Indonesia
NovelToon NovelToon
Tunggu Aku Di Perbatasan

Tunggu Aku Di Perbatasan

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa / Tamat
Popularitas:17.7k
Nilai: 5
Nama Author: ummiqu

Berlatar belakang jaman perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan dari tangan penjajah. Ada kisah cinta yang bersemi di sana.

Kisah sepasang sejoli yang berjanji bertemu usai 'berjuang bersama' untuk mewujudkan mimpi mereka.

Akankah mereka bertemu dan berhasil mewujudkan mimpi indah mereka ?.

Ikuti kisahnya yuukk ...

(Kisah ini dibuat sebagai apresiasi pada para pejuang yang telah gugur sekaligus untuk mengenang jasa mereka. Tak ada maksud menyudutkan karena kisah ini murni buah pemikiran author)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Menghadiri Rapat Akbar

Entah mengapa melihat tatapan Langit membuat Melati mendengus kesal. Alih-alih tersenyum, Melati justru mengerucutkan bibirnya lalu menjulurkan lidahnya hingga membuat penampilannya aneh.

Tentu saja Melati berharap jika Langit akan kesal dan melotot melihat tingkahnya. Namun sayangnya aksi Melati justru membuat Langit menggelengkan kepala sambil tertawa.

"Dih, sakit jiwa. Ngeliatin, melotot, ketawa. Mirip kaya orang ga waras," gerutu Melati sambil melengos sebal.

"Siapa yang ga waras ?" tanya Mbok Pon tiba-tiba.

"Bukan siapa-siapa Mbok," sahut Melati cepat sambil merangkul lengan mbok Pon lalu membawanya melangkah ke pinggir jalan.

Bersama Mbok Pon dan warga lainnya, Melati berdiri di pinggir jalan sambil menyambut ucapan 'Merdeka' yang diserukan semua orang. Hiruk pikuk terjadi di semua jalan di Jakarta kala itu karena semua orang turun ke jalan untuk mengekspresikan kebahagiaan mereka.

Perlahan truk yang membawa Langit, Arman dan rekan-rekannya bergerak meninggalkan tempat itu. Lambaian tangan dan doa mengiringi kepergian mereka.

\=\=\=\=\=

Arman pun menepati janjinya. Setelah misi menyampaikan berita kemerdekaan Indonesia kepada rekan seperjuangan di seluruh tanah air selesai, Arman segera kembali menemui adiknya di Jakarta.

Saat itu Melati dan mbok Pon tinggal di sebuah rumah kecil milik warga yang sengaja mereka sewa. Rumah itu adalah milik pejuang yang gugur membela kemerdekaan. Oleh pihak keluarga rumah itu disewakan karena keluarga merasa tak sanggup tinggal di rumah itu.

"Terlalu banyak kenangan di rumah ini yang bikin Saya sedih. Keluarga yang lain juga ga ada yang mau nempatin rumah ini karena selalu teringat dengan kebaikan Kakak Saya dan Istrinya. Makanya daripada rumah ini ga terawat, lebih baik disewakan. Hitung-hitung ada yang membersihkan rumah supaya ga kotor dan ga rusak," kata adik pemilik rumah bernama Anwar sambil mengamati bagian dalam rumah dengan tatapan sedih.

"Insya Allah Kami setuju untuk nyewa rumah ini. Iya kan Mbok ?" tanya Melati sambil menatap mbok Pon.

"Iya," sahut mbok Pon sambil tersenyum.

"Baik lah kalo begitu. Semua barang yang ada di sini boleh Kalian gunakan. Ini kuncinya dan selamat beristirahat," kata Anwar sambil tersenyum.

"Terima kasih Pak," sahut Melati dan Mbok Pon mengangguk.

Melati dan Mbok Pon pun senang menempati rumah itu. Selain letaknya tak jauh dari jalan raya, rumah itu juga lumayan dekat dengan wilayah dimana Proklamasi kemerdekaan dikumandangkan.

Dan dua Minggu kemudian Arman pun datang setelah menyelesaikan tugasnya. Kedatangannya disambut gembira oleh Melati dan Mbok Pon. Arman tak sendiri. Dia datang bersama empat sahabatnya.

"Kakak tau darimana kalo Aku sama Mbok Pon tinggal di sini ?" tanya Melati setelah mengurai pelukan.

"Dari warga. Kakak tanya-tanya sama mereka tadi," sahut Arman sambil mengamati bagian dalam rumah beserta isinya.

"Oh ya. Gimana cara Kakak nanya sama mereka ?" tanya Melati penasaran.

"Ya nanya kaya biasanya aja Mel. Dimana Kamu dan Mbok Pon tinggal beserta ciri-ciri Kalian. Terus sama warga Aku ditunjukin rumah ini. Sempet ragu karena ngeliat rumah ini bagus dan letaknya strategis. Pasti sewanya mahal ya Mel ?" tanya Arman sambil menyentuh lemari pajangan yang terbuat dari kayu jati di depannya.

"Murah kok. Ini karena pemilik aslinya udah meninggal. Keluarganya ga mau tinggal di sini karena selalu keinget kenangan sama pemilik asli. Makanya daripada hancur ga keurus, rumah ini disewain deh," sahut Melati.

Arman pun mengangguk paham lalu menoleh kearah empat rekannya yang sibuk menikmati hidangan yang disajikan oleh Mbok Pon.

"Untuk sementara Kalian bisa taro barang-barang Kalian di rumah ini. Tapi maaf, hanya barang ya. Karena Kalian ga bisa tidur apalagi tinggal di sini," kata Arman sambil duduk di hadapan keempat sahabatnya.

"Iya Man, Kami paham kok. Di sini cuma ada perempuan. Apalagi Melati kan belum menikah," sahut Surya mewakili tiga sahabatnya.

"Kalo mau mandi juga bisa Kak. Tapi syaratnya harus ada Kakak di rumah ya," sela Melati hingga membuat semua orang tersenyum.

"Makasih ya Mel. Kamu emang pengertian banget. Kami emang perlu mandi karena badan rasanya udah lengket banget," puji Buyung dengan mulut penuh.

"Bukan cuma itu Mel. Kami juga harus bersih dan wangi supaya bisa cepet dapet pasangan. Sekarang coba Kamu pikir, mana ada perempuan yang mau sama laki-laki bau kaya Kami. Biar pun ganteng tapi percuma kalo bau. Iya ga teman-teman ?!" gurau Komarudin sambil melirik kearah empat rekannya.

"Ga usah berlebihan menilai diri sendiri Kom. Siapa juga yang bilang Kamu ganteng, itu kan cuma perasaanmu aja," kata Ujang sambil mencibir dan disambut tawa semua orang.

"Hei dengar ya Jang. Sekarang bukan masalah ganteng yang bikin perempuan jatuh hati. Tapi keberanian untuk menentukan sikap. Percuma ganteng kalo ga berani menyatakan perasaan," sahut Komarudin tak mau kalah.

"Emang ada yang kaya gitu ?" tanya Arman.

"Ada dong. Kamu tanya aja sama Surya," sahut Komarudin sambil melirik kearah Surya.

"Ga usah nyindir Kom. Aku udah bilang gimana perasaanku sama Melati kok. Tapi dia ga mau sama Aku. Terus menurut Kamu, Aku harus maksa Melati supaya nerima Aku ?. Kalo Aku sih lebih baik menjalin hubungan dalam kondisi sama-sama saling mencintai bukan dalam kondisi salah satu terpaksa mencintai," sahut Surya dengan santai.

"Setuju !" kata semua orang bersamaan lalu tertawa.

"Udah cukup, sekarang gantian mandi gih. Jangan lupa isi bak mandinya. Ada sumur di belakang kalo Kalian ga sabar ngantri," kata Arman.

"Siap !" sahut empat rekan Arman bersamaan.

Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian Arman dan keempat rekannya pun duduk bersama Melati dan Mbok Pon di ruang makan sambil menikmati makan siang.

"Jadi apa rencana Kalian selanjutnya ?" tanya Mbok Pon.

"Cari kerjaan Mbok," sahut Arman sambil menyuap makanan ke dalam mulutnya.

"Kerjaan ?" ulang Melati.

"Iya kerjaan. Udah pasti yang ada gajinya ya Mel. Kita kan perlu makan dan melanjutkan hidup. Mustahil kalo ga pake uang," sahut Arman.

"Iya sih. Tapi Aku pikir Kakak mau bergabung sama BKR," kata Melati.

"Itu juga udah ada dalam deretan rencana Kakak. Tapi sebelum itu Kakak mau penuhin kewajiban Kakak dulu sama Kamu. Selama ini Kakak merasa belum jadi Kakak yang baik buat Kamu," sahut Arman.

"Aku maklum kok Kak. Kita hidup di jaman penjajahan dan perang. Wajar kalo Kakak ga bisa menjalankan kewajiban Kakak sama Aku. Tapi bisa ketemu dan kumpul sama Kakak aja udah anugrah yang besar buatku," kata Melati bijak hingga membuat Arman dan Mbok Pon tersenyum.

"Iya Mel. Insya Allah ke depannya Kamu bisa mengandalkan Kakak dalam hal apa pun termasuk soal uang," kata Arman sambil menatap Melati.

"Apa artinya Aku bisa minta apa pun ?" tanya Melati.

"Iya," sahut Arman cepat.

"Termasuk pakaian, bedak dan sepatu ?" tanya Melati lagi.

"Iya, iya Meeell ...," sahut Arman gemas hingga membuat semua orang tertawa.

"Tapi ada satu agenda besar yang harus Kita hadiri Man," kata Surya mengingatkan.

"Agenda apa Kak ?" tanya Melati.

"Ada undangan rapat Akbar di lapangan Ikada tanggal 19 September," sahut Surya.

"Aku boleh ikut hadir ga Kak ?" tanya Melati.

"Boleh," sahut Arman dan Surya bersamaan.

"Kalo gitu Kita pergi bareng-bareng aja Mel," kata Buyung.

"Iya Kak. Aku juga bakal ngajak beberapa temanku nanti," sahut Melati yang diangguki Arman dan keempat rekannya.

\=\=\=\=\=

Rapat di lapangan Ikada Jakarta Pusat tanggal 19 September 1945 pun dihadiri ribuan orang. Tujuan diadakan rapat itu adalah memperingati satu bulan kemerdekaan sekaligus menyamakan tekad untuk memperjuangkan kemerdekaan yang telah diraih. Hal itu sesuai dengan arahan Insinyur Soekarno saat naik ke atas mimbar untuk berpidato.

Suasana khidmat pun mewarnai pertemuan akbar yang dihadiri ribuan orang itu. Wajah-wajah penuh harapan yang terlihat memenuhi lapangan Ikada hari itu mampu membuat nyali tentara Jepang menciut seketika.

\=\=\=\=\=

1
Surati
bagus
any Sulistiani: Alhamdulillah... mksh supportnya kak 🙏😊
total 1 replies
any Sulistiani
yup. lanjuutt say...
neng ade
Innalillahi wa innailaihi roji'uun..
kasihan sekali nasibmu dok .
neng ade
Semoga keinginan Arman utk menjadi tentara cepat terkabul
any Sulistiani: Aamiin...,
total 1 replies
neng ade
Semoga Melati dan ibu nya selamat dari tentara Jepang yg ingin membawa nya
any Sulistiani: Aamiin...
total 1 replies
neng ade
baru juga lolos dr kejaran penjajah Belanda kini harus menghadapi penjajah Jepang .. ngerii thor ..
any Sulistiani: iya say. lanjut lg yuukk...
total 1 replies
neng ade
hadir thor.. ini kisah tentang penjajahan belanda .. betapa menderita nya bangsa kita dlu .. ga kebayang saat mengungsi dan saat pulang lagi ke rumah menempuh perjalanan ber hari2 melewati hutan..sampai di rumah ternyata barang2 udh di hancurkan.. ga sanggup aku ngebayangin penderitaan mereka 😭😭
any Sulistiani: Alhamdulillah..., met gabung ya say..
# iya, jaman itu bgsa kt hdp prihatin bgt ..
total 1 replies
Selfi Azna
alhamdulilah langit udah kembali
any Sulistiani: Alhamdulillah..
total 1 replies
Selfi Azna
ya allah ibu,,jangan gitu bu,,kasian melatinya,,aduhh jd netize n +62 aku
any Sulistiani: he he
total 1 replies
Selfi Azna
ayo melati,,tunggu langit,, jangan tergoda sama rayuan dokter imam,,langit pasti kembali
any Sulistiani: siaaapp bund..
total 1 replies
Selfi Azna
next
Selfi Azna
selamat ya melati atas lahir nya baby boy,,semoga menjadi selalu sehat bahagia dan menjadi anak yg soleh
any Sulistiani: Aamiin..., mksh doanya bund ..
total 1 replies
any Sulistiani
lg ngumpet dlu say...
any Sulistiani: he he..., siaappp say..
total 2 replies
Selfi Azna
thooorrrr,,kemana langit thoooor
any Sulistiani: lg ngumpet dlu say..
total 1 replies
Selfi Azna
sabar bg surya,,,nanti ada pengganti melati,,minta ajja sama othoor nya🤭🤭
any Sulistiani: he he..., siaappp..
total 1 replies
Selfi Azna
semoga langit baik2 saja dak bisa plng dengan selamat,,lanjut thoor
any Sulistiani: aamiin.., Insya Allah siaapp say..
total 1 replies
Selfi Azna
hati2 di jln bg,,plng dengan selamat
Selfi Azna: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 2 replies
Selfi Azna
best
any Sulistiani: Alhamdulillah..., mksh suportnya sayangku..
total 1 replies
Selfi Azna
lanjut ummi,,sukses selalu
any Sulistiani: insya Allah siaapp... # Aamiin yaa Robbal'alamiin..
total 1 replies
Selfi Azna
so sweet banget
any Sulistiani: Alhamdulillah..., lanjuutt say..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!