va_jiyoon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon va_jiyoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27 - Penyerangan Digital
Sama seperti markas Big Dragon utama, di sana pun Felix langsung disambut kedatangan nya oleh mafioso yang sedang berjaga.
Cuaca siang itu terasa begitu dingin, langit yang biasanya cerah entah kenapa saat ini menunjukan awan hitam nya. Angin berhembus membuat suasana dingin, dedaunan pun ikut menari mengikuti alunan angin yang menabraknya.
"Kau bisa bebas berkeliling, aku ada rapat. Kau menggunakan kalung itu kan?" ucap Felix.
"Iya" jawab Vanka sambil menunjukkan kalung naga berwarna putih yang bertengger di leher jenjang nya.
Setelah kepergian Felix, Vanka pun merogoh saku nya dan memakai sebuah eirphone bluetooth dan lebih memilih untuk duduk di ruang tengah sambil menonton tv. Tapi tv yang menyala tidak lah mendapat perhatian Vanka, ia justru sibuk dengan ponsel nya sendiri.
Di lain tempat dimana Felix berada. Dengan berbagai komputer canggih yang menyala serta orang-orang yang nampaknya sangat sibuk dengan komputer-komputer canggih itu. Mereka tengah bekerja sama untuk menyerang seseorang dengan digital.
"Tuan, seperti nya mereka menyadari pergerakan kita" ucap salah satu orang yang memegang komputer paling lebar, sebut saja si A.
"Bagaimana bisa, aku sudah mengantisipasi ini" ucap rekan nya sebut saja si B.
"Terus fokus kirim virus-virus itu" titah Felix.
"Kau berusahalah menembus pertahanan mereka, kita harus bisa mendapatkan informasi tentang sumber uang yang mereka gunakan" lanjut Felix memerintah.
"Aku akan berusaha, Tuan" ~C.
Di sisi lain, mereka tak kalah sibuk dengan para anak buah Felix. Ya mereka adalah orang yang diserang lewat digital oleh Felix. Mereka berusaha mempertahankan pertahanan mereka sesuai perintah seseorang.
"Pertahankan informasi sumber pendapatan kita" ucap seseorang, "Waspada dengan kiriman virus" sambungnya.
"Baik Queen" ~Jawab mereka semua yang ada di sana.
"Queen saya butuh izin akses anda" ucap seseorang lelaki tampan dengan kacamata bulat yang menambah kesan ketampanan nya.
"Kirim itu, karena itu mengunakan iris mata ku" ~Queen.
Kembali pada Vanka yang sedang menyendiri di ruang tengah dengan hp nya. Vanka terlihat sangat serius dengan ponsel nya saat ini. Jari-jemarinya dengan lincah menekan-nekan layar hp nya.
"Vanka, kau sedang apa?" tanya Zucca tiba-tiba.
Karena Vanka menggunkan eirphone dan masih fokus pada hp nya, ia tak menyadari kehadiran Zucca di depan nya.
"Vanka?!" ucap Zucca sedikit lebih kencang sambil menepuk punggung Vanka.
"Hah?" kejut Vanka langsung menyembunyikan ponselnya.
"Ada apa? kenapa kau terlihat gugup?" tanya Zucca.
"Ah itu tidak, aku hanya sedang bermain game. Ku kira kau Tuan Felix, aku tidak mau dianggap lalai dalam pekerjaan ku. Ku mohon jangan jangan laporkan ini pada Tuan Felix" pinta Vanka menunduk.
"Astaga, ku kira kamu kenapa. Tidak apa lagian Felix sedang sibuk bukan, kau bisa bebas bermain game ataupun melakukan hal-hal lainnya" ~Zucca.
"Eum! terimakasih" ~Vanka.
...°•°•°•°...
"Hati-hati Tuan, anda pasti bisa" ucap Vanka saat membantu Felix untuk belajar berjalan di taman belakang mension. Mereka tak hanya berdua, ada Athar juga yang ikut memerhatikan interaksi manis antara dua insan itu.
"Ayo paman, kau pasti bisa!" ucap Athar memberi semangat.
Entah sudah berapa hari mereka berada di negara yang kaya akan keanekaragaman hayati nya, budaya, dan lain-lain nya itu. Sejauh ini mereka terlihat betah-betah saja, bahkan kini Athar telah bersekolah di salah satu taman kanak-kanak yang terbilang elit di kota yang mereka tinggali.
Setiap hari Vanka lah yang bertanggung jawab bagi Athar, mulai dari membangunkan nya, menyiapkan segala keperluan nya, membuatkan bekal, mengantarkan nya ke sekolah, dan menjemput nya pulang.
Tapi walaupun begitu pekerjaan utama nya untuk mengurus seorang Felix Chus Luchifer tak ia lalaikan. Dia bisa dengan mudah membagi waktu untuk keduanya, ah ralat tambah satu menjadi ketiga nya sesuai proporsi nya masing-masing.
"Vanka, berhenti kaki ku kram" ucap Felix dengan keringat yang bercucuran.
"Ah Athar tolong ambilkan kursi roda itu" ucap Vanka sambil berusaha menahan tubuh berat Felix yang lemas agar tidak tumbang.
Posisi keduanya sangatlah dekat, Vanka mendekap erat tubuh Felix dan Felix sendiri menyandarkan tubuh nya pada Vanka.
Sejenak Felix tersadar dengan posisi nya saat ini yang terlihat begitu dekat dengan pembantu pribadi nya itu. Aroma lembut vanilla tercium kuat di hidung Felix, dan entah mengapa ia menjadi merasa tenang dan ingin terus menghirup wangi lembut ini.
"Tuan, ayo aku bantu duduk" ucap Vanka.
Tanpa mendapatkan respon, Vanka pun berusaha meletakkan tubuh Felix pada kursi roda. Tapi Felix yang belum melepaskan pelukan erat nya membuat tubuh kecil Vanka justru ikut tertarik hingga ia terjatuh menubruk Felix yang sudah duduk di atas kursi roda.
Keduanya sama-sama terdiam sejenak hingga suara Athar mengacaukan moment manis itu.
"Mommy, Paman?" ucap Athar polos.
"Eh!" Vanka yang tersadar pun langsung berdiri, "Athar, bisa Athar ambilkan tisu di atas bangku itu? terus nanti gunakan tisu itu untuk mengelap keringat Paman Felix ya sayang. Kakak ambilkan air minum untuk kalian dulu" ~Vanka.
"Bisa Mommy!" jawab Athar, anak kecil itu langsung bersemangat menggapai tisu itu. Di saat ia sudah mendapatkan tisu yang dimaksud dan hendak mengusap keringat Felix, nyalinya tiba-tiba menciut. Bahkan ia sempat diam mematung sambil menundukkan kepalanya di depan Felix.
Tapi saat mengingat titah sang Mommy, Athar pun menyakinkan dirinya dan mulai mengusap keringat Felix dengan sedikit naik ke atas kursi roda.
"Anak ini" geram Felix dalam hati.
"Tidak usah" tolak Felix sambil menyingkirkan Athar dengan pelan.
Seketika nyali yang tadi sempat meningkat kini turun drastis. Di saat suasana sedang tegang-tegang nya antara Felix dan Athar, tiba-tiba Bianca datang sambil membawakan jus alpukat dan beberapa cemilan.
"Tuan, silahkan diminum jus alpukat nya. Saya membuat nya sendiri, semoga, Tuan suka" ucap Bianca.
"..." tak ada jawaban dari Felix, dia hanya diam memandang Athar yang diam sambil menundukkan kepalanya.
"Tuan, apa perlu saya bantu? baiklah" ~Bianca dengan lancang menyodorkan jus alpukat itu di hadapan Felix. Dan dengan ceroboh nya ia malah menumpahkan sedikit jus itu di atas baju yang Felix kenakan.
"****!!" umpat Felix.
"Maafkan saya Tuan, saya ceroboh, saya tidak sengaja. Tuan saya mohon" panik Bianca sambil berusaha membersihkan noda itu dengan sapu tangan yang dibawanya.
Felix yang tidak suka dirinya disentuh-sentuh pun langsung menepis tangan Bianca, "Menjauh lah, astaga VANKA!" teriak Felix.
"I-iya Tuan sebentar" jawab Vanka, ia sedang berjalan dengan hati-hati, di tangan nya terdapat nampan dengan segala isinya bisa-bisa jika dia berlari isi nampan itu akan menjadi bahan untuk di tempatkan di tempat sampah.
"Iya Tuan, ada apa? eh Tuan kenapa ada noda di baju mu" ~Vanka.
"Astaga! apalagi ini alpukat, kau yang memberi nya? apa kau tau, Tuan alergi terhadap alpukat, aduh" tegur Vanka menatap Bianca.
"Kamar!" kesal Felix.
Mengerti akan maksud Felix, Vanka pun buru-buru meletakkan nampan nya dan beralih mendorong kursi roda Felix.
"Mommy... hiks... hiks..."
Ah sepertinya dia melupakan satu bayi nya yang masih kecil itu, "Sayang kau kenapa? kemarilah" ~Vanka.
"Vanka!" tegas Felix bertambah kesal.
"Eh?" ~Vanka.
Huh andai saja Vanka bisa membelah dirinya, pasti akan ia lakukan sekarang. Sungguh ia kasian melihat Athar yang menangis, tapi ia juga tidak bisa membantah Felix yang merupakan bos nya yang sesungguhnya. Merawat nya adalah tugas utama bagi Vanka.
"Athar, sekarang Athar ke kamar gih, mandi. Nanti Kakak siapin makan siang yang enak buat Athar. Tapi syaratnya, Athar gak boleh nangis, paham?" ~Vanka.
"Paham Mommy, Athar sayang Mommy" ~Athar.
Setelah memastikan Athar pergi menuju kamar nya, Vanka pun ikut pergi mendorong kursi roda Felix. Kini hanya tersisa Bianca dengan segala kekacauan di taman itu.
"Sialan kau Vanka! lagi-lagi kau menang, liat saja lain kali kau lah yang akan menangis memohon pada ku!!" kesal Bianca.
...°•°•°•°...