Indonesia
NovelToon NovelToon
Kepincut Cinta Mas Duda

Kepincut Cinta Mas Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Duda / Bad Boy
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: AzZura02

Kehidupan kampus Sheyra selalu berjalan lancar dan tenang sebelum ia bertemu pria menyebalkan bernama Alvaro. Alvaro adalah seorang duda anak 1 yang tinggal berdua dengan anaknya. Di mata Sheyra, Alvaro merupakan pria berhati dingin, egois, dan jahat. Namun pandangan itu seketika runtuh ketika Sheyra melihat sisi lain Alvaro ketika bersama anaknya.

Takdir seolah membawa mereka untuk terus bertemu dan bertemu. Hingga akhirnya membuat cinta tumbuh di antara keduanya. Namun jatuh cinta tidaklah mudah. Masalah demi masalah selalu datang untuk menguji kekuatan cinta mereka.

Mulai dari Alvaro yang minder dengan statusnya, Sheyra sang pencemburu buta, seseorang dari masa lalu, restu keluarga hingga trauma berat Alvaro atas kematian istrinya.

Akankah keduanya bisa mengatasi permasalahan tersebut demi mempertahankan cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzZura02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26 - Berdebar

“Al bangun. Gue bawain makanan nih.” panggil Sheyra berulang kali. Namun Alvaro tetap tidak terbangun dari tidurnya. Cowok itu benar-benar tertidur pulas.

Sheyra menepuk pundak Alvaro pelan, “Al. Bangun bentar.”

“Eunghh..” Alvaro bersuara sambil masih menutup matanya seolah enggan untuk bangun. Sesekali tubuhnya bergerak untuk membenarkan posisi tidurnya.

“Al.” panggil Sheyra sekali lagi namun masih tetap tidak ada jawaban. Sheyra menghela nafas. Sepertinya Alvaro memang tipe orang yang susah dibangunkan saat sedang tidur. Atau mungkin karena Alvaro sedang sakit dan kelelahan mangkannya ia tidak mendengar suara Sheyra. Sheyra pun pasrah dan memutuskan untuk tidak membangunkan Alvaro lagi agar cowok itu bisa tidur dengan nyenyak.

Sheyra menyentuh kening Alvaro dengan perlahan. Ia bisa merasakan suhu tubuh Alvaro yang panas dengan telapak tangannya. Sheyra menatap Alvaro dengan tatapan yang tidak tega. Dengan cekatan, Sheyra langsung mengambil sapu tangan yang ia simpan di saku celananya lalu mencelupkan sapu tangan tersebut ke dalam baskom berisi air hangat. Setelah sapu tangannya basah, Sheyra memeras sapu tangan tersebut lalu meletakkannya di kening Alvaro.

Sheyra berharap kompres ini bisa membantu menurunkan demam Alvaro. “Cepat sembuh ya Al.” gumamnya pelan.

Sheyra berpikir untuk kembali turun ke bawah—ke tempat Lyra berada. Sheyra hendak mengambil baskom yang ia letakkan di atas meja. Namun tanpa sengaja matanya menangkap koleksi obat Alvaro yang berjajar rapi di sana. Ia tidak menyadarinya tadi.

Ada beberapa tablet obat penurun demam yang bungkusnya sudah tersobek. Kemungkinan Alvaro tadi mengonsumsi obat ini. Sheyra membaca komposisi obat tersebut. Ada bahan yang dapat membuat mengantuk. Sheyra berpikir wajar saja jika Alvaro sulit dibangunkan.

Sheyra meletakkan obat penurun demam itu kembali ke tempatnya. Lalu ia melihat sebuah obat yang asing baginya. Sheyra mengambilnya, ia penasaran obat apa itu. Sheyra membaca tulisan yang tertera di botol obat itu.

Setelah menyadari apa yang telah ia baca, Sheyra tidak dapat menutupi rasa terkejutnya. Itu adalah obat tidur. Banyak pertanyaan langsung muncul di dalam kepala Sheyra. Kenapa Alvaro memiliki obat ini? Untuk apa? Apa selama ini Alvaro kesulitan untuk tidur?

Sheyra meletakkan obat itu ke tempatnya. Sheyra menggelengkan kepalanya. Ini bukan ranahnya. Ia tidak boleh terlalu ikut campur. Ia sedang mencoba untuk tidak peduli. Bagaimana pun keberadaannya di sini hanya untuk menjaga Lyra, masuk ke ranah pribadi Alvaro bukanlah urusannya.

Sheyra berpikir untuk segera keluar dari kamar Alvaro. Ia membalikkan badan. Saat kakinya hendak melangkah, tiba-tiba seseorang meraih tangannya seolah menahannya untuk pergi. Seketika Sheyra langsung menoleh untuk memastikan. Matanya membulat saat menyadari bahwa Alvaro sedang memegangi tangannya.

“Al?” tanya Lyra dengan ekspresi yang bingung. Sheyra memperhatikan wajah Alvaro. Cowok itu terlihat masih menutup matanya pertanda bahwa ia dalam keadaan tertidur. Sheyra menyadari bahwa mata Alvaro terlihat basah. Terlihat air mata jatuh dari ujung mata Alvaro. Apa Alvaro sedang menangis dalam tidurnya?

Sheyra mencoba melepaskan cengkraman tangan Alvaro di lengannya. Namun bukannya terlepas, Alvaro justru menarik Sheyra mendekat ke arahnya dengan kasar sehingga membuat keseimbangan Sheyra jatuh. Sheyra membelalakkan matanya karena terkejut. Tubuhnya mendarat tepat di atas Alvaro. Kepalanya berada di dada Alvaro.

Deg deg deg. Sheyra dapat merasakan detak jantung Alvaro. Ia diam mematung mencerna apa yang sedang terjadi. Apa ini? Kenapa dengan Alvaro? Perasaan dan pikirannya campur aduk.

“Jangan pergi… tolong..” lirih Alvaro terisak.

“Al, lo kenapa? Apa maksudnya ini?” tanya Sheyra kebingungan. Sekali lagi ia mencoba untuk melepaskan diri dari Alvaro. Namun bukannya terlepas, Alvaro justru memeluk tubuh Sheyra dengan erat.

Deg! Sheyra merasakan jantungnya yang mulai berdegup kencang. Pelukan Alvaro terasa sangat hangat baginya. Kini ia bisa mencium aroma tubuh Alvaro, wangi dan menenangkan. Sheyra tidak menyadari bahwa pipinya memerah karena hal ini.

“Maafin aku… Maaf.. Gara-gara aku kamu pergi. Jangan tinggalin aku sendirian.. aku mau ikut kamu.” racau Alvaro yang semakin terisak. Air mata membasahi pipinya.

Sheyra terdiam. Saat itulah ia menyadari bahwa Alvaro sedang mengigau dalam tidurnya. Sepertinya Alvaro tengah mendapatkan mimpi buruk karena sedang sakit.

“Maaf huhu… jangan pergi..” Alvaro menangis.

Sheyra terdiam. Sheyra merasa ketika ia berusaha melepaskan tubuhnya dari Alvaro, cowok itu justru semakin mempererat pelukannya. Oleh karena itu Sheyra tidak lagi berusaha untuk melepaskan diri. Ia hanya sedang menunggu Alvaro melepaskan pelukannya.

“Al.. lo kenapa?” lirih Sheyra pelan.

Tidak ada jawaban. Alvaro hanya terisak. Sebenarnya mimpi seperti apa yang sedang dilihat oleh Alvaro? Sheyra bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.

Beberapa menit kemudian Sheyra menyadari bahwa pelukan Alvaro sudah mulai melonggar. Alvaro sudah berhenti mengigau dan menangis. Cowok itu kembali terlelap. Menyadari hal itu, Sheyra langsung melepaskan diri dari pelukan Alvaro. Setelah terlepas, ia segera berlari keluar kamar Alvaro dengan jantung yang masih berdebar. Pipinya masih memerah lengkap dengan sebuah perasaan yang campur aduk. Sebuah perasaan yang tidak ia mengerti.

Sheyra berhenti berlari ketika sudah sampai di tempat Lyra berada. Sheyra mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Ia juga mencoba untuk mengatur ekspresinya di depan Lyra. Namun gagal, anak kecil itu menyadari sesuatu yang berbeda dengan Sheyra.

“Kak Ei kenapa? Kok lari dari kamar Papa?” tanya Lyra dengan wajah polosnya.

Sheyra mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia terlihat gugup dan mencoba mencari alasan untuk menjawab pertanyaan Lyra. Sheyra meletakkan telapak tangannya di dadanya yang berdebar. “Ku mohon berhenti berdebar.” katanya dalam hati.

“Ah anu Kakak gak apa-apa. Hahaha Kakak lari karena pengen cepet ketemu Lyra lagi.” jelas Sheyra sambil memperlihatkan senyuman manisnya agar Lyra tidak curiga. “Oh ya Papa Lyra baik-baik aja. Sebentar lagi pasti sembuh. Papa hanya sedang tidur istirahat.” kata Sheyra lagi.

Mendengar jawaban Sheyra membuat Lyra langsung berdiri dari tempat duduknya. Ia melompat kegirangan. “Horee!! Papa bakal sembuh! Yeayyyy!” serunya senang.

Sheyra tersenyum melihat reaksi Lyra. Gadis kecil yang sangat manis. Tanpa sadar Sheyra mendekat ke arah Lyra lalu memeluk gadis kecil itu dengan hangat.

***

Alvaro membuka matanya dengan perlahan. Ia mengucek matanya pelan. Terasa basah. Alvaro tampak bingung. Apa dia baru saja menangis? Alvaro sama sekali tidak mengingat apapun.

Alvaro merasakan sesuatu yang menempel di keningnya. Terasa basah dan hangat. Ia langsung mengambil sapu tangan itu dari keningnya. Alvaro memandangi sapu tangan tersebut dengan ekspresi yang bingung. Sejak kapan benda ini ada di keningnya? Apa mungkin matanya basah berasal dari tetesan sapu tangan ini? Alvaro berpikir mungkin saja.

Alvaro membolak balikkan sapu tangan berwarna pink tersebut. Seingatnya ia tidak pernah memiliki sapu tangan seperti ini. Di sana ia menemukan sebuah nama yang terukir di ujung sapu tangan. “Shey” gumam Alvaro membaca tulisan tersebut.

Alvaro mencoba bangkit untuk duduk. Ia menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur. Alvaro menoleh ke sebelahnya dan menyadari ada semangkok bubur di atas meja. Apa Sheyra yang telah melakukan semua ini?

Di samping bubur itu, Alvaro juga melihat secarik kertas yang langsung ia ambil. Di sana tertulis, ‘Kalo udah bangun, makan bubur ini ya.’

Deg! Tidak salah lagi ini adalah tulisan tangan Sheyra. Ia sering melihatnya ketika mereka satu kelompok di perkuliahan saat itu. Alvaro masih mengingat jelas bagaimana bentuk tulisan tangan Sheyra. Sudut bibir Alvaro terangkat membentuk sebuah senyuman manis, “gadis yang manis.” gumamnya.

Tak butuh waktu lama Alvaro langsung menyantap bubur itu. “Enak.” komentar Alvaro. Ia bertanya-tanya dalam pikirannya. Di mana Sheyra mendapatkan bubur ini? Di mana ia membelinya?

Alvaro menyadari bahwa kini tubuhnya sudah jauh lebih membaik setelah minum obat dan istirahat tadi. Bahkan panas di keningnya juga sudah turun. Ia berpikir mungkin ini efek kompres dari Sheyra.

^^^Bersambung…^^^

1
Cici Sri Yunita
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!