"Mas Akball itu mobilan Aqil balikin ngga!" teriak sebuah suara cempreng dari arah ruang tengah.
"Bukan! Ini punya Mas Akbar! Kemarin Aqil udah main yang warna merah, sekarang Mas yang biru!" balas Akbar
Sejak perceraiannya tiga tahun lalu, Abi memang mantap untuk tidak mempekerjakan ART. Ia ingin merawat dan membesarkan kedua buah hatinya dengan tangannya sendiri, meski statusnya sebagai duda beranak dua sering kali menguras energi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Sore harinya, matahari mulai meredup di ufuk barat, membiaskan warna keemasan di pekarangan rumah Bu Marni. Abi yang baru saja selesai merapikan beberapa perkakas di teras mendadak menghentikan aktivitasnya begitu mendengar deru mesin motor matik berhenti di depan pagar.
Seorang pria paruh baya berkemeja batik dan bersarung rapi turun dari motor. Pria itu adalah Pak Seno, Kepala Desa setempat.
"Assalamu'alaikum, Mas Abi," sapa Pak Seno ramah seraya melangkah memasuki halaman.
"Wa'alaikumsalam... Eh, Pak Kades. Mari, Pak, silakan duduk," balas Abi menyambut hangat, mempersilakan sang tamu duduk di kursi kayu teras.
Pak Seno menyapu pandangannya sejenak lalu terkekeh pelan. "Tadi saya sempat mampir ke rumahmu, Mas. Saya ketuk-ketuk pintu ndak ada orangnya, makanya saya langsung putar arah ke rumah ibumu ini. Tebakan saya benar, kamu pasti lagi di sini."
"Nggih, Pak Kades. Mohon maaf," jawab Abi sambil tersenyum tipis.
"Sudah beberapa hari ini saya tinggal di sini, Pak. Awalnya karena Aqil sakit kemarin, jadi biar gampang ada yang bantu jaga."
Pak Seno mengangguk-angguk paham, raut wajahnya menunjukkan simpati. "Oalah, begitu... Gimana keadaan si kecil sekarang, Mas? Sudah sembuh?"
"Alhamdulillah pun sehat, Pak," sahut Abi lega.
"Wonten kenapa nggih, Pak Kades? Kok sampai repot-repot nyariin saya?"
Pak Seno tertawa kecil mendengar penuturan Abi, lalu mengibaskan tangannya pelan.
"Begini, Mas Abi. Kedatangan saya kemari sebenarnya mau minta tolong. Besok malam ada rapat Karang Taruna di balai desa, Mas Abi bisa datang ya?" ujar Pak Seno menyampaikan maksud kedatangannya.
Abi tertegun sejenak, lalu terkekeh sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Walah, Pak Kades... Saya ini kan bukan bagian dari Karang Taruna lagi," tolak Abi halus. "Sudah punya dua buntut ini, Pak. Malu sama anak-anak muda kalau saya ikut nimbung rapat Karang Taruna."
Pak Seno justru makin tersenyum lebar mendengar alasan Abi. Ia menepuk bahu Abi pelan dengan nada membujuk.
"Tak apa-apa, Mas Abi," sahut Pak Seno santai.
"Justru Karang Taruna desa kita itu butuh sosok senior yang berpengalaman seperti kamu buat membimbing mereka. Anak-anak muda sekarang itu butuh pengarahan untuk acara peringatan desa bulan depan. Jadi ndak masalah walau sudah punya dua buntut, kehadiranmu tetap sangat kami harapkan."
Abi menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, merasa ragu namun juga tak enak hati untuk menolak permintaan langsung dari sang Kepala Desa.
"Beneran tak apa-apa ini, Pak?" tanya Abi memastikan sekali lagi.
"Beneran, Mas. Pokoknya besok malam sehabis Isya ditunggu di balai desa, ya," pangkas Pak Seno mantap seraya berdiri dari kursi teras, menandakan tugas ajakannya sudah selesai.
Tak lama setelah deru motor Pak Seno berlalu menjauhi pekarangan, Bu Marni keluar dari pintu dapur sambil menyapu sisa tepung di celemeknya. Matanya menatap ke arah jalan desa sebelum beralih pada Abi yang masih berdiri di teras.
"Ngapain Pak Kades datang, Bi?" tanya Bu Marni penasaran. "Ada urusan penting toh?"
Abi memutar badan lalu berjalan mendekati ibunya. "Itu, Bu... Pak Kades minta Abi datang ke rapat Karang Taruna besok malam di balai desa."
Bu Marni mengernyitkan alisnya heran. "Lho, rapat Karang Taruna? Kamu kan sudah bapak-bapak, Bi. Kok malah disuruh ikut rapat anak-anak muda?"
"Nah, itu dia, Bu. Abi tadi ya bilang begitu, kan Abi sudah punya dua buntut," kekeh Abi sambil menggeleng pelan. "Tapi Pak Kades bilang tak apa-apa. Katanya butuh senior buat bantu bimbing anak-anak muda nyiapin acara desa bulan depan."
Bu Marni mengangguk-angguk paham, lalu tersenyum tipis menepuk lengan putranya.
"Ya sudah, datang saja, Bi," ujar Bu Marni memberi dorongan. "Bagus itu. Daripada kamu pikiran terus gara-gara urusan kemarin, mending ikut nimbung sama warga. Anak-anak biar Ibu yang jaga di rumah kalau kamu ke balai desa."
Keesokan malamnya, sehabis Isya, Abi sudah bersiap-siap. Ia mengenakan kemeja koko kasual warna abu-abu dipadu celana kain hitam yang rapi. Aroma minyak wangi tipis tercium dari bajunya saat ia melangkah keluar dari kamar.
Di ambang pintu depan menuju teras, tampak Akbar dan Aqil sedang duduk berdua di atas ambang kayu pintu rumah Bu Marni, mengayun-ayunkan kaki mereka sambil mengobrol polos.
Abi menghentikan langkahnya, menatap kedua putranya dengan dahi berkerut halus.
"Mas Akbar, Aqil... Pindah duduknya, Nak. Jangan duduk di tengah pintu, pamali," tegur Abi lembut seraya mendekati mereka.
Akbar langsung berdiri, sementara Aqil mendongak menatap ayahnya dengan mata bulatnya yang polos seraya mengedip-kedip bingung.
"Pamali apa, Yah?" tanya Aqil polos sambil memiringkan kepalanya.
Abi terkekeh pelan, lalu berlutut memindahkan Aqil ke atas balai-balai kayu di teras agar tidak menutupi jalan.
"Pamali itu larangan dari orang tua jaman dulu, Jagoan. Kalau duduk di tengah pintu, nanti ngalangi orang lewat, terus rezekinya juga bisa tersumbat ndak mau masuk," terang Abi sambil mencubit gemas pipi bungsu-nya.
"Lagi pula kalau ada orang buru-buru lewat, nanti kalian bisa tertabrak."
"Ooh..." sahut Aqil ber oh ria sambil manggut-manggut sok mengerti, membuat Bu Marni yang baru keluar dari ruang tengah ikut tertawa melihat tingkah cucunya.
"Sudah, sana berangkat, Bi. Biar anak-anak main sama Ibu di dalam," ujar Bu Marni.
"Nggih, Bu. Abi pamit ke balai desa dulu ya," pamit Abi seraya mencium tangan ibunya, lalu bergantian mengusap kepala Akbar dan Aqil sebelum melangkah menuju sepeda motornya.
Sesampainya di balai desa, suasana sudah tampak ramai. Pendar cahaya lampu neon menerangi ruangan tengah yang dialasi tikar pandan.
Abi melepas sandalnya di teras lalu melangkah masuk. Di dalam, Pak Seno sudah duduk bersila di barisan depan bersama sekitar dua belas orang yang berkumpul. Tampak anggota Karang Taruna muda, Kang Pardi yang sedang mengobrol sesumbar, serta beberapa pemuda seumuran Abi yang masih betah melajang dan tinggal di desa itu.
Tak jauh dari sana, ada Kayla yang duduk anggun di barisan pemudi bersama beberapa gadis desa lainnya, sibuk menyiapkan catatan.
"Assalamu'alaikum," sapa Abi ramah seraya menundukkan badan penuh kesopanan.
"Wa'alaikumsalam! Nah, ini dia Mas Abi datang. Ayo Mas, duduk sebelah sini!" seru Pak Seno melambaikan tangan, menyambut hangat kedatangan Abi.
Seketika beberapa pasang mata menoleh ke arah pintu. Kang Pardi yang tadinya asyik bersuara mendadak terdiam, raut wajahnya agak berubah kaku melihat Abi. Sementara Kayla, matanya beradu pandang sejenak dengan Abi sebelum ia cepat-cepat menunduk menyembunyikan senyum dan rona tipis di pipinya.
"Waduh, ramai juga ya, Pak Kades," ujar Abi santai sambil mengambil posisi duduk bersila di dekat barisan pemuda seumuran yang langsung menyapa dan menjabat tangannya akrab.
Pak Seno berdehem pelan membetulkan posisi miknya. "Baik, karena Mas Abi dan pengurus lainnya sudah lengkap, rapat Karang Taruna malam ini untuk persiapan acara desa resmi kita mulai ya..."
Pak Seno mengetukkan pulpennya ke meja kayu kecil di depannya, mengalihkan perhatian dua belas orang yang hadir di balai desa.
"Jadi begini semuanya," ujar Pak Seno membuka rapat dengan nada mantap. "Fokus rapat Karang Taruna malam ini adalah untuk persiapan panitia Iduladha dan kurban bulan depan. Kita butuh pembagian tugas yang jelas dari sekarang."
Beberapa pemuda tampak manggut-manggut menyimak.
"Mas Abi," panggil Pak Seno menatap ke arah Abi. "Pengalamanmu tiap tahun jadi panitia kurban kan sudah ndak diragukan lagi. Saya mau minta kamu pegang bagian ketua seksi penimbangan dan pendistribusian daging nanti."
Abi tersenyum tipis lalu mengangguk penuh tanggung jawab. "Nggih, siap Pak Kades. Insyaallah nanti saya bantu koordinasi."
"Nah, kalau untuk konsumsi panitia dan bapak-bapak yang potong hewan kurban..." Pak Seno mengalihkan pandangannya ke barisan pemudi. "...Neng Kayla sama Mbak-Mbak Karang Taruna yang pegang ya. Nanti tinggal atur anggaran sama sekretaris."
"Nggih, Pak Kades, siap," sahut Kayla halus seraya mencatat poin tersebut di bukunya.
Kang Pardi yang duduk tak jauh dari Abi mendadak berdeham kencang, berusaha mencari perhatian. "Pak Kades! Kalau saya pegang seksi perlengkapan sama bantu Neng Kayla di bagian dapur gimana? Biar ada yang bantu angkat-angkat galon sama beras!"
Kekehan pelan langsung terdengar dari beberapa pemuda seumuran Abi yang duduk di sampingnya. Mereka tahu betul akal-akalan Kang Pardi yang sengaja ingin mepet ke Kayla.
Abi hanya menggeleng pelan sambil mengulum senyum geli. Matanya sempat mencuri pandang ke arah Kayla, yang tampak pura-pura sibuk menulis sambil mengembuskan napas panjang mendengar celetukan Kang Pardi.