sebaik apapun dia dan sehebat apapun dia membuat Keenan ke arah yang lebih baik tapi Fitri tetaplah Fitri, anak dari si biangkerok itu,"

Juwita melewati Yuda di depan pintu ia kemudian menghampiri Keenan dan Fitri, spontan Juwita berbisik ke telinga Fitri, "Fitri ... Fitri ... Bangun!"

Fitri kembali mendengar murotal Al-Qur'an yang kini sudah beralih ke surat yang lain, mata Fitri terbuka perlahan ia kaget saat melihat Juwita tiba-tiba ada didepannya. "Astaghfirullah! Ibu ...." lirihnya.

"Sini ikut saya!" seru Juwita lalu berjalan keluar.

"Yaa Allah, ada apa ini? kenapa perasaan hamba jadi gak enak?" gumam Fitri dalam hati.

Salah satu tangan Fitri mengambil bantal, hati-hati sekali ia mengangkat kedua pahanya yang di tiduri Keenan lalu dengan sigap ia menempatkan kepala Keenan pada bantal itu. Keenan sempat bergerak, tapi karena sudah tertidur pulas ia sampai tak sadar Fitri meninggalkannya seorang diri dan mengikuti Juwita keluar kamar.

"Kakak Ipar, ini salah adek Ipar. Maaf! Kakak Ipar," bisik Yuda merasa bersalah.

Fitri tak sempat merespons Yuda karena Juwita terus menyuruhnya berjalan. "Sini, Fitri!"

"Iya, Bu," ucap Fitri sambil berjalan mendekat ke arah Erik dan Juwita.

Tangan kanan Juwita mengelus kepala Fitri dengan lembut seakan tak ada kebencian, namun kata-kata yang ia ucapkan begitu menyayat hati Fitri.

"Fitri ... jangan sampai kita marah besar sama kamu, kamu tau apa kesalahan kamu sayang? sejak awal sudah suami saya ingatkan kamu harus tau diri," ungkapnya dengan tangan yang masih terus mengelus kepala Fitri.

"Atau jangan-jangan kamu memang lupa diri ya setelah terbuai oleh kekayaan kami ini? kamu gak mau kembali ke kehidupan miris kamu di Bandung, kan? terus kamu mati-matian berusaha membuat Keenan jatuh cinta dengan cara kamu tadi? hebat kamu sayang ...." lirih Juwita lalu kini jari jemarinya menyusuri setiap sudut wajah cantik Fitri.

Ingin sekali Fitri menjelaskan semuanya tapi kata-kata Juwita begitu menyakiti hatinya, jika sudah sakit begitu bukan pembelaan yang Fitri lakukan justru ia sibuk menahan air matanya agar tidak menetes dengan deras.

"Mah, jangan gitu sama Kakak Ipar," saut Yuda merasa tak enak pada Fitri setelah mendengar semua yang di ucapkan ibunya itu.

"Sayang, ini demi kebaikan Kakak kamu! Mamah cuma takut si cantik ini jadi parasit di rumah kita, gak ada yang tau niat dia, kan? siapa tau dia punya niat tersembunyi, mencegah lebih baik sayang! yah kan, Pah?" ucapnya lalu menoleh ke arah Erik.

"Iya, benar kata Mamah kamu Yud!" tegas Erik.

Hati Erik tak lagi goyah, hanya kata-kata Juwita yang selalu saja ia anggap benar. Kenyataan bahwa Fitri anugrah yang Tuhan berikan untuk hidup Keenan seolah luput dari pikiran Erik, dalam sekejap Juwita mampu membuat Erik membenci Fitri kembali.

"Fitri, kamu masih ingat kontrak itu, kan? rawat saja Keenan jangan berharap lebih apalagi sampai punya rencana buruk, setelah Keenan sembuh total saya juga akan mencarikan wanita terbaik yang setara dengan dia," lanjut Erik.

"Nasib ayah kamu juga ada di tangan kamu, jika kamu macem-macem dia hanya akan berakhir di penjara!" tegas Erik.

Kata demi kata yang di ucapakan Juwita dan Erik menusuk sampai kedasar hati Fitri, matanya yang bening mulai berkaca-kaca. Jalan pernikahannya dengan Keenan telah di arahkan dalam beberapa lembar kertas di bawah kendali Erik juga Juwita, tentu saja Fitri tak bisa menentang.

Jika di pikir berulangkali, sebenarnya bukanlah suatu kesalahan fatal suami istri tidur bersama dan itu adalah hal yang wajar apalagi Fitri memang tak sengaja ketiduran, setelah Erik mengingatkannya soal Jejen ia tak bisa berkutik sama sekali setelah di sudutkan mertuanya.

Juwita mengandeng tangan Fitri lagi, ia membawa Fitri masuk kembali ke dalam kamar dengan langkah yang pelan agar tak di dengar Keenan. "Tidur lagi! saya mau liat kamu tidur di bawah situ," ucapnya pelan.

Dengan dada yang sesak menahan tangis Fitri membaringkan badannya di atas tikar yang dingin, lalu Juwita menarik selimut dan menutupi badan Fitri entah apa maksudnya. Juwita mendekat dan berbisik, "Suruh siapa kamu begitu baik dan gak punya keberanian? kita ternyata gak sejalan kan ... sayang sekali. He, habis kamu!" ancamnya.

"Apa maksud ibu?" tanya Fitri tak mengerti.

Bersambung....

1
Sutri 1234
Luar biasa
Dilpa Abrina Putri
lanjut
Mawar Berduri
Terimakasih Kak 🙏 ikuti terus ya kisah nya,
Dilpa Abrina Putri
𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘳𝘶 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘬𝘶
Dilpa Abrina Putri
𝘭𝘢𝘯𝘫𝘶𝘵
Mawar Berduri: Di tunggu ya kak ☺️🙏
total 1 replies
Dilpa Abrina Putri
seruh banget cerita ny, bikin penasaran trus
Mawar Berduri: Terimakasih banyak Kak 🙏
Di tunggu ya ☺️
total 1 replies
Dilpa Abrina Putri
seru2 ny pun, jdi penasaran deh, lanjut donk
Mawar Berduri: Di tunggu ya Kak, In Syaa Allah up tiap hari kok 🤭
total 1 replies
linda martiana
semakin penasaran sama hati kenan
Mawar Berduri: Ikuti terus ya kak kisah Keenan dan Fitri, In Syaa Allah update setiap hari ☺️
total 1 replies
Dilpa Abrina Putri
bagus
Mawar Berduri: Terimakasih banyak kak 🙏
total 1 replies
Dilpa Abrina Putri
mana kelanjutan ny
Mawar Berduri: Mohon di tunggu ya kak 🙏 In Syaa Allah update setiap hari, besok pagi In Syaa Allah update juga
total 1 replies
Ulfa Amalia
alur cerita nya menarik, hanya saja kosakata nya agak sedikit kurang nyaman di baca, beberapa kalimat ada yg rancu jika di baca selebih nya saya menikmati ceritanya
Mawar Berduri: Halo Kak ☺️🙏
Author mengucapkan terimakasih banyak atas kritik, saran juga dukungannya 🙏 saran Kakak sangat berarti untuk perbaikan karya ini kedepannya, In Syaa Allah nanti Author cek dan revisi kembali ☺️
Jangan lupa ikuti terus ya "Kontrak Nikah Penebus Dosa" In Syaa Allah update setiap hari ☺️🙏
total 1 replies
Ulfa Amalia
semangat thor nulis nya... cerita nya bagus bgt...
Mawar Berduri: Terimakasih banyak kak ☺️🙏
total 1 replies
Santi Amanuyasa
Luar biasa
Mawar Berduri: Halo Kak terimakasih banyak komentarnya 🙏

Terus ikuti kisah Fitri dan Keenan ya In Syaa Allah update setiap hari ☺️
total 1 replies
Siti fatmawati
Lanjut Kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!