Terjebak dalam novel yang pernah dibacanya, Lina terbangun sebagai pelayan istana di Kerajaan Valdoria sebuah dunia modern yang dipenuhi teknologi canggih namun tetap dikuasai oleh sistem monarki absolut. Sebagai wanita yang sangat mata duitan, tujuan Lina sederhana: kumpulkan uang sebanyak mungkin lalu kabur untuk hidup bebas. Sayangnya, rencana kabur itu terhambat ketika ia terus terseret intrik istana dan berhadapan langsung dengan Putra Mahkota Lucien. Pangeran dingin dan disegani itu secara misterius hanya bisa mendengar isi hati Lina sebuah keanehan khusus yang tidak berlaku pada orang lain. Di saat Lina berakting sopan dan penurut di luar, batinnya terus menggerutu, sibuk menghitung uang, dan merencanakan kabur. Lucien yang lelah dengan kebohongan orang-orang di sekitarnya justru merasa terhibur dengan suara hati Lina yang jujur dan serakah, membuat sang pangeran sengaja mengikat Lina di sisinya agar tak bisa pergi ke mana-mana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Kelopak mata Eliana terasa begitu berat saat ia perlahan membuka matanya. Aroma khas antiseptik dan cairan obat langsung menyengat indra penciumannya. Atap ruangan bercat putih bersih dengan pendar lampu temaram menyambut pandangannya.
Saat mencoba menggerakkan tubuhnya untuk duduk, rasa nyeri yang amat dahsyat dan panas mendadak menyengat perutnya.
"Aww... ANJIRR! SAKIT BANGET!" ringis Eliana tertahan sambil memegangi perutnya yang terbalut perban tebal.
Ia menyandarkan punggungnya kembali ke bantal sambil terengah-engah, memaki dalam hati. "Sumpah ya, penculik-penculik bangsat itu! Berani-beraninya main tusuk! Awas aja kalau ketemu lagi, gue gerus tuh muka ke aspal!"
"Hai, Tuan!"
"BOCAH APAAN TUH?!" jerit Eliana kaget setengah mati.
Ia menoleh cepat ke samping ranjang. Di atas meja nakas kecil, duduk sesosok makhluk mungil berwujud kucing putih berbulu lebat dengan mata bulat keemasan dan pita merah kecil di lehernya. Kucing itu menatap Eliana sambil mengibaskan ekornya yang mengembang menggemaskan.
Eliana membelalakkan mata, menunjuk kucing itu dengan jemarinya yang gemetar. "L-Lo... kok kucing bisa ngomong?!"
"Aku adalah wujud fisik dari Sistem Misi, Tuan," sahut suara jernih nan imut yang keluar dari mulut kecil kucing tersebut. "Hanya Tuan yang bisa melihat dan mendengarkan suaraku. Mulai sekarang, aku yang akan mendampingi dan memandu Tuan selama berada di dunia ini."
Kucing mungil itu berjalan melompati pinggiran ranjang, duduk santai di dekat lengan Eliana.
"Aku hadir untuk memberi panduan, petunjuk alur, serta membantu Tuan menemukan bukti-bukti kunci yang tersembunyi," lanjut sang sistem dengan gaya menggemaskan.
Mendengar hal itu, mata Eliana seketika berbinar-binar penuh kegembiraan. Rasa sakit di perutnya seolah menguap begitu saja digantikan semangat berkobar demi mengejar uang 100 miliar.
"HUWAA! BENERAN?! GILA, KEREN BANGET!" sorak Eliana girang, langsung mengelus gemas kepala kucing sistem tersebut. "Aduh, elusabel banget lagi bentukannya! Makasih ya, Sistem Kucing imut! Lo memang penyelamat hidup gue! Kalau gini caranya, urusan ngebongkar konspirasi istana mah gampang!"
Kucing sistem itu menikmati usapan Eliana sejenak, namun kemudian menepukkan salah satu cakar mungilnya ke tangan Eliana dengan raut wajah sok serius.
"Eits, tunggu dulu, Tuan. Jangan senang dulu," potong sang sistem mengingatkan. "Ingat ya, aku di sini hanya memberi arahan dan petunjuk lokasi, bukan langsung memunculkan bukti ajaib di tangan Tuan. Seluruh eksekusi, penjelajahan, dan pengambilan bukti tetap harus dilakukan oleh Tuan sendiri bersama Pangeran Lucien."
Eliana menghela napas panjang, namun senyum percaya diri tetap terukir di bibirnya. "Tenang aja! Kasih tau aja jalannya, sisanya biar gue sama Lucien yang babat habis!"
Sinar matahari pagi menyusup masuk melalui celah tirai di kediaman mewah Lucien. Di ruang makan penthouse yang luas dan sepi, Pangeran Mahkota itu duduk sendirian di meja makan marmer. Di hadapannya tersaji hidangan pagi yang lengkap, namun Lucien hanya menyentuh sedikit sup hangatnya. Rasa cemas dan gusar yang menumpuk sejak semalam membuat selera makan sang Pangeran menguap total.
Setelah menyelesaikan makannya dengan enggan, Lucien bangkit dan melangkah keluar menuju lorong utama. Suasana penthouse terasa begitu sunyi tanpa hadirnya suara batin Eliana yang biasa ramai dan penuh kehebohan di sekitar ruangan ini.
Saat melintasi area lorong dekat ruang cuci, langkah kaki Lucien terhenti secara mendadak. Dari balik sudut lorong, terdengar suara bisikan pelan dari dua orang pelayan rumah tangga yang sedang merapikan perlengkapan.
"Eh, kamu sudah dengar kabar tadi malam?" bisik pelayan pertama dengan suara tertahan. "Semalam aku ketiduran di ruang bawah, tapi sempat dengar helatan mobil dan langkah tergesa-gesa. Katanya Kapten Kenneth membawa Eliana ke Rumah Sakit Khusus Militer!"
"Hah?! Eliana?" pekik pelayan kedua dengan suara tertahan, matanya membelalak kaget. "Eliana mantan pelayan kita itu? Yang kemarin mengundurkan diri gara-gara kabar dia hamil itu?"
"Iya, dia!" sahut pelayan pertama cepat. "Aku dengar-dengar semalam dia diculik entah sama siapa! Kok bisa ya nasibnya apes banget? Padahal dia kan sudah tidak kerja di sini lagi."
"Diculik?" pelayan kedua menggeleng-gelengkan kepala penuh keheranan. "Kasihan banget ya... Tapi kok bisa Kapten Kenneth yang menemukan dan membawanya ke rumah sakit? Mungkin Eliana lagi apes ketemu penjahat di jalan, terus pas banget Kapten Kenneth atau pengawal istana lagi patroli di sekitar sana makanya ditolongin."
"Iya, mungkin cuma kebetulan apes aja. Lagipula Eliana kan cuma rakyat biasa, mana mungkin ada yang sengaja menargetkan dia..."
Mereka berdua sama sekali tidak menyadari bahwa Eliana sebenarnya sedang menjalankan misi rahasia bersama sang Pangeran Mahkota, apalagi mengetahui hubungan terselubung di antara mereka. Bagi para pelayan, Eliana hanyalah mantan rekan kerja mereka yang bernasib malang.
Namun, di balik dinding lorong, rahang Lucien seketika mengeras rapat. Manik mata birunya berkilat begitu dingin dan mematikan. Kata "diculik" dan "rumah sakit" yang baru saja di dengarnya bagaikan sulut api yang membakar habis sisa ketenangannya.
Tanpa menimbulkan suara, Lucien melangkah mundur dan berbalik arah. Jemarinya yang tegap merogoh saku jasnya, menarik keluar ponselnya dengan gerakan cepat dan penuh desakan. Ia segera menekan nomor kontak Kenneth.
Tut... tut...
Hanya butuh dua kali nada dering sebelum panggilan itu diangkat.
"Yang Mulia—"
"Kenneth," potong Lucien dengan suara yang amat mendalam, berat, dan sarat akan ancaman maut yang membuat udara di sekitarnya terasa membeku. "Bisa kau jelaskan padaku... kenapa aku harus mendengar dari gosip para pelayan bahwa Eliana berada di rumah sakit karena diculik semalam?"
Di ujung telepon, helaan napas Kenneth seketika tertahan, menyadari bahwa penyembunyian informasinya telah terbongkar di hadapan sang Pangeran Mahkota.