Delapan anak muda berusia enam belas tahun hingga delapan belas tahun dengan latar belakang jauh berbeda. Delapan kehidupan yang tidak pernah bersinggungan sebelumnya. Ada yang sejak awal memiliki rumah yang hangat, ada yang memiliki rumah tapi tidak berhak atas rumah tersebut, ada juga yang tidak memilikinya sejak awal.
Tak seorangpun dari mereka tahu bahwa jalan yang sedang mereka tempuh itu akan mengarahkan mereka ke satu tempat yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
“TOLONG!”
Seorang pemuda berlari masuk ke barak sambil berteriak meminta tolong. Xavier pun berlari menghampirinya saat melihatnya tidak jauh dari tendanya. Begitu juga dengan beberapa prajurit yang sedang patroli di sekitar area tersebut.
“Ada apa?” tanya Xavier.
“Tolong selamatkan temanku!”
“Kamu…”
Xavier menunjuk pemuda itu sambil mengingat namanya. Ia ingat pernah melihatnya saat sedang membantu membangun rumah di desa.
“Dante kan? apa yang terjadi?”
“Tuan Muda Xavier, tolong selamatkan temanku, temanku demam sejak semalam dan tadi dia muntah terus.”
Dante menjelaskan dengan panik. Matanya memerah dan hampir menangis. Tangannya menggenggam erat tangan Xavier, berharap agar ia mau membantunya.
Tanpa pikir panjang, Xavier langsung mengangguk menyetujui permintaannya.
“Tolong panggilkan tabib,” pinta Xavier kepada prajurit yang berdiri di sampingnya. Prajurit tersebut mengangguk dan langsung berlari pergi menuju ke tenda pengobatan.
Tidak lama kemudian, prajurit tersebut kembali bersama dengan seorang tabib.
“Ayo, antar kami ke temanmu!”
Dante berlari paling depan lalu di belakangnya ada Xavier, Sang Tabib, dan dua orang prajurit.
Sesampainya di rumah Dante, mereka langsung masuk menuju ke satu-satunya kamar di dalam rumah tersebut.
Pria tinggi kurus terbaring di atas tempat tidur sambil menggigil dengan mata tertutup. Sang Tabib meletakkan kotak obatnya di samping tempat tidur lalu ia langsung mengecek nadinya. Dahinya mengernyit sesaat lalu ia mengambil kotak obatnya. Menyiapkan beberapa jenis bahan obat.
“Dia mengalami serangan dingin dan demamnya sangat tinggi.”
Sang tabib menatap ke arah Dante dan Xavier kemudian berkata, “Demamnya harus segera diturunkan. Kalau tidak, mungkin dia tidak akan bisa bertahan melewati malam ini.”
“Lalu apa yang harus saya lakukan tabib?” tanya Dante.
“Kompres menggunakan air hangat dan rebus obat ini selama empat jam dengan api kecil.”
Sang tabib menyerahkan sebuah bungkusan berisi ramuan obat kepada Dante.
“Pastikan agar dia tidak kedinginan malam ini agar kondisinya tidak memburuk.”
“Baik Tabib.”
“Kalau bisa melewati malam ini, nyawanya tidak akan terancam.”
“Baik Tabib, terima kasih.”
Sang Tabib berpamitan untuk kembali ke barak dan keluar dari rumah tersebut. Sebelum Sang Tabib benar-benar keluar dari rumah tersebut, Dante memanggilnya lagi.
“Tabib, berapa biaya pengobatannya?” Tanyanya dengan kepala tertunduk dan jari tangan yang memilin ujung pakaiannya sendiri. Ia tidak memiliki uang sedikitpun, selama ini ia dan temannya hidup dengan berburu atau mencuri sisa makanan prajurit dari dapur barak.
“Tidak usah, Komandan memberi pesan kepada kami agar memberi pengobatan gratis kepada penduduk desa jika keadaannya memang darurat.”
“Terimakasih! Terimakasih! Terimakasih!”
Dante membungkuk berkali-kali ke arah Sang Tabib. Air matanya menetes. Ia merasa akhirnya ada tempat yang layak sebagai tempatnya berlindung.
Sementara itu, Xavier masih berada di kamar tersebut menunggu Dante kembali. Saat Dante kembali, ia langsung berdiri dan bertanya.
“Di mana dapurnya?”
“Di situ,” tunjuk Dante ke arah ruangan yang hanya disekat dengan tirai kain.
Xavier mengangguk lalu mengambil bungkusan berisi obat.
“Kamu jaga temanmu, aku akan merebus obatnya. Tadi aku juga sudah mengirim prajurit kembali ke barak untuk mengambil selimut tebal, temanmu akan baik-baik saja.”
“Terima kasih tuan muda Xavier.”
Xavier berjalan ke dapur dan mulai menyalakan api. Menyiapkan semua peralatan yang dibutuhkan dan mulai merebus obat tersebut. Menjaga agar besarnya api sesuai dengan ucapan tabib tadi.
Empat jam kemudian, Xavier keluar dari dapur sambil membawa semangkuk obat yang masih panas.
“Tunggu sedikit hangat baru bangunkan temanmu.”
“Baik tuan muda.”
Xavier mengernyitkan dahinya. Ia merasa aneh mendengar panggilan yang akhir-akhir ini sudah jarang didengarnya.
“Berapa usia kalian?”
“Aku enam belas tahun, dan dia tujuh belas tahun.”
“Oh? umur kita sama, aku juga tujuh belas tahun. Kalau begitu jangan panggil aku tuan muda, cukup panggil Xavier saja.”
“Boleh seperti itu?” Tanya Dante. Ia sedikit terkejut karena ada seorang bangsawan yang sangat ramah seperti ini. Identitas Xavier sudah menjadi rahasia umum. Bahkan warga pun tahu kalau dia adalah seorang bangsawan ibukota.
“Tentu saja, lagipula di sini aku hanya prajurit biasa sama seperti prajurit lainnya.”
“Baiklah, kak Xavier.”
“Kak?”
“Anda satu tahun lebih tua, jadi aku memanggil kakak, apa kakak keberatan?”
“Tidak, tidak keberatan sama sekali. Kebetulan sudah lama aku ingin memiliki adik. Ternyata aku malah mendapatkannya di sini, haha.”
Setelah selesai dengan urusannya di rumah Dante, Xavier kembali ke barak. Xavier melangkahkan kakinya dengan cepat agar segera sampai di tenda karena cuaca yang begitu dingin. Jika diberi pilihan musim panas atau musim dingin, Ia dengan lantang akan menjawab musim panas.
Namun langkah kakinya terhenti saat melihat Jax sedang berbincang dengan seorang pengirim surat.
“Surat ini harus Kaisar langsung yang membacanya,” ucap Jax.
“Baik tuan.”
Saat pengirim surat itu pergi, Jax membalikkan badannya dan tubuhnya menegang saat melihat Xavier berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri. Tanganya mengepal lalu ia berjalan dengan cepat menghampirinya.
BRUK!
Punggung Xavier membentur tanah dengan sangat keras. Jax menyeretnya ke tempat sepi di belakang barak lalu mendorongnya begitu saja ke tanah yang diselimuti salju.
“Apa apaan kamu?” Seru Xavier yang merasa tidak terima sekaligus kebingungan dengan sikap Jax.
“Apa kamu mendengar sesuatu?” tanya Jax dengan nada panik.
“Apa maksudmu, aku tidak mendengar apapun. Justru apa yang kamu lakukan kepadaku hah?”
BUGH!
Satu pukulan mendarat di wajah Xavier. Kepalanya langsung terlempar dengan kuat ke samping. Rasa pusing langsung menyerangnya dan telinganya berdengung. Jax memakai kekuatan maksimal saat memukulnya. Sudut bibir Xavier robek dan meneteskan darah segar.
“Ingat! jangan berani-beraninya mengatakan kepada siapapun tentang apa yang kamu lihat dan dengar, kalau tidak…”
Jax menarik kerah baju Xavier, “Lain kali bukan cuma satu pukulan.”
Setelah itu, ia melepas kasar cengkeramannya dari kerah baju Xavier hingga membuatnya terdorong ke belakang. Lalu ia melangkah pergi begitu saja meninggalkan Xavier yang masih terbaring di tanah yang dingin.
Saat kesadaran Xavier sudah kembali sepenuhnya, ia meludah saat merasakan asin dan amis di dalam mulutnya. Air liur bercampur darah terlihat begitu kontras dengan putihnya salju.
“Sial! apa dia gila?”
“Aku bahkan tidak tahu apa yang dia maksud, memangnya apa yang akan aku katakan kepada orang-orang?”
“Bukankah dia memang orang istana, berkirim surat dengan istana kan hal wajar.”
Xavier terus menggerutu sepanjang perjalanannya kembali ke tenda. Ia sesekali oleng karena rasa pusing di kepalanya masih terasa.
Saat sudah di tenda, Zephyr menatapnya dari awal masuk hingga ia berbaring di tempat tidur.
“Apa yang terjadi?”
“Wajahmu kenapa?” Zephyr bertanya setelah melihat dengan jelas luka di sudut bibirnya.
“Bertemu orang gila tadi.”
“Memangnya di sini ada orang gila ya?”
“Ada, orang yang sangat gila.”
Kemudian, Zephyr beranjak dari tempat tidur dan berjalan mendekati lemari. Ia mengeluarkan sebuah kotak dari dalam lemari tersebut dan meletakkannya di atas meja.
“Apa itu?”
“Aku melihat Evren menyimpan banyak obat di sini, seharusnya ada satu yang bisa kamu pakai untuk mengobati lukamu.”
Xavier menatap Zephyr beberapa saat tanpa berkedip.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ia merasa pemuda pirang di depannya benar-benar seperti manusia biasa.
Bukan sekadar penyihir pendiam yang hidup di dunianya sendiri.
Tidak jauh dari benteng, di jalur menuju ibu kota. Pengantar pesan yang dikirim oleh Jax dihadang oleh seoran pria dengan cadar hitam menutupi sebagian wajahnya. Di belakangnya ada pria dengan topi yang menyembunyikan seluruh wajahnya.
“Siapa kalian?”
“Minggir! jangan halangi jalanku!”
Pria bercadar hitam itu melempar kerikil ke kuda yang dinaiki oleh pengantar pesan tersebut. Membuat kuda tersebut hilang kendali dan ia pun terjatuh ke tanah. Sebilah pedang tajam tiba-tiba sudah berada di depan tenggorokan pengantar pesan tersebut membuatnya membeku ditempat.
“Berikan suratnya!”
“Surat apa?”
“Berikan atau…” pria bercadar hitam itu menekan pedangnya ke leher sang pengantar surat.
Tubuhnya gemetar dan wajahnya semakin pucat.
“Ba-baiklah, ini..” ucapnya dengan gemetar.
Pemuda bercadar itu mengambil surat tersebut lalu ia mengulurkan tangan untuk memberikannya kepada pria di belakangnya tanpa melepas tatapan dan pedangnya dari pengantar pesan tersebut.
“Ini tuan muda.”
Dengan gerakan yang tenang, pemuda itu membuka surat dan membaca isinya. Setelah itu, ia melipatnya dan memasukkan kembali ke dalam amplop surat. Mengulurkannya kembali ke pria bercadar dan dikembalikan ke sang pengantar surat.
“Pergi!” usirnya, membuat pengantar surat tersebut berlari terbirit-birit.
“Tuan muda, apa suratnya aman?”
Pria bertopi itu mengangguk lalu berjalan mendahului pria bercadar.
“Ayo.”
“Kembali ke Draven.”