🍃🦋No BoomLike🦋🍃
🍀Fav, Like, Comment🍀
🥰Thanks for Support🥰
Pernikahan impian yang diinginkan berlandaskan cinta, nyatanya harus dilalui penuh pengorbanan. Caci-maki tanpa alasan jatuh dalam pelukan. Pernikahan suci menjadi taruhan. Banyak luka dan cerita menyayat batin yang diciptakan oleh sang ibu mertua.
Akankah Fathia menemukan seseorang bagai oase dalam keringnya mahligai pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asma Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Takdir Mempertemukan
Tiga minggu telah berlalu, kehidupan masih berjalan sebagaimana hari kemarin. Akan tetapi suara teriakan dari kamar Raisa mengejutkan Arka yang baru saja terlelap setelah semalaman lembur bekerja. Langkah kakinya berlari menghampiri kamar atas. Dimana ternyata pintu terbuka lebar.
"Sayang, are you okay?" tanya Arka panik begitu masuk melewati pintu kamar sang putri, tapi Raisa berdiri mematung di depan kamar mandi seraya menunjuk ke arah dalam ruangan.
Entah apa yang dimaksudkan, tapi langkah kaki mencoba untuk menemukan apa yang menjadi penyebab putrinya berteriak begitu keras hingga terdengar sampai ke lantai bawah. Tatapan mata was-was begitu langkah kaki memasuki kamar mandi. Di bawah shower dengan air yang mengalir Fathia tergeletak tak sadarkan diri dengan kaki yang mengeluarkan darah.
Melihat hal itu, Arka langsung menggendong Fathia keluar dari kamar mandi. Lalu merebahkan tubuh wanita itu ke sofa putih sehingga warna merah ikut mewarnai. Ia juga memanggil semua pelayan untuk segera ke lantai atas.
Ditengah usaha Arka mencoba menyadarkan sang baby sister. Raisa menangis sesenggukan tak kuasa melihat keadaan sang mama yang memang terlihat kesakitan. Apalagi sebelum jatuh tak sadarkan diri, mereka berdua baru saja selesai mandi bersama. Hanya karena permintaannya yang ingin main pistol air, maka Fathia kembali ke kamar mandi.
Siapa sangka ada sisa sabun yang tak sengaja tercecer di lantai membuat Fathia terpeleset hingga jatuh terjerembab dengan posisi perut membentur pinggir bath up. Raisa yang terkejut dengan bunyi benda jatuh langsung berlari ke arah kamar mandi, tapi disaat yang sama Fathia sudah tidak sadarkan diri.
Warna merah yang mengalir mewarnai lantai menjadi rasa takutnya. Di sisa keberanian hanya teriakan memanggil sang papa agar datang menemuinya. Kini jelas ia tak berani mendekat. Apalagi mata wanita yang selalu membuatnya bahagia masih saja terpejam. Semua hanya karena dia seorang. Perasaan bersalah semakin menumpuk meninggalkan rasa takut.
Arka langsung menelepon dokter yang biasa menangani Fathia agar segera kerumah. Bahkan pria itu juga menyebutkan ciri-ciri yang dialami sang baby sitter secara detail. Sehingga dokter menyarankan untuk segera membawa ke rumah sakit secepat mungkin karena harus ditangani secara lebih intensif.
Sayangnya di telepon dokter tidak mengatakan kebenaran yang sudah menjadi kesimpulan akurat seorang dokter. Arka tak menunda waktu. Ia sengaja membawa Fathia ke rumah sakit, tapi tanpa ingin meninggalkan Raisa dirumah sendirian. Meski harus meminta salah satu pelayan juga ikut, setidaknya sebagai seorang ayah tetap menjaga putrinya.
Rumah sakit kota Kasih Bunda. Dokter yang ia hubungi sudah menunggu di luar rumah sakit dengan tim medis yang bisa diandalkan. Semua orang benar-benar bertindak cekatan tanpa ada perdebatan seakan sudah mengetahui kondisi pasien yang membutuhkan perawatan secepat mungkin.
"Tuan, bisa kita keruangan saya? Ada yang harus saya katakan, tapi Raisa bisa ditemani suster untuk bermain di ruang anak. Mari!" Bu Dokter memberi kode jari agar suster asistennya mengajak Raisa dan pelayan Tuan Arka meninggalkan lorong ICU. Sementara ia dan pria itu berjalan ke arah lain menuju ruangan kerja pribadi.
Fathia yang masih ditangani oleh tim medis, sedangkan Arka harus menurut demi mendapatkan informasi yang sepertinya sangatlah penting. Keduanya masuk keruangan si dokter yang ternyata juga seorang wakil direksi di rumah sakit tersebut.
"Begini, Tuan. Apakah akhir-akhir ini ada hal yang mencurigakan dilakukan Fathia? Misal makan ice cream ditengah malam, atau makan makanan pedas asam sebelum sarapan pagi. Ini hanya contohnya, bagaimana?" Bu Dokter bertanya seakan Arka adalah suami Fathia.
Tentu saja pria yang ditanya tidak paham maksud dari si dokter. Hanya saja ia masih mencoba mengingat apa saja yang dilakukan Fathia selama seminggu terakhir. "Entahlah, Dok. Semua terlihat normal, tapi tiga hari lalu dia bilang ingin sekali makan kebab dengan saus pedas. Saya langsung memesan, tapi karena pihak resto mengirim pesanan yang salah. Jadi kebab saus mayonaise."
"Anehnya, Fathia memilih membuat sambal rujak yang memiliki tingkat pedas lumayan. Kebab berubah menjadi penyet colek sambal. Raisa saja sampai melongo melihat semua itu, dan memberikan kebab bagiannya pada Fathia." sambung Arka membuat Bu Dokter terkekeh pelan.
Sepertinya pria itu kasih tidak paham bahwa Fathia tengah ngidam, "Maaf, saya tidak bermaksud menertawakan Fathia. Jadi sebenarnya, wanita itu tengah hamil muda. Ini kabar yang menggembirakan. Akan tetapi yang dikhawatirkan saat ini adalah bayi yang baru mulai tumbuh mengalami keguguran karena benturan di perutnya."
Hamil? Itu berarti anak dari suami sang baby sister. Rasanya aneh ketika hati mengucapkan syukur atas keguguran yang dialami Fathia. Apa dia masih waras? Bayangkan bagaimana perasaan wanita itu ketika tahu tidak bisa menjaga bayi yang baru saja tumbuh. Pasti akan menjadi trauma yang sulit disembuhkan.
Sontak saja Arka mengusap dada seraya mengucapkan istighfar berulang-ulang agar sadar diri dengan keinginan hati yang jauh dari perikemanusiaan. Bu dokter bisa melihat gelagat Sang Tuan yang mulai menaruh hati pada Fathia dan jujur ia pun berharap. Kedua insan itu bisa saling membuka hati demi kehidupan di masa yang akan datang.
"Dok, boleh Saya masuk?" Suara seorang pria dari luar mengalihkan perhatian kedua orang yang ada di ruangan, hingga pintu di dorong ke depan tanpa permisi. "Maaf, tapi saya tidak ingin mengantri."
"Anda? Kenapa selancang itu masuk keruangan saya!" tegas Bu Dokter tak suka dengan cara keluarga pasien yang memang sudah beberapa kali mengganggunya.
Ia tahu dan hapal wajah pria yang kini menatapnya dengan memelas. Siapa lagi jika bukan Rahil si suami Fathia. Arka juga paham bahwa pria itu merupakan salah satu karyawan perusahaannya, tapi tidak dengan sebaliknya. Kedua pria yang memiliki rahasia masing-masing dipertemukan takdir karena bu dokter sebagai perantara tak terencana.
"Dok, kedatanganku hari ini hanya ingin mengajukan sebuah permintaan agar wanita yang duduk di kursi luar sana bisa menggugurkan kandungannya. Tidak ada sangkut pautnya dengan keributan yang aku buat kemarin. Tolong, Dok." ucap Rahil dengan wajah frustasi, membuat Dokter mengernyit tak paham.
Wanita mana yang dimaksud Rahil? Apa pria itu tahu tentang kondisi Fathia saat ini? Tidak. Tanpa ingin mengambil kesimpulan. Bu dokter beranjak dari tempat duduknya, lalu memeriksa siapa yang ada di luar ruangan. Ternyata seorang wanita dengan wajah mengenakan masker dan selendang hitam penutup kepala.
Pintu kembali ditutup, kemudian ia berdiri di hadapan Rahil dengan tangan bersembunyi di balik saku jas putih kebanggaannya. "Apa dia istrimu? Berapa usia kehamilannya?"
"Aku tidak tahu, Dok. Seminggu ini dia mengeluh tidak enak badan dan terus mual. Permintaan ku sebagai antisipasi saja, tapi sebelum itu silahkan periksa terlebih dahulu." jawab Rahil tanpa rasa bersalah, bahkan jelas sekali hanya ingin memanfaatkan si wanita diluar sana sebagai pemuas napsu saja.
Dokter berpura-pura paham dan menyetujui, tapi sebelum itu meminta bukti tanggung jawab agar Rahil tidak lari dari masalah karena sudah membawa anak orang kerumah sakit. Dokumen surat pernyataan dan perjanjian juga disaksikan oleh Arka. Semua yang terjadi di ruangan itu seperti buku yang terbuka.
"Suster, bawa pasien atas nama nyonya Rahil keruangan pemeriksaan!" titah Bu Dokter lalu mempersilahkan Rahil untuk mengikuti kepergian wanitanya menuju ruang yang sudah disiapkan.
Arka masih bertahan di ruangan itu karena informasi yang dia dapatkan belumlah lengkap. Sayangnya Bu dokter menyambar stetoskop di atas meja, lalu menyerahkan bukti tanggung jawab Rahil ke pangkuannya. Ia tidak paham, tapi jemari yang berselancar di atas benda pipih baru selesai menuliskan sebuah pesan.
Suara notif mengalihkan perhatian Arka, diambilnya ponsel dari tempat persemayaman. Sebuah pesan masuk yang ternyata dari si dokter. Tatapan mata terbelalak tak percaya dengan isi pesan yang barusan ia baca dalam hati. Apakah itu semua benar?
\[*Dia suami Fathia, simpan bukti sebagai kasus banding. Suatu saat nanti pasti dibutuhkan dalam sidang perceraian. Bukti visum dan lainnya akan saya kirim secara keseluruhan.\] ~pesan dari Bu Dokter*.