Happy Reading
Anna Gurviena bertemu dengan laki-laki yang menyebalkan dan selalu membuatnya kesal dan marah mungkin laki-laki itu tidak punya perasaan, saat sahabatnya memberitahu bahwa laki-laki itu adalah kakak kelas barunya, bahkan Anna tidak peduli.
Alvin Dirgantara tidak suka melihat lelaki yang menyakiti perempuan dengan cara selingkuh bukannya ia mendekati gadis itu karena suka, Tidak sama sekali. Ia hanya menolong gadis itu saat kenyataan pahit ada dihadapan gadis itu.
Gibran Sanjaya, tidak pernah berpikir akan jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap gadis yang telah ia tabrak dan hasilnya membuat kaki gadis itu bermasalah. Ia tidak mungkin lepas tanggung jawab terhadapnya dan saat itulah ia mulai dekat dengan gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gestiagt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Do You Remember?
Anna menutup bukunya setelah selama satu jam belajar lantas mengerjakan PR yang gurunya berikan, memang tidak mudah hanya ditemani dengan lampu belajar dan segelas susu supaya membantu otaknya bekerja. Apalagi pelajaran matematika yang selalu menguras pikirannya dan membuat Anna pusing.
Sebentar lagi ia akan menghadapi ujian lalu setelah itu kelulusan, dari dulu ia selalu mengharapakan ini segera terjadi. Tapi sekarang hal itu rasanya ingin jangan dulu terjadi kenapa? Karena setelah itu Gibran ingin segera mempertemukan orang tuanya kepadanya dan sebaliknya, jujur Anna belum siap untuk itu.
Membalas perasaan Gibran sudah berusaha ia lakukan tapi tetap saja berbeda,perasaanya tak pernah tergantikan. Tapi sudah terlanjur memilih Gibran dan membuang perasaanya pada Alvin ia pikir perasaaan itu dapat ia buang dengan gampang tapi ternyata salah besar.
Anna beranjak dari kursi lalu berjalan mendekati lemari mini disampingnya mengambil sebuah kotak kecil yang didalamnya berisi kalung pemberian Alvin. lebih tepatnya kalung itu hasil usaha Anna dan Alvin untuk membuktikan mereka cocok atau tidak.
Anna menatap lekat lekat kalung itu sambil berbaring di ranjangnya.
‘Hari lain tanpamu, perasaan lain, aku ingin kau merasakannya’pikirnya dalam hati
“Cinta hah? Kenapa harus ada perasaan ini.”Gumamya
Anna mendekati jendela lalu menyibakkan tirainya, melihat bintang yang berjajar di atas langit malam. Beribu bintang tampak hadir malam ini setidaknya itu membuat Anna tersenyum walaupun rasa rindunya tidak terobati.
‘’Hampir satu tahun dan aku tak pernah mendengarnya, apakah sikapmu masih dingin atau tidak?”Gumam Anna lagi
‘Apa kau percaya ini Alvin? kamu menciptakan perasaan ini padaku pada awalnya aku takut akan berakhir buruk tapi kau selalu menjadikan aku spesial saat aku ada di dekatmu, dan mengatakan padaku bahwa percaya pada ramalan hanya membuang uang saja, tapi apa ramalan itu benar kalau kita tidak ditakdirkan bersama?’ setetes air mata jatuh melewati pipi Anna dadanya terasa sesak.
‘Tapi Alvin saat aku mencoba dengan keras, tidak menyenangkan jika tidak mempercayainya sendiri. Aku ingin bertemu denganmu Alvin.’
Aku ingin melihatmu..Apakah kau melupakanku?
Aku ingin melihatmu..Dan mulai mencintaimu dari awal.
Baik sejak aku mengenalmu..
Ia lantas berdiri berjalan menuju lemari pakaian, mengeluarkan jaket Alvin yang tergantung disana.
"Harus aku apakan jaket ini?"Gumamnya.
Setidaknya ia harus mencari alasan agar bisa bertemu lelaki itu, namun ia tidak punya nomor untuk dihubungi, dirinya juga pernah mencari akun sosial media menggunakan nama lengkapnya tapi sama saja hasilnya nihil. Mungkin saja Alvin punya nama samaran lain ia tidak dapat menemukannya.
Untuk mengubur rasa ini hal pertama yang harus dilakukan adalah menyingkirkan benda benda yang akan membangkitkan kenangan. Toh selama ini ia tidak bersungguh-sungguh melupakan Alvin. Jadi sekarang Anna melepaskan jaket itu melipatnya, lalu memasukkan kesebuah kotak, termasuk kalung itu. Tak akan memajangnya lagi, oke, ia menyakinkan hatinya.
"Sudah selesai, aku tidak percaya melakukan ini." gumamnya lagi.
Seharusnya Anna sudah melupakan Alvin seperti saat melupakan Revan yang sembuh berkat bantuan Alvin. Dengan kedatangan Gibran seharusnya ia sudah sembuh, tapi diluar dugaan hubungan yang bahkan belum dimulai ini sangat sulit dihilangkan.
"Aku sudah gila." ia menepuk-nepuk kepalanya berharap Alvin keluar dari dalam pikirannya.
Tak berpikir panjang ia lantas menutup kotak itu menyimpannya sementara di kolong kasur.
"Selamat tinggal".
.
.
Thanks Thor dan semangat sll! 🥰💪
lanjut dan semangat?!!!!!