Indonesia
NovelToon NovelToon
Switch Body, Yuk Nikah!

Switch Body, Yuk Nikah!

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Nikahmuda / Komedi
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: LaQuin

Apa jadinya kalau dua orang yang bahkan tidak saling menyukai tiba-tiba terbangun dalam tubuh masing-masing?

Itulah yang dialami Daffa dan Dinda setelah sebuah kejadian aneh membuat roh mereka tertukar. Kekacauan pun dimulai. Daffa harus menjalani kehidupan sebagai perempuan, sementara Dinda terpaksa menghadapi dunia sebagai laki-laki.

Awalnya mereka berusaha menjalani situasi yang rumit itu. Namun semakin lama, mereka justru menemukan sisi lain satu sama lain yang selama ini tidak pernah terlihat.

Masalahnya, pertukaran roh itu ternyata memiliki satu syarat aneh untuk bisa berakhir. Mereka harus menikah!

Antara kekacauan, pertengkaran, dan perasaan yang perlahan tumbuh, mungkinkah pernikahan yang awalnya hanya sebuah solusi berubah menjadi kisah cinta sungguhan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Marahan

BAB 26

Marahan

Keesokan harinya.

Menjalani hari sebagai Dinda selama dua bulan sudah mulai dirasakan Daffa sebagai hal yang biasa. Namun setelah kembali kepada tubuh aslinya sendiri, pagi itu ada perasaan yang berbeda.

Tak ada wangi khas kamar Dinda. Tidak ada selimut Hello Kitty yang menemani, dan tidak ada notif pesan pagi yang selalu menjadi alarm pengingatnya.

Benar-benar marah rupanya.

Daffa mengembuskan napas pelan. Ia ingat rencananya bahwa ia harus meminta maaf hari ini. Ia pun bergegas bangun untuk mengantarkan Dinda ke sekolah.

"Sarapan dulu Daff."

Sapa Mayang ketika melihat anaknya menuruni tangga tanpa melihat ke arah meja makan. Ia tahu jika demikian Daffa pasti akan melewatkan sarapan paginya.

"Nggak Ma, lagi buru-buru." Jawab Daffa sambil berlalu.

Mayang menghela napas pelan, lalu kembali duduk di tempatnya.

"Baru juga mau seneng dia mulai berubah, eh... dah kembali lagi kayak freezer."

Ayah Daffa hanya mendengarkan sambil menyesap kopinya dengan mata tertuju pada layar ponselnya

Ia sudah terbiasa dengan sikap dingin anaknya tanpa merespon ucapan istrinya yang terdengar sedikit kesal.

"Kayak siapa sih, si Daffa ini?!"

Celetuk Mayang dengan lirikan maut yang membuat Rendra sedikit tersedak.

***

“Bocil keluar belum, ya?”

Daffa melirik arloji di pergelangan tangannya. Ia takut Dinda sudah pergi lebih dulu. Sesekali pandangannya beralih pada pintu utama yang sejak tadi masih tertutup.

Ia mengembuskan napas pelan. Sejujurnya, Daffa sendiri tidak tahu harus mengatakan apa nanti. Ucapan yang keluar dari mulutnya kemarin terus terngiang-ngiang di kepala. Semakin dipikirkan, semakin ia merasa telah keterlaluan.

Tepat sedetik kemudian, pintu utama itu terbuka. Dinda keluar dengan langkah cepat. Begitu melihat Daffa berdiri di dekat motornya, wajahnya langsung berubah datar. Ia bahkan tidak memberikan kesempatan Daffa untuk menyapanya.

Daffa segera bergegas menghampiri.

“Cil....”

Dinda hanya melirik sekilas. Tanpa menjawab, ia berjalan melewati Daffa dan langsung menaiki sepeda motornya. Tangannya meraih setang, kemudian memasukkan kunci.

Daffa berdiri di samping motor itu.

“Tunggu, Cil.”

Dinda tidak menggubris. Dan malah menyalakan mesin motornya.

Daffa dengan refleks memegang bagian depan motor dengan kedua tangannya.

“Gue tahu gue salah.”

Ungkap Daffa. Namun ucapannya di balas mendengusan pelan dari Dinda.

“Geser! "

“Enggak.”

"Minggir!”

Nada suara Dinda terdengar semakin dingin. Namun Daffa tetap berdiri di tempatnya.

“Marah aja.”

“Memangnya aku butuh izin Abang buat marah?”

Daffa terdiam sesaat. Namun dalam hati senyumnya terbit. Setidaknya Dinda tidak ber elu-gue padanya.

“Enggak.” Jawab Daffa, tenang.

“Kalau begitu minggir!"

Daffa malah menggeleng.

“Gue mau minta maaf dulu.”

Dinda menatapnya tajam. Wajahnya masih masam, jelas sekali bahwa rasa sakit akibat ucapan Daffa tadi belum hilang.

“Maaf?” ulang Dinda sinis. “Gampang banget ngomongnya.”

Daffa menelan ludah. Biasanya dia akan membalas dengan candaan atau sengaja mengganggu Dinda sampai gadis itu kesal. Tapi kali ini tidak. Ia tahu Dinda benar-benar terluka.

“Gue nggak bermaksud bikin lo sakit hati.”

“Tapi udah terjadi kan?!"

“Iya.” Jawaban Daffa begitu cepat sampai Dinda sedikit terdiam. Daffa menundukkan pandangannya sebentar. “Makanya gue nungguin lo.”

Dinda mengalihkan wajah.

“Ngapain nungguin?”

“Kita perlu bicara sebentar..”

“Sudah ngomong, kan? Sekarang minggir!"

Daffa masih belum bergerak. Dinda menarik napas panjang, berusaha menahan emosinya.

“Minggir nggak?!"

Bentak Dinda, membuat Daffa terdiam beberapa detik. Kemudian, tanpa banyak bicara, lelaki itu perlahan melepaskan kedua tangannya dari motor.

Dinda sempat mengira Daffa akhirnya menyerah. Namun bukannya pergi, Daffa justru berdiri tepat di depan motor sambil menatapnya.

“Kalau lo belum mau lihat muka gue, ya udah.”

Dinda mengernyit. “Terus?”

“Gue berdiri di sini sampai lo mau.”

“Nyebelin!" Gerutu Dinda.

“Iya.”

“Bandel.”

“Iya.”

“Bikin orang sakit hati.”

"Iya.”

Dinda terdiam. Entah kenapa, jawaban Daffa yang tidak membantah justru membuat emosinya sedikit goyah.

Daffa memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

“Gue nggak akan bela diri.” Ia menatap Dinda lekat-lekat. “Gue memang salah.”

Dinda diam tak bergeming.

“Gue cuma...” Kalimat Daffa tertahan, seperti kesulitan mencari kata-kata yang tepat. “Gue cuma nggak kepikiran kalau ucapan gue bakal sesakit itu buat lo.”

Dinda menunduk.

“Bukan berarti gue nggak peduli sama perasaan lo.”

Kemudian gadis itu mengangkat wajahnya.

“Terus kenapa Abang ngomong begitu?”

Pertanyaan itu membuat Daffa terdiam.

“Karena gue kesel.”

“Kesel sama aku?”

“Bukan.”

“Terus?”

Daffa menghela napas. “Kesel sama diri gue sendiri.”

Dinda menatapnya bingung.

Daffa mengusap tengkuknya dengan gerakan canggung.

“Gue nggak tahu harus gimana waktu itu. Jadi gue malah ngomong sembarangan.”

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

“Kalau lo masih marah, gue ngerti.”

Dinda mengangkat alis.

Daffa kemudian menunjuk jok motor di belakang Dinda.

“Tapi, biar gue yang antar lu ke sekolah.”

“Gue bisa pergi sendiri.”

“Gue tahu.”

“Terus?”

“Gue tetap mau anterin.”

Dinda mendengus kecil dengan bibir mengerucut membuat Daffa tersenyum dalam hati melihatnya.

“Maksa.”

“Sedikit.”

Sudut bibir Dinda hampir bergerak. Namun ia buru-buru menahannya agar Daffa tidak melihat.

Daffa yang menyadari perubahan kecil itu justru tidak menggodanya. Ia hanya mengambil helm yang tergantung di spion, lalu menyerahkannya kepada Dinda.

“Pakai.”

Dinda menatap helm itu.

“Kenapa?”

“Biar aman.”

Dinda tidak langsung mengambilnya. Daffa tetap mengulurkan tangan.

“Gue tahu gue nggak bisa bikin lo langsung nggak marah.” Suaranya lebih rendah kali ini. “Jadi... marahnya nanti aja. Yang penting sekarang ke sekolah dulu.”

Dinda akhirnya mengambil helm itu dengan gerakan kesal.

“Aku masih marah ya.”

Daffa mengangguk. “Gue tahu.”

“Jangan pikir aku udah maafin Abang ya.”

“Gue juga tahu.”

Dinda mengenakan helmnya.

Daffa kemudian mengambil alih kemudi dan duduk membelakangi Dinda. Namun sebelum ia menarik gas, ia menoleh ke belakang sebentar.

“Cil.”

Dinda menatap tanpa berkata apa-apa.

“Maaf.”

Satu kata terucap di bibir Daffa. Wajahnya terlihat serius, tidak ada candaan atau bahkan kesan cuek yang terkadang membuat Dinda kesal. Dan itu berhasil membuat Dinda tertunduk, dan canggung.

Daffa kembali menatap ke depan sambil tersenyum tipis. Setidaknya badai sudah berhasil ia taklukkan sedikit.

"Pegangan Cil. Kita berangkat."

Dinda tidak merespon karena ia masih sedikit kesal. Mungkin juga malu untuk terlihat telah memaafkan.

Dan tanpa aba-aba Daffa menarik tangan Dinda dan melingkarkannya di perutnya.

"Nggak usah malu Cil. Gue juga nanti bakalan jadi suami lu. Jadi gue bebas mau lu apain aja."

"Aduduh... Aduh! Ampun Cil!"

Kesempatan Dinda membalas Daffa dengan mencubit perutnya begitu mendengar ucapannya barusan.

*

*

*

Bersambung...

Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊

1
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
kasur atas kan maksudnya
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
ck.. keluar aja langsung sii
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
awas aja nyosor duluan cil
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
ciee ditinggal nikah
☪︎⃟⃝𝐇𝐅ᵐᵃᵘˡ✰͜͡𝐯𐝃W⃠
beruntung bngt km Din dptn Daffa yang cinta nya tulus.
☪︎⃟⃝𝐇𝐅ᵐᵃᵘˡ✰͜͡𝐯𐝃W⃠
Alhamdulillah akhirnya kalian menikah juga
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
dinda udah takut bakal di unboxing duluan ya wkwkwk
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
obrolan kakak dan adik tentang calon mantu 🤣😭
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
kuras semua dompet daffa din 🤣
eh tapi daffa kan belum kerja dan berpenghasilan yakan
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
wah bakal dikasih hadiah apa nih, dinda sama daffa 🤔
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
cap aja di daffa din 🤣🤣🤣🤣 cap kepemilikan, kasih stempel di jidatnya wkwkwk
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
daffa kek ngemong bocil ya 🤣 pantes dia manggilnya cil
☪︎⃟⃝𝐇𝐅ᵐᵃᵘˡ✰͜͡𝐯𐝃W⃠
berasa dikawal sama bodyguard ya Din.wkwkwk
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
garela kan
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
ya kali dinda yg pegang
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
kirain mau dirga yg bayarin
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
cocok nih.. calon ipar
☪︎⃟⃝𝐇𝐅ᵐᵃᵘˡ✰͜͡𝐯𐝃W⃠
janji harus ditepati yaa Daffa 🤭
☪︎⃟⃝𝐇𝐅ᵐᵃᵘˡ✰͜͡𝐯𐝃W⃠
sebebas itukah masuk rumah org,, biasanya kan mengucapkan assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh dulu
☪︎⃟⃝𝐇𝐅ᵐᵃᵘˡ✰͜͡𝐯𐝃W⃠
pasti seneng lah karena skrg kau lulus belajar nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!