Mengisahkan tentang cinta yang hadir menemani kisah Antara kakak dan adik yang terpisah karena masalalu, kemudian kembali bersama dengan rasa yang sama menyelimuti Asa dan jiwa dengan mengalir darah yang sama.
Mereka tahu bahwa semua ini adalah terlarang.
Tapi apalah artinya cinta.
Cinta hadir tanpa mengenal segalanya, dan secara tidak langsung menghancurkan raga dan jiwa untuk menguburkan nya dalam dalam. Untuk menghindari hal yang tidak mereka inginkan.
Takdir yang selamanya takkan pernah bisa bersatu dengannya. Menanggung risiko hati yang tidak memungkinkan.
*Cerita ini ganti judul yang sebelumnya "Alfi" menjadi " between " karena Authornya berubah pikiran, hehe.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SuI@ti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 26
Setelah kelulusan Stevie, dinamika di sekolah mengalami perubahan yang halus namun terasa. Para siswa yang tergabung dalam tim sahabat kepercayaan baru kini berusaha mengisi posisi Stevie dengan sebaik mungkin. Mereka terdiri dari Lintang, Hila, dan beberapa anggota baru yang Stevie dan timnya latih selama beberapa bulan terakhir. Para siswa ini memiliki energi yang penuh semangat, tetapi masih sering menghadapi kesulitan dalam menjaga kesatuan visi dan misi tim yang selama ini diperjuangkan Stevie.
Lintang, yang kini memimpin tim, menyadari betapa besarnya tanggung jawab yang diwariskan padanya. Suatu pagi, ia mengumpulkan anggota tim di ruang kecil yang biasanya mereka gunakan untuk berdiskusi.
“Sepertinya, kita harus lebih sering mengadakan sesi diskusi terbuka, khususnya buat siswa baru,” usul Lintang sambil melihat ke arah Hila, yang terlihat setuju.
“Benar,” kata Hila. “Setelah Stevie pergi, banyak siswa yang sepertinya merasa tim ini sudah nggak seperti dulu. Kita harus memastikan bahwa mereka tetap merasa kita ini ‘sahabat’ mereka, bukan sekadar ‘petugas’ di sekolah.”
Para anggota tim pun sepakat, dan mereka mulai merencanakan strategi baru untuk mendekati siswa-siswa yang belum mengenal mereka, terutama mereka yang baru saja masuk sekolah. Namun, tak lama kemudian, sebuah kejadian tak terduga menimpa salah satu anggota tim sahabat kepercayaan.
Suatu sore, ketika Lintang sedang menata buku-buku di perpustakaan, seorang siswa bernama Riko masuk dengan raut wajah cemas. Ia menghampiri Lintang dengan cepat, “Lintang, kamu tahu nggak kalau ada siswa baru yang dipaksa untuk ikut dalam kelompok tertentu di sekolah? Katanya mereka digertak oleh anak-anak yang lebih senior.”
Lintang kaget mendengar kabar itu. "Serius, Riko? Kok aku belum dengar apa-apa soal ini?"
Riko mengangguk. “Iya, aku dengar dari seorang teman, katanya ada anak-anak baru yang merasa tertekan sama geng tertentu. Mereka bilang, kalau nggak ikut kelompok itu, mereka bakal dikucilkan.”
Lintang langsung mengumpulkan anggota tim untuk membahas kabar tersebut. Kejadian ini membuat mereka menyadari bahwa ada tantangan baru yang mereka hadapi: bagaimana cara menangani isu pergaulan dan tekanan sosial yang mungkin semakin intens di sekolah.
Mereka sepakat untuk memperhatikan lebih dekat suasana di sekolah, terutama siswa-siswa baru yang mungkin merasa tertekan atau tersisih. Lintang juga meminta Hila untuk mendekati beberapa siswa yang sering terlihat sendirian atau tampak ragu untuk bergaul.
Suatu hari, saat Hila sedang duduk di kantin, ia melihat seorang siswa baru, perempuan bernama Mia, yang duduk sendirian dengan kepala tertunduk. Hila mendekati Mia dan mengajak berbicara.
"Hai, Mia, boleh aku duduk di sini?" tanya Hila dengan senyum ramah.
Mia terlihat sedikit terkejut namun mengangguk. “Oh, boleh kok.”
Mereka mengobrol ringan pada awalnya, namun akhirnya Mia mulai terbuka. Ternyata, Mia mengalami tekanan dari sekelompok siswa yang menganggapnya aneh karena tidak mengikuti gaya mereka. Mia merasa terasing dan takut.
“Aku nggak tahu harus gimana, Hila. Mereka bilang kalau aku nggak ikut gaya mereka, aku nggak akan punya teman di sini.”
Hila merasa simpati dan menenangkannya. “Kamu nggak sendiri, Mia. Kami ada di sini buat kamu. Nggak semua orang harus ikut cara orang lain untuk diterima. Kadang, justru dengan menjadi diri sendiri, kamu bisa menemukan teman-teman yang lebih tulus.”
Keesokan harinya, Hila menceritakan pertemuannya dengan Mia kepada Lintang dan anggota tim lainnya. Mereka menyadari bahwa ada banyak siswa lain yang mungkin merasakan tekanan serupa namun enggan bercerita.
“Kayaknya, kita perlu buat acara yang bisa mengajak mereka semua untuk terbuka, tanpa merasa takut dihakimi atau diasingkan,” kata Lintang.
Lintang dan tim sahabat kepercayaan mulai merencanakan acara besar bertajuk “Hari Kejujuran”, di mana para siswa didorong untuk mengungkapkan perasaan, keresahan, dan impian mereka tanpa rasa takut. Hari itu disiapkan dengan hati-hati, mereka merancang suasana yang menyenangkan dan mengundang para siswa untuk berbagi cerita di ruang terbuka yang nyaman.
Saat hari itu tiba, banyak siswa yang awalnya ragu akhirnya berani berbicara. Ada yang mengungkapkan ketakutan mereka tentang ekspektasi orang tua, ada pula yang bercerita tentang perasaan kesepian mereka di lingkungan sekolah. Mia, yang sebelumnya sangat pemalu, akhirnya berani berbicara tentang pengalamannya menghadapi tekanan dari teman-temannya.
Di tengah suasana itu, Lintang menyadari bahwa perannya sebagai pemimpin tidak hanya tentang menjadi teladan, tapi juga menciptakan lingkungan di mana semua orang bisa merasa didengar dan dihargai. Setelah acara selesai, Lintang dan Hila mendiskusikan hasilnya di taman sekolah.
“Aku nggak nyangka, Lintang. Ternyata banyak banget yang punya masalah serupa, tapi mereka takut buat cerita,” ujar Hila.
Lintang mengangguk. “Itulah gunanya kita ada di sini. Kita ini nggak sempurna, tapi kalau kita bisa jadi tempat bagi mereka untuk merasa aman, berarti kita sudah melakukan hal yang benar.”
Dari hari itu, tim sahabat kepercayaan semakin mendapat dukungan, baik dari siswa maupun guru. Mereka dianggap sebagai bagian yang penting dalam menjaga kenyamanan di sekolah, terutama saat tekanan sosial mulai menghantui siswa-siswa baru.
Namun, tantangan lain menanti mereka. Ketika para anggota baru mulai merasa nyaman dengan peran mereka, muncul kabar bahwa akan ada peraturan baru yang membatasi interaksi siswa di luar jam pelajaran. Beberapa siswa mulai khawatir bahwa kegiatan tim sahabat kepercayaan akan terganggu, atau bahkan terhenti karena peraturan baru tersebut.
Suatu hari, Pak Adi mengundang Lintang dan Hila untuk berdiskusi di ruang guru.
“Kami tahu peran kalian sangat berarti di sini,” ujar Pak Adi, “Namun, kita harus mempertimbangkan kebijakan sekolah dan kebutuhan siswa secara seimbang. Ada beberapa orang tua yang khawatir dengan jam tambahan di luar pelajaran.”
Lintang merasa sedih, namun berusaha mengerti. “Tapi Pak, kegiatan kami sangat membantu siswa lain. Banyak dari mereka yang merasa lebih baik setelah bisa berbagi dengan kami.”
Pak Adi tersenyum dan meyakinkan mereka, “Saya paham, Lintang. Itulah sebabnya kami akan mencari cara agar kegiatan kalian tetap berjalan. Mungkin dengan jadwal yang lebih teratur, dan fokus pada jam istirahat atau waktu-waktu yang tidak mengganggu pelajaran.”
Lintang merasa lega mendengar penjelasan itu. Mereka sepakat untuk mengatur ulang jadwal kegiatan agar sesuai dengan aturan baru namun tetap dapat mendukung siswa-siswa di sekolah.
salam dari "UNSEEN."
_brnci tapi cinta